2. pembersihan, sortasi, grading

of 29 /29
LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK PENANGANAN HASIL PERTANIAN (Pembersihan, Sortasi, dan Grading Bahan Hasil Pertanian) Oleh : Nama : Bunga Pratiwi NPM : 240110120035 Hari, Tanggal Praktikum : Selasa, 16 September 2014 Waktu/Shift : 10.00 – 12.00 WIB/A2 Asisten : Farah Nuranjani Nilai :

Upload: bungapratiwii

Post on 16-Dec-2015

362 views

Category:

Documents


30 download

DESCRIPTION

laporan praktikum

TRANSCRIPT

LAPORAN PRAKTIKUMTEKNIK PENANGANAN HASIL PERTANIANNilai :

(Pembersihan, Sortasi, dan Grading Bahan Hasil Pertanian)

Oleh :Nama: Bunga PratiwiNPM: 240110120035Hari, Tanggal Praktikum: Selasa, 16 September 2014Waktu/Shift: 10.00 12.00 WIB/A2Asisten: Farah Nuranjani

LABORATORIUM PASCA PANEN DAN TEKNOLOGI PROSESTEKNIK DAN MANAJEMEN INDUSTRI PERTANIANFAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIANUNIVERSITAS PADJADJARAN2014BAB IPENDAHULUAN

1.1. Latar BelakangSeiring berkembangnya zaman, permintaan akan produk pertanian bermutu tinggi semakin meningkat. Disamping itu, bahan hasil pertanian dari proses pemanenan memiliki kualitas yang tidak seragam. Ooleh sebab itu perlu dilakukan tindakan-tindakan khusus untuk memisahkan produk yang berkualitas baik dengan yang berkualitas rendah. Proses pemisahan produk tersebut dinamakan sortasi dan grading.Selain kualitas yang tidak seragam, bahan hasil pertanian dari proses pemanenan biasanya masih mengandung bahan-bahan yang tidak dinginkan. Misalnya beras yang masih terdapat gabah, bawang yang masih terdapat sisa-sisa tanah, dan lain-lain. Agar produk yang dihasilkan sesuai dengan keinginan konsumen, maka perlu dilakukan pembersihan (cleaning). Proses-proses tersebut merupakan proses awal dan paling penting di dalam penanganan hasil pertanian yang bertujuan untuk membersihkan bahan-bahan asing atau bahan yang tidak diinginkan yang kemungkinan terbawa dalam produk, serta untuk memisahkan produk ke dalam beberapa kelas atau kelompok. Untuk proses pembersihan (cleaning), dapat dilakukan dengan berbagai cara. Oleh sebab itu praktikum ini perlu dilakukan sebagai ilmu penunjang dalam dunia ketektikan pertanian.

1.2. Tujuan Adapun tujuan dari praktikum teknik penanganan hasil pertanian ini adalah sebagai berikut :1. Mengukur dan mengamati proses sortasi dan grading bahan hasil pertanian.2. Melakukan perhitungan kualitas dan variabel kualitas untuk mengkaji kelas kualitas (grade), kerusakan yang tampak (visible), kerusakan yang tak tampak (invisible damager), bahan asing (foreign materials) dan keretakan (sound grain and crack).

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

Pembersihan dan grading merupakan proses awal dan paling penting di dalam penanganan hasil pertanian yang bertujuan untuk membersihkan bahan-bahan asing atau bahan yang tidak diinginkan yang kemungkinan terbawa dalam produk, serta untuk memisahkan produk ke dalam beberapa kelas atau kelompok. Nilai ekonomis suatu bahan hasil pertanian sangat tergantung pada faktor-faktor antara lain :1. Karakteristik fisik: kadar air, ukuran produk, berat, tekstur, warna, bentuk dan adanya benda asing / kotoran.2. Karakteristik kimia: komposisi, ketengikan, bau dan rasa.3. Faktor-faktor biologi: daya tumbuh, adanya hama, adanya jamur dan bakteri.Beberapa prosedur yang biasa digunakan dalam meningkatkan, menjaga atau merubah kualitas produk seperti:1. Menjaga kondisi penyimpanan: suhu, kelembaban dan waktu.2. Mencegah tumbuhnya mikroorganisme: fumigasi, pendinginan dan pemanasan.3. Meningkatkan karakteristik fisik bahan: merubah atau menjaga kadar air bahan, membuang bahan yang tidak diinginkan dalam produk, mengelompokkan produk ke dalam beberapa kelas/kelompok.

2.1. Pembersihan (Cleaning)Pengertian pembersihan dalam bahan hasil pertanian adalah mengeluarkan atau memindahkan benda asing (kotoran) dan bahan-bahan yang tidak diinginkan dari bahan utama (produk yang diinginkan). (Rusendi, 2014)Perbersihan bertujuan untuk menghilangkan kotoran-kotoran yang menempel pada hasil pertanian. Kebersihan sangat mempengaruhi kenampakan. Oleh karena itu sebelum dipasarkan, hasil pertanian harus dibersihkan dari kotoran-kotoran dan bagian-bagian yang tidak diperlukan. Kotoran pada hasil pertanian sering dianggap sebagai sumber kontaminasi, karena kotoran dapat mengandung mikroorganisme yang dapat merusak hasil panen (Dediarta, 2011).Bahan hasil pertanian yaitu buah-buahan dan sayuran biasanya dicuci untuk menghilangkan debu, residu bahan kimia dan bahan-bahan asing lainnya. Kontaminasi biasanya terkadi saat pemanenan, penyimpanan sebelum proses, penundaan panen dan pengolahan, serta selama transportasi dan transit. Jenis kontaminan berdasarkan wujudnya dapat dapat dikelompokkan menjadi : kotoran berupa tanah, kotoran berupa sisa pemungutan hasil, kotoran berupa benda-benda asing, kotoran berupa serangga atau kotoran biologis lain, dan kotoran berupa sisa bahan kimia (Pradiskagita, 2012).Perlakuan pendahuluan dengan pengayakan dapat dilakukan tetapi hal ini dapat menyebabkan kerusakan pada bahan karena adanya tumbukan yang dapat menyebabkan kerusakan mekanik pada bahan, untuk itu biasanya lebih praktis kalau bahan langsung dicuci. Pencucian dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dry method dan wet method. Pencucian dapat dilakukan secara kontinyu dan batch. Pencucian tipe batch hanya layak dilakukan untuk produk yang jumlahnya kecil. Pencucian dilakukan umumnya dilakukan dengan salah satu proses di bawah ini atau kombinasi dari beberapa proses :a. Perendaman dalam air (soaking): Perendaman dalam air baik dalam air yang bergerak atau air yang diam hanya efektif untuk menghilangkan debu dan semua kotoran yang terdapat di permukaan produk. Metode ini biasanya dikombinasikan dengan jenis pencucian lainnya.b. Penyemprotan dengan air (water sprays): Penggunaan penyemprotan dengan air ini bervariasi dari yang menggunakan tekanan rendah sampai bertekanan tinggi. Metode ini sangat efektif untuk menghilangkan kotoran yang melekat kuat secara fisik pada permukaan produk. Penyemprotan sangat cocok digunakan utnuk hampir semua produk tetapi intensitas dan tipe penyemprot atau sprayer harus diseleksi dengan tepat. Misalnya penyemprot bertekanan tinggi yang sangat baik untuk mecuci tomat tentu saja tidak dapat digunakan untuk mencuci daun seledri atau lettuce.c. Drum berputar (rotary drum): Pencuci ini biasanya digunakan untuk pencucian komersil karena mudah dioperasikan, kapasitas yang tinggi, daya pembersih yang tinggi dan hanya menyebabkan kerusakan kecil pada produk. Pada metode ini digunakan dengan menambahkan air maupun dengan penyemprotan air.d. Pembersih dengan sikat (brush washer): Pencucian dengan menggunakan sikat yang berputar ini sering digunakan dan sangat efektif. Metode ini efektif untuk menghilangkan tanah yang sulit dibersihkan hanya dengan perendaman misalnya tanah liat atau yang sangat lengket pada produk. Pencucian dikontrol oleh gerakan sikat yang biasanya dibuat dari serat, karet, spon, atau bahan lain dan biasanya harus diganti sewaktu-waktu.e. Pencucian yang bergoyang (shaker washers): Pembersih ini mengaplikasikan adanya gerakan pada proses pencucian sehinga adanya gesekan antar produk dapat membersihkan kotoran yang melekat. Metode ini tidak dapat diterapkan untuk bahan yang mudah rusak secara mekanis/ gesekan. Metode pembersihan terbaik biasanya mengkombinasikan dua atau tiga cara pembersihan seperti pada Gambar 1 di bawah ini. Produk dimasukkan dan dilakukan pencucian dengan perendaman dua kali, pencucian dengan cara penyemprotan, penghilangan air cucian kemudian dilakukan pengeringan dengan kipas. Dalam bak perendaman mungkin berisi bahan kimia untuk sterilisasi, atau untuk menghjilangkan residu pada permukaan produk.

2.2. SortasiSortasi adalah pemisahan bahan yang sudah dibersihkan ke dalam berbagai fraksi kualitas berdasarkan karakteristik fisik (kadar air, bentuk, ukuran, berat jenis, tekstur, warna, benda asing/ kotoran), kimia (komposisi bahan, bau dan rasa ketengikan) dan biologis (jenis dan jumlah kerusakan oleh serangga, jumlah mikroba dan daya tumbuh khususnya pada bahan pertanian berbentuk bijian). (Rusendi, 2014)Sortasi adalah proses pemisahan bahan-bahan kotoran yang tercampur dengan produk utama. Sebagai contoh pada penanganan pasca panen padi, dimana gabah tercampur dengan kotoran berupa butir pasir, serpihan logam, kayu, dan serpihan jerami dan daun. Gabah sebagai produk utama dari proses penanganan pasca panen padi harus terbebas dari berbagai kotoran tersebut. Bahan hasil pertanian disortasi / dipisahkan berdasarkan warna, tingkat kerusakan, dan ukurannya. Tujuan utama sortasi adalah untuk mengoptimalkan kegunaannya untuk tugas-tugas tertentu. Sortasisortasi merupakan pemisahan makanan ke dalam kategori berdasarkansebuah fisik yang dapat di ukur property atau proses pengklasifikasian bahab berdasarkan sifat fisiknya. Hampir semua produk makanan melewati tahappenyortiran. Terdapat beberapa manfaat, termasuk kebutuhan penyortiran unitberdasarkan operasi berat dan pengisian dan keuntungan estetika danberbagai keuntungan pemasaran yang menyediakan berbagai jenis ataupunwarna yang berbeda. contohnya seperti membersihkan dan menyortir harusdigunakan sebaik mungkin untuk memastikan suatu produk pengolahanpangan.Keempat sifat fisik yang terdapat dalam pemisahan makanan atausortasi adalah berat, ukuran, bentuk dan warna (Pradiskagita, 2012).Proses sortasi untuk bahan hasil pertanian yang dilakukan berdasarkan pada warna bahannya pada umumnya ditangani secara manual, walaupun dikenal pula tindakan sortasi dilakukan secara otomatis dengan menggunakan sensor optik. Disamping itu buah-buahan dan sayuran akan mengalami kerusakan jika dalam proses penanganannya dilakukan secara kasar atau tidak hati-hati. Oleh karenanya persinggungan yang lembut dengan bahan dan dengan kapasitas yang tinggi diperlukan, beberapa prosedur unik telah ditemukan. Beberapa alat dan sistem penanganan sortasi pada bahan hasil pertanian, adalah:1) Saringan2) Sabuk diverging3) Pemisah denagan Sistem Rol (Roller Sters).

Tidak ada pembeda yang jelas antara proses pencucian dan sortasi pada bahan biji-bijian karena kedua proses ini dilakukan secara bersamaan. Pencucian, sortasi, dan grading dari suatu jenis produk dilakukan berdasarkan karakteristik bahannya, antara lain : ukuran, bentuk, spesific gravity, karekteristik permukaan.

Gambar 1. Proses Sortasi Bahan Hasil Pertanian(Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/sortasi)

Ukuran, bentuk, dan spesifik gravity merupakan karakteristik yang sangat penting. Sedangkan karakteristik permukaan merupakan sifat turunan dari bentuk bahan, yang akan mempengaruhi nilai koefisien drag dari bahan yang ditimbulkan karena tiupan aliran udara yang digunakan dalam proses pemisahan atau separasi. Beberapa prinsip dan jenis peralatan yang digunakan dalam proses sortasi, khususnya pada biji-bijian adalah sebagai berikut: 1) Saringan.2) Aerodinamik dari butiran-butiran kecil.3) Separator pneumatic.4) Separator gravitasi spesifik.5) Separator spiral.6) Separator piringan dan silinder.7) Separasi berdasarkan pada tektur permukaan bahan.8) Separasi berdasarkan berat dan bahan asing.9) Separasi dengan sistem sentrifugal.Sejumlah bahan hasil pertanian berupa buah-buahan dan sayuran yang berbentuk bulat dapat dipisahkan dengan menggunakan saringan getar yang terbuat dari tembaga, baja stainless atau bahan lain yang tidak bereaksi secara kimia dengan bahan. Prinsip kerja dari alat ini adalah bahan dilewatkan pada saringan yang bergetar atau berputar yang memiliki lubang dengan ukuran tertentu. Apabila bahan memiliki ukuran lebih kecil dari lubang saringan yang ada maka bahan akan lolos atau masuk ke dalam lubang tersebut dan bahan yang berukuran lebih besar akan melaju ke ujung saringan untuk pengemasan atau proses lainnya.Alat sortasi lainnya adalah sabuk pemisah (diverging belts), prinsip kerja alat ini adalah bahan diletakkan di atas dan diantara dua buah sabuk (belt) yang begerak. Karena jarak antara kedua buah sabuk tersebut secara sistematis akan bertambah lebar, maka bahan yang memiliki ukuran lebih kecil dari lebar celah antara dua sabuk akan jatuh di awal perjalanan sedangkan bahan yang lebih besar akan terbawa lebih jauh. Pada tipe rol (roller sortes) memiliki beberapa keunggulan yaitu akurat, proses paling cepat dan hanya menyebabkan sedikit kerusakan pada produk. Alat pemisah tipe rol adalah meja yang memiliki beberapa buah rol yang berputar berlawanan dengan arah jarum jam.prinsip kerjanya yaitu, bahan yang disortasi akan berputar secara kontinyu sehingga masing-masing berpeluang untuk saling mencocokkan ukuran benda dengan celah antar rol yang tersedia. Sortasi berdasarkan berat merupakan alat sortasi yang bekerja berdasarkan berat bahan. Pada prinsipnya alat ini memiliki dua bagian penting yaitu mangkuk (cup) dan pegas. Bagian mangkuk ini terhubung dengan pegas-pegas yang memiliki tegangan tertentu. Pegas-pegas yang ada tersusun dari pegas dengan tergangan tertinggi dan berangsur menurun sampai tegangan yang terendah, sehingga ketika bahan dimasukkan ke dalam mangkuk oleh pengumpan otomatis maka bahan yang lebih berat akan menyebabkan reaksi pada pegas dan secara otomatis bahan tersebut akan dipisahkan pada awal perjalanan. Sedangkan bahan yang lebih ringan akan bergerak lebih jauh sebelum dipisahkan (Dediarta, 2011).

2.3. Grading Buah-buahan dan sayuran biasanya dikelompokkan berdasarkan warna, kerusakan dan ukuran. Umumnya warna dan kerusakan dikelompokkan secara manual, tetapi banyak juga yang sudah menggunakan peralatan elektrik. Pengelompokan buah-buahan dan sayuran dapat dilakukan dengan pengayakan, diverging belts dan roller sorters. (Purwantana, 2013) 1) Pengayakan: Pengayakan merupakan salah satu metode dalam pemisahan biji-bijian ke dalam dua atau lebih kelompok menurut ukuran produk. Jika biji-bijian dimasukkan ke dalam ayakan maka biji-bijian yang ukurannya lebih kecil dari ukuran ayakan akan turun ke bawah dan biji-bijian yang lebih besar akan tetap tinggal dalam ayakan. Satu buah ayakan akan dapat mengelompokkan bahan menjadi dua ukuran, sedangkan ayakan yang bertingkat akan dapat mengelompokkan bahan sesuai dengan ukuran yang diinginkan. Selama pengayakan bahan akan bergerak karena adanya goyangan oleh pengayak. Adapun tujuan dari penggoyangan ayakan ini adalah untuk menyebarkan bahan ke semua permukaan ayakan, menyebabkan partikel yang lebih kecil turun ke bawah dan mengelompokkan partikel yang lebih besar dari ukuran ayakan. Bentuk dan ukuran ayakan tergantung pada bentuk bahan yang diproses dan ukuran yang diinginkan.2) Pneumatic separator: Proses pemisahan ini berdasarkan pada perbedaan sifat aerodinamik dari bahan-bahan yang dipisahkan. Sifat aerodinamik yang digunakan terutama adalah sifat terminal velocity yang sangat dipengaruhi oleh bentuk, ukuran dan densitas bahan. Pemisahan dilakukan dengan menggunakan kipas atau blower.3) Specific gravity separator: Pemisahan dengan cara ini menggunakan dasar perbedaan densitas atau spesifik gravity bahan. Prinsip yang dipakai adalah karakteristik biji-bijian yang akan jatuh ke bawah pada permukaan yang miring ke bawah, adanya daya mengambang bahan karena gerakan udara. Pemisah ini terdiri dari plat berlobang yang berbentuk segitiga, udara yang dihembuskan dan kotak-kotak yang memisahkan bahan. Dengan adanya perbedaan spesific gravity bahan maka bahan yang paling ringan akan mengambang demikian seterusnya terjadi pemisahan dan bahan yang paling berat akan terbuang pada kotak paling kanan sesuai dengan arah perjalanan bahan.4) Spiral separator: Pemisahan bahan ini berdasarkan pada perbedaan bentuk bahan. Bahan dimasukkan dari atas dan karena gaya gravitasi bahan tersebut turun kebawah. Bahan dengan perbedaan bentuk fisik akan mengalami kecepatan turun yang berbeda. Bahan yang berbentuk bulat akan mempunyai kecepatan yang tinggi sehingga akan dengan mudah turun ke bawah pada piring bagian luar, sedang bahan dengan bentuk lain akan lambat turun sehingga akan terpisah dan dibuang melewati pipa yang terpasang pada bagian tengah pemisah ini.5) Disk separator: Pemisah ini berdasarkan pada perbedaan ukuran bahan. Bahan yang mempunyai ukuran sesuai dengan ukuran yang ada di dalam piring akan masuk ke dalam piringan sedangkan bahan yang lebih besar akan terbuang. Pemisah ini banyak digunakan untuk memisahkan biji-bijian misalnya padi. Padi yang utuh akan dipisahlan dengan padi yang pecah, juga untuk memisahkan biji yang tidak sama misalnya memisahkan biji gandum dan barley dari biji oat.

2.4. Mutu Beras Standar merupakan unsur penunjang pembangunan pertanian yang memiliki peranan penting dalam upaya untuk meningkatkan optimalisasi pendayagunaan sumberdaya dan keseluruhan kegiatan pembangunan pertanian. Penetapan kelayakan suatu bahan atau produk untuk digunakan terutama dalam bidang pangan biasa disebut dengan standar mutu. Biasanya dalam penentuan standar mutu ini terdapat berbagai syarat dan ketentuan spesifikasi teknis yang harus dipenuhi oleh bahan atau produk tersebut. Standar mutu yang digunakan di Indonesia mengacu kepada SNI (Standar Nasional Indonesia). Dalam bidang pertanian pemutuan bahan dan produk pertanian seperti mutu gabah dan mutu beras sangat penting. Secara umum, mutu beras dapat dikategorikan ke dalam empat kelompok, yaitu:1) mutu giling.2) mutu rasa dan mutu tanak 3) mutu gizi4) standar spesifik untuk penampakan dan kemurnian biji (misalnya besar dan bentuk beras, kebeningan (transluency), dan beras chalky).

Sedangkan dalam program pemuliaan padi, komponen mutu beras dapat dikelompokkan atas (1) rendemen giling (2) penampakan (3) bentuk dan ukuran biji dan (4) sifat-sifat tanak dan rasa nasi (Damardjati dan Purwani, 1991). Pemutuan beras yang didasarkan pada aturan SNI 01-6128 : 2008 membagi beras dalam 5 kelas mutu yaitu mutu I, II, III, IV dan V. Syarat umum beras adalah (a) bebas hama dan penyakit (b) bebas bau apek, asam, atau bau asing lainnya (c) bebas dari campuran dedak dan bekatul (d) bebas dari bahan kimia yang membahayakan konsumen. Sedangkan untuk persyaratan khusus didasarkan pada komponen mutu seperti yang tercantum dalam Tabel 1 berikut. (Sinarta, 2013)

Tabel 1. Spesifikasi persyaratan mutu beras menurut SNI 01-6128:2008NoKomponen MutuSatuanMutu IMutu IIMutu IIIMutu IVMutu V

1Derajat sosoh (min)(%)100100959585

2Kadar air (maks)(%)1414141415

3Butir kepala (min)(%)9589787360

4Butir patah (maks)(%)510202535

5Butir menir (maks)(%)01225

6Butir merah (maks)(%)01233

7Butir kuning/rusak (maks)(%)01235

8Butir mengapur (maks)(%)01235

9Benda asing (maks)(%)00,020,020,050,20

10Butir gabah (maks)(butir)01123

Sumber: BSN (2011)

BAB IIIMETODOLOGI

3.1. Alat dan Bahan3.1.1. Alat Bahan yang digunakan dalam praktikum teknik penanganan hasil pertanian ini adalah :1) Wadah kertas2) Moisture Tester3) Timbangan Analitik4) Sampling Homogenizer5) Rice Standard Chart6) Alat tulis

3.1.2. Bahan Bahan yang digunakan dalam praktikum teknik penanganan hasil pertanian ini adalah :1. Beras 50 gram

3.2. Prosedur Percobaan1. Mengukur kadar air bahan dengan menggunakan moisture tester.2. Menyiapkan bahan dan kemudian menimbang bahan seberat 50 gram.3. Memasukkan bahan ke dalam sampling homogenizer sampai diperoleh berat sampel (50 gram).4. Mengamati kualitas bahan dengan membandingkan sampel dengan Rice Standard Chart dan Grain Cracking Analyzer.

BAB IVHASIL PERCOBAAN

Tabel 1. Tabel Hasil Percobaan NoPengamatanBerat (kg)%Standar SNI 2008

1Derajat sosoh-95,80Min. 95 %

2Butir utuh0,0311662,9Min. 35 %

3Butir patah0,0094719,12Min. 25 %

4Butir menir0,006813,73Maks. 2 %

5Butir hijau/mengapur0,00122,42Maks. 3 %

6Butir kuning/rusak0,00091,82Maks. 3 %

7Benda asing00Maks. 0,05 %

8Gabah00Maks. 2 butir

Perhitungan 1) Perhitungan Kadar Air Kadar Air 1 = 12,7 %Kadar Air 2 = 13,1 %Kadar Air 3 = 13 % Kadar Air Rata-rata = = 12,9%

2) Perhitungan Massa Total (Mt) Mt = Butir utuh + Butir patah + Butir menir + Butir hijau + Butir menir + Benda asing + Gabah Mt = 0,03116 kg + 0,00947 kg + 0,0068 kg + 0,0012 kg + 0,0009 kg + 0 kg + 0 kgMt = 0,04953 kg

3) Massa Beras yang Hilang Mawal Mtotal = 0,05 kg 0,04953 kg = 0,00047 kg

4) Perhitungan derajat sosoh x 100% 100% = 95,8 %

5) Persentase Setiap Butir Butir Utuh= x 100%= x 100%= 62,9% Butir Patah = x 100%= x 100%= 19,12% Butir Menir = x 100%= x 100%= 13,73 Butir Hijau/Mengapur = = = 2,42% Butir Kuning/Rusak = = = 1,82% Benda Asing = = = 0% Gabah = = = 0%BAB VPEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini, praktikan melakukan penyortiran bahan hasil pertanian. Bahan hasil pertanian yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah beras. Beras yang digunakan sebagi sampel sebanyak 50 gram. Dari 50 gram sampel ini kemudian beras dipisahkan berdasarkan kenampakan bentuknya. Beras dipisahkan menjadi butir utuh (7/10 10/10 bagian ukuran panjang butir utuh), butir patah (2/10 6/10 bagian ukuran panjang butir utuh), butir menir (< 2/10 bagian ukuran panjang butir utuh), butir hijau/mengapur, butir kuning/rusak, benda asing, dan gabah. Kelompok-kelompok tersebut dibedakan berdasarkan kenampakan fisik dan keutuhan berasnya itu sendiri. Dari hasil penyortiran yang dilakukan, diperoleh butir utuh sebanyak 62,9%, butir patah sebanyak 19,12%, butir menir sebanyak 13,73%, butir hijau/mengapur sebanyak 2,42%, butir kuning/rusak sebanyak 1,82%, sedangkan untuk benda asing dan gabah tidak ditemukan. Angka-angka tersebut telah memenuhi standar SNI 2008, kecuali untuk butir menir yang jauh melebihi batas maksimalnya yaitu 2%. Secara keseluruhan, beras yang dijadikan sampel tadi sudah memenuhi standar SNI 2008, dimana derajat sosohnya sebesar 95,8% sedangkan menurut SNI minimal 95%. Selain penyortiran, pada praktikum ini juga dilakukan pengukuran kadar air dengan menggunakan Moisture Tester. Dari tiga kali pengujian, diperoleh hasil masing-masing 12,7%, 13,1%, dan 13% dengan rata-rata kadar air sebesar 12,9%. Nilai ini sudah memenuhi standar SNI 2008 sebesar maksimal 15%. Dari hasil pengujian yang dilakukan baik dari proses penyortiran maupun kadar air, beras yang dijadikan sampel pada praktikum ini memenuhi standar SNI 2008 untuk mutu V. Beras ini termasuk dalam mutu V karena persentase untuk butir utuhnya yang hanya sebesar 62,9%.Setelah penyortiran selesai dilakukan dan dilakukan penimbangan untuk masing-masing pengamatan, ternyata massa total beras tidak mencapai massa awal seberat 50 gram. Hal ini dapat terjadi karena pada saat penyortiran beras mungkin terjatuh atau hancur.Penyortiran ini dilakukan secara manual dengan menggunakan tangan. Metode memiliki kekurangan dimana hasil yang diperoleh mungkin tidak seragam karena setiap orang bisa memiliki pemahaman yang berbeda mengenai pengelompokan beras berdasarkan kenampakan bentuk dan keutuhannya.

BAB VIPENUTUP

6.1. KesimpulanKesimpulan yang dapat ditarik dari praktikum karakteristik fisik bahan hasil pertanian ini adalah sebagai berikut :1. Dari hasil pengamatan diperoleh derajat sosoh sebesar 95,8% dengan butir utuh 62,9%, butir patah 19,12%, butir menir 13,73%, butir hijau 2,42%, butir kuning 1,82%.2. Kadar air rata-rata yang diperoleh adalah sebesar 12,9%.3. Beras ini termasuk kedalam kelompok beras mutu V sesuai standar SNI 2008.4. Sortasi yang dilakukan dengan manual (tangan manusia) ini memiliki kekurangan dibandingkan dengan sortasi yang dilakukan dengan mesin.5. Sortasi dengan tangan manusia memiliki kekurangan dikarenakan keterbatasan manusia.

6.2. SaranAgar hasil yang diperoleh pada praktikum lebih akurat, berikut saran-saran yang diberikan :1. Sebelum melakukan praktikum, praktikan diharapkan untuk memahami konsep tentang pembersihan, sortasi dan grading bahan hasul pertanian.2. Praktikan yang akan melakukan sortasi harus memahami ukuran beras butir utuh, butir patah, dah butir menir, agar hasil penyortiran lebih akurat.3. Dalam melakukan penyortiran praktikan hendaknya lebih fokus dan berhati-hati agar beras yang disortir tidak terbuang.4.

DAFTAR PUSTAKA

Dediarta, Wendi Irawan.2011.Laporan Praktikum Teknik Penanganan Hasil Pertanian Pembersihan, Sortasi dan Grading Bahan Hasil Pertanian.Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran.

Pradiskagita.2012.Praposes Bahan Hasil Pertanian. Terdapat pada: http://pradiskagita.blogspot.com/2012/06/rangkuman-i.html (diakses pada tanggal 16/09/2014 pukul 20.10 WIB)

Purwantana, Bambang. 2013. Pengetahuan Bahan. Available at: http://bambangpurwantana.staff.ugm.ac.id/pengetahuanbahan/pengBhn01.doc. (Diakses pada tanggal 21 September 2013 Pukul 21:40 WIB )

Rusendi, Dadi dkk. 2014. Penuntun Praktikum Teknik Penanganan Hasil Pertanian. Jatinangor : Unpad.

Sinarta. 2013. Derajat Sosoh. Available at: http://www.qcat.org/beta/derajat-sosoh/. (Diakses pada tanggal 21 September 2014 pukul 14.52 WIB).

Zain, Sudaryanto, dkk. 2005. Teknik Penanganan Hasil Pertanian. Pustaka Giratuna, Bandung.

LAMPIRAN

Alat dan bahan yang digunakan dalam percobaan

Dokumentasi dari proses penyortiran beras