ca colorectal

Download Ca Colorectal

Post on 30-Oct-2014

115 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

refarat ilmu bedah

TRANSCRIPT

BAB I PENDAHULUAN

Saat ini kanker masih merupakan salah satu masalah kesehatan di Indonesia. Masyarakat masih berpendapat bahwa kanker merupakan penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Meskipun organisasi kesehatan dunia WHO telah menyatakan bahwa sepertiga penyakit kanker dapat disembuhkan dan sepertiga lainnya dapat dilakukan usaha pencegahan dan sepertiga lainnya dapat dilakukan pengurangan penderitaan.1

Tujuan dari pengobatan kanker adalah mencapai kesembuhan. Kesembuhan sangat ditentukan oleh jenis kanker dan stadium penyakit saat diagnosis dibuat. Banyak penderita kanker lanjut baru dating ke dokter, sehingga kesembuhan tidak dapat dicapai. Keadaan ini terjadi karena kewaspadaan terhadap penyakit kanker masih rendah. Pemahaman tentang perkembangan penyakit ini belum banyak diketahui.

Kanker kolorektal adalah kanker usus besar yang tersebar diseluruh dunia. Kanker kolorektal ini sering ditemukan dalam masyarakat dan merupakan salah satu kanker yang dapat disembuhkan dan dicegah perkembangannya. Teknologi dan kemampuan untuk menemukannya dalam stadium dini telah banyak dimiliki oleh Rumah Sakit di Indonesia. Sudah selayaknya kita berusaha meningkatkan pemahaman tentang penyakit ini sehingga upaya menemukan kasus dalam stadium dini dapat tercapai.

Tujuan dari pengobatan kanker adalah mencapai kesembuhan. Kesembuhan sangat ditentukan oleh jenis kanker dan stadium penyakit saat diagnosis dibuat. Banyak penderita kanker lanjut baru datang ke dokter, sehingga kesembuhan tidak dapat dicapai. Keadaan ini terjadi karena kewaspadaan terhadap penyakit kanker masih rendah. Pemahaman tentang perkembangan penyakit ini belum banyak diketahui.1

Bagian Bedah Staf Pengajar FKUI, Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah , Cetakan pertama : 1995.

Insidens kanker kolorektal di Indonesia cukup tinggi, demikian juga angka kematiannya. Pada tahun 2002 kanker kolorektal menduduki peringkat kedua pada kasus kanker yang terdapat pada pria, sedangkan pada wanita kanker kolorektal menduduki peringkat ketiga dari semua kasus kanker. Meskipun belum ada data yang pasti, tetapi dari berbagai laporan di Indonesia terdapat kenaikan jumlah kasus. Data dari Depkes didapati angka 1,8 per 100.000 penduduk di negara barat, perbandingan insiden laki-laki : perempuan = 3 : 1, kurang dari 50 % ditemukan di rektosigmoid, dan merupakan penyakit usia lanjut. Eropa sebagai salah satu negara maju dengan angka insiden kanker kolorektal yang tinggi. Pada tahun 2004 terdapat 2.886.800 insiden dan 1.711.000 kematian karena kanker, kanker kolorektal menduduki peringkat kedua pada angka insiden dan mortalitas.

2

BAB II ANATOMI DAN FISIOLOGI

2.1 Anatomi A. Anatomi Colon Usus besar atau colon berbentuk tabung muskular berrongga dengan panjang sekitar 1,5 m (5 kaki) yang terbentang dari sekum hingga canalis analis. Diameter usus besar sekitar 6,5 cm (2,5 inchi), tetapi makin dekat ke anus diameternya semakin kecil.2

Gambar anatomik sistem digestivus

2

Sjamsuhidayat, R, Jong, WD, Buku Ajar Ilmu Bedah , edisi II, EGC. Jakarta : 2005.

