aliran dalam pendidikan

10
ALIRAN DALAM PENDIDIKAN Pendidikan merupakan aspek terpenting dalam membangun karakter manusia. Namun, dalam perkembangannya, pendidikan sering dianggap tidak penting bahkan dianggap tidak diperlukan. Akan tetapi, pendidikan pada waktunya menempati posisi penting dalam kehidupan. Saat manusia sadar, bahwa pendidikan merupakan aspek luar yang membangun keterampilan dan kemampuan manusia lain. Fase-fase tersebut dapat terlihat dari teori-teori pendidikan yang muncul, mulai dari teori empirisme, nativisme, naturalisme, dan konvergensi. Masing-masing teori menyampaikan kelebihan dan kekurangan pendidikan serta bagaimana peran pendidikan dalam kehidupan masyarakat. Perkembangan tersebut, penting untuk dipelajari dan dihikmahi, mengingat semua teori tersebut pada hakikatnya mendasari konsep-konsep pendidikan saat ini. Oleh karena itu, makalah ini akan membahas empat teori tersebut. 1.Nativisme Aliran nativisme berasal dari kata natus (lahir); nativis (pembawaan) yang ajarannya memandang manusia (anak manusia) sejak lahir telah membawa sesuatu kekuatan yang disebut potensi (dasar). Aliran nativisme ini, bertolak dari leibnitzian tradition yang menekankan kemampuan dalam diri anak, sehingga faktor lingkungan, termasuk faktor pendidikan, kurang berpengaruh terhadap perkembangan anak dalam proses pembelajaran. Dengan kata lain bahwa aliran nativisme berpandangan segala sesuatunya ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa sejak lahir, jadi perkembangan individu itu semata-mata dimungkinkan dan ditentukan oleh dasar turunan, misalnya ; kalau ayahnya pintar, maka kemungkinan besar anaknya juga pintar. Para penganut aliran nativisme berpandangan bahwa bayi itu lahir sudah dengan pembawaan baik dan pembawaan buruk. Oleh karena itu, hasil akhir pendidikan ditentukan oleh pembawaan yang sudah dibawa sejak lahir. Berdasarkan pandangan ini, maka keberhasilan pendidikan ditentukan oleh anak didik itu sendiri. Ditekankan bahwa “yang jahat akan menjadi jahat, dan yang baik menjadi baik”. Pendidikan yang tidak sesuai dengan bakat dan pembawaan anak didik tidak akan berguna untuk

Upload: adhisubay

Post on 22-Jan-2016

15 views

Category:

Documents


2 download

DESCRIPTION

Pendidikan merupakan aspek terpenting dalam membangun karakter manusia. Namun, dalam perkembangannya, pendidikan sering dianggap tidak penting bahkan dianggap tidak diperlukan. Akan tetapi, pendidikan pada waktunya menempati posisi penting dalam kehidupan. Saat manusia sadar, bahwa pendidikan merupakan aspek luar yang membangun keterampilan dan kemampuan manusia lain. Fase-fase tersebut dapat terlihat dari teori-teori pendidikan yang muncul, mulai dari teori empirisme, nativisme, naturalisme, dan konvergensi. Masing-masing teori menyampaikan kelebihan dan kekurangan pendidikan serta bagaimana peran pendidikan dalam kehidupan masyarakat. Perkembangan tersebut, penting untuk dipelajari dan dihikmahi, mengingat semua teori tersebut pada hakikatnya mendasari konsep-konsep pendidikan saat ini. Oleh karena itu, makalah ini akan membahas empat teori tersebut.

TRANSCRIPT

Page 1: ALIRAN DALAM PENDIDIKAN

ALIRAN DALAM PENDIDIKAN

Pendidikan merupakan aspek terpenting dalam membangun karakter manusia. Namun, dalam perkembangannya, pendidikan sering dianggap tidak penting bahkan dianggap tidak diperlukan. Akan tetapi, pendidikan pada waktunya menempati posisi penting dalam kehidupan. Saat manusia sadar, bahwa pendidikan merupakan aspek luar yang membangun keterampilan dan kemampuan manusia lain. Fase-fase tersebut dapat terlihat dari teori-teori pendidikan yang muncul, mulai dari teori empirisme, nativisme, naturalisme, dan konvergensi. Masing-masing teori menyampaikan kelebihan dan kekurangan pendidikan serta bagaimana peran pendidikan dalam kehidupan masyarakat. Perkembangan tersebut, penting untuk dipelajari dan dihikmahi, mengingat semua teori tersebut pada hakikatnya mendasari konsep-konsep pendidikan saat ini. Oleh karena itu, makalah ini akan membahas empat teori tersebut.

1.Nativisme

Aliran nativisme berasal dari kata natus (lahir); nativis (pembawaan) yang ajarannya memandang manusia (anak manusia) sejak lahir telah membawa sesuatu kekuatan yang disebut potensi (dasar). Aliran nativisme ini, bertolak dari leibnitzian tradition yang menekankan kemampuan dalam diri anak, sehingga faktor lingkungan, termasuk faktor pendidikan, kurang berpengaruh terhadap perkembangan anak dalam proses pembelajaran. Dengan kata lain bahwa aliran nativisme berpandangan segala sesuatunya ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa sejak lahir, jadi perkembangan individu itu semata-mata dimungkinkan dan ditentukan oleh dasar turunan, misalnya ; kalau ayahnya pintar, maka kemungkinan besar anaknya juga pintar. Para penganut aliran nativisme berpandangan bahwa bayi itu lahir sudah dengan pembawaan baik dan pembawaan buruk. Oleh karena itu, hasil akhir pendidikan ditentukan oleh pembawaan yang sudah dibawa sejak lahir. Berdasarkan pandangan ini, maka keberhasilan pendidikan ditentukan oleh anak didik itu sendiri. Ditekankan bahwa “yang jahat akan menjadi jahat, dan yang baik menjadi baik”. Pendidikan yang tidak sesuai dengan bakat dan pembawaan anak  didik tidak akan berguna untuk perkembangan anak sendiri dalam proses belajarnya. Bagi nativisme, lingkungan sekitar tidak ada artinya sebab lingkungan tidak akan berdaya dalam mempengaruhi perkembangan anak. Penganut pandangan ini menyatakan bahwa jika anak memiliki pembawaan jahat maka dia akan menjadi jahat, sebaliknya apabila mempunyai pembawaan baik, maka dia menjadi orang yang baik. Pembawaan buruk dan pembawaan baik ini tidak dapat dirubah dari kekuatan luar. Tokoh utama (pelopor) aliran nativisme adalah Arthur Schopenhaur (Jerman 1788-1860). Tokoh lain seperti J.J. Rousseau seorang ahli filsafat dan pendidikan dari Perancis. Kedua tokoh ini berpendapat betapa pentingnya inti privasi atau jati diri manusia. Meskipun dalam keadaan sehari-hari, sering ditemukan anak mirip orang tuanya (secara fisik) dan anak juga mewarisi bakat-bakat yang ada pada orang tuanya. Tetapi pembawaan itu bukanlah merupakan satu-satunya faktor yang menentukan perkembangan. Masih banyak faktor yang dapat memengaruhi pembentukan dan perkembangan anak dalam menuju kedewasaan

B. Empirisme

Page 2: ALIRAN DALAM PENDIDIKAN

Aliran empirisme, bertentangan dengan paham aliran nativisme. Empirisme (empiri = pengalaman), tidak mengakui adanya pembawaan atau potensi yang dibawa lahir manusia. Dengan kata lain bahwa manusia itu lahir dalam keadaan suci, tidak membawa apa-apa. Karena itu, aliran ini berpandangan bahwa hasil belajar peserta didik besar pengaruhnya pada faktor lingkungan. Dalam teori belajar mengajar, maka aliran empirisme bertolak dari Lockean Tradition yang mementingkan stimulasi eksternal dalam perkembangan peserta didik. Pengalaman belajar yang diperoleh anak dalam kehidupan sehari-hari didapat dari dunia sekitarnya berupa stimulan-stimulan. Stimulasi ini berasal dari alam bebas ataupun diciptakan oleh orang dewasa dalam bentuk program pendidikan. Tokoh perintis aliran empirisme adalah seorang filosof Inggris bernama John Locke (1704-1932) yang mengembangkan teori “Tabula Rasa”, yakni anak lahir di dunia bagaikan kertas putih yang bersih. Pengalaman empirik yang diperoleh dari lingkungan akan berpengaruh besar dalam menentukan perkembangan anak. Dengan demikian, dipahami bahwa aliran empirisme ini, seorang pendidik memegang peranan penting terhadap keberhasilan peserta didiknya. Menurut Redja Mudyahardjo bahwa aliran nativisme ini berpandangan behavioral, karena menjadikan perilaku manusia yang tampak keluar sebagai sasaran kajiannya, dengan tetap menekankan bahwa perilaku itu terutama sebagai hasil belajar semata-mata. Dengan demikian dapat dipahami bahwa keberhasilan belajar peserta didik menurut aliran empirisme ini, adalah lingkungan sekitarnya. Keberhasilan ini disebabkan oleh adanya kemampuan dari pihak pendidik dalam mengajar mereka. Ketika aliran-aliran pendidikan, yakni nativisme, dan empirisme dan dikaitkan dengan teori belajar mengajar kelihatan bahwa kedua aliran yang telah disebutkan  (nativisme-empirisme) mempunyai kelemahan. Adapun kelemahan yang dimaksudkan adalah sifatnya yang ekslusif dengan cirinya ekstrim berat sebelah. Keberhasilan teori belajar mengajar jika dikaitkan dengan aliran-aliran dalam pendidikan, diketahui beberapa rumusan yang berbeda antara aliran yang satu dengan aliran lainnya. Menurut aliran nativisme bahwa seorang peserta tidak dapat dipengaruhi oleh lingkungan, sedangkan menurut aliran empirisme bahwa justru lingkungan yang mempengaruhi peserta didik tersebut.

 

C. Naturalisme

Naturalisme merupakan aliran yang menyakini adanya pembawaan dan juga milieu (lingkungan). Namun demikian, ada dua pandangan besar mengenai hal ini. Pertama disampaikan oleh Rousseau yang berpendapat bahwa pada dasarnya manusia baik, namun jika ada yang jahat, itu karena terpengaruh oleh lingkungannya. Kedua, disampaikan oleh Mensius yang berpendapat bahwa pada dasarnya manusia itu jahat. Ia menjadi manusia yang baik karena bergaul dengan lingkungannya (Ahmadi dan Uhbiyati, 1991: 296). Dua pendapat ini jelas memiliki perbedaan yang sangat mendasar. Satu sisi memandang sisi jahat manusia bersumber dari lingkungan, sementara pendapat lain menyatakan bahwa sisi jahat itu sendiri yang justru berada pada diri manusia. Namun, jika memperhatikan dua pendapat ini memiliki sisi kebenaran yang sama jika ditilik dari sudut genetis. Memang, jika melihat faktor ini. Manusia yang secara genetis tidak baik, maka ia akan menjadi manusia yang seperti ini, begitupun sebaliknya. Menurut paham naturalisme paling tidak ada lima tujuan pendidikan, kelima pendapat itu disampaikan oleh Spencer dalam Sudrajat (2013) yang terdiri dari (1) Pemeliharaan diri; (2) Mengamankan kebutuhan hidup; (3) Meningkatkan anak didik; (4) Memelihara hubungan sosial

Page 3: ALIRAN DALAM PENDIDIKAN

dan politik; (5) Menikmati waktu luang. Dari lima tujuan pendidikan ini, jelas bahwa aliran naturalisme ini mementingkan manfaat pendidikan dengan menjadikan pemeliharaan diri menjadi faktor utama yang kemudian disusul dengan kebutuhan hidup. Kedua faktor tersebut akan tercapai jika faktor faktor ketiga secara maksimal dilaksanakan. Agar maksimal maka faktor keempat dan kelima yang kemudian menjadi perhatian dalam melakukan pendidikan. Selain itu menurut Spencer dalam Sudrajat (2013), ada enam prinsip dalam proses pendidikan beraliran naturalisme. Delapan prinsip tersebut adalah:

1. Pendidikan harus menyesuaikan diri dengan alam;2. Proses pendidikan harus menyenangkan bagi anak didik;3. Pendidikan harus berdasarkan spontanitas dari aktivitas anak;4. Memperbanyak ilmu pengetahuan merupakan bagian penting dalam pendidikan;5. Pendidikan dimaksudkan untuk membantu perkembangan fisik, sekaligus otak;6. Praktik mengajar adalah seni menunda;7. Metode instruksi dalam mendidik menggunakan cara induktif;8. Hukuman dijatuhkan sebagai konsekuensi alam akibat melakukan kesalahan. Kalaupun

dilakukan hukuman, hal itu harus dilakukan secara simpatik.

Kiranya delapan prinsip pendidikan itu sangat jelas. Namun karakter khas yang terlihat dari aliran naturalisme ini, adalah bagaimana anak berkembang secara wajar. Hal ini dapat dilihat pada poin nomor tiga yang menyatakan bahwa pendidikan harus berjalan spontan. Akan tetapi, spontanitas itu bukan berarti tidak bermutu. Justru menurut naturalisme, spontanitas merupakan sarana untuk mendapat pengetahuan baik beruoa fisik maupun otak seperti yang tersebut pada poin empat dan lima, Jadi jelaslah, bahwa naturalisme menghendaki bahwa pendidikan yang berjalan secara wajar tanpa intervensi yang berlebihan sehingga membuat anak tersebut justru merasa terancam. Hal ini dilakukan atas dasar, bahwa anak memiliki potensi insaniyah yang memungkinkan untuk dapat berkembang secara alamiah. Adapun tokoh naturalisme ini adlaah J.J. Rousseau (1712-1778) dan Schopenhauer (1788-1860 M). Kedua tokoh ini, merupakan tokoh yang sering dikutip pendapatnya berkaitan dengan naturalisme.

D. Konvergensi

Konvergensi dipelopori oleh William Stern. Gagasan Stern mengenai konvergensi ini didasari pada dua teori sebelumnya, yakni nativisme dan empirisme. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa konvergensi merupakan gabungan antara kedua teori tersebut. Hal ini dapat ditilik dalam teori konvergensi yang menyatakan bahwa pertumbuhan dan perkembangan manusia itu bergantung pada faktor bakat/pembawaan dan faktor lingkungan, pengalaman/pendidikan (Ahmadi dan Uhbiyati, 1991: 294). Jika diidentifikasi teori tersebut, maka jelas bahwa unsur nativisme dan empirisme membangun kedua teori itu. Hal itu tercermin pada,  faktor bakat merupakan gagasan teori nativisme sedangkan faktor lingkungan merupakan gagasan empirismi. Penganut aliran ini berpendapat bahwa dalam proses perkembangan anak, baik faktor pembawaan maupun faktor lingkungan sama-sama mempunyai peran yang sangat penting. Bakat yang dibawa pada waktu anak tersebut dilahirkan tidak akan berkembang dengan baik tanpa adanya dukungan lingkungan yang baik sesuai dengan perkembangan bakat anak itu. Sebaliknya, lingkungan yang baik tidak akan menghasilkan perkembangan anak yang optimal kalau memang pada diri anak itu tidak terdapat bakat yang diperlukan untuk dikembangkannya. Sebagai

Page 4: ALIRAN DALAM PENDIDIKAN

ilustrasi, anak dalam tahun pertama mempelajari bahasa bukan karena dorongan dan bakat. Melainkan karena meniru suara ibunya dan orang-orang di sekitarnya. Namun, tanpa ada bakat dan dorongan, tentu saja hal itu tidak dimungkinkan. Sehingga kedua aspek ini sama pentingnya. Sebagai gambaran lain, seorang yang memiliki bakat  bermain musik, namun karena lingkungan tidak mengkondisikan orang tersebut, maka ia pun tidak akan menjadi pemusik hebat. Ada tiga teori konvergensi yang terkenal yang disampaikan oleh Stern, yakni:

1. Pendidikan mungkin dilaksanakan.2. Pendidikan diartikan sebagai pertolongan yang diberikan lingkungan kepada anak didik

untuk mengembangkan potensi yang baik dan mencegah  berkembangnya potensi yang kurang baik.

3. Yang membatasi hasil pendidikan  adalah pembawaan dan lingkungan

Pandangan konvergensi ini tentu saja memberi arah yang jelas mengenai pentingnya pendidikan. Bahwa, pendidikan harus dilakukan agar potensi anak dapat ditingkatkan. Sehingga bakat yang ada semakin terasah, sementara kompetensi lain pun ikut diasah.

DAFTAR PUSTAKA

 Ahmadi, Abu dan Nur Uhbiyati. 1991. Ilmu Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta. Saphuha, Julaiha. Aliran Konvergensi. Diakses pada 5 Maret 2013 dari Google.com Sudrajat, Akhmad. Filsafat Naturalisme. Dikutip pada 5 Maret 2013 dari http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/11/10/filsafat-naturalisme/

Page 5: ALIRAN DALAM PENDIDIKAN

PENDAHULUAN

a. Latar belakangPentingnya pendidikan telah dirasakan oleh manusia, setiap manusia memerlukan pendidikan. Hingga pendidikan sangat diprioritaskan dalam suatu negara, khusunya di Indonesia. Pendidikan merupakan upaya untuk mengembangkan potensi pesrta didik. Dalam perkembangannya, istilah pendidikan berarti bimbingan yang diberikan secara sengaja oleh pendidik kepada anak didik agar menjadi dewasa. Atau dapat dikatakn bahwa pendidikan adalah tuntunan kepada pertumbuhan manusia mulai dari lahir sampai tercapainya kedewasaan dalam jasmaniyah dan rokhaniyah. Selain itu, pendidikan adalah hal yang mutlak pada diri manusia. Untuk dapat mendidik dan mengembangkan pendidikan tesebut, maka banyak macam-macam aliran pendidikan yang digunakan untuk memecahkan itu semua. Diantara aliran tersebut adalah aliran empirisme, aliran nativisme, dan aliran konvergensi.

b. Rumusan Masalah1. Bagaimana pengertian aliran empirisme, nativisme dan konvergensi?2. Bagaimana perbedaan antara aliran empirisme, netivisme, dan konvergensi?

PEMBAHASANSejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan memiliki nuansa berbeda antara satu saerah dengan daerah yang lain, sehingga banyak bermunculan pemikiran-pemikiran yang dianggap sebagai penyesuaian proses pendidikan dengan kebutuhan yang diperlukan. Karenanya, banyak teori yang dikemukakan oleh para pmikir yang bermuara pada munculnya berbagai aliran pendidikan. Aliran-aliran tersebut diantara:1. Aliran EmpirismeEmpirisme berasal dari kata empira yang berarti berlawanan dengan aliran nativisme. Tokoh aliran empirisme adalah Jhone Locke, seorang filosofi Inggris. Dalam bukunya yang berjudul Some Thoughts Concerning Education Jhon Locke berpendapat bahwa, manusia terlahir dengan jiwa yang masih kosong, jiwa ini akan terisi oleh ide-ide karena pengaruh dari luar melalui proses psichologis, yaitu sensation(pengalaman) dan reflexetion(kesan). Selain itu teorinya dikenal dengan Tabulae Rasae (meja lilin) yang menyebutkan bahwa anak lahir di dunia adalah seperti kertas putih bersih. Kertas putih memiliki corak dan tulisan yang akan digores oleh lingkungan, ini artinya bahwa faktor bawaan dari orang tua tidak mempunyai pengaruh yang besar atau dengan kata lain tidak dipentingkan. Pengalaman seseorang diperoleh melalui hubungan dengan lingkungan. Pengaruh yang diperoleh dari lingkungan sangat berpengaruh terhadap perkembangan karakter anak. Menurut aliran ini pendidik sangatlah berperan penting, karena pendidik menyediakan lingkungan pendidikan, dan anak akan menerima penddikan itu sebagai pengalaman. Pengalaman tersebut akan membentuk tingkah laku, sikap, watak, kepribadian anak sesuai tujuan pendidikan yang diharapkan. Ada pula beberapa pendapat menurut beberapa ahli, antara lain :a. Haveltius, menyatakan bahwa manusia lahir dengan jiwa dan watak yang sama, pendidikanlah yang membedakan.b. Plato, berpendapat bahwa bahan bahan latihan yang disediakan alam sekitar mempunyai pengaruh penting.c. Emainuel Kant, berpendapat bahwa manusia bisa menjadi manusia karena pendidikan.11.Drs. Suwarno,(Pengantar Umum Pendidikan,Jakarta:Bina Aksara, 1985) Hlm.27-28Sebagai contoh, suatu keluarga mginginkan anaknya menjadi pelukis, dan menyediakan segala alat yang dipergunakan untuk melukis, namun si anak tidak mempunyai bakat melukis, alhasil keinginan keluarga agar anak itu menjadi pelukis gagal. Akibatnya akan ada konflik dalam diri anak.Kelemahan aliran ini adalah hanya mementingkan pengalaman saja, dan bawaan dari lahir dikesampingkan. Padahal ada anak yang berhasil karena bakat yangg ada dalam dirinya.22. Aliran NativismeNativisme berasal dari kata nativus yang berarti pembawaan. Tokoh aliran nativisme adalah Schopenhauer seorang filosof dari Jerman. Aliran ini berpandangan bahwa, perkembanagn inividu ditentukan oleh faktor bawaan sejak lahir dan faktor lingkungan kurang berpengaruh terhadap pendidikan dan perkembnangan anak. Maka dsari itu menurut aliran ini hasil pendidikan anak ditentukan oleh faktor bawaan sejak lahir.

Page 6: ALIRAN DALAM PENDIDIKAN

Dan dapat diambil kesimpulan bahwa menurut aliran ini keberhasilan individu ditentukan individu itu sendiri. Pendapat aliran ini bahwa jika seorang memilki bakat baik, maka ia akan menjadi baik, dan sebaliknya jika seorang memiliki bakat jahat, maka ia akan menjadi jahat. Dan pendidikan yang tidak sesuai bakat anak, tidak ada gunanya bagi perkembangan anak jika terus diberikan.Pandangan tersebut tidak menyimpang dengan realita yang ada. Misalnya, seorang anak yang mirip dengan orang tuanya, secara fisik dan akan mewarisi sifat dan bakat orang tua. Pada dasarnya aliran nativisme mengakui tentang adanya daya asli yang terbentuk sejak manusia lahir, yaitu adanya daya psikologis dan daya fisiologis, serta kemampuan dasar lainnya yang berbeda dalam diri tiap individu.Dari kemampuan itu, kapasitas masing-masing kemampuan dasar berbeda-beda. Ada yang tumbuh sampai pada titik maksimal kemampuannya, dan ada pula yang hanya pada titik tertentu saja. Misalnya, seorang anak yang berasal dari orang tua yang ahli musik, akan berkembang menjadi seniman musik yang mungkin melebihi kemampuan orang tuanya, dan mungkin juga ada yang hanya sampai pada setengah kemampuan orang tuanya. Namun lagi-lagi aliran ini memilki kelemahan yaitu bahwa aliran ini tak begitu kuat, karena dalam kenyataannya, bahwa perkembangan takhanya dipengaruhi oleh faktor bawaan, tapi faktor lingkungan juga berpengaruh atas itu.32.Wiji Suwarno, (Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan,Yogyakarta:Ar-Ruzz Media,2008) Hlm.49-513. Ibid, Hlm.51Lucian Arreat seorang ahli pendidikan bangsa Perancis memiliki pendapat yang sama dengan aliran nativisme, karena dengan nada mengejek ia mengatakan, pendidikan?, ia adalah omong kosong yang besar sekali dan yang menggelikan dari zaman ke zaman. Tetapi jangan mengatakan terlalu keras, banyak orang yang hidup mendapat nafkah dari padanya. Demikian pula Rochracher berpendapat yang sama, ia berkata sebagai berikut, orang tak bersalah dan berjasa dalam memiliki sifat-sifatnya, dan bahwa segala nilai rokhaniyyah yang dimilikinya itu hanya sekedar hasil proses alam yang berjalan menurut ukuran tertentu yang tidak dapat kita pengaruhi sama sekaliAliran ini mempunyai keyakinan yang bersifat predestinatif, yang berarti perkembangan atau nasib-nasib manusia itu seolah-olah ditentukan sebelumnya, tergantung pada pembawaan yang dimiliki. Pandangan mereka bersifat pesimis, karena mereka berpendapat bahwa pendidikan itu tidak mempunyai kekuasaan sama sekali terhadap perkembangan anak, mereka disebut dengan golongan geneticicts karena terlalu menonjolkan faktor pembawaan, genetika yang berarti ilmu keturunan.43. Aliran KonvergensiTokoh aliran konvergensi adalah William Sterm, seorang tokoh pendidikan dari Jerman. Aliran konvergensi merupakan kompromi atau kombinasi dari aliran nativisme dan empirisme.aliran ini berpendapat bahwa anak lahir di dunia ini telah memiliki bakat baik dan buruk, dan perkembangan anak selanjutnya akan dipenharuhi oleh lingkungan. Jadi faktor pembawaan dan lingkungan sama-sama berperan penting.Anak yang memiliki pembawaan baik dan didukung dengan lingkungan yang baik, maka akan semakin baik. Sedangkan bakat yang dibawa sejak lahir tidak akan berkembang dengan baik tanpa dukungan lingkungan yang sesuai bagi perkembangan bakat tersebut. Sebaliknya, lingkungan yang baik tidak dapat menghasilkan perkembangan anak secara optimal jika tidak didukung oleh bakat baik yang dibawa anak.5Perkembangan manusia merupakan hasil perpaduan antara faktor bakat dan faktor alam sekitar. Potensi atau pembawaan memang dibawa atau ada pada manusia sejak lahir, tetapi potensi tersebut memerlukan rangsangan dari luar untuk berkembang.4.Drs. Suwarno,(Pengantar Umum Pendidikan,Jakarta:Bina Aksara, 1985) Hlm.26-275. Wiji Suwarno (Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan.Yogyakarta:Ar-Ruzz Media.2008) Hlm.49-54

Sehingga pendidikan sangat berperan dalam kemajuan pembawaan anak untuk berkembang.Woodwort dan marquis juga berpandangan sama dengan teori konvergensi. Mereka berpendapat bahwa manusia berkembang dari hereditet (pembawaan) dan lingkungan. Kedua faktor ini sama pentingnya walaupun hereditet merupakan faktor yang tetap, sedangkan lingkungan dapat dirubah. Ki hajar dewantara juga menyetujui teori konvergensi ini, dimana manusia itu ditentukan oleh dara (nature) dan ajar(narture).6

6.Drs. Suwarno,(Pengantar Umum Pendidikan,Jakarta:Bina Aksara, 1985) Hlm.28-29KESIMPULAN

Aliran empirisme adalah aliran yang berpendapat bahwa perkembangan kepribadian Dan pendididkan seseorang hanya dipengaruhi oleh lingkungan atau pengalaman. Aliran nitivisme adalah aliran yang

Page 7: ALIRAN DALAM PENDIDIKAN

berpendapat bahwa perkembangan kepribadian dan pendidikan seseorang hanya dipengaruhi oleh faktor pembawaan lahir. Aliran konvergensi adalah aliran yang berpendapat bahwa kepribadian dan pendidikan seseorang dipengaruhi oleh faktor pembawaan dan pengalaman.Jadi, dari pengertian ketiga aliran tersebut dapat disimpulkan perbedaan antara ketiga aliran yaitu terletak pada faktor yang perpengaruh terhadap kepribadian dan pendidikan seseorang. Dimana aliean empirisme menyebutkan faktor yang berpengaruh adlah pengalaman, sedangkan aliran nitivisme menyebutkan faktornya adalah pembawaan, dan konvergensi menyebutkan kedua faktor tersebut memiliki pengaruh besar.

DAFTAR PUSTAKA

Suwarno.1985.Pengantar Umum Pendidikan,Jakarta:Bina AksaraSuwarno, Wiji. 2008. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan.Yogyakarta:Ar-Ruzz Media