bab v bagaimana pajak berperan sebagai perwujudan sila-sila

of 23 /23
BAB V BAGAIMANA PAJAK BERPERAN SEBAGAI PERWUJUDAN SILA-SILA PANCASILA? Pada bab ini, Anda akan diminta untuk memahami arti penting kewajiban pajak sebagai perwujudan pengamalan sila-sila Pancasila. Sebagai panduan, bab ini akan memaparkan secara singkat tentang krisis kepercayaan yang dialami oleh bangsa Indonesia yang dampaknya tidak hanya pada bidang politik, tetapi juga pada bidang ekonomi terutama menurunnya kesadaran warga negara yang mampu dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya. Krisis kepercayaan terlihat pada pencarian kepuasan langsung dengan menyingkirkan norma kolektif sehingga tidak ada lagi nilai kebersamaan yang menjadi standar hidup bersama. Hal ini mulai terlihat dalam berbagai fenomena kehidupan di Indonesia yang lebih mengagungkan pencarian kepuasan dalam bentuk materi, sehingga tidak lagi menghargai norma kolektif bangsa. Salah satu bentuk sikap yang tidak lagi menghargai norma kolektif bangsa adalah keengganan sebagian Wajib Pajak dalam memenuhi kewajiban perpajakannya. Untuk mengatasi persoalan tersebut, maka diperlukan kecerdasan ideologis sebagai seorang warga negara. Kecerdasan ideologis (ideological intelligence) mengacu pada kapasitas seorang warga negara untuk hidup berdampingan dengan warga negara lainnya dalam suasana damai dan toleran. Suatu bangsa merupakan ikatan emosional yang memerlukan semangat kebersamaan (mitsein), sedangkan negara merupakan institusi yang memiliki aturan bersama sehingga memerlukan semangat kepatuhan untuk hidup bersama. Oleh karena itu, terdapat beberapa komponen yang diperlukan untuk mendukung kecerdasan ideologis dalam kehidupan bangsa Indonesia.

Upload: truongcong

Post on 11-Dec-2016

293 views

Category:

Documents


4 download

TRANSCRIPT

BAB V

BAGAIMANA PAJAK BERPERAN SEBAGAI

PERWUJUDAN SILA-SILA PANCASILA?

Pada bab ini, Anda akan diminta untuk memahami arti penting kewajiban

pajak sebagai perwujudan pengamalan sila-sila Pancasila. Sebagai panduan,

bab ini akan memaparkan secara singkat tentang krisis kepercayaan yang

dialami oleh bangsa Indonesia yang dampaknya tidak hanya pada bidang

politik, tetapi juga pada bidang ekonomi terutama menurunnya kesadaran

warga negara yang mampu dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya.

Krisis kepercayaan terlihat pada pencarian kepuasan langsung dengan

menyingkirkan norma kolektif sehingga tidak ada lagi nilai kebersamaan

yang menjadi standar hidup bersama. Hal ini mulai terlihat dalam berbagai

fenomena kehidupan di Indonesia yang lebih mengagungkan pencarian

kepuasan dalam bentuk materi, sehingga tidak lagi menghargai norma

kolektif bangsa.

Salah satu bentuk sikap yang tidak lagi menghargai norma kolektif bangsa

adalah keengganan sebagian Wajib Pajak dalam memenuhi kewajiban

perpajakannya. Untuk mengatasi persoalan tersebut, maka diperlukan

kecerdasan ideologis sebagai seorang warga negara. Kecerdasan ideologis

(ideological intelligence) mengacu pada kapasitas seorang warga negara

untuk hidup berdampingan dengan warga negara lainnya dalam suasana

damai dan toleran. Suatu bangsa merupakan ikatan emosional yang

memerlukan semangat kebersamaan (mitsein), sedangkan negara

merupakan institusi yang memiliki aturan bersama sehingga memerlukan

semangat kepatuhan untuk hidup bersama. Oleh karena itu, terdapat

beberapa komponen yang diperlukan untuk mendukung kecerdasan

ideologis dalam kehidupan bangsa Indonesia.

Pertama, pemahaman atas hak dan kewajiban dari setiap warga negara.

Seseorang yang memahami hak dan kewajibannya dengan baik, berarti ia

telah menempatkan diri secara tepat dan proporsional dalam kedudukannya

sebagai warga negara. Hak adalah sesuatu yang boleh dimiliki dan

diperjuangkan dalam kedudukannya sebagai warga negara. Misalnya, hak

untuk memperoleh kedudukan yang sama di depan hukum merupakan

hakikat keadilan atau ingin diperlakukan adil dari setiap orang. Kewajiban

merupakan sisi lain dari keadilan di samping hak, karena hak bagi satu pihak

menuntut kewajiban dari pihak lain.

Kedua, pemahaman atas semangat toleransi sebagai wujud hidup bersama.

Toleransi merupakan suatu pemahaman atas situasi dan keadaan yang

berkembang dalam kehidupan bersama. Seseorang dikatakan toleran

apabila ia dapat memahami situasi dan keadaan orang lain, sehingga tidak

terjadi konflik. Toleransi merupakan sikap mental yang menghargai

perbedaan, serta memiliki kontrol atau pengendalian diri dalam ruang publik.

Toleransi membuka peluang untuk terjadinya komunikasi dan dialog di

antara berbagai pihak sehingga situasi yang semula beku menjadi cair.

Ketiga, pemahaman atas nilai keberagaman sebagai suatu faktisitas.

Keberagaman atau pluralitas merupakan fitrah manusia, karena tidak ada

orang benar-benar sama dalam segala hal. Perbedaan tidak hanya

merupakan faktisitas, melainkan sebagai ujian untuk membuktikan

kematangan (maturation) seseorang atau suatu komunitas dalam pergaulan

antarsesama.

Keempat, pemahaman atas nilai luhur sebagai warisan sejarah dalam bentuk

norma kolektif. Sikap menghargai warisan sejarah masa lampau diperlukan

untuk mengolah dan menanamkan memori kolektif dari suatu bangsa.

Warisan masa lampau akan bermanfaat apabila diimplementasikan dalam

kondisi saat ini. Interpretasi atas nilai luhur sebagai warisan sejarah masa

lampau diperlukan untuk membangun rasa kebersamaan. Warisan masa

lampau merupakan goresan yang membekas dalam memori banyak orang

untuk memahami raison d’etre bangsa atau kelompok tersebut. Pemahaman

atas kehadiran suatu bangsa yang mampu membangkitkan rasa

kebangsaan (nasionalisme), pada gilirannya melahirkan rasa cinta tanah air,

tidak hanya dalam arti fisik dan formal, bahkan tanah air dalam arti mental.

Kelima, pemahaman atas nilai ideal yang diperjuangkan untuk mencapai

masa depan yang lebih baik. Nilai ideal diperlukan sebagai guidance dan

leading principle dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Nilai ideal

sebagai guidance memiliki arti bahwa nilai tersebut dapat menjadi tuntunan

dalam kehidupan bersama suatu bangsa. Nilai ideal sebagai leading principle

memiliki arti bahwa nilai tersebut berisikan prinsip-prinsip hukum yang

bersifat tersirat, sehingga tidak dapat dilihat, namun bisa dirasakan

keberadaannya.

Bab ini menggambarkan Pancasila sebagai ideologi negara yang merupakan

penuntun penyelenggara negara dan warga negara dalam mewujudkan

kesejahteraan bangsa. Salah satu pendukung pokok terwujudnya

kesejahteraan bangsa adalah pajak.

Anda sebagai mahasiswa tentu sudah mengetahui bahwa Pancasila adalah

Ideologi Negara Indonesia. Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia

mengandung sistem nilai yang khas pada setiap silanya karena setiap

ideologi mengandung cita-cita dan tujuan untuk hidup bersama. Berikut ini

akan dikemukakan secara singkat tentang hakikat sila-sila Pancasila sebagai

Ideologi tersebut

Ketuhanan berasal dari kata Tuhan, dengan penambahan awalan ke- dan

akhiran -an. Ketuhanan mengandung pengertian dan keyakinan adanya

Tuhan yang Maha Esa, pencipta alam semesta, beserta isinya. Keyakinan itu

bukanlah suatu dogma atau kepercayaan yang tidak dapat dibuktikan

AKTIVITAS

Silakan Anda mencari sumber pembanding hubungan ideologi

dengan pajak di Negara lain.

kebenarannya melalui akal pikiran, melainkan suatu kepercayaan yang

berakar pada pengetahuan yang benar yang dapat diuji atau dibuktikan

melalui kaidah-kaidah logika.

Sila Ketuhanan Yang Maha Esa bertitik tolak dari kesadaran bahwa Tuhan

hadir dalam ruang sejarah bangsa Indonesia, sehingga dalam alinea III

Pembukaan Undang-Undang Dasar Tahun 1945 ditegaskan bahwa

kemerdekaan Indonesia dicapai ”Atas berkat Rahmat Allah Yang Maha

Kuasa”. Tidak setiap bangsa mencantumkan kehadiran Tuhan dalam sejarah

kelahiran bangsanya. Hal ini menunjukkan bahwa sejak awal berdirinya

bangsa Indonesia, nilai Ketuhanan mendapat perhatian yang besar dari

pendiri negara.

Soekarno, dalam pidato 1 Juni 1945, melontarkan gagasan tentang ke-

Tuhanan yang berkebudayaan, ke-Tuhanan yang berbudi pekerti yang luhur,

ke-Tuhanan yang hormat-menghormati satu sama lain (Yudi Latif, 2011:

55). Komponen kecerdasan ideologis dalam sila pertama ini terletak pada

tiga hal. Pertama, menghadirkan Tuhan dalam perikehidupan berbangsa dan

bernegara. Kedua, kehadiran Tuhan dibuktikan melalui budi pekerti yang

luhur. Ketiga, saling menghormati (toleransi) antar umat beragama.

Atas keyakinan tersebut, Indonesia adalah negara yang berdasarkan

Ketuhanan yang Maha Esa yang memberikan jaminan kebebasan kepada

setiap penduduk untuk memeluk agama dan beribadah sesuai dengan

keyakinannya. Indonesia tidak memperbolehkan terdapat sikap dan

perbuatan yang anti Ketuhanan yang Maha Esa, anti keagamaan, serta tidak

boleh terdapat paksaan dalam memeluk agama dan beribadah. Dengan kata

lain, Negara Indonesia meniadakan atheisme (tidak memiliki Tuhan).

Kemanusiaan berasal dari kata manusia, yaitu mahluk berbudi yang

mempunyai potensi pikir, rasa, karsa, dan cipta. Potensi inilah yang membuat

manusia menduduki martabat yang tinggi dengan akal budinya dan menjadi

berkebudayaan dengan budi nuraninya. Adil mengandung arti bahwa suatu

keputusan dan tindakan didasarkan atas norma-norma yang objektif, tidak

subjektif, apalagi sewenang-wenang. Beradab berasal dari kata adab, yang

berarti budaya, serta mengandung arti bahwa sikap hidup, keputusan, dan

tindakan selalu berdasarkan nilai budaya, terutama norma sosial dan

kesusilaan. Adab mengandung pengertian tata kesopanan kesusilaan atau

moral.

Jadi, kemanusiaan yang adil dan beradab adalah kesadaran sikap dan

perbuatan manusia yang didasarkan kepada potensi budi nurani manusia

dalam hubungan dengan norma-norma dan kebudayaan umumnya baik

terhadap diri pribadi, sesama manusia maupun terhadap alam dan hewan.

Di dalam sila kedua, Kemanusian yang Adil dan Beradab telah tersimpul cita-

cita kemanusiaan yang lengkap, yang adil dan beradab. Sila kedua ini diliputi

dan dijiwai oleh sila pertama hal ini berarti bahwa Kemanusiaan yang Adil dan

Beradab bagi bangsa Indonesia bersumber dari ajaran Tuhan Yang Maha Esa

sesuai dengan kodrat manusia sebagai ciptaan-Nya.

Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab berangkat dari kesadaran historis

bangsa Indonesia”... penjajahan di atas dunia itu harus dihapuskan karena

tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”. Bung Hatta sebagai

salah seorang pendiri negara menegaskan bahwa pengakuan kepada dasar

Ketuhanan yang Maha Esa mengajak manusia melaksanakan harmoni di

alam dengan memupuk persahabatan, persaudaraan antar manusia dan

bangsa (Yudi Latif, 2011: 125-127).

Persatuan berasal dari kata satu yang berarti utuh tidak terpecah belah.

Persatuan berarti bersatunya bermacam corak yang beraneka ragam

menjadi satu kesatuan. Jadi, Persatuan Indonesia adalah persatuan bangsa

yang mendiami wilayah Indonesia. Bangsa yang mendiami wilayah Indonesia

bersatu karena didorong untuk mencapai kehidupan yang bebas dalam

wadah Negara yang merdeka dan berdaulat. Persatuan Indonesia bertujuan

untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan

bangsa, serta mewujudkan perdamaian dunia yang abadi.

Sila Persatuan Indonesia bertitik tolak dari kesadaran bahwa diperlukan

kemampuan untuk mengelola keanekaragaman menjadi suatu kekuatan

persatuan (unity). Persatuan Indonesia merupakan starting point kesadaran

nasionalisme bangsa Indonesia untuk menggalang semangat kebersamaan

(Mitsein). Kebersamaan merupakan modal penting untuk melawan berbagai

bentuk penjajahan. Gellner menegaskan: “Nationalism is primarily a political

principle, which holds that the political and the national unit should be

congruent (Poole,1999:10).

Penyelarasan antara prinsip politik dengan prinsip berbangsa ini

memerlukan moralitas politik untuk menjaga vested interest yang berlebihan

dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Komponen kecerdasan

ideologis yang penting dalam sila ketiga ini ialah mengutamakan

kepentingan bangsa dan memiliki semangat pengorbanan yang terbina dari

dalam diri setiap warga negara.

Di samping itu, nasionalisme, sebagai sebuah ikatan kebersamaan,

mengajarkan pentingnya memahami konsensus, terutama dalam

memahami simbol-simbol negara, termasuk semboyan “Bhinneka Tunggal

Ika”. Semboyan yang terdapat pada simbol burung Garuda itu merupakan

sebuah komitmen untuk hidup bersama dalam keberagaman yang ada. Oleh

karena itu, kecerdasan simbolis diperlukan untuk menyertai komponen

ideologis dalam sila ketiga ini.

Dewasa ini, komponen kecerdasan ideologis ini yang mengalami nuansa

dalam kehidupan berbangsa di Indonesia, karena ketidakmampuan

menyelaraskan antara kepentingan politik -khususnya partai politik- dengan

kepentingan bangsa dalam lingkup yang lebih luas, sehingga di kalangan

masyarakat berkembang semacam politikofobia, fobia terhadap politisi

Kerakyatan berasal dari kata rakyat, yang berarti sekelompok manusia

dalam suatu wilayah tertentu. Kerakyatan dalam hubungan dengan sila

keempat bahwa “kekuasaan yang tertinggi berada di tangan rakyat. Hikmat

kebijaksanaan berarti penggunaan pikiran atau rasio yang sehat dengan

selalu mempertimbangkan persatuan dan kesatuan bangsa, kepentingan

rakyat dan dilaksanakan dengan sadar, jujur dan bertanggung jawab.

Permusyawaratan adalah suatu tata cara khas kepribadian Indonesia untuk

merumuskan dan memutuskan sesuatu hal berdasarkan kehendak rakyat

hingga mencapai keputusan yang berdasarkan kebulatan pendapat atau

mupakat. Perwakilan adalah suatu sistem dalam arti tata cara (prosedura)

mengusahakan turut sertanya rakyat mengambil bagian dalam kehidupan

bernegara melalui badan-badan perwakilan.

Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam

Permusyawaratan Perwakilan bertitik tolak dari kesadaran bahwa

kebijaksanaan adalah sikap jiwa filosofis yang mempertemukan pendirian

pribadi dengan orang lain dalam sebuah ruang publik, yakni wadah yang di

dalamnya keyakinan dan pendapat dapat ditampung dan dibicarakan secara

bebas dan bertanggung jawab. Semangat musyawarah --- Syirtu al-’asal

yang artinya mengeluarkan madu dari wadahnya -- Dalam sila keempat ini

mengarah pada suasana dialogis dalam suatu komunikasi atau pengambilan

keputusan, sehingga pendirian pribadi mencair dengan keputusan yang

diambil bersama. Komponen kecerdasan ideologis dalam sila keempat ini

terletak pada kemampuan untuk berkomunikasi dengan semangat

musyawarah.

Keadilan sosial berarti keadilan yang berlaku dalam masyarakat di segala

bidang kehidupan, baik material maupun spiritual. Seluruh rakyat Indonesia

berarti setiap orang yang menjadi rakyat Indonesia, baik yang berdiam di

wilayah kekuasaan Republik Indonesia maupun warga Negara Indonesia

yang berada di luar negeri.

Jadi, sila kelima berarti bahwa setiap orang Indonesia berhak mendapat

perlakuan yang adil dalam bidang hukum, politik, sosial, ekonomi, dan

kebudayaan. Sila Keadilan sosial adalah tujuan dari empat sila yang

mendahuluinya, serta merupakan tujuan bangsa Indonesia dalam

bernegara, yang perwujudannya dilaksanakan dengan menciptakan

masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan nilai-nilai Pancasila.

Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia bertitik tolak dari

kesadaran bahwa adil merupakan cita-cita yang didambakan setiap insan

dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Keadilan pada

hakikatnya merupakan suatu bentuk keseimbangan antara apa yang

seharusnya (Das Sollen) dengan apa yang sebenarnya (Das Sein). Komponen

kecerdasan ideologis dalam sila keadilan terletak pada dua hal, yaitu

kemampuan memperlakukan orang lain seperti memperlakukan dirinya

sendiri, dan kemampuan menemukan aspek keseimbangan antara nilai ideal

dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara dengan nilai kenyataan

dalam tindakan atau keputusan yang diambil.

Keadilan dalam sila kelima harus sesuai dengan hakikat adil, yaitu

pemenuhan hak dan kewajiban pada kodrat manusia. Hakikat keadilan ini

berkaitan dengan hidup manusia, yaitu hubungan keadilan antara manusia

satu dengan manusia lainnya, manusia dengan Tuhan-nya, dan manusia

dengan dirinya sendiri.

Keadilan ini sesuai dengan makna yang terkandung dalam pengertian sila

kedua, yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab. Selanjutnya, hakikat adil

sebagaimana yang terkandung dalam sila kedua ini terjelma dalam sila

kelima, yaitu memberikan kepada siapapun juga apa yang telah menjadi

haknya.

Berdasarkan penelusuran kepustakaan tidak ditemukan naskah yang

secara eksplisit mengemukakan sumber historis, sosiologis, dan politis

tentang pajak sebagai perwujudan nilai-nilai Pancasila. Namun demikian,

jika dikaji secara umum, pajak merupakan salah satu hal penting dalam

pengamalan nilai-nilai Pancasila. Berikut ini akan dipaparkan tentang

AKTIVITAS

Mahasiswa diminta untuk mengajukan pertanyaan tentang kaitan

historis, sosiologis, yuridis, dan politis sesuai dengan nilai-nilai

Pancasila.

sumber historis, sosiologis, politis tentang Pancasila sebagai Ideologi

negara.

Pada bagian ini, akan ditelusuri kedudukan Pancasila sebagai ideologi oleh

para penyelenggara negara yang berkuasa sepanjang sejarah negara

Indonesia.

1. Pancasila sebagai ideologi negara dalam masa pemerintahan presiden

Soekarno.

Pada masa pemerintahan presiden Soekarno, Pancasila ditegaskan

sebagai pemersatu bangsa. Penegasan ini dikumandangkan oleh

Soekarno dalam berbagai pidato politiknya dalam kurun waktu 1945-

1960. Namun seiring dengan berjalannya waktu, pada rentang waktu

1960--1965, Soekarno lebih mementingkan konsep Nasakom

(Nasionalisme, Agama, dan Komunisme) sebagai landasan politik bagi

bangsa Indonesia. Berdasarkan hal ini, maka Soekarno lebih memiliki

pandangan kegotongroyongan dalam membangun bangsa.

2. Pancasila sebagai ideologi dalam masa pemerintahan Presiden

Soeharto.

Pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, Pancasila dijadikan

sebagai asas tunggal bagi Organisasi Politik dan Organisasi

Kemasyarakatan. Periode ini diawali dengan keluarnya TAP MPR Nomor

II/1978 tentang pemasyarakatan nilai-nilai Pancasila. TAP MPR ini

menjadi landasan bagi dilaksanakannya penataran P-4 bagi semua

lapisan masyarakat. Akibat dari cara-cara rezim dalam

memasyarakatkan Pancasila memberi kesan bahwa tafsir ideologi

Pancasila adalah produk rezim Orde Baru (monotafsir ideologi) yang

berkuasa pada waktu itu.

3. Pancasila sebagai ideologi dalam masa pemerintahan presiden Habibie

Presiden Habibie menggantikan Presiden Soeharto yang mundur pada

tanggal 21 Mei 1998. Atas desakan berbagai pihak Habibie menghapus

penataran P-4. Pada masa sekarang ini, resonansi Pancasila kurang

bergema karena pemerintahan Habibie lebih disibukkan masalah politis,

baik dalam negeri maupun luar negeri. Di samping itu, lembaga yang

bertanggung jawab terhadap sosialisasi nilai-nilai Pancasila dibubarkan

berdasarkan Keppres Nomor 27 tahun 1999 tentang pencabutan

Keppres Nomor 10 tahun 1979 tentang Badan Pembinaan Pendidikan

Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (BP-7).

Sebenarnya, dalam Keppres tersebut dinyatakan akan dibentuk lembaga

serupa, tetapi lembaga khusus yang mengkaji, mengembangkan, dan

mengawal Pancasila hingga saat ini belum ada.

4. Pancasila sebagai Ideologi dalam masa pemerintahan presiden

Abdurrahman Wahid.

Pada masa pemerintahan presiden Abdurrahman Wahid muncul wacana

tentang penghapusan TAP NO.XXV/MPRS/1966 tentang pelarangan PKI

dan penyebarluasan ajaran komunisme. Di masa ini, yang lebih dominan

adalah kebebasan berpendapat sehingga perhatian terhadap ideologi

Pancasila cenderung melemah.

5. Pancasila sebagai ideologi dalam masa pemerintahan Presiden

Megawati.

Pada masa ini, Pancasila sebagai ideologi semakin kehilangan

formalitasnya dengan disahkannya Undang-Undang Nomor 20 Tahun

2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang tidak mencantumkan

pendidikan Pancasila sebagai mata pelajaran wajib dari tingkat Sekolah

Dasar sampai Perguruan Tinggi.

6. Pancasila sebagai ideologi dalam masa pemerintahan presiden Susilo

Bambang Yudhoyono (SBY)

Pada awal pemerintahannya, Pemerintahan SBY yang berlangsung

dalam dua periode tidak terlalu memperhatikan pentingnya Pancasila

sebagai ideologi negara. Hal ini dapat dilihat dari belum adanya upaya

untuk membentuk suatu lembaga yang berwenang untuk menjaga dan

mengawal Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi negara

sebagaimana diamanatkan oleh Keppres No. 27 tahun 1999. Suasana

politik lebih banyak ditandai dengan pertarungan politik dengan meraih

suara sebanyak-banyaknya dalam Pemilu. Mendekati akhir masa

jabatannya, Presiden SBY menandatangani Undang-Undang Nomor 12

tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi yang mencantumkan mata kuliah

Pancasila sebagai mata kuliah wajib pada pasal 35 ayat (3).

Presiden Ketiga B. J. Habibie dalam pidatonya pada tanggal 1 Juni 2011,

mengemukakan bahwa salah satu faktor penyebab dilupakannya

Pancasila di era reformasi ialah “sebagai akibat dari traumatisnya

masyarakat terhadap penyalahgunaan kekuasaan di masa lalu yang

mengatasnamakan Pancasila. Semangat generasi reformasi untuk

menanggalkan segala hal yang dipahaminya sebagai bagian dari masa

lalu dan menggantinya dengan sesuatu yang baru, berimplikasi pada

munculnya ‘amnesia nasional' tentang pentingnya kehadiran Pancasila

sebagai ground norm (norma dasar) yang mampu menjadi payung

kebangsaan yang menaungi seluruh warga negara yang

plural.”(http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/11/06/01/lm43df-ini-dia-

pidato-lengkap-presiden-ketiga-ri-bj-habibiei)

Pada bagian ini, akan dilihat Pancasila sebagai ideologi negara berakar dalam

kehidupan masyarakat. Unsur-unsur sosiologis yang membentuk Pancasila

sebagai ideologi negara meliputi hal-hal sebagai berikut.

1. Sila Ketuhanan yang Maha Esa dapat ditemukan dalam kehidupan

beragama masyarakat Indonesia dalam berbagai bentuk kepercayaan

dan keyakinan terhadap adanya kekuatan gaib.

2. Sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab dapat ditemukan dalam hal

saling menghargai dan menghormati hak-hak orang lain, tidak bersikap

sewenang-wenang.

3. Sila Persatuan Indonesia dapat ditemukan dalam bentuk solidaritas, rasa

setia kawan, rasa cinta tanah air yang berwujud pada mencintai produk

dalam negeri.

4. Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam

Permusyawaratan/Perwakilan dapat ditemukan dalam bentuk

AKTIVITAS

Anda dipersilakan menggali informasi untuk memperkaya

pengetahuan tentang sumber sosiologis (kearifan lokal) dalam hal

kehidupan beragama, menghormati hak-hak orang lain, bentuk

solidaritas, dan rasa cinta terhadap produk dalam negeri yang ada

dalam kehidupan masyarakat Indonesia sejak dahulu sampai

sekarang. Diskusikan dengan teman kelompok Anda dan laporkan

secara tertulis.

menghargai pendapat orang lain, semangat musyawarah dalam

mengambil keputusan.

5. Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia tercermin dalam sikap

suka menolong, menjalankan gaya hidup sederhana, tidak menyolok

atau berlebihan.

Pada bagian ini, mahasiswa diajak untuk melihat Pancasila sebagai ideologi

negara dalam kehidupan politik di Indonesia. Unsur-unsur politis yang

membentuk Pancasila sebagai ideologi negara meliputi hal-hal sebagai

berikut:

a. Sila Ketuhanan yang Maha Esa diwujudkan dalam bentuk semangat

toleransi antar umat beragama;

b. Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab diwujudkan penghargaan

terhadap pelaksanaan Hak dan Kewajiban Asasi Manusia di Indonesia;

c. Sila Persatuan Indonesia diwujudkan dalam mendahulukan kepentingan

bangsa dan negara daripada kepentingan kelompok atau golongan,

termasuk partai;

d. Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam

Permusyawaratan/Perwakilan diwujudkan dalam mendahulukan

pengambilan keputusan berdasarkan musyawarah daripada voting.

e. Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia diwujudkan dalam

bentuk tidak menyalahgunakan kekuasaan (abuse of power) untuk

memperkaya diri atau kelompok karena penyalahgunaan kekuasaan

itulah yang menjadi faktor pemicu terjadinya korupsi.

Manusia dalam hidupnya selain sebagai makhluk individu mandiri juga

merupakan makhluk sosial yang membutuhkan orang lain. Lebih dari itu,

manusia juga adalah makhluk Tuhan, yang memberikan kehidupan dan

rezeki kepadanya. Manusia hanya dapat menjadi bermartabat dalam

hidupnya manakala ia mampu mengharmoniskan hubungannya dengan

sesama manusia dan tentu juga dengan Tuhan. Berikut ini akan dikemukakan

secara singkat penggalian nilai-nilai Pancasila sebagai dasar pembentukan

pribadi yang bermartabat.

Sila Ketuhanan Yang Maha Esa adalah keyakinan terhadap adanya Tuhan

yang mengandung nilai-nilai sebagai berikut.

1. Nilai Syukur

Syukur adalah rasa terima kasih atas segala kenikmatan yang diterima

dari Sang Maha Pemberi Rezeki. Rasa bersyukur diwujudkan dalam

beberapa aspek:

a. secara lisan dalam bentuk ucapan yang lahir dari kesadaran untuk

berterima kasih atas segala nikmat yang diperoleh;

b. secara tindakan dalam bentuk menyalurkan kelebihan rezeki yang

diperolehnya kepada pihak yang membutuhkan. Contohnya warga

negara yang mampu memberikan bantuan kepada orang yang tidak

mampu melalui pembayaran pajak.

2. Nilai Toleransi

Toleransi adalah semangat untuk saling memahami perbedaan antara

warga negara yang satu dengan warga negara yang lain. Toleransi dalam

konteks kehidupan beragama adalah semangat untuk memahami

perbedaan keyakinan antara komunitas yang satu dengan komunitas

yang lain, sehingga menghindari terjadinya konflik antar umat

beragama. Toleransi dalam konteks kehidupan bermasyarakat,

berbangsa dan bernegara adalah semangat untuk saling berbagi antara

yang mampu dengan yang tidak mampu. Dalam hal ini, negara berperan

sebagai fasilitator untuk menjembatani kesenjangan antara yang

mampu dengan yang tidak mampu. Hal ini dianalogikan dengan warga

negara yang mempunyai pendapatan di atas Penghasilan Tidak Kena

Pajak (PTKP), diwajibkan membayar pajak.

Fungsi utama toleransi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa,

dan bernegara meliputi antara lain:

a. mencegah konflik yang ditimbulkan oleh kecemburuan sosial dari

komunitas yang tidak mampu terhadap komunitas yang mampu;

b. menciptakan kehidupan yang harmonis antara sesama warga negara,

baik komunitas yang mampu maupun yang tidak mampu.

Nilai toleransi yang bertujuan untuk mencegah konflik dan menciptakan

kehidupan yang harmonis pada hakikatnya merupakan wujud kesadaran

sosial. Seseorang yang menjalankan kewajibannya dalam membayar

pajak telah mewujudkan kesadaran sosial tersebut dalam ranah publik

sehingga dapat meredam sikap-sikap egosentris.

3. Nilai Kedermawanan

Kedermawanan adalah suatu sikap suka berbagi antara yang mampu

kepada yang tidak mampu, dengan cara menyisihkan sebagian

penghasilan yang diperolehnya kepada pihak lain, antara lain dengan

cara menyisihkan sebagian penghasilan untuk pembayaran pajak.

Negara dalam hal ini berperan sebagai mediator antara komunitas yang

mampu dengan yang tidak mampu.

Fungsi utama kedermawanan dalam kehidupan bermasyarakat,

berbangsa, dan bernegara, antara lain:

a. mengungkapkan kemurahan hati antar sesama warga negara,

sehingga melahirkan kehidupan bermasyarakat yang dapat

menimbulkan ketenteraman dan kebahagiaan;

b. menciptakan rasa aman dalam kehidupan bermasyarakat,

berbangsa, dan bernegara karena komunitas yang tidak mampu

merasa diperhatikan sehingga mereka tidak terjerumus ke dalam

tindakan kriminal dan anarkis.

4. Nilai Kerendahhatian

Kerendahhatian adalah kemampuan seseorang dalam mengendalikan

diri untuk tidak bergaya hidup mewah yang dapat memancing

kecemburuan sosial dalam kehidupan bersama.

Fungsi utama kerendahhatian dalam kehidupan bermasyarakat,

berbangsa dan bernegara, antara lain:

a. melahirkan suasana kedamaian dalam kehidupan bersama, kerena

pihak yang mampu tidak memamerkan kekayaannya secara

berlebihan kepada lingkungan sekitarnya;

b. menciptakan perasaan simpati dan empati dari kedua belah pihak

dalam bentuk hubungan yang dilandasi oleh semangat kekeluargaan.

5. Nilai Keikhlasan

Keikhlasan adalah suatu perasaan rela untuk berbagi kepada pihak lain

tanpa mengharapkan balasan dari pihak yang diberi. Artinya,

seseoarang dikatakan ikhlas ketika ia membantu pihak lain tanpa

mengharapkan balasan, yang dalam terminologi Immanuel Kant

disebut dengan “imperatif kategoris”, artinya melakukan perbuatan baik

tanpa syarat, berbuat baik dengan tulus.

Fungsi utama keikhlasan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa,

dan bernegara, antara lain:

a. melahirkan suasana kehidupan bermasyarakat yang alamiah,

artinya pihak yang mampu ketika membantu pihak yang tidak

mampu sebagai kewajiban yang harus dilakukan sesuai dengan

tuntutan hari nurani;

b. melahirkan ketenangan batin yang tulus bagi pihak yang mampu

karena ia telah menunaikan kewajibannya.

Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab mengandung nilai pentingnya sikap

saling menghormati dalam hidup bersama, dan tidak menzalimi pihak lain.

Komponen kecerdasan ideologis dalam sila kedua ini terletak pada

kemampuan menjalin harmoni kehidupan berbangsa dan bernegara melalui

sikap persahabatan dan persaudaraan. Salah satu wujud sikap persahabatan

dan persaudaraan ialah melalui suasana pergaulan yang menyenangkan,

menghindarkan diri dari hal-hal yang memunculkan konflik, serta menjauhi

perilaku yang dapat mengusik rasa keadilan dalam pergaulan antar warga.

1. Nilai Kemanusiaan Universal

Nilai kemanusiaan universal terwujud antara lain dalam bentuk

ungkapan sebagai berikut:

a. “Jika kamu ingin hidup untuk dirimu, maka kamu harus hidup untuk

orang lain”(alteri vivas oportet, si vis tibi vivere).

Ungkapan ini mengandung makna bahwa manusia tidak dapat

hidup sendiri, karena ia membutuhkan kehadiran orang lain. Fungsi

utama nilai hidup untuk sesama adalah kesadaran bahwa manusia

itu adalah makhluk individu sekaligus makhluk sosial. Artinya,

sebagai makhluk individu manusia dapat melakukan sesuatu secara

mandiri, namun dalam waktu yang bersamaan manusia

membutuhkan orang lain untuk mendukung segala aktivitasnya.

b. “Kepada semua orang kasih sayang itu harus sama” (Amor omnibus

idem).

AKTIVITAS

Mahasiswa diharap menemukan contoh-contoh konkrit dari nilai-nilai

toleransi, kedermawanan, kerendahhatian, dan keikhlasan.

Ungkapan ini mengandung makna bahwa tidak boleh ada

perbedaan antara orang yang mampu dengan orang yang tidak

mampu, karena pada hakikatnya semua orang itu membutuhkan

perhatian dan kasih sayang.

2. Nilai Keadilan

Dalam nilai keadilan terdapat 3 (tiga) tolok ukur, antara lain:

a. nilai kesetiakawanan, artinya orang yang mampu harus memiliki

sikap solidaritas terhadap orang yang tidak mampu;

b. nilai skandal sosial, artinya kalau sampai ada orang yang kaya tidak

mau berbagi dengan dengan orang yang miskin, maka hal ini

merupakan perbuatan yang menurunkan dan merendahkan

martabat orang kaya tersebut;

c. kemiskinan itu sifatnya tidak alamiah, artinya setiap manusia dapat

memperjuangkan haknya untuk hidup secara layak dan

bermartabat.

3. Nilai Keadaban

Nilai keadaban mengacu kepada kehalusan dan kebaikan budi pekerti,

kesopanan, dan akhlak.

Sila Persatuan Indonesia mengandung nilai solidaritas, senasib

sepenanggungan, dan rasa cinta tanah air. Berikut akan dikemukakan secara

singkat makna nilai-nilai yang terkandung dalam sila ketiga.

1. Rasa memiliki

Rasa memiliki adalah kesadaran untuk terlibat secara aktif dalam

kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Beberapa aspek

yang terkandung dalam rasa memiliki, antara lain:

a. kesadaran atas hak sebagai warga negara;

b. kesadaran atas kewajiban sebagai warga negara.

2. Rasa Mencintai Tanah Air

Daoed Joesoef (1987) mengatakan bahwa rasa mencintai tanah air ada

3 (tiga) jenis, yaitu:

a. cinta tanah air dalam arti riil, yaitu rasa cinta terhadap negara dalam

arti yang fisik, misalnya mencintai tanah kelahiran;

b. cinta tanah air dalam arti formal, yaitu kesadaran atas hak dan

kewajiban dalam konteks hukum, misalnya ketaatan dalam

menjalankan peraturan perundang-undangan dan melaksanakan

kewajiban kenegaraan melalui pembayaran pajak sebagai salah satu

wujud bela negara secara nonfisik;

c. cinta tanah air secara mental, yaitu seperangkat nilai-nilai ideologis

yang mempengaruhi cara berpikir dan bertindak dalam kehidupan

bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

3. Nasionalisme

Nasionalisme sebagai rasa syukur, terdiri dari dari dua aspek, yaitu:

a. Negatif Defensif

Nasionalisme sebagai rasa syukur yang bersifat negatif defensif

adalah kemampuan setiap warga negara untuk melawan musuh-

musuh negara dan keburukan yang dilakukan oleh orang-orang

terhadap negara, contohnya melawan korupsi, melawan free rider

(menikmati hasil pembangunan tanpa ikut berkontribusi), dan lain-

lain.

b. Positif Progresif

Nasionalisme sebagai rasa syukur yang bersifat positif progresif

adalah kemampuan setiap warga negara untuk mengolah potensi

dan sumber daya yang dimiliki untuk kemakmuran dan kejayaan

bangsa (temukan dalam buku Yudi Latif (2011), yang berjudul

“Negara Paripurna”). Sebagai contoh adalah kontribusi warga

negara dalam membayar pajak sehingga negara memiliki sumber

daya yang cukup menciptakan kemakmuran dan kejayaan bangsa.

Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam

Permusyawaratan Perwakilan mengandung nilai-nilai yang berkaitan

dengan kesediaan untuk menerima pendapat orang lain dan menerima

keputusan bersama yang telah disepakati. Nilai-nilai dalam sila keempat

diwujudkan dalam bentuk, antara lain:

1. mempertemukan pendirian pribadi dengan orang lain dalam suasana

dialogis ialah sikap jiwa filosofis untuk menemukan harmoni antara

pendapat pribadi dengan kebutuhan orang lain. Sebagai contoh sikap

mengalah atau diam untuk menghindari konflik;

2. menciptakan suasana dialogis dalam komunikasi artinya kemampuan

untuk memadukan pendapat pribadi dengan pandangan orang lain,

sehingga melahirkan rasa kebersamaan;

3. semangat musyawarah untuk mencapai mufakat adalah

mengutamakan kepentingan umum dari pada kepentingan pribadi atau

golongan.

Sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia mengandung nilai-nilai

keadilan yang berhubungan dengan kesejahteraan bersama. Dalam lingkup

nasional, realisasi keadilan sosial ini diwujudkan dalam 3 (tiga) segi (keadilan

segitiga), yaitu:

1. keadilan distributif, yaitu hubungan keadilan antara negara dengan

warganya. Negara wajib memenuhi keadilan terhadap warganya dengan

cara membagi-bagikan terhadap warganya apa yang telah menjadi

haknya;

2. keadilan bertaat (legal), yaitu hubungan keadilan antara warga negara

terhadap negara. Jadi, dalam pengertian keadilan legal ini, warga negara

merupakan pihak yang wajib memenuhi keadilan terhadap negaranya;

3. keadilan komutatif, yaitu keadilan antara warga negara yang satu

dengan yang lainnya, atau dengan perkataan lain hubungan keadilan

antara warga negara.

Selain itu, secara kejiwaan, cita-cita keadilan tersebut juga meliputi seluruh

unsur manusia dan bersifat monopluralis. Sudah menjadi hakikat mutlak

manusia untuk memenuhi kepentingan hidupnya, baik ketubuhan maupun

kejiwaan, baik dari diri sendiri maupun dari orang lain. Semua hal tersebut

termasuk dalam realisasi hubungan kemanusiaan yang utuh, yaitu

hubungan manusia dengan dirinya sendiri, hubungan manusia dengan

manusia lainnya, dan hubungan manusia dengan Tuhannya

Krisis ideologis yang menyerang kehidupan masyarakat Indonesia dewasa ini

membuktikan perlunya pembenahan dalam penanaman nilai-nilai ideologis

pada anak bangsa. Kecerdasan ideologis diperlukan untuk memperluas

cakrawala pemikiran dan pemahaman masyarakat tentang berbagai

fenomena kehidupan yang melanda bangsa Indonesia. Beberapa hal yang

diperlukan untuk memperkuat kecerdasan ideologis pada warga negara.

Pertama, penanaman tentang hak dan kewajiban sebagai warga negara

perlu dilakukan sedini mungkin pada anak didik, sesuai dengan kapasitasnya.

Namun, harus diimbangi dengan keteladanan dalam bentuk nyata di bidang

hukum, ekonomi, dan politik.

Kedua, penanaman nilai-nilai toleransi perlu dikembangkan pada area yang

lebih luas untuk mengantisipasi semangat fanatisme daerah, kelompok,

bahkan agama yang semakin memprihatinkan. Aturan tegas diperlukan

untuk menindak perilaku dan sikap intoleransi yang dapat memecah belah

bangsa Indonesia.

Ketiga, norma kolektif perlu diinterpretasikan sesuai dengan semangat

perkembangan zaman. Hal ini bertujuan agar generasi muda tidak

menganggap nilai-nilai lama itu hanya merupakan bentuk pengulangan yang

menghambat kemajuan sehingga nilai modernitas diterapkan tanpa

mempertimbangkan nilai yang sebelumnya sudah ada.

Keempat, nilai-nilai ideal sebagai tuntunan perlu ditanamkan secara optimal

dalam pendidikan formal, informal, dan non-formal melalui strategi dan

metode pengajaran yang tepat sesuai dengan problem aktual yang

berkembang di masyarakat.

Kelima, komponen nilai kecerdasan ideologis yang bersumber dari Pancasila

dapat dirinci sebagai berikut:

1. kemampuan menghadirkan Tuhan dalam perikehidupan berbangsa dan

bernegara melalui budi pekerti yang luhur dan saling menghormati

(toleransi) antar umat beragama;

2. kemampuan menghargai perbedaan dan pengendalian diri dalam ruang

publik melalui komunikasi dan dialog bersandar atas moralitas

kemanusiaan universal;

3. kemampuan memprioritaskan kepentingan bangsa dan memiliki

semangat pengorbanan yang terbina dari dalam diri setiap warga negara

dengan cara menyelaraskan antara kepentingan politik dan kepentingan

bangsa disertai dengan kemampuan memahami simbol-simbol negara

sebagai konsensus hidup bersama;

4. kemampuan untuk berkomunikasi dengan semangat musyawarah

dalam pengambilan keputusan;

5. kemampuan memperlakukan orang lain seperti memperlakukan dirinya

sendiri dan menemukan keseimbangan antara nilai ideal yang ingin

dicapai dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara dengan nilai

kenyataan dalam kehidupan praktis.

Pancasila sebagai ideologi negara merupakan petunjuk arah dalam

membangun bangsa dalam segala aspek kehidupan. Pancasila yang berisi

nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan,

apabila ditanamkan kepada peserta didik sejak dini, akan memberikan

kesadaran kepada mereka bahwa setiap warga negara memiliki hak dan

kewajiban yang harus dilaksanakan secara seimbang. Salah hak dan

kewajiban warga negara itu adalah membayar pajak bagi yang mampu.

Kepatuhan membayar pajak bagi warga negara yang mampu merupakan

wujud dari pengamalan nilai-nilai Pancasila. Seseorang yang memiliki

kemampuan dalam membayar pajak, ketika menunaikan kewajibannya

tersebut, dengan sendirinya telah mengamalkan sila Ketuhanan Yang Maha

Esa, berupa rasa syukur atas kelebihan nikmat rejeki yang diperolehnya

sebagai karunia dari Tuhan Maha Pemberi Rejeki. Pengamalan sila

Kemanusiaan yang adil dan beradab bagi wajib pajak berupa wujud toleransi

antara warga yang mampu kepada yang tidak mampu. Pengamalan sila

Persatuan Indonesia berupa rasa kebersamaan atau solidaritas antar warga

negara. Pengamalan sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat

kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan merupakan perwujudan

sikap bijaksana dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Pengamalan sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia merupakan

perwujudan keadilan legalis, yaitu ketaatan warga negara dalam

melaksanakan hukum yang berlaku, dalam hal ini ketentuan hukum

membayar pajak bagi yang mampu.

Sila kelima bermakna bahwa setiap orang Indonesia berhak mendapat

perlakuan yang adil dalam bidang hukum, politik, sosial, ekonomi, dan

kebudayaan. Sila Keadilan sosial adalah tujuan dari empat sila yang

mendahuluinya, serta merupakan tujuan bangsa Indonesia dalam

bernegara, yang perwujudannya dilaksanakan dengan menciptakan

masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan nilai-nilai Pancasila.

Bagaimana cara negara, baik dari sisi eksekutif, legislatif, maupun yudikatif,

agar dapat menggunakan instrumen pajak (tarif, PTKP, Objek dan Subjek

Pajak) dalam mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.