3

Usus besar dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu : Caecum Caecum adalah bagian pertama intestinum crassum dan beralih menjadi colon ascendens. Caecum terletak dalam kuadrn kanan bawah, yakni dalam fossa iliaca. Biasanya hampir seluruh caecum diliputi oleh peritoneum dan dapat diangkat dengan mudah, tetapi caecum tidak memiliki mesenterium. Kolon Colon ascendens melintas dari caecum ke arah kranial pada sisi kanan cavitas abdominalis ke hepar, dan membelok ke kiri sebagai flexura coli dextra. Colon ascendens terletak retroperitoneal sepanjang sisi kanan dinding abdomen dorsal, tetapi di sebelah ventral dan pada sisi-sisinya tertutup oleh peritoneum. Perdarahan colon ascendens dan flexura coli dextra melalui arteria ileocolica dan arteri colica dextra, cabang arteri mesenterica superior. Colon transversum adalah bagian intestinum crassum terbesar dan paling mobil. Bagian ini melintasi abdomen dari flexura coli dextra ke flexura coli sinistra, dan disini membelok ke arah kaudal menjadi colon descendens. Perdarahan arterial colon transversum terutama melalui arteri colica media, cabang arteria mesenterica superior, dan melalui arteri colica dextra dan arteri colica sinistra. Saraf-saraf berasal dari plexus mesentericus superior dan mengikuti arteria colica dextra dan arteria colica media. Saraf ini membawa serabut saraf simpatis dan parasimpatis (vagal). Colon descendens melintas retroperitoneal dari flexura coli sinistra dan beralih menjadi colon sigmoideum. Peritoneum menutupinya di sebelah ventral dan lateral, dan menetapkannya pada dinding abdomen dorsal. Colon sigmoideum, jerat usus berbentuk S dengan panjang yang variabel, menghubungkan colon descendens dengan rektum. Colon sigmoideum meluas dari tepi pelvis sampai segmen sacrum ketiga, untuk beralih menjadi rectum. Berakhirnya taenia coli menunjukkan permulaan rectum. Peralihan rektosigmoid (rectosigmoid junction) terletak kira-kira 15 cm dari anus.

4

B. Anatomi Rektum

Ke arah proksimal rectum sinambung dengan colon sigmoideum dan ke arah distal dengan canalis analis. Rectum berawal ventral dari vertebra sacrum ke tiga, mengikuti lengkung os sacrum dan os coccygis, dan berakhir di sebelah ventrokaudal ujung os coccygis dengan beralih menjadi canalis analis. Bagian akhir rectum yang melebar ialah ampulla recti yang menopang dan menyimpan massa tinja. Rectum berbentuk S dan memiliki tiga lengkungan yang tajam. Perdarahan arterial melalui arteria rectalis superior, lanjutan dari arteria mesenterica inferior, memasok darah pada bagian proksimal rectum. Kedua arteria rectalis media mengantar darah ke rectum bagian tengah dan bagian distal, dan arteria rectalis inferior mengatur perdarahan bagian distal rectum.

5

Gambar perdarahan pada rektum

Darah disalurkan kembali melalui vena rectalis superior, vena rectalis media dan vena rectalis inferior. Persarafan rectum berasal dari sistem simpatis dan sistem parasimpatis Persarafan simpatis berasal dari truncus simphaticus bagian lumbal dan plexus hypogastricus superior (nervus presacralis) melalui plexus-plexus sekitar cabang arteria mesenterica inferior. Persarafan parasimpatis berasal dari nervi splancnici pelvici (nervi erigentes).

2.2 Fisiologi

Usus besar memiliki berbagai fungsi yang semuanya berkaitan dengan proses akhir isi usus. Fungsi usus besar yang paling penting adalah absorbsi air dan elektrolit, yang sudah hampir selesai dalam kolon dextra. Kolon sigmoid berfungsi sebagai reservoir yang menampung massa

6

feses yang sudah terdehidrasi hingga berlangsungnya defekasi. Kolon mengabsorbsi sekitar 800 ml air per hari, berat akhir feses yang dikeluarkan per hari sekitar 200 gram.3 Mukosa usus besar terdiri dari kriptus dan tidak terdapat vilus. Epitel kriptus terdiri hampir seluruhnya (paling banyak pada permukaannya ) atas sel-sel goblet yang menghasilkan mukus pelumas. Epitel-epitel lain mempunyai batas bersilia dari mikrovilus yang merupakan ungkapan akan faal penