bab iv hasil dan pembahasan a. gambaran umum 1. sejarah trans7

of 61 /61
1 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7 TRANS 7, merupakan suatu stasiun televisi dibawah naungan CT. Corp. CT Corp kelompok perusahaan yang dimiliki oleh konglomerat Chairul Tanjung yang didirikan sejak tahun 1987. Penggunaan "CT" pada beberapa nama perusahaannya merupakan singkatan inisial namanya. Dalam bisnis media, CT. Corp mengembangkan bisnisnya dalam dunia pertelevisian. Salah satu televisi pertama yang dimiliki CT. Corp ialah TRANSTV. Dalam dunia bisnis pertelevisian kontribusi TRANSTV tidak kecil. Sekurang-kurangnya TRANSTV sudah mengalami break event point by operation pada tahun kedua, yakni sekitar Mei 2003. Titik balik keberhasilan TRANSTV berlangsung sejak kuartal satu 2002. Berbekal kesuksesan kinerja, dan menyodok ke urutan nomor dua pada akhir 2005, TRANSTV lewat induk perusahaannya pada Juni 2006 membuat MoU untuk membeli sebagian saham TV7 yang dipegang Kelompok Kompas Gramedia, dan mengubah nama dan identitas perusahaan TV7 menjadi TRANS7. TRANS7 yang semula bernama TV7 berdiri dengan izin dari Departemen Perdagangan dan Perindustrian Jakarta Pusat dengan Nomor 809/BH.09.05/III/2000. Pada 22 Maret 2000, keberadaan TV7 telah

Upload: others

Post on 30-Oct-2021

4 views

Category:

Documents


0 download

TRANSCRIPT

Page 1: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

1

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum

1. Sejarah TRANS7

TRANS 7, merupakan suatu stasiun televisi dibawah naungan CT.

Corp. CT Corp kelompok perusahaan yang dimiliki oleh konglomerat Chairul

Tanjung yang didirikan sejak tahun 1987. Penggunaan "CT" pada beberapa

nama perusahaannya merupakan singkatan inisial namanya.

Dalam bisnis media, CT. Corp mengembangkan bisnisnya dalam

dunia pertelevisian. Salah satu televisi pertama yang dimiliki CT. Corp ialah

TRANSTV. Dalam dunia bisnis pertelevisian kontribusi TRANSTV tidak

kecil. Sekurang-kurangnya TRANSTV sudah mengalami break event point

by operation pada tahun kedua, yakni sekitar Mei 2003. Titik balik

keberhasilan TRANSTV berlangsung sejak kuartal satu 2002.

Berbekal kesuksesan kinerja, dan menyodok ke urutan nomor dua

pada akhir 2005, TRANSTV lewat induk perusahaannya pada Juni 2006

membuat MoU untuk membeli sebagian saham TV7 yang dipegang

Kelompok Kompas Gramedia, dan mengubah nama dan identitas perusahaan

TV7 menjadi TRANS7.

TRANS7 yang semula bernama TV7 berdiri dengan izin dari

Departemen Perdagangan dan Perindustrian Jakarta Pusat dengan Nomor

809/BH.09.05/III/2000. Pada 22 Maret 2000, keberadaan TV7 telah

Page 2: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

2

diumumkan dalam Berita Negara Nomor 8687 sebagai PT. Duta Visual

Nusantara Tivi Tujuh. Dengan kerjasama strategis antara Para Group dan

KKG, TV7 melakukan re-launching pada 15 Desember 2006 sebagai

TRANS7 dan menetapkan tanggal tersebut sebagai hari lahirnya TRANS7.

TRANS7 dengan komitmen menyajikan tayangan berupa informasi

dan hiburan, menghiasi layar kaca di ruang keluarga pemirsa Indonesia.

Berawal dari kerjasama strategis antara Para Group dan Kelompok Kompas

Gramedia (KKG) pada tanggal 4 Agustus 2006, TRANS7 lahir sebagai

sebuah stasiun swasta yang menyajikan tayangan yang mengutamakan

kecerdasan, ketajaman, kehangatan penuh hiburan serta kepribadian yang

aktif.

Visi Perusahaan:

1. Dalam jangka panjang, TRANS7 menjadi stasiun televisi terbaik

di Indonesia dan Asean

2. TRANS7 juga berkomin selalu memberikan yang terbaik bagi

stakeholders dengan mempertahankan moral serta budaya kerja

yang dapat dierima Stakeholders.

Misi Perusahaan:

1. TRANS7 menjadi wadah ide dan aspirasi guna mengedukasi dan

meningkatkan hidup masyarakat.

Page 3: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

3

2. TRANS7 berkomitmen untuk menjaga keutuhan bangsa serta

nilai – nilai demokrasi dengan memperbaharui kualitas tayangan

bermoral yang dapat diterima masyarakat dan mitra kerja.

Pada stasiun televisi TRANS7 terdapat divisi produksi, news dan

promosi. Pada divisi produksi seperti program Hitam Putih, Opera Van Java,

Indonesia Lawak Club, Selebrita dan lainnya. Divisi news antara lain Redaksi

Pagi, Siang, Sore dan Akhir Pekan, Selamat Pagi, Ternyata, Poros Surga,

Khazanah, Khalifah, Dulu Sekarang, Si Bolang, Dunia Binatang, Laptop Si

Unyil, Jejak Petualang, Thouzan Mils, Tau Gak Sih, Ragam Indonesia dan

Manfaat, On The Spot, Jejak Anak Negeri, Jejak Si Gundul, Kontroversi,

CCTV, Etalase dan Indonesiaku. Divisi promosi adalah mempromosikan

program baik off air maupun on air yang bisa dilakukan di media seperti

media sosial salah satunya.

Divisi news, promo dan IT berada di Lt. V gedung TRANS, MOA /

Library / Editing / Peralatan Shooting di lantai dasar gedung TRANS, divisi

produksi berada di Lt. 10 gedung Menara Bank MEGA, HR Development dan

Ka. Departeman off air dan on air di Lt. 22.

Page 4: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

4

Tabel 4.1

Struktur Organisasi TRANS7

Sumber: e-journal.uajy.ac.id>KOM203757 diakses 10/3/20182

2. Logo TRANS7

Minggu, 15 Desember 2013 Trans Media me-launching logo baru

bersamaan dengan ulang tahun Trans Media yang ke-12. Logo dengan simbol

'Diamond A' ditengah kata Trans7 merefleksikan kekuatan dan semangat baru

yang memberikan inspirasi bagi semua orang didalamnya untuk

menghasilkan karya yang gemilang, diversifikasi konten atau keunikan

tersendiri serta kepemimpinan yang kuat3.

2e-journal.uajy.ac.id>KOM203757 diakses 10/3/2018 pukul 10.30 WIB 3abstract.ta.uns.ac.id diakses 10/3/2018 pukul 10.45 WIB

Komisaris Utama

Chairul Tanjung

Komisaris

Agung Adi Prasetyo

Ishadi SK

Asih Winanti

Dewan Direktur

Direktur Utama

Atiek Nur Wahyuni

Direktur Keuangan dan

Sumber Daya

Ch. Suswanti Handayani

Direktur Programing dan

Operasional Broadcast

Ahmad Fazizqo I

Page 5: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

5

Gambar 4.1

Logo TRANS7

Sumber: www.trans7.co.id

Masing-masing warna dalam logo ini memiliki makna dan filosofi4.

Warna kuning sebagai cerminan warna keemasan pasir pantai yang berbinar

dan hasil alam nusantara sekaligus melambangkan optimisme masyarakat

Indonesia. Sedangkan rangkaian warna hijau menggambarkan kekayaan alam

Indonesia yang hijau dan subur, serta memiliki ketangguhan sejarah bangsa.

Warna biru melambangkan luasnya cakrawala dan laut biru sekaligus

menggambarkan kekuatan generasi muda bangsa Indonesia yang handal dan

memiliki harapan tinggi. Yang terakhir adalah rangkaian warna ungu,

menggambarkan keagungan dan kecantikan budaya dan seni bangsa

Indonesia yang selalu dipuja dan dihargai sepanjang masa.

Semua rangkaian warna yang mengandung makna cerita

didalamnya, menyatu dengan serasi dan membentuk simbol yang utuh, kuat

dan bercahaya di dalam berlian berbentuk A ini. Sehingga bisa dipahami

makna dari logo baru Trans Media ini menjadi tanda yang menyuarakan

sebuah semangat dan perjuangan untuk mencapai keunggulan yang tiada

banding mulai dari sekarang hingga masa mendatang.

4 www.trans7.co.id diakses 10/3/2018 pukul 11.00 WIB

Page 6: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

6

3. Deskripsi Program Si Bolang di TRANS7

Program Si Bolang atau Si Bocah Petualang di TRANS7 ada sejak

26 Maret 2006 merupakan acara anak-anak yang bergerak di Divisi News,

Departeman Edutainment, Adv & Magazine. Dengan slogan andalannya Si

Bolang Penjaga Alam dan Pelestari Budaya Nusantara. Tidak heran jika, isi

atau kontens yang disaksikan pada layar televisi berkaitan dengan alam dan

budaya juga nilai edukasi serta informasi. Menariknya dalam program Si

Bolang yaitu melibatkan warga sekitar khususnya anak-anak sebagai pemeran

Si Bolang dan teman bolang Bolang, dominan 3. Tayang pada hari Senin

sampai Jumat pukul 13.00 WIB dengan durasi penuh 30 menit. Sejak Januari

2018, pindah jam tayang pukul 13.30 WIB.

Menilik dari hal diatas program Si Bolang dengan slogan

andalannya Si Bocah Petualang Penjaga Alam dan Pelestari Budaya

Nusantara dikemas dalam bentuk dokumenter perjalanan, yang dilakukan

oleh anak-anak daerah atau pelosok negeri. Bersama teman-temannya, Si

Bolang yang tersebar di segala daerah Indonesia dan terkenal dengan topi dan

syal merahnya akan menjelajah kekayaan alam dan permainan tradisional.

Tidak jarang, Si Bolang pun menemukan dan mengalami hal baru yang dapat

diceritakan kepada semua anak-anak di Indonesia. Ternyata, banyak macam

permainan dan alat permainan tradisional hasil kreasi anak bangsa di seluruh

daerah Indonesia.

Program Si Bolang juga mempunyai agenda khusus bernama

Jambore Si Bolang, yang telah ada sejak 2008. Namun, pada 2013-2016

program Jambore Si Bolang ditiadakan. “Karena pada tahun 2013 hingga

Page 7: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

7

2016 bertepatan dengan libur puasa, menjadikan program off air Jambore Si

Bolang ditiadakan,“ ucap Coconico Ahmad selaku Kepala Development

Departemen Marketing Off Air TRANS7.

Coco panggilan akrabnya juga sampaikan bahwa, tujuan Jambore Si

Bolang sebagai pendekatan terhadap pemirsa setia Si Bolang, karena selama

ini mereka hanya tau melalui TV atau on air, makannya kami adakan program

off air dikemas dalam episode on air.

“Agar peserta mengetahui proses shooting Si Bolang, selain itu

mengajak bagaimana mengenal dan mencintai alam serta budaya.

Sehingga Jambore Si Bolang ini diadakan, pesertanya terbuka dari

daerah yang ada di Indonesia. Bahkan tahun ini ada yang dari

Amerika, kemudian anak-anak kota yang jarang beraktifitas di ruang

terbuka diharapkan dapat lebih senang untuk dekat dengan alam dan

suasana pedesaan,” sambung Andriyanto Tuwit (Produser Si

Bolang).

Diadakannya jambore di lokasi tersebut, di respon oleh C.

Wicaksana selaku Asisten Produksi Si Bolang – kami memilih suku Baduy

Luar sebagai salah satu etnik yang masih cukup orisinal dan memegang teguh

tradisi mereka, kami akhirnya memutuskan untuk memilih Baduy Luar atau

Kanekes Panamping yang lebih 'fleksibel'.

“Pada 5-6 Juli 2008 Jambore Si Bolang diadakan di Kebun Wisata

Pasir Mukti, Citeureup, Cibinong, Bogor, Jawa Barat. 4-5 Juli 2009 Jambore

Si Bolang diadakan di Kampung Budaya, Sindang Barang, Bogor, Jawa Barat.

10-11 Juli 2010, 25-26 Juni 2011 diadakan kembali di Kebun Wisata Pasir

Mukti, Bogor, Jawa Barat. 7-8 Juli 2012 diadakan di Hulu Cai, Ciawi dan

pada 8-9 Juli 2017 di Lembur Pancawati, Bogor, Jawa Barat.

Page 8: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

8

Adapun suku jambore pada Jambore Si Bolang 2017 antara lain

Suku Baduy, Asmat, Sasak, Talang Mamak, Mentawai, Batak, Toraja, Mbojo,

Buton dan Dayak. Suku-suku tersebut dijadikan sebagai nama kelompok pada

saat Jambore Si Bolang 2017 berlangsung dan juga sebagai suku yang

dicontohkan untuk ditonton saat malam kebersamaan. Pada suku Baduy

mengangkat episode “ Persahabatan Anak Baduy Luar dan Dalam”, Suku

Mentawai “Sahabat Dari Negeri Sikerei”, Suku Sasak “Si bolang Dari Sasak

Bayan Lombok”, Suku Dayak “Si bolang Lundayeh Dataran Tinggi Borneo”,

Suku Asmat “Kado Dari Tanah Papua”, Suku Mbojo “Laskar Penjaga Tradisi

Suku Mbojo”, Suku Batak “Legenda Dari Pulau Samosir”, Suku Toraja

“Warisan Budaya Tanah Toraja”, Suku Talang Mamak “Kisah Anak Suku

Talang Mamak” dan Suku Buton “Cerita Kami Anak Mopaano”.

Bertepatan dengan Jambore Si Bolang pada 8 hingga 9 Juli 2017

yang diadakan di Lembur Pancawati, Bogor, Jawa Barat oleh TRANS7

merupakan program off air yang dijadikan untuk on air. Lokasi utamanya

adalah Kawasan Pegunungan Kendeng, Baduy Luar, Desa Kaduketuk,

Kabupaten Lebak, Propinsi Banten. Hasil dari Jambore Si Bolang 2017

menelurkan episode “Sepucuk Surat Untuk Si Bolang Dari Kanekes”, yang

tayang pada Rabu, 25 Juli 2017 dengan durasi 22 menit 58 detik, sedangkan

untuk durasi penuh 30 menit.

Adapun tim liputan: Andriyanto Tuwit (Produser), C. Wicaksana

(Asisten Produksi), Daeng Nico F (Kameramen). Pemeran: Bolang (Damidi),

Namong, Armin, Sardiman. Mereka kala itu mengenakan pakaian tradisional

Page 9: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

9

Baduy Luar berwarna hitam, ikat kepala batik biru tua, tas kepek dan bedog

atau golok serta jambore yang mengenakan alas kaki.

Item-item kegiatan pada Si Bolang pada episode tersebut antara lain

1) Rencana ke Baduy, 2) Kampung Baduy, 3) Traveling di jalan Kaduketuk,

4) Bertemu pak Sarif dan anak-anak Baduy, 5) Casting, 6) Bolang, Namong,

dan Surdiman menunggu main tembak rumput alang-alang, 7) Armin lari

bawa surat dan terjatuh, 8) Traveling shot melewati jembatan akar, 9) Panjat

pohon kelapa untuk ambil buah dan janur kelapa, 10) Memberi makan ayam

dan membuat kisa-kisa, 11) Teman-teman datang dan mengajak kembali ke

desa, 12) Traveling shot di leuit atau lumbung, 13) Bolang datang bawa ayam.

Kemudian Bolang minta dibikinkan bekal untuk ke Bogor, 14) Traveling shot

bolang cs dan pak Sarip jalan lewat SD, 15) Traveling shot menuju kebun

pisang, 16) Dialog Bolang dan kawan tentang gak boleh piara domba di

Baduy, larangan adat, 17) Suasana jambore di lapangan, 18) Bolang cari

lokasi tenda, 19) Perkemahan sore hari, dan 20) Kegiatan jambore, pasang

ornament dan menghias papan tujuh dan traveling ke pabrik susu kedela

Page 10: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

10

Tabel 4.2

Sruktur Program Si Bolang

Elsa Yulia Fauzi

Deasty Maharani

UNIT PRODUKSI dan

SEKRETARIAT

Fauzi Nova Maulana

PRODUCTION ASISTAN

Riyanto

PROMO

Andhika Ferry B, Daeng Nico F,

Resgana Fitra, Faizal, A. Kuncoro

Ragil, Dizmas Ludhi, Stanley,

Hermanto, Irfan

KAMERAMEN

Ayu Tri Lestari,

Intan Fresti, Ramdhan Raka,

Toni Raharjo

REPORTER

C. Wicaksana

Sandy Gingin

Yuqi Safitri

ASISTEN PRODUKSI

Vini Muktini

EKSEKUTIF PRODUSER

Andriyanto Tuwit

Hilman

PRODUSER

Titin Rosmayani

PEMIMPIN REDAKSI

Atiek Nur Wahyuni

KETUA DEWAN REDAKSI

M. Gatut Mukti

WAKILPEMIMPIN REDAKSI

Griya. B. M

GRAFIS

Nugroho Dwi

Rika Artarini

RISET dan PENGEMBANGAN

Galuh Adityas Marini

Aris Boy

RISET KONTENS PROGRAM

Imanuel Hiram, Fauzan, Mainggi

Kasmianto, Gustantomo, Fahmi

Yostria

Jadias Suciati Sholifan

PENYUNTING GAMBAR

Page 11: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

11

Gambar 4.2

Poster Promo Si Bolang

Sumber: Instagram5

Program : Si Bolang

Televisi : TRANS7

Divisi : News

Episode : Sepucuk Surat Untuk Si Bolang Dari Kanekes

Jam Tayang : Selasa, 25 Juli 2017, pukul 13.00 WIB

Durasi : 22 Menit 58 Detik dan Full 30 Menit

Pemeran : Bolang (Damidi), Namong, Armin dan Sardiiman

Tim Liputan : Andriyanto Tuwit, C. Wicaksana dan Daeng Nico F

Produser : Andriyanto Tuwit

Lokasi Shooting : Kawasan Pegunungan Kendeng, Baduy Luar, Desa

Kaduketuk, Kabupaten Lebak, Propinsi Banten dan

Lembur Pancawati, Bogor, Jawa Barat

Bahasa : Dubbing (Indonesia) dan asli (Sunda)

Rating : 10.7 TVS

5Instagram Si Bolang @sibolangtrans7 25 Juli 2017 pukul 13.130 WIB

Page 12: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

12

4. Penghargaan Si Bolang

Menjelang usianya yang ke 12 tahun, program Si Bolang telah

beberapa kali mendapat award, diantaranya:

1. Anugerah Kebudayaan 2007 Departemen Kebudayaan &

Pariwisata Nasional Kategori Anak untuk Media Elektronik

(2007).

2. Panasonic Award 2007 Festival Film Indonesia (FFI) 2007

Kategori Acara TV Favorit Pembaca XY-KIDS! (2007).

3. XY-KIDS! Award 2007 Kategori Acara TV Favorit Pembaca

XY-KIDS! (2007).

4. XY-KIDS! Aw Penghargaan dari Yayasan Sains Estetika dan

Teknologi (SET), Yayasan Tifa, Ikatan Jurnalistik Televisi

Indonesia (IJTI) serta Departemen Komunikasi dan Informatika

2008 Kategori program anak-anak terbaik (2008).

5. Panasonic Award 2009 Kategori Program Edutainment Anak

Terfavorit (2009).

6. KPID Award 2010 – Nusa Tenggara Barat Program: Si Bolang

(Mengangkat wisata dan budaya di NTB) (2010).

7. Penghargaan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan

Perlindungan Anak RI 2010 sebagai acara yang mendidik dan

menghibur bagi anak Indonesia (2010).

8. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Program Anak Terbaik

2011 (2011).

9. KPI Award 2011 Kategori Program Anak Terbaik (2011).

10. KPID Award 2013 – Jawa Tengah Kategori Televisi Berjaringan

Peduli Jawa Tengah terbaik (2013).

11. Anugerah KPI 2014 Kategori Program Anak Terbaik (2014).

12. Anugerah KPID Sumatera Selatan (Palembang) Kategori

Program Siaran Televisi, Program Feature Terbaik (2015).

Page 13: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

13

13. Anugerah KPI Award 2015 Kategori Program Siaran Televisi,

Program Anak dan Remaja Terbaik (2015).

14. Anugerah KPID Riau Award 2015 Penghargaan Televisi

Kategori Karib Riau (2015).

15. Anugerah KPID Bali 2015 Kategori Program Siaran Televisi,

Program Anak dan Remaja Terbaik (2015).

16. KPI Award Program Anak Terbaik.

17. KPI Program Dokumenter Anak.

18. Anugerah Kebudayaan dan Penghargaan Maestro Seni 2016 dan

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, atas Konsstensinya

mengangkat Tradisi dan Budaya Indonesia dari Sudut Pandang

Anak-anak.

19. KPID Jambi (2017).

20. KPI Kategori Tayangan Ramah Anak (2017).

21. Anugerah KPI Program Anak Terbaik (2017).

22. KPID Bengkulu Award Kategori Program Anak-anak Terbaik

Televisi (2017).

5. Sinopsis Episode Sepucuk Surat Untuk Si Bolang Dari Kanekes

Beberapa hari menjelang acara Jambore Si Bolang 2017 tim liputan

berangkat terlebih dahulu ke daerah Kanekes (Baduy Luar), Kaduketug,

Banten, untuk melakukan shoot video seperti casting dan menyusun agenda

atau item kegiatan episode “Sepucuk Surat Untuk Si Bolang Dari Kenekes”

tersebut. Setelah casting selesai terpilihlah Damidi pemeran Si Bolang beserta

teman-temannya Namong, dan Surdiman Armin melakukan taping.

Pertama, memberi tahu letak Jakarta ke Baduy serta larangan adat

yang tidak boleh mengenankan kendaraan. Bolang, Namong, dan Surdiman

Page 14: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

14

menunggu main tembak rumput alang-alang, Armin lari bawa surat dan

terjatuh. Surat tersebut dari tim lipuan Si Bolang TRANS7 bahwasannya

mereka dapat undangan untuk mengikuti Jambore Si Bolang yang diadakan

pada 8-9 Juli 2017 di Lembur Pancawati, Bogor, Jawa Barat. Hal itupunu di

iyakan oleh si bolang.

Selepas menerima surat mereka traveling ke jembatan akar atau

yang kerap disebut cukangan akar untuk mengambil beberapa bagian dari

tumbuhan kelapa seperti buah dan janur kelapa. Janur atau kisa-kisa tersebut

dibuat untuk membungkus apapun, baik makanan dan atau tempat membawa

ayam sedangkan buahnya diminum untuk menambah tenaga mereka.

Setelah itu mereka kembali ke desa sambil memberi tahu profil

desa mereka yaitu Baduy Luar. Kemudian juga mengenai leuit yang banyak

terdapat di sana. Nah, ayam yang tadi mereka beri tahu bahwa hanya boleh

memelihara ayam, tidak boleh memelihara hewan berkaki empat namun

masih boleh memakannya. Ayam-ayam tersebut nantinya akan mereka

jadikan sebagai bekal pergi ke jambore. Lalu, Si Bolang dan teman-temannya

pergi ke dapur memberi tahu kepada teteh atau kaka untuk memasaknya.

Tradisi masak-memasak di Baduy masih kental dengan masak bersama,

apalagi ketiika sedang ada hajatan.

Keesokan harinya pun Si Bolang dan teman-temannya ditemani

dengan pak Syarif pergi menuju lokasi jambore dengan berjalan kaki. Untuk

menuju lokasi jambore di Bogor mereka harus melewati daerah Cipare.

Page 15: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

15

Kebetulan saat mereka menanyakan perjalanan ke jambore pada salahsatu

guru sekolah, sekolah tersebut juga di undang. Akhirnya mereka berangkat

bersama-sama.

Sesampainya di lokasi jambore mereka disambut dengan meriah,

kemudian ada sesi perkenalan, bermain permainan tradisional bersama seperti

egrang yang membutuhkan kekompakan tim. Suasana pun akhirnya mencair.

Tak hanya itu, kegiatan lain di jambore seperti bermain lumpur,

menangkap belut, memindah bola dan juga air, pasang ornament, mewarnai

papan tujuh dengan hasil lukisan perkelompok suku jambore, dan traveling

ke pabrik susu.

B. Hasil dan Pembahasan

Melalui alam, setiap harinya manusia disuguhkan dengan bermacam

keindahan eksotisme, adat, budaya serta kearifan lokalnya. Sehingga kegiatan

manusia akan apa yang dikerjakan selaras dengan alam, mematuhi adat dan budaya

menjadikan tercipta kearifan lokal yang tumbuh dan berkembang dengan

sendirinya agar tetap terjaga. Sudah sepatutnya alam dan lingkungan dijaga agar

terhindar dari kerusakan.

Menurut Sartini (2009:11), kearifan lokal disimpulkan sebagai

kepribadian, identitas kultural masyarakat yang berupa nilai, norma, etika,

kepercayaan, adat istiadat, dan aturan khusus yang diterima oleh masyarakatnya

dan teruji kemampuannya sehingga dapat bertahan secara terus menerus. Kearifan

lokal pada prinsipnya bernilai baik dan merupakan keunggulan budaya masyarakat

Page 16: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

16

setempat yang berkaitan dengan kondisi geografis secara luas. Kearifan lokal

mengandung beberapa unsur yang menjadi cirinya, antara lain:

a. Sesuatu yang pad-a dasarnya bernilai baik.

b. Berasal dari pemahaman religius maupun pengalaman hidup dengan

alami.

c. Dapat berupa pengetahuan, gagasan, norma, cara, perilaku, dan bentuk-

bentuk kegiatan, atau lainnya.

d. Dapat berwujud fisik maupun non fisik.

e. Berasal dari hidup pada masyarakat lokal tertentu.

f. Dipakai secara terus-menerus, turun-temurun.

g. Dapat dirasionalisasikan.

h. Dapat dimanfaatkan dalam konteks kehidupan sekarang.

Bentuk kearifan lokal:

1. Kearifan lokal yang berwujud nyata (Tangible)

a. Tekstual, beberapa jenis kearifan lokal seperti sistem nilai, tata

cara, ketentuan khusus yang dituangkan ke dalam bentuk catatan

tertulis seperti yang ditemui dalam kitab tradisional primbon,

kalender dan prasi atau budaya tulis di atas lembaran daun lontar.

b. Bangunan atau arsitektur

c. Benda cagar budaya / tradisional (Karya Seni), misalnya keris,

batik dan lain sebagainya.

2. Kearifan lokal yang tidak berwujud (Intangible)

Page 17: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

17

Kearifan lokal yang tidak berwujud seperti petuah yang

disampaikan secara verbal dan turun temurun yang bisa berupa nyanyian

dan kidung yang mengandung nilai ajaran tradisional. Melalui petuah atau

bentuk kearifan lokal yang tidak berwujud lainnya, nilai sosial

disampaikan secara oral/verbal dari generasi ke generasi. Berikut contoh

kearifan lokal yang mengandung etika lingkungan sunda yaitu:

a. Hirup katungkul ku pati, paeh teu nyaho di mangsa (Segala

sesuatu ada batasnya, termasuk sumber daya alam dan

lingkungan).

b. Kudu inget ka bali geusan ngajadi (Manusia bagian dari alam,

harus mencintai alam, tidak terpisahkan dari alam).

Berdasarkan bentuk kearifan lokal, berwujud dan tidak berwujud,

masyarakat Baduy memilikinya. Pada konteks tekstual suku Baduy tidak memiliki

karena mereka tidak belajar tulis menulis dan tidak dituliskan.

Bangunan atau arsitektur seperti; rumah panggung dan leuit atau lumbung

padi yang terpisah jauh dari pemukiman mereka.

Kearifan lokal berwujud seperti benda dan kesenian; tas koja dan alat

tradisional bedog dan atau golok salungkar hasil karya kaum adam begitu alat

kesenian (Bedug, angklung, talingting). Karya seni; adanya pakaian adat serba

hitam dan ikat kepala batik biru tua hasil tenun dari kaum hawa jembatan akar,

memanfaatkan seluruh tumbuhan kelapa, serta kebersamaan masak mereka saat

ada hajatan besar.

Page 18: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

18

Sedangkan yang tidak berwujud seperti petuah-petuah yang harus

disampaikan secara turun-temurun seperti mereka rendah hati karena kemanapun

mereka pergi selalu leumpang suku (berjalan tanpa alas kaki) (Mansur dan

Mahmudah, 2006:12-13), aturan adat yang hanya membolehkan Suku Baduy Luar

memelihara ayam dan tidak memperbolehkan memeliha hewan berkaki empat

namun boleh memakannya ketika didapat dari luar Baduy.

Kemudian berdasarkan buku Kearifan Baduy Melawan Korupsi oleh

Mansur dan Mahmudah (2016:167-169) diceritakan Sumawijaya (Pejabat di

Pemprov Banten kelahiran Kampung Citorek, kawasan Baduy Luar, 1959, yang

mengetahui kehidupan masyarakat Baduy secara umum dari cerita turun temurun

orangtuanya) bahwa kearifan dan filosofi masyarakat Baduy:

1. Tidak boleh bersawah tetapi hanya berhuma.

2. Tidak boleh memelihara hewan ternak berkaki empat: sapi,

kambing, kerbau dan ternak ayam atau hewan bersuara lainnya.

3. Tidak membuat rumah dengan cara dipaku (permanen) tidak

membuat pandasi dengan menggali tanah.

4. Menjaga alam sekitar Gunung Kendeng di Kawasan Baduy Dalam.

5. Boleh pergi apabila Pucuk Umum sudah bangun.

6. Wajib seba dengan membawa hasil tanaman yang dipanen.

7. Tidak mempergunakan alat-alat modern, seperti tv, meubeler,

kulkas, hp, dan sebagainya.

Lalu pandangan hidup secara turun temurun:

Page 19: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

19

1. Tidak membinasakan oranglain.

2. Tidak mencuri atau merampas oranglain.

3. Tidak ingkar dan tidak berbohong.

4. Tidak melibatkkan diri pada minuman yang memabukan.

5. Tidak menduakan hati pada perempuan lain/berpoligami.

6. Tidak makan apapun setelah tiba waktu malam hari.

7. Tidak menggunakan aneka macam kembang atau parfum.

8. Tidak mengantuk setelah tidur.

9. Tidak menyenangkan hati dengan menari, gamelan/musik dan

bernyanyi yang dapat lupa diri.

10. Tidak memakai emas atau yang membuat oranglain iri.

Meski aktivitas mereka di dalam hutan, mereka tetap berpegang teguh

pada nasehat leluuhurnya, seperti tercermin dalam pikukuh (tembang titipan

kahurun/leluhur) sebagai berikut dalam terjemahan bahasa Indonesia:

Buyut yang dititipkan pada puun

Nusa yang tiga puluh tiga

Sungai enam puluh lima

Tetap dua puluh lima negara

Gunung tak boleh dilebur

Lembah tak boleh dirusak

Larangan tak boleh dilanggar

Buyut tak boleh dirobah

Panjang tak boleh dipotong

Page 20: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

20

Pendek tak boleh disambung

Yang bukan harus ditiadakan

Yang jangan harus dinafikan

Yang benar harus dibenarkan

Beberapa nilai-nilai kearifan lokal Suku Baduy Luar pada episode

tersebut, pakaian adat serba hitam dan ikat kepala batik biru tua serta tas koja dan

bedog yang dipakai di episode tersebut. Dikarenakan pada saat melihat tayangan

Si Bolang di layar kaca, bertujuan kegiatan tersebut dilakukan selama satu hari

penuh. Padahal saat dilapangan hal tersebut bisa berlangsung selama lima hingga

satu minggu dalam pembuatan satu episode.

Segala jenis kendaraan dilarang masuk ke daerah tersebut (Menit 00.57

– 01.09), jembatan akar yang merupakan tanda kedekatan orang Baduy dengan

alam (Menit 04.05 – 04.41), Kearifan lokal lainnya seperti memanfaatkan buah,

daun, batang dan akar dari pohon kelapa (Menit 04.45 – 07.04). Bagi mereka

(Baduy Luar) semua bermanfaat. Air dari buahnya dapat menambah energi dan

menyegarkan, daunnya biasa mereka gunakan untuk pembungkus baik makanan,

barang bahkan binatang. Rumah adat (07.13-07.25) serta wanita menenun (07.26-

07.29).

Peraturan adat yang hanya membolehkan Suku Baduy Luar memelihara

ayam dan tidak memperbolehkan memelihara hewan berkaki empat namun boleh

memakan hewan berkaki empat yang dibelinya dari luar (Menit 08.09 – 08.57).

Page 21: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

21

Kemudian leuit atau lumbung padi yang terpisah jauh dari pemukiman

mereka. Dengan alasan jika terjadi kebakaran atau musibah lain di pemukiman

mereka maka, leuit tidak akan ikut terbakar (Menit 12.07 - 12.45). Kebersamaan

masak kaum wanita memasak (Menit 12.30 – 13.10).

Saat acara jambore berlangsung, Si Bolang dan teman-teman tetap

menunjukan mengenai kearifan lokal, seperti mengenakan dari pakaian adat serba

hitam dan ikat kepala batik biru tua serta tas koja dan bedog, lalu bermain

permainan tradisional seperti egrang, bola bambu, bermain lumpur dan tangkap

belut.

Dan mengenai pakain adat serba hitam dan ikat kepala batik biru tua

dijelaskan dalam Soul Travel in Baduy (Martini, 2004:6) menandakan mereka

tidak suci. Muakhir (2016:112) menambahkan bahwa kadang mereka mengenakan

kaos oblong.

1. Kearifan Lokal Berwujud

A. Tekstual

Tidak ada. Karena tidak mengenal budaya tulis, meski demikian mereka

lancar berbahasa Indonesia, walaupun tidak mendapatkan pengetahuan

tersebut dari sekolah (Martini, 2004:10). Banyaknya wisatawan lokal

Page 22: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

22

maupun luar menjadikan berkunjung menjadikan mereka belajar berbahasa

dan mengerti bahhasa Indonesia.

Kemudian warga Baduy berhitung dengan alat sederhana menggunakan

jari tangan dan lidi bambu. Warga Baduy tidak menyekolahkan anaknya,

mereka beajar dari orangtua secara turun temurun.

Mereka menurunkan tradisi dengan memberikan wejangan dan nasehat

kepada para anaknya, yang dikenal dengan tradisi ngolak, semacam

pendidikan karakter untuk generasi mendatang sehingga tidak tepat jika

ada yang menganggap masyarakat Baduy tidak mengenal pendidikan.

Tradisi ngolak ini sendiri merupakan cara orang tua mendidik anaknya,

selain mengajak mereka berladang atau menenun sedari kecil6.

6Detik Travel (https://travel.detik.com/dtravelers_stories/u-

2797060/bertemu-suku-baduy-dalam-menemukan-makna-hidup-yang-

hilang/3) Selasa, 15 Mei 2018 diakses 15.12 WIB.

Page 23: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

23

B. Bangunan atau arsitektur

Gambar 4.3

Rumah Panggung

Scene (07.13-07.25)

1. Penanda (Signifier)

Rumah Panggung

2. Pertanda

(Signified)

Rumah

tradisional

Baduy Luar

3. Tanda Denotatif (Denotative Sign)

Rumah tradisional Baduy Luar merupakan rumah

panggung yang tiangnya terbuat dari kayu, lantainya

dan dindingnya dari bambu serta beratapkan daun.

Sedangkan penyangganya dari batu.

Tampak di halaman rumah suku Baduy Luar terdapat

pak tua yang mengenakan pakaian adat serba hitam

sedang menganyam daun rumbia.

4. Penanda Konotatif (Connotative Signifier)

Rumah tradisional Baduy Luar tiangnya terbuat dari

kayu, lantainya dan dindingnya dari bambu serta

beratapkan daun. Sedangkan penyangganya dari batu.

5. Pertanda Konotatif

(Connotative

Signified)

Menggunakan

perekat alami

6. Tanda Konotatiff (Connotative Sign)

Pintu rumah harus menghadap ke utara / selatan (kecuali rumah sang puun) dan

mereka benar-benar membangun rumah secara manual, memotong, mengukur

kayu dan bambu berdasarkan insting. Alat bantunya pun hanya bedog dan

beberapa alat sederhana. Tidak ada paku, mereka menyatukan bambu hanya

dengan tali-temali dan ijuk. Semua itu mereka kerjakan bersama-sama dengan

penuh gembira dan canda. Batu penyangga tersebut dibuat sedemikian rupa

hingga seperti batu yang digunakan untuk alas menumbuk beras.

Bahan bangunan memanfaatkan hutan sekitar, dengan tidak menggunakan paku

besi, akan tetapi cukup diikat dengan tambang hitam yang terbuat dari serabut

ijuk atau lainnya yang saling mengait.

Berdasarkan Gambar 4.3 Rumah Panggung, Scene (07.13-07.25) makna

detonasi dalam scene rumah panggung adalah Rumah tradisional Baduy

Luar merupakan rumah panggung yang tiangnya terbuat dari kayu,

lantainya dan dindingnya dari bambu serta beratapkan daun. Sedangkan

penyangganya dari batu. Tampak di halaman rumah suku Baduy Luar

Page 24: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

24

terdapat pak tua yang mengenakan pakaian adat serba hitam sedang

menganyam daun rumbia.

Sedangkan Makna konotasinya adalah pintu rumah harus menghadap ke

utara / selatan (kecuali rumah sang puun) (Martini, 2013:5) dan mereka

benar-benar membangun rumah secara manual, memotong, mengukur

kayu dan bambu berdasarkan insting. Alat bantunya pun hanya bedog dan

beberapa alat sederhana. Tidak ada paku, mereka menyatukan bambu

hanya dengan tali-temali dan ijuk. Semua itu mereka kerjakan bersama-

sama dengan penuh gembira dan canda. (Martini, 2013:104)

Bahan bangunan memanfaatkan hutan sekitar, dengan tidak menggunakan

paku besi, akan tetapi cukup diikat dengan tambang hitam yang terbuat dari

serabut ijuk atau lainnya yang saling mengait. (Mansur dan Mahmudah,

2014: 5-6)

Batu penyangga tersebut dibuat sedemikian rupa hingga seperti batu yang

digunakan untuk alas menumbuk beras. (Muakhir, 2014:110) Lalu atap

daun, rumah adat Suku Baduy terbuat dari kayu dan bambu. Fondasi rumah

dari batu kali alami, sehingga tidak heran kadang tiang-tiang penyangga

rumah terlihat tidak sinkron alias miring. Untuk membangun rumah

mereka juga memilih tidak menggali tanah. Semua demi menjaga alam.

Bukti tetap menyatu dengan alam, sehingga memperlakukan alam

layaknya merawat keluarga sendiri7.

7lionmag.net (http://lionmag.net/web/2016/11/29/akar-budaya-baduy-

wisata-banten-banten) diakses Jumat, 18 Mei 2018 pukul 09.50 WIB..

Page 25: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

25

Bentuk dan ukuran rumah Baduy satu sama lain adalah sama. Untuk

membedakan dari segi ekonomi, tidak seperti masyarakat pada umumnya

dengan ciri bangunan, kendaraan dan lainnya. Namun, ekonomi

masyarakat Baduy di lihat dari banyaknya tembikar yang ada di dalam

rumahnya. Tembikar tersebut dibuat dari kuningan. Semakin banyak

tembikar, semakin tinggi ekonomi masyarakatnya.

Terdapat 3 ruangan dalam rumah adat Baduy dengan fungsinya yang

masing-masing berbeda. Bagian depan difungsikan sebagai penerima

tamu dan tempat menenun untuk kaum perempuan. Bagian tengah

berfungsi untuk ruang keluarga dan tidur, dan ruangan ketiga yang

terletak di bagian belakang digunakan untuk memasak dan tempat untuk

menyimpan hasil ladang dan padi. Semua ruangan dilapisi dengan lantai

yang terbuat dari anyaman bambu. Sedangkan pada bagian atap rumah,

serat ijuk atau daun pohon kelapa. Rumah suku Baduy dibangun saling

berhadap-hadapan dan selalu menghadap utara atau selatan. Faktor sinar

matahari yang menyinari dan masuk ke dalam ruangan menjadi

pemilihan mengapa rumah di sini dibangun hanya pada dua arah saja8.

Selain itu juga, mereka memanfaatkan bambu sebagai gelas. Konon gelas

dari bambu menciptakan cita rasa yang berbeda. Ada kekhasan tersendiri,

nikmat nan lezat, terlebih ketika menyeduh kopi di dalam gelas bambu.

8Indonesia Kaya (https://www.indonesiakaya.com/jelajah-

indonesia/detail/suku-baduy-bersinergi-dengan-alam-menjaga-aturan-

adat) diakses Jumat, 18 Mei 2018 pukul 10.10 WIB.

Page 26: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

26

Rumah Baduy yang panggung, dipercaya ketika orang berada di dalam

merasa lebih hangat. Dikarenakan tinggal di tengah hutan dan hawanya

masih dingin. Sebagai penganut Sunda Wiwitan9 rumahnya pun harus

mengahadap ke selatan, sebagai kiblatnya. Secara sederhana Sunda

Wiwitan adalah Sunda mula-mula (awal, perubahan, pertama). Sunda

Wiwitan merupakan nama agama yang di anut oleh Wangsa Padjajaran

(bangsa tanah Padjajaran, Sunda)

Penamaan Sunda Wiwitan sebagai agama Suku Baduy berwal dari ritual

pemujaan dimana Arca Domas disimbolkan sebagai leluhur mereka. Arca

Domas merupakan tempat suci yang dirahasiakan keberadaannyaoleh

orang Baduy.

Arca Domas10 digambarkan menyerupai bentuk manusia yang sedang

bertapa. Arca ini terbuat dari batu andesit dengan pengerjaan dan bentuk

sangat sederhana. Arca Domas terletak di tengah hutan larangan dan tak

jauh dari mata air hulu Sungai Ciujung.

Kompleks Arca Domas ini juga dikenal dengan sebutan petak 13, karena

undak-undakan punden tersebut terdiri dari petak-petak yang berjumlah 13.

Tiap petak dibatasi oleh batu kali dengan ukuran sisi-sisinya berkisar 3-5

meter.

9aksara.com diakses Selasa 15 Mei 2018, pukul 10.15 WIB 10aksara.com diakses Selasa 15 Mei 2018, pukul 10.15 WIB

Page 27: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

27

Dari ke-13 petak tersebut, hanya ada 3 petak yang ada isinya, yakni petak

pertama berisi 8 buah menhir (makam) berorientasi utara-selatan, petak

kedua berisi 5 buah menhir yang juga berorientasi sama, dan petak ketiga

terdapat sebuah batu lumpang.

Isi ajaran Sunda Wiwitan adalah ajaran keagamaan dan tuntunan moral,

aturan dan pelajaran budi pekerti. Ajaran Sunda Wiwitan mengandung 2

prinsip yaitu:

1. Cara Ciri Manusia; yaitu unsur dalam kehidupan manusia seperti

welas asih, undak usuk, tatakrama, budi bahasa dan budaya, dan

wiwaha yudha naradha.

2. Cara Ciri Bangsa; yaitu unsur pembeda manusia seperti rupa, adat,

bahasa, aksara, dan budaya.

Dasar ajaran masyarakat Baduy dalam Sunda Wiwitan adalah kepercayaan

yang bersifat monoteis, penghormatan kepada roh nenek moyang, dan

kepercayaan kepada satu kekuasaan yakni Sanghyang Keresa (Yang Maha

Kuasa) yang disebut juga Batara Tunggal (Yang Maha Esa), Batara

Jagat (Penguasa Alam), dan Batara Seda Niskala (Yang Maha Gaib) yang

bersemayam di Buana Nyungcung (Buana Atas).

Masyarakat Suku Baduy mempercayai bahwa merawat arwah nenek

moyang dapat memberikan kekuatan lahir dan batin kepada keturunannya.

Pemujaan terhadap arwah nenek moyang -yang mereka

sebut Karuhun adalah hal yang sakral.

Page 28: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

28

Dalam perkembangannya agama Suku Baduy, Sunda Wiwitan, banyak

dipengaruhi oleh unsur ajaran agama Hindu dan agama Islam.

Jika dalam Islam dikenal 4 jenis alam (rahim, dunia, barzah, dan akhirat),

dalam mitologi Suku Baduy ada tiga macam alam, yaitu:

1. Buana Nyungcung: tempat bersemayam Sang Hyang Kersa, yang

letaknya paling atas.

2. Buana Panca Tengah: tempat berdiam manusia dan makhluk lainnya,

letaknya di tengah.

3. Buana Larang: neraka, letaknya paling bawah.

Tradisi Sunda Wiwitan yang paling sering dikenal adalah kegiatan Seren

Taun. Seren Taun adalah perayaan tahunan seperti yang dilakukan oleh

Suku Baduy sebagai pengungkapan rasa syukur dengan

membayar ‘upeti’ berupa hasil pertanian kepada Bapak Gede

(pemerintah).

Orang Baduy meyakini bahwa Nabi Adam adalah manusia pertama di

bumi dan berasal dari Baduy. Oleh karena itulah mereka menganggap diri

mereka sebagai hirarki tua. Dunia di luar Baduy adalah turunannya11.

11batikbaduy.com(https://batikbaduy.com/agama-suku-baduy-sunda-

wiwitan-dan-syahadatnya-orang-baduy/) Senin, 14 April 2018 pukul

11.10 WIB.

Page 29: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

29

Seluruh keyakinan itu mereka namakan dengan sebutan “Agama Slam

Sunda Wiwitan“. Nampaknya keyakinan ini sangat dekat dengan Islam.

Penyebutan kata “Slam” hampir mirip dengan kata “Islam”.

Kedekatan lainnya adalah adanya pantangan minum arak (khamr) dan

memakan daging anjing. Bedanya dalam keyakinan ini tidak dikenal adanya

perintah shalat, sebagaimana dalam Islam. Hebatnya, pemahaman Agama

Slam Sunda Wiwitan ini hanya dikenalkan melalui lisan, penuturan, dan

percontohan.

Inti ajaran itu ditunjukkan dengan adanya kepercayaan pikukuh, yaitu

ketentuan adat mutlak dari leluhur dan dijalankan dalam kehidupan sehari-

hari. Konsep kepercayaan pikukuh adalah konsep ketentuan ‘tanpa

perubahan apa pun‘.

Dalam kepercayaan adat Baduy, ada dua macam syahadat12, dimana untuk

warga Baduy Dalam dan Baduy Luar berbeda:

Syahadat Baduy Dalam

“asyhadu syahadat Sunda (asyhadu syahadat Sunda

jaman Allah ngan sorangan Allah hanya satu

kaduanana Gusti Rosul kedua para Rasul

ka tilu Nabi Muhammad

12batikbaduy.com

ketiga Nabi Muhammad

Page 30: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

30

ka opat umat Muhammad keempat umat Muhammad

nu cicing di bumi angaricing yang tinggal di dunia ramai

nu calik di alam keueung”. yang duduk di alam takut

ngacacang di alam mokaha menjelajah di alam nafsu

salamet umat Muhammad” selamat umat Muhammad

Syahadat Baduy Luar

“asyhadu Alla ilaha illalah (Asyhadu Alla ilaha illalah

wa asyhadu anna Muhammad da Rasulullah wa asyhadu anna Muhammad da Rasulullah

isun netepkeun ku ati aku menetapkan dalam hati

yen taya deui Allah di dunya ieu bahwa tiada lagi Tuhan di dunia ini

iwal ti Pangeran Gusti Allah selain Pangeran Gusti Allah

jeung taya deui iwal ti Nabi Muhammad

utusan Allah”.

dan tiada lagi selain Nabi Muhammad utusan Allah)

Syahadat Baduy digunakan saat akan melangsungkan pernikahan

dihadapan Puun atau ketua adat Suku Baduy. Jika diperhatikan redaksi

kedua syahadat di atas, jelas terlihat bahwa Orang Baduy sendiri mengakui

Allah sebagai Tuhan mereka.

Menurut penganut agama Sunda Wiwitan, dikatakan bahwa “kami mah

ngan kabagean syahadatna wungkul, hente kabagean sholat”. Artinya

Page 31: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

31

bahwa mereka hanya memperoleh syahadatnya saja, sedangkan rukun-

rukun Islam lainnya termasuk didalamnya berbagai jenis ibadah ritual

dalam agama Islam tidak pernah diperoleh.

Dari uraian di atas jelas terlihat bahwa Sunda Wiwitan sebagai agama Suku

Baduy merupakan agama sinkretisme Islam dan Hindu yang dianut oleh

masyarakat Baduy. Konsep keimanan pada Tuhan yang Tunggal (Allah)

tergambar dari syahadat mereka, namun ritual praktek keagamaannya mirip

dengan agama Hindu.

Page 32: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

32

Gambar 4.4

Leuit

Scene Menit (12.07 - 12.45)

1. Penanda (Signifier)

Audio:

Kalau bangunan-bangunan ini,

kami sebut leuit atau lumbung

tempat penyimpanan padi.

Hampir setiap keluarga urang

Kanekes mempunyai leuit.

Leuit biasanya ditempatkan

mengumpul dan letaknya agak

jauh dari rumah kami. Kata

kakekku, ini dilakukan agar jika

terjadi kebakaran atau musibah

di kampung kami, leuit tidak

ikut terbakar.

Leuit yang kami bangun ini

didirikan tanpa menggunakan

paku atau alat perekat lainnya,

loh. Hebat, kan?

2. Pertanda

(Signified)

Rumah-rumah

kecil

berpanggung

seperti gubug

mungil bernama

leuit atau

lumbung padi.

3. Tanda Denotatif (Denotative Sign)

Si Bolang dan teman-temannya membawa ayam yang

nantinya untuk bekal ke acara Jambore Si bolang 2017

di Lembur Pancawati, Bogor, Jawa Barat. Mereka

melewati leuit yang merupakan rumah pengumpul hasil

pertanian padi yang sudah dikeringkan berhari-hari,

sehingga dapat bertahan bertahun-tahun.

4. Penanda Konotatif (Connotative Signifier)

Leuit di buat dari kayu, dinding anyaman bambu dan

atap dari ilalang.

5. Pertanda Konotatif

(Connotative

Signified)

Menggunakan

perekat alami

6. Tanda Konotatif (Connotative Sign)

Keberadaan leuit menunjukan kesejahteraan masyarakat Baduy.

Lumbung tersebut berisi beras-beras berusia ratusan tahun yang berwarna merah

karena lamanya disimpan, beras yang hanya boleh dimasak pada peristiwa-

peristiwa tertentu seperti pernikahan. Dikerjakan menggunakan pasak dan tali

temali. Memotong kayunya menggunakan golok, karena mereka tidak

diperkenankan menggunakan alat selain itu. Di batas antar tiang dan penyangga

dengan lumbung dipasang kayu berbentuk bulat untuk mencegah tikus bisa masuk.

Berdasarkan gambar 4.4 leuit, scene menit (12.07-12.45) makna detonasi

Si Bolang dan teman-temannya membawa ayam yang nantinya untuk bekal

Page 33: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

33

ke acara Jambore Si bolang 2017 di Lembur Pancawati, Bogor, Jawa Barat.

Mereka melewati leuit yang merupakan rumah pengumpul hasil pertanian

padi yang sudah dikeringkan berhari-hari, sehingga dapat bertahan

bertahun-tahun.

Sedangkan makna konotasinya, keberadaan leuit menunjukan

kesejahteraan masyarakat Baduy. (Mansur dan Mahmudah, 2016:16).

Leuit di Baduy hanya untuk yang sudah berkeluarga atau berumah tangga.

Namun, dalam satu keluarga bisa memiliki dua sampai tiga leuit.

Bentuk leuit sama, namun ukuran berbeda (Kecil, sedang dan besar) rata-

rata berbentuk persegi dengan panjang tak lebih 1.5 meter. Dapat memuat

1.5 ton hingga 5 ton padi.

Serta lumbung tersebut berisi beras-beras berusia ratusan tahun yang

berwarna merah karena lamanya disimpan, beras yang hanya boleh

dimasak pada peristiwa-peristiwa tertentu seperti pernikahan. Dikerjakan

menggunakan pasak dan tali temali. Memotong kayunya menggunakan

golok, karena mereka tidak diperkenankan menggunakan alat selain itu. Di

batas antar tiang dan penyangga dengan lumbung dipasang kayu berbentuk

bulat untuk mencegah tikus bisa masuk. (Martini, 2013:35-36)

Terdapat perbedaan mendasar menyangkut fondasi lumbung padi ini di

kalangan Suku Baduy Dalam dan Baduy Luar. Suku Baduy Dalam

membangun lumbung di atas fondasi batu kali dengan masing-masing dari

empat pilar penyangga dipasang lingkaran kayu cukup lebar pada

ujungnya. Bangunan lumbung pun seperti rumah panggung. Sedangkan

Page 34: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

34

Baduy Luar tidak menggunakan penyangga. Bangunan lumbung langsung

diletakkan di atas fondasi batu kali13.

Tiang leuit terbuat dari berbagai macam kayu ditopang oleh batu

atau umpak di atas tanah agar tidak cepat rapuh terkena air atau dimakan

rayap. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu yang disebut bilik. Ada

juga yang menggunakan batang bambu yang dibuat seperti papan.

Atap leuit terbuat dari daun pohon sagu, atau daun pohon kiray. Tak sedikit

juga yang menggunakan ijuk pelepah pohon sagu. Pintu leuit biasanya

terletak di atas bagian depan dengan ukuran kurang lebih 40×50 sentimeter.

Leuit memiliki kemampuan tahan cuaca, tahan hama penyakit, dan

memiliki sistem tata udara yang baik sehingga bisa menyimpan padi dalam

jangka waktu yang lama. Penyimpanan padi di leuit mengajarkan tentang

menjaga keberlangsungan hidup dalam jangka waktu yang lama14.

Keberadaan leuit jauh dari rumah penduduk, hal itu dimaksudkan karena

untuk menghindari marabahaya seperti bencana alam, kebakaran dan lain-

lain. Seperti misalnya terjadi kebakaran diharapkan leuit tidak terbakar,

yang menjadikan bahan pokok masih tetap aman dan dapat dikonsumsi.

13lionmag.net (http://lionmag.net/web/2016/11/29/akar-budaya-baduy-

wisata-banten-banten) Jumat, 18 Mei 2018) pukul 11.11 WIB 14Info Budaya “Bio Farma Bangun Leuit Khas Baduy

(http://www.infobudaya.net/2015/04/bio-farma-bangun-leuit-khas-

baduy/), Selasa, 15 April 2018 pukul 16.11 WIB.

Page 35: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

35

Selain itu, ketika terjadi kenaikan bahan pokok ataupun krisis bahan pokok,

masyarakat Baduy tidak khawatir. Dikarenakan adanya leuit atau lumbung

padi tersebut. Sehingga mereka sudah mengamankan bahan pokok terlebih

dahulu.

Meski demikian leuit masyarakat Baduy pernah mengalami kebakaran

pada Mei 2017 lalu– Sebanyak 84 rumah adat milik warga Baduy Luar,

Kampung Cisaban RT 02 RW 06, Desa Kanekes, Leuwidamar, Lebak,

Banten, habis terbakar. Akibatnya, sekitar 105 keluarga harus mengungsi

ke kampung-kampung di sekitarnya. Meski demikian tidak ada korban

jiwa15.

Menilik dari bahan bangunan pada leuit tersebut, tidak menutup

kemungkinan cepatnya api merambat leuit-leuit tersebut. Meski begitu

antusias masyarakat luar, pemerintah seperti Menteri Khofifah datang

untuk membantu warga Baduy untuk membangun leuit tersebut.

Leuit Baduy dirawat secara rutin oleh warga Baduy setiap tiga tahun sekali

untuk memastikan leuit tidak bocor dan rusak. Peruwatan dengan mantra-

mantra juga dilakukan oleh Pu’un sambil membakar kayu pohon Gaharu.

Itulah leuit Baduy, ikon Suku Baduy lain selain motif Tapak Kebo.

15detik.com “84 Rumah Adat di Baduy Luar Lebak Habis Terbakar”

(https://news.detik.com/berita/d-3509933/84-rumah-adat-di-baduy-luar-

lebak-habis-terbakar) Selasa, 15 April 2018 pukul 13.39 WIB

Page 36: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

36

C. Benda, cagar budaya / tradisional (Karya Seni), misalnya keris, batik dan

lain sebagainya.

Gambar 4.5:

Tas Koja

Scene Menit (01.15 sampai dengan selesai) 1. Penanda (Signifier)

Tas koja.

2. Pertanda

(Signified)

Tas tradisional

suku Baduy

Luar.

3. Tanda Denotatif (Denotative Sign)

Bolang dan teman-temannya mengenakan tas koja dari

saat casting hingga acara berakhir.

Scene ini diambil pada adegan main di ilalang.

4. Penanda Konotatif (Connotative Signifier)

Tas yang pemakaiannya diselempangkan.

5. Pertanda Konotatif

(Connotative

Signified)

Digunakan kaum

adam atau laki-laki.

6. Tanda Konotatif (Connotative Sign)

Tas khas Baduy dari kulit kayu pohon teureup yang bentuknya transparan sebagai

sikap kepribadian yang jujur.

Kulit teureup yang biasa di buat untuk koja adalah batang yang masih kecil.

Teksturnya lebih lunak, dan bisa diolah menjadi tali dengan mudah. Diambil dari

bawah dan diusahakan tidak putus saat mengambilnya.

Berdasarkan gambar 4.5 tentang tas koja, scene menit (01.15 sampai

dengan selesai) makna denotasinya adalah Bolang dan teman-temannya

mengenakan tas koja dari saat casting hingga acara berakhir. Scene ini

diambil pada adegan main di ilalang.

Sedangkan makna konotasinya Tas khas Baduy dari kulit kayu pohon

teureup yang bentuknya transparan sebagai sikap kepribadian yang jujur.

(Mansur dan Mahmudah, 2016:6) Tas yang disebut koja atau jarog ini

menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Suku Baduy. Tas koja

Page 37: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

37

digunakan masyarakat Baduy untuk membawa alat-alat pertanian, atau

ketika melakukan perjalanan.

Dalam hal ini dimaksudkan, jika segala sesuatu bersifat transparan, maka

kejujuran tidak jauh dari sikap seseorang. Hendaklah seseorang memiliki

sifat-sifat tersebut. Sehingga hidup jauh dari dusta maupun kebohongan

yang dapat menjerusmuskan ke hal-hal negatif.

Untuk membuat tas koja yang berbahan dasar kulit kayu teureup16 dapat

dijumpai di hutan. Meski demikian pohon tersebut sulit dicari, kerena

merupakan sejenis tumbuhan liar yang tumbuh tidak beraturan.

Kulit teureup yang biasa di buat untuk koja adalah batang yang masih kecil.

Teksturnya lebih lunak, dan bisa diolah menjadi tali dengan mudah.

Diambil dari bawah dan diusahakan tidak putus saat mengambilnya.

Kulit teureup yang diambil di hutan harus dikuliti lagi, yang diambil hanya

bagian dalamnya saja. Mengulitinya juga harus teliti suapaya tidak putus.

Baru dijemur. Cukup sehari, jika cuaca bagus. Karena, kulit dari kayu harus

di jemur terlebih dahulu untuk dirangkai hingga terbentuk menjadi tas.

Konon kulit teureup sangat kuat. Untuk membuat koja ukuran besar

dibutuhkan tiga batang pohon teureup. Tas tersebut akan digunakan warga

Baduy, untuk bepergian ke hutan maupun kota. Itu pula sebagai tanda

bahwa ia adalah orang Baduy.

16Si Bolang: Indahnya Persahabatan Anak Baduy, 15 Oktober 2014

diakses 13 Februari 2018 pukul 10.00 WIB

Page 38: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

38

Kulit teureup yang kuat itu pula menjadi alasan bahwa kebribadian Baduy

yang jujur dan transparan. Sehingga dengan jujur dan transparan, akan

menjadi suatu ikatan yang kuat bagi dirinya dan masyarakat.

Page 39: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

39

Gambar 4.6:

Bedog atau golok

Scene menit (01.15 sampai dengan selesai) 1. Penanda (Signifier)

Bedog atau golok.

2. Pertanda

(Signified)

Alat atau benda

tradisional suku

Baduy Luar.

3. Tanda Denotatif (Denotative Sign)

Si Bolang dan teman-temannya mengenakan golok

atau bedog dari saat casting hingga acara berakhir.

Scene ini diambil pada adegan mengambil buah dan

daun kelapa.

4. Penanda Konotatif (Connotative Signifier)

Bedog disebut golok salungkar digunakan untuk

mengambil daun dan buah kelapa serta membuka

bahnya.

5. Pertanda Konotatif

(Connotative

Signified)

Digunakan untuk

kaum adam atau

laki-laki.

6. Tanda Konotatif (Connotative Sign)

Alat serbaguna bagi mereka dan akan terus bersama sampai mati karena hukum

adat tidak mentolerir alat lain seperti cangkul, gergaji, paku dan sebagainya. dan

khusus bedog, senjata yang menjadi atribut sehari-hari laki-laki Baduy, ternyata

ada dua macam: bedog polos dan bedog pamor atau salungkar. Bedog polos dibuat

dengan cara biasa, menggunakan besi dan baja bekas kendaraan bermotor yang

ditempa berulang-ulang dan digunakan untuk menebang pohon, bambu dan

sebagainya. Sementara bedog pamor terdapat motif gambar yang menyerupai urat

kayu dari pangkal hingga ujung bedog. Proses pembuatannya lebih lama,

dipercaya untuk karisma tertentu yang tidak sembarangan digunakan. Golok

salungkar khusus untuk jaga diri bagi pria dewasa.

Berdasarkan gambar 4.6, scene menit (01.15 sampai dengan selesai) makna

denotasinya bedok disebut Si Bolang dan teman-temannya mengenakan

golok atau bedog dari saat casting hingga acara berakhir. Scene ini diambil

pada adegan mengambil buah dan daun kelapa.

Makna kontasinya golok sebagai alat serbaguna bagi mereka dan akan

terus bersama sampai mati karena hukum adat tidak mentolerir alat lain

seperti cangkul, gergaji, paku dan sebagainya. (Martini, 2013:38)

Page 40: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

40

Itulah mengapa orang Baduy kental dengan alam. Karena segala

sesuatunya dibangun tanpa alat perekat.

Umumnya Suku Baduy baik luar maupun dalam selalu membawa bedog

atau golok dalam kesehariannya.

Terdapat dua kampung di Baduy Luar yang terkenal pembuatan perkakas

tajamnya, yaitu kampung Batu Beulah dan Cisadane. Kedua kampung

tersebut letaknya tidak berjauhan.

Khusus bedog, senjata yang menjadi atribut sehari-hari laki-laki Baduy,

ternyata ada dua macam: bedog polos dan bedog pamor atau salungkar.

Bedog polos dibuat dengan cara biasa, menggunakan besi dan baja bekas

kendaraan bermotor yang ditempa berulang-ulang dan digunakan untuk

menebang pohon, bambu dan sebagainya. Sementara bedog pamor terdapat

motif gambar yang menyerupai urat kayu dari pangkal hingga ujung bedog.

Proses pembuatannya lebih lama, dipercaya untuk karisma tertentu yang

tidak sembarangan digunakan. (Martini, 2013:39)

Serta golok salungkar khusus untuk jaga diri bagi pria dewasa (Mansur dan

Mahmudah, 2016:12)

Jelas bahwa golok yang warga Baduy mempunyai ciri, fungsi dan tujuan

tertentu. Bedog itu pula yang mereka pakai sehari-hari, bedog polos,

misalnya. Menimbang kedekatannya dengan alam dan juga mata

pencaharian yang biasa dilakukan oleh kaum Adam ke hutan, maka tidak

heran jika golok akan dibawa setiap hari kemanapun dan kapanpun.

Page 41: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

41

Gambar 4.7:

Pakaian Adat, Ikat Kepala Biru Tua (Lomar)

Scene Menit (01.15 sampai dengan selesai) 1. Penanda (Signifier)

Pakaian serba hitam dan ikat

kepala batik biru.

2. Pertanda

(Signified)

Pakaian adat

berwarna hitam

dengan ikat

kepala batik

biru tua.

3. Tanda Denotatif (Denotative Sign)

Pakaian suku Baduy Luar adalah berwarna hitam

dengan ikat kepala batik biru tua.

4. Penanda Konotatif (Connotative Signifier)

Pakaian adat Baduy Luar: lengan panjang, celana

pendek, dan pengikat kepala batik bru tua.

5. Pertanda Konotatif

(Connotative

Signified)

Digunakan untuk

kaum adam atau

laki-laki.

6. Tanda Konotatiff (Connotative Sign)

Pakain adat serba hitam dan ikat kepala batik biru tua menandakan mereka tidak

suci. Menambahkan bahwa kadang mereka mengenakan kaos oblong.

Bagi masyarakat Baduy Luar, kain berwarna hitam dan biru tua menjadi warna

yang sering dipakai. Untuk kaum perempuan kain digunakan dalam membuat

baju adat yang memiliki bentuk menyerupai kebaya.

Berdasarkan gambar 4.7 pakaian adat dan ikat kepala biru tua, scene (01.15

sampai dengan selesai) makna denotasinya adalah pakaian adat Baduy

Luar adalah berwarna hitam dengan ikat kepala batik biru tua.

Sedangkan makna konotasinya bahwa pakaian adat serba hitam dan ikat

kepala biru tua dijelaskan dalam Soul Travel in Baduy (Martini, 2013:6)

menandakan mereka tidak suci serta Muakhir (2016:112) menambahkan

bahwa kadang mereka mengenakan kaos oblong.

Kain tradisional Suku Baduy selalu digunakan dalam pembuatan baju

adat. Terlebih lagi jika menyangkut dengan Suku Baduy Dalam yang

Page 42: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

42

masih memegang teguh aturan adat. Pakaian harus terbuat dari kapas dan

tidak boleh menggunakan mesin jahit dalam pembuatannya.

Bagi masyarakat Baduy Luar, kain berwarna hitam dan biru tua menjadi

warna yang sering dipakai. Untuk kaum perempuan kain digunakan

dalam membuat baju adat yang memiliki bentuk menyerupai kebaya.

Sedangkan warna putih untuk Suku Baduy Dalam. Warna ini diartikan

dengan suci dan aturan yang belum terpengaruh dengan budaya luar,

bernama baju sangsang17.

Masyarakat Baduy Luar, menggunakan baju kampret bewarna hitam atau

biru tua. Baju adat masyarakat Baduy Luar juga sudah terpengaruh

budaya luar, terlihat dari kantong dan kancing yang digunakan dalam

mendesain baju.

Pada bagian bawah atau celana, Suku Baduy hanya menggunakan kain

bewarna biru kehitaman yang dililitkan pada bagian pinggang. Celana

ini diikat dengan selembar kain yang berfungsi sebagai ikat pinggang.

Sedangkan di bagian atas, kain ikat kepala digunakan sebagai penutup.

Ikat kepala ini dibedakan dengan warna putih dan biru tua. Untuk putih

diperuntukkan bagi Suku Baduy Dalam sedangkan warna biru tua

bercorak batik menjadi ikat kepala yang digunakan Suku Baduy Luar.

17Indonesia Kaya (https://www.indonesiakaya.com/jelajah-

indonesia/detail/jamang-sangsang-pakaian-alam-suku-baduy), Selasa,

15 April 2018 diakses pukul 10.15 WIB

Page 43: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

43

Lomar pada masyarakat Baduy terbuat dari kain motif Tapak Kebo atau

motif lain khas Baduy yang dibentuk dan dijahit sedemikian rupa layaknya

blankon Jawa.

Untuk kaum perempuan Suku Baduy, pakaian adatnya hanya berupa kain

atau semacam sarung bewarna biru kehitam-hitaman. Kain ini berupa

kebaya dengan motif batik yang dipakai dari tumit hingga ke dada.

Perbedaan yang paling mencolok terlihat jika pakaian ini dipakai oleh

perempuan yang sudah menikah dan belum. Jika yang sudah menikah

baju terlihat terbuka di bagian dada sedangkan untuk perempuan yang

belum menikah maka bagian dada akan tertutup.

Pembuatan pakaian adat dalam pewarnaannya menggunakan kulit batang

rangrang. Di dalam batang rangrang terdapat zat yang jika terkena bahan

lain akan menimbulkan warna hitam.

Bahan lainnya yaitu tanah liat. Tanah digunakan untuk menambah warna

gelap pada kain agar tidak berubah. Tanah yang digunakan pun tanah yang

jarang atau tidak terinjak oleh manusia dan juga lembut.

Dapat diselesaikan satu minggu. Kemudian untuk pewarnaanya sangat

alami, seperti pada pakaian khas yang berwarna hitam. Kemudian daun

rambutan dan jantung pisang.

Bahan-bahan tersebut dipercaya membuat warna lebih pekat. Lalu ke

semua bahan ditumbuk secara bersamaan. Lalu dimasak di air mendidih.

Di rebus agar pewarna masuk secara alami ke dalam kain. Untuk

Page 44: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

44

menghilangkan ampas pewarna harus dicuci di air bersih. Setelah itu di

jemur. Bahan-bahan ini pula sebagai pewarna untuk kain tenun khas

Baduy.

Page 45: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

45

Gambar 4.8:

Tenun Baduy Luar

Scene Menit (07.26-07.29) 1. Penanda (Signifier)

Wanita dan alat tenun

2. Pertanda

(Signified)

Menenun.

3. Tanda Denotatif (Denotative Sign)

Wanita Baduy Luar tengah menenun kebutuhan

sandang di selasar rumahnya. Tampak terlihat yang

ditenun kain berwarna biru, sepertinya rok pakaian adat

perempuan.

4. Penanda Konotatif (Connotative Signifier)

Memproduksi sendiri kebutuhan sandangnya dengan

ditenun.

5. Pertanda Konotatif

(Connotative

Signified)

Prinsip hidup yang

sederhana dan apa

adanya.

6. Tanda Konotatif (Connotative Sign)

Perempuan yang menenun benang dijadikan pakaian untuk kebutuhan keluarga dan

warga internal Baduy. Wanita penenun yang asik menenun kain dengan alat

tradisional dari kayu.

Mitos yang berkembang menceritakan, apabila ada pihak laki-laki yang

melakukan kegiatan menenun maka perilaku laki-laki tersebut akan berubah

menyerupai perilaku wanita. Ciri khas kain tenun Baduy adalah warna-warni putih

dan warna biru tua. Fenomena menarik, beberapa tahun belakangan Baduy Luar

telah kembali menggunakan warna-warni alam yang didapat dari tumbuhan dan

kayu-kayuan.

Tidak boleh membuat tenun pada saat larangan bulan (hari yang kurang baik untuk

melakukansesuatu menurut kepercayaan orang Baduy), pada saat upacara adat

terutama upacara adat Kawalu, hari berkabung atau hari berduka. Waktu yang baik

dalam membuat kain tenun, yaitu bulan kalima, katujuh, kapit kayu, kasalapan. Kain

tenun yang diperuntukan bagi pemimpin adat harus dibuat oleh orang yang suci dan

tidak sedang haid, serta menggunakan waktu yang bagus untuk menenun menurut

ketentuan adat.

Untuk mencari pewarnaan biru bisa diambil dari daun tarum (indigo), abu-abu dari

daun jawer kotok, kuning dari daun puteri malu, hitam dari kulit pohon tunjung atau

dari karat besi tua, coklat dari kulit mahoni, merah dari akar pohon mengkudu,

coklat muda dari kulit pohon jeungjing, serta kuning gading dari kulit pohon

rengrang.

Berdasar gambar 4.8 wanita menenun, scene menit (07.26-07.29) makna

denotasi pada scene ini adalah wanita Baduy Luar tengah menenun

kebutuhan sandang di selasar rumahnya. Tampak terlihat yang ditenun kain

berwarna biru rok pakaian adat perempuan.

Page 46: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

46

Makna konotasinya perempuan yang menenun benang dijadikan pakaian

untuk kebutuhan keluarga dan warga internal Baduy. (Mansur dan

Mahmudah, 2016:6), kemudian wanita penenun yang asik menenun kain

dengan alat tradisional dari kayu. (Martini, 2013:123)

Kain tenun yang awalnya dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan sandang

itu dibuat sederhana. Motif andalan mereka adalah motif geometris, seperti

garis berbentuk kait, spiral atau disebut juga pilin, garis lurus, segi tiga,

segi empat, bulatan, dan masih banyak lagi.

Bahwa tidak boleh membuat tenun pada saat larangan bulan (hari yang

kurang baik untuk melakukansesuatu menurut kepercayaan orang Baduy),

pada saat upacara adat terutama upacara adat Kawalu, hari berkabung atau

hari berduka. Waktu yang baik dalam membuat kain tenun, yaitu bulan

kalima, katujuh, kapit kayu, kasalapan. Kain tenun yang diperuntukan bagi

pemimpin adat harus dibuat oleh orang yang suci dan tidak sedang haid,

serta menggunakan waktu yang bagus untuk menenun menurut ketentuan

adat18.

Tenun Baduy tak ubahnya ungkapan estetika dan alam sekitar pegunungan

Kendeng, tempat masyarakat Baduy bermukim. Coraknya mencerminkan

sikap hidup dan adat istiadat yang masih ketat dijaga sebagai warisan nenek

moyang. Ragam hias yang mencerminkan filosofi hidup mereka.

18Adriati, Maftukha, Yustiono dalam Visualisasi Tenun Baduy (http://journals.itb.ac.id/index.php/jvad/article/viewFile/456/2812, Jumat,

18 Mei 2018 pukul 14.10 WIB

Page 47: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

47

Tata cara membuat motif tenun selendang Baduy merupakan amanat dari

para leluhur yang motifnya diambil dari pencerminan alam, dan ada juga

yang merupakan kreasi tersendiri dari orang Baduy masa kini. Hal tersebut

tidak dilarang, karena mereka berpendapat bahwa manusia diberi akal

untuk melengkapi kehidupannya, maka untuk menjadi manusia yang

lengkap, mereka harus mempunyai keterampilan dalam hidupnya.

Menciptakan suatu motif baru tersebut juga merupakan suatu tanda bahwa

akal pikiran mereka itu jalan. Tidak benar apabila ada yang mengatakan

orang Baduy itu kuno dan tidak mau berkembang serta membuka diri.

Wacana ini muncul akibat kesimpangsiuran informasi hingga

menimbulkan persepsi yang salah dari masyarakat luar terhadap orang

Baduy.

Alat-alat yang digunakan dalam proses menenun terdiri dari bermacam-

macam alat yang membentuk satu kesatuan. Masyarakat Baduy menyebut

alat tenun dengan sebutan pakara tinun. Pakara tinun ini sudah ada sejak

zaman dahulu, semenjak nenek moyang mendiami Suku Baduy. Menurut

cerita legenda, pakara tinun ini dibuat dari tulang rusuk Nyi Pohaci untuk

memenuhi kebutuhan hidup dan memenuhi serta mentaati aturan adat dan

amanat dari para leluhur. Setiap kepala keluarga di Suku Baduy bisa

membuat pakara tinun, karena hal itu merupakan suatu kewajiban bagi

setiap kepala keluarga untuk memenuhi kebutuhan hidup berupa sandang

bagi keluarganya.

Page 48: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

48

Menenun mempunyai nilai kedisiplinan. Kepada setiap anak perempuan

yang lahir di Baduy, sejak kecil mereka sudah ditanamkan kedisiplinan

yang tinggi dengan cara mempelajari aturan adat dan nilai-nilai Masyarakat

Adat Baduy. Salah satunya berhubungan dengan aktivitas menenun.

Kegiatan menenun dipercaya merupakan wujud dari ketaatan yang

dilakukan oleh perempuan Baduy terhadap aturan adat yang mereka

junjung19.

Mitos yang berkembang menceritakan, apabila ada pihak laki-laki yang

melakukan kegiatan menenun maka perilaku laki-laki tersebut akan

berubah menyerupai perilaku wanita. Ciri khas kain tenun Baduy adalah

warna-warni putih dan warna biru tua. Fenomena menarik, beberapa tahun

belakangan Baduy Luar telah kembali menggunakan warna-warni alam

yang didapat dari tumbuhan dan kayu-kayuan20.

Untuk mencari pewarnaan biru bisa diambil dari daun tarum (indigo), abu-

abu dari daun jawer kotok, kuning dari daun puteri malu, hitam dari kulit

pohon tunjung atau dari karat besi tua, coklat dari kulit mahoni, merah dari

akar pohon mengkudu, coklat muda dari kulit pohon jeungjing, serta

kuning gading dari kulit pohon rangrang121.

19Pesona Travel (http://pesona.travel/aktivitas/kain-tenun-baduy-

cermin-filosofi-hidup-orang-kanekes), Jumat, 18 Mei 2018 pukul 11.17

WIB

20Indonesia Kaya (https://www.indonesiakaya.com/jelajah-

indonesia/detail/warna-warna-khas-kain-tenun-suku-baduy), Selasa, 15

April 2018 pukul 10.15 WIB

21Indonesia Banget (https://indonesiabanget.net/ciri-khas-kain-tenun-

baduy/) Selasa, 15 April 2018 pukul 10.35 WIB

Page 49: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

49

Tenun inilah yang menjadikan kerja keras dan semangat Baduy dalam

menjalankan kerajinan serta melestarikan budaya melalui tenun-tenun dan

pakaian yang dihasilkan. Bisa juga sebagai oleh-oleh bagi pengunjung.

Sehingga bisa juga dijadikan sebagai mata pencaharian bagi wanita Baduy.

Kain tenun Suku Baduy dibuat dengan bantuan alam dan proses menenun

dilakukan oleh kaum perempuan Suku Baduy. Proses dimulai dengan

kapas yang dipintal hingga membentuk benang. Selain itu, teksturnya

yang kasar dan motif sederhana menjadi ciri khas lain kain yang dibuat

dengan cara tradisional ini. Dari benang inilah proses akan dilanjutkan

dengan kegiatan menenun. Kegiatan ini hanya boleh dilakukan oleh

kaum wanita Suku Baduy.

Proses menenun bisa berlangsung mulai dari hitungan minggu hingga

berbulan-bulan. Lamanya proses ini disebabkan oleh besar dan

kerumitan membuat motif kain. Biasanya motif kain Suku Baduy berupa

garis warna-warni dan motif yang terinspirasi dari alam. Penggunaan

warna alam ini mengembalikan filosofi Suku Baduy Luar yang menyatu

dengan alam. Selain itu, juga tekad mereka menjaga buidaya agar selalu

lestari, tidak hilang dimakan zaman.

Penggunaan kain tenun Suku Baduy tidak hanya diperuntukan bagi

pakaian adat saja. Majunya pariwisita di Baduy Luar dimanfaatkan para

penduduk sekitar untuk menjual kain kepada wisatawan yang datang

berkunjung ke daerah mereka. Kain ini biasanya dijadikan oleh-oleh

Page 50: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

50

sebagai tanda pernah berkunjung ke Suku Baduy. Selain terdapat kain

ikat kepala dan pakaian adat, kain tenun di sini juga bisa dijadikan taplak

meja atau hiasan cantik dekorasi rumah Anda.

Page 51: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

51

Gambar 4.9:

Jembatan Akar

Scene Menit (04.05-04.41) 1. Penanda (Signifier)

Audio:

Ini dia jembatan akar

kebanggaan urang Kanekes.

Kami menyebutnya cukangan

akar.

Jembatan ini merupakan

pertanda betapa kedekatan orang

Baduy dengan alam. Lihat saja,

jembatan akar ini dibangun

tanpa menggunakan paku atau

alat perekat lainnya. Sementara

bambu diletakkan di tengah

jalinan sulur atau akar sebagai

pijakan kaki.

Akar yang berasal dari jenis

tanaman beringin ini memang

kuat. Tanaman yang kami sebut

kiara bodas ini menumpang

pada tanaman lain. Jangan heran

jika tanaman ini dikenal dengan

sebutan beringin pencekik.

2. Pertanda

(Signified)

Pohon beringin,

bambu dan

sungai

3. Tanda Denotatif (Denotative Sign)

Si bolang dan teman-teman tengah traveling ke

jembatan akar. Jembatan akar tersebut sebagai

penghubung atau perantara keluar masuk warga Baduy.

Jembatan akar ini pula dibangun oleh warga Baduy

tanpa mengenakan alat perekat, semuanya bersumber

dari alam, seperti memanfaatkan akar pohon beringin

dan bambu.

4. Penanda Konotatif (Connotative Signifier)

Tidak menggunakan perekat seperti paku

5. Pertanda Konotatif

(Connotative

Signified)

Perekat alami

6. Tanda Konotatif (Connotative Sign)

“Orang Baduy atau Kanekes memiliki berbagai kearifan lokal berhubungan

dengan alam sekitar, pemakaian akar gantung sebagai jembatan merupakan wujud

kedekatan mereka, kecerdikan mereka, memanfaatkan alam tanpa merusaknya,”

C. Wicaksana (Asisten Produksi Si Bolang)

Kedekatan warga Baduy dengan alam. Salah satu keunikan jembatan Baduy adalah

tidak terdapat paku dalam setiap sambungannya. Hanya mengandalkan pasak dan

teli temali.

Jembatan akar Baduy ini bahkan tidak menggunakan paku atau alat perekat

lainnya. Jembatan akar ini terbentang di atas sungai selebar 30 cm. Keberadaan

dari jembatan akar ini menjadi penghubung antara dunia luar dan Suku Baduy.

Page 52: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

52

Salah satu rute yang akan dijumpai ketika akan masuk ke daerah Suku Baduy

adalah jembatan akar tersebut.

Berdasarkan gambar 4.9 jembatan akar, scene menit (04.05-04.41) makna

denotasi dar scene jembatan akar ini yaitu Si bolang dan teman-teman

tengah traveling ke jembatan akar. Jembatan akar tersebut sebagai

penghubung atau perantara keluar masuk warga Baduy.

Jembatan akar ini pula dibangun oleh warga Baduy tanpa mengenakan alat

perekat, semuanya bersumber dari alam, seperti memanfaatkan akar pohon

beringin dan bambu.

Makna konotasinya yaitu “Orang Baduy atau Kanekes memiliki berbagai

kearifan lokal berhubungan dengan alam sekitar, pemakaian akar gantung

sebagai jembatan merupakan wujud kedekatan mereka, kecerdikan

mereka, memanfaatkan alam tanpa merusaknya,” C. Wicaksana (Asisten

Produksi Si Bolang)

Dan juga sebagai kedekatan warga Baduy dengan alam (Si Bolang, Selasa,

25 Juli 2017). Dan salah satu keunikan jembatan Baduy adalah tidak

terdapat paku dalam setiap sambungannya, hanya mengandalan pasak dari

tali temali (Martini, 2013:31)

Suku Baduy menyodorkan hikmah filosofi kehidupan. Bahwa manusia

hadir untuk hidup berdampingan dengan alam, bukan untuk menguasai

alam. Pelajaran ini bisa dipetik pula dari keberadaan Jembatan Akar,

jembatan yang menghubungkan desa-desa Baduy dengan desa-desa di luar

suku tersebut22.

Page 53: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

53

Jembatan akar Baduy ini bahkan tidak menggunakan paku atau alat perekat

lainnya. Jembatan akar ini terbentang di atas sungai selebar 30 cm.

Keberadaan dari jembatan akar ini menjadi penghubung antara dunia luar

dan Suku Baduy. Salah satu rute yang akan dijumpai ketika akan masuk ke

daerah Suku Baduy adalah jembatan akar tersebut. Tidak ada yang tahu

bagaimana jembatan ini tercipta. Beberapa masyarakat menyakini bahwa

ini terjadi secara alami dan merupakan bentuk dari pemberian alam kepada

masyarakat Baduy, tapi beberapa masyarakat juga memperkirakan

jembatan ini merupakan buatan suku Baduy23.

Menurut cerita, jembatan akar awalnya dibuat hanya dari potongan bambu

yang berjajar di atas sungai. Tak berbeda dengan jembatan kayu pada

umumnya. Namun seiring berjalanannya waktu, bambu-bambu tersebut

dijalari akar-akar pohon yang rimbun. Konon, proses penjalaran akar

tersebut berlangsung sekitar 50-70 tahun24.

Tidak semua sungai di Baduy dapat digunakan, jadi tidak boleh untuk

sembarangan mandi. Guna, melestarikan sungai.

22lionmag.net (http://lionmag.net/web/2016/11/29/akar-budaya-baduy-

wisata-banten-banten), Jumat, 18 Mei 2018 diakses pukul 11.11 WIB 23brilio.net (https://www.brilio.net/news/keren-jembatan-suku-baduy-

terbuat-dari-akar-tanpa-alat-perekat-150323i.html) – Jumat, 18 Mei 2018

16.57 WIB

24pesona travel (http://pesona.travel/artikel/hebatnya-perkampungan-

baduy-sampai-jembatan-pun-dibuat-dari-akar) Jumat, 18 Mei 2018 pukul

11.17 WIB

Page 54: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

54

Gambar 4.10:

Kelapa

Scene Menit (04.45 – 07.04) 1. Penanda (Signifier)

Namanya juga urang Kanekes.

Memanjat pohon kelapa seperti

ini sudah biasa dilakukan.

Bahkan oleh anak-anak seusia

kami. Kalau ini jenis tanaman

kelapa hijau.

Air kelapa juga dapat

menambah tenaga dalam tubuh.

Nah, cocok nih. Jika besok kami

berangkat ke Bogor untuk

menghadiri jamboree, tentu

butuh tenaga banyak. Maklum

saja, perjalanannya cukup jauh.

2. Pertanda

(Signified)

Kelapa hijau

3. Tanda Denotatif (Denotative Sign)

Si Bolang bersama dengan teman-temannya tengah

memanfaatkan tumbuhan kelapa seperti buah dan

janurnya. Tumbuhan ini berbatang tinggi, buahnya

tertutup sabut dan tempurung yang keras, di dalamnya

terdapat daging yang mengandung santan dan air,

merupakan tumbuhan serba guna.

4. Penanda Konotatif (Connotative Signifier)

Daunnya menjari dan buahnya bulat

5. Pertanda Konotatif

(Connotative

Signified)

Mengambil daun

atau janur serta

buah

6. Tanda Konotatif (Connotative Sign)

Daunnya dapat dimanfaatkan sebagai pembungkus makanan, barang dan hewan

peliharaan. Air dan buahnya menyegarkan dan menambah tenaga dalam tubuh.

Airnya juga dapat dijadikan gula kawung atau gula aren.

Berdasarkan gambar 4.10 memanfaatkan yang ada pada pohon kelapa,

scene menit (04.45 – 07.04) makna denotasi dari scene ini yaitu Si Bolang

bersama dengan teman-temannya tengah memanfaatkan tumbuhan kelapa

seperti buah dan janurnya. Tumbuhan ini berbatang tinggi, buahnya

Page 55: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

55

tertutup sabut dan tempurung yang keras, di dalamnya terdapat daging

yang mengandung santan dan air, merupakan tumbuhan serba guna.

Sedangkan makna konatasinya; daunnya dapat digunakan sebagai

pembungkus makanan, barang dan hewan peliharaan. Air dan buahnya

menyegarkan untuk menambah tenaga dalam tubuh25. Airnya dapat

dijadikan gula, sabutnya bias sebagai pengganti pasta gigi.

25Si Bolang, Sepucuk Surat Untuk Si Bolang Dari Kanekes, Selasa, 25 Juli

2017 pukul 13.30 WIB.

Page 56: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

56

Gambar 4.11:

Kaum Wanita Memasak

Scene Menit (12.30-13.10) 1. Penanda (Signifier)

Audio:

Kebersamaan sudah

menjadi bagian dari

hidup kami. Kami saling

membantu untuk

berbagai hal. Salah

satunya jika ada hajatan

pernikahan seperti ini.

Kaum perempuan seperti

tetehku… eh maksudku

kakak…ini banyak

terlibat di dapur umum

untuk memasak.

2. Pertanda

(Signified)

Memasak

3. Tanda Denotatif (Denotative Sign)

Si Bolang meminta bantuan sang kaka dan

rekannya yang sedang berkumpul di dapur, saling

membantu satu sama lain, agar cepat selesai.untuk

memasak ayamnya sebagai bekal jambore.

4. Penanda Konotatif (Connotative Signifier)

Kebersamaan dan bersosial

5. Pertanda Konotatif

(Connotative Signified)

Memasak untuk hajatan

6. Tanda Konotatif (Connotative Sign)

Tradisi suku Baduy Luar memasak bersama untuk acara seperti hajatan. Tungku

yang digunakan untuk memasak terbuat dari tanah liat, kemudian apinya tidak

boleh menyentuh tanah – kepercayaan orangtua jika api menyentuh tanah alam

bisa tersakiti dan murka.

Berdasarkan gambar 4.11 kaum wanita memasak, scene menit 12.30-

13.10) makna denotasi pada scene ini yaitu Si Bolang meminta bantuan

sang kaka dan rekannya yang sedang berkumpul di dapur, saling membantu

satu sama lain, agar cepat selesai.untuk memasak ayamnya sebagai bekal

jambore.

Makna konotasinya adalah tradisi suku Baduy Luar pada saat memasak

bersama seperti hajatan (Si Bolang, Selasa, 25 Juli 2017) dan Tungku yang

Page 57: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

57

digunakan untuk memasak terbuat dari tanah liat, kemudian apinya tidak

boleh menyentuh tanah – kepercayaan orangtua jika api menyentuh tanah

alam bisa tersakiti dan murka26.

Bagian dapur suku Baduy terletak berhimpitan dengan ruang tengah yang

berfungsi juga sebagai ruang tidur, itu pun hanya dipisahkan oleh sekat

bambu, dapur suku Baduy ini hanya terbuat dari rangka kayu dan atap

pohon kelapa. Di dalam dapur hanya ada dua buah tungku api dengan

perabotan masak yang khas dan sederhana seperti dandang dan wajan yang

terbuat dari kuningan, gentong untuk menyimpan air bersih lalu saya

melihat juga gula aren yang digantung disudut dapur. Sedangkan untuk

menanak nasi mereka menggunakan bejana dan anyaman bambu27.

Yang menarik lagi mengenai dapur orang baduy adalah cara menyimpan

makanan dengan menggantungnya.Ini digunakan untuk menghindari

kucing atau binatang lain menyentuh makanan mereka.

26Netmediatama: Indonesia Bagus, Keindahan alam dan kearifan suku

Baduy, 1 Juli 2013 pukul 20.30 WIB

27Ingredients Of Life “Memasak di Dapur Baduy”

(https://ioflife.com/?p=2780) Jumat 28 Mei 2018 pukul 11.00 WIB

Page 58: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

58

7. Kearifan Lokal Tidak Berwujud

Kearifan lokal yang tidak berwujud seperti petuah yang disampaikan

secara verbal dan turun temurun yang bisa berupa nyanyian dan kidung yang

mengandung nilai ajaran tradisional. Melalui petuah atau bentuk kearifan lokal

yang tidak berwujud lainnya, nilai sosial disampaikan secara oral/verbal dari

generasi ke generasi.

Gambar 4.12:

Jalan Kaki

Scene Menit (00.57 – 01.09) 1. Penanda (Signifier)

Audio:

Di kampung kami, segala

jenis kendaraan memang

terlarang untuk

dipergunakan. Jika

berpegian antar kampung di

kawasan Kanekes, ya, harus

berjalan kaki seperti ini.

2. Pertanda

(Signified)

Bepergian

3. Tanda Denotatif (Denotative Sign)

Tim liputan Jambore Si Bolang 2017 tengah

berjalan kaki menyusuri kampung Baduy Luar,

dikarenakkan tidak dibolehkannya kendaraan

memasuki kawasan tersebut.

4. Penanda Konotatif (Connotative Signifier)

Kebersamaan

5. Pertanda Konotatif

(Connotative Signified)

Kebiasaan sehari-hari

warga Baduy berjalan

kaki antar kampung

maupun kota.

6. Tanda Konotatif (Connotative Sign)

“Kampung Baduy terdiri dari 3 zona, yakni Baduy Dalam/Kanekes Tangtu, Baduy

Luar/Kanekes Penamping, dan Luar Baduy. Khusus 2 zona pertama tidak

diperkenankan menggunakan semua jenis kendaraan saat di dalam wilayah,

kecuali kawasan Luar Baduy, namun orang Kanekes Penamping diperbolehkan

memakai kendaraan diluar wilayah utama Kanekes, ” ucap C. Wicaksana (Asisten

Produksi Si Bolang)

Page 59: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

59

Tidak dibenarkan menggunakan kendaraan saat di dalam Baduy, namun ketika di

luar Baduy bisa menggunakan kendaraan.

Leumpang suku (berjalan kaki tanpa alas kaki) ketika menjual hasil niaga ke

Pasar Ciboleger, Rangkas Bitung bahkan sampai Jakarta.

Berdasarkan gambar 4.12 jalan kaki, scene menit (00.57 – 01.09) makna

denotasi Tim liputan Jambore Si Bolang 2017 tengah berjalan kaki

menyusuri kampung Baduy Luar, dikarenakkan tidak dibolehkannya

kendaraan memasuki kawasan tersebut.

Makna konotasinya adalah “Kampung Baduy terdiri dari 3 zona, yakni

Baduy Dalam/Kanekes Tangtu, Baduy Luar/Kanekes Penamping, dan Luar

Baduy. Khusus 2 zona pertama tidak diperkenankan menggunakan semua

jenis kendaraan saat di dalam wilayah, kecuali kawasan Luar Baduy,

namun orang Kanekes Penamping diperbolehkan memakai kendaraan

diluar wilayah utama Kanekes, ” ucap C. Wicaksana (Asisten Produksi Si

Bolang)

Tidak dibenarkan menggunakan kendaraan saat di dalam Baduy, namun

ketika di luar Baduy bisa menggunakan kendaraan. (Martini, 2004:6) Serta

leumpang suku (berjalan kaki tanpa alas kaki) ketika menjual hasil niaga

ke Pasar Ciboleger, Rangkas Bitung bahkan sampai ke Jakarta. (Mansur

dan Mahmudah, 2016:12)

Dengan demikian, ciri dari kaki orang Baduy lebar dan pendek serta

telapak kaki mereka juga terkenal kuat. Karena digunakan untuk berjalan

kaki terus menerus.

Page 60: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

60

Gambar 4.13:

Hanya Pelihara Hewan Berkaki Dua

Scene Menit (08.09 – 08.57) 1. Penanda (Signifier)

Audio:

Ayam adalah lauk pauk sehari-

hari orang Kanekes. tak heran

orang Baduy banyak

memeliharanya. Menurut

aturan adat, kami tak

diperbolehkan berternak hewan

yang berkaki empat seperti sapi

ataupun kambing. Jadi, ayam

saja yang diperbolehkan untuk

dipelihara dalam lingkungan

desa adat Kanekes.

Kata kakekku, hewan berkaki

empat dapat merusak tanaman

padi atau pun tanaman rambat

lainnya di ladang-ladang kami.

Mungkin, itulah sebabnya para

jaro atau pemimpin desa

dikampungku menetapkan

larangan tersebut.

Tapi kami diperbolehkan kok,

memakan dagingnya. Asalkan

saja kami tak memeliharanya

dalam wilayah adat Kanekes.

2. Pertanda

(Signified)

Hewan berkaki

dua dan

berkokok

3. Tanda Denotatif (Denotative Sign)

Ayam adalah ewan atau unggas pada umumnya tidak

dapat terbang, dapat dijinakan dan dipelihara,

berjengger, yang jantan berkokok, dan betina berkotek.

Hewan tersebut adalah hewan yang dapat dipelihara di

kawasan Baduy. Sedangkan hewan berkaki empat tidak

dibenarkan, namun masih dapat memakannya ketika di

dapat dari luar kawasan Baduy.

4. Penanda Konotatif (Connotative Signifier)

Hewan berkaki dua, bukan berkaki empat

5. Pertanda Konotatif

(Connotative

Signified)

Hewan peliharaan

6. Tanda Konotatiff (Connotative Sign)

“Peraturan adat suku Baduy Luar yang hanya membolehkan memelihara ayam dan

tidak memperbolehkan memelihara hewan berkaki empat, namun boleh

memakannya yang dapat dibelinya dari luar. Hal itu menilik dari latarbelakang

mata pencaharian suku Baduy yaitu berhuma. Dikhawatirkan adanya hewan

berkaki empat mengganggu tanaman mereka, juga kotoran hewan berkaki empat

Page 61: BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah TRANS7

61

berpotensi cepat membawa penyakit bila di dekat pemukiman,” C. Wicaksana

(Asisten Produksi Si Bolang)

Tidak memelihara hewan berkaki empat: merupakan salah satu kearifan dan

filosofi masyarakat Baduy. Tidak memelihara ternak berkaki empat merupakan

salahsatu hukum adat di masyarakat Baduy.

Berdasarkan gambar 4.13 hanya pelihara hewan berkaki dua, scene menit

(08.09 – 08.57) makna denotasi pada scene ini Ayam adalah ewan atau

unggas pada umumnya tidak dapat terbang, dapat dijinakan dan dipelihara,

berjengger, yang jantan berkokok, dan betina berkotek. Hewan tersebut

adalah hewan yang dapat dipelihara di kawasan Baduy. Sedangkan hewan

berkaki empat tidak dibenarkan, namun masih dapat memakannya ketika

di dapat dari luar kawasan Baduy.

Makna konotatifnya “Peraturan adat suku Baduy Luar yang hanya

membolehkan memelihara ayam dan tidak memperbolehkan memelihara

hewan berkaki empat, namun boleh memakannya yang dapat dibelinya dari

luar. Hal itu menilik dari latarbelakang mata pencaharian suku Baduy yaitu

berhuma. Dikhawatirkan adanya hewan berkaki empat mengganggu

tanaman mereka, juga kotoran hewan berkaki empat berpotensi cepat

membawa penyakit bila di dekat pemukiman,” C. Wicaksana (Asisten

Produksi Si Bolang)

Tidak memelihara hewan berkaki empat: merupakan salah satu kearifan

dan filosofi masyarakat Baduy (Mansur dan Mahmudah, 2016:167)

Tidak memelihara ternak berkaki empat merupakan salahsatu hukum adat

di masyarakat Baduy. (Martini, 2013:12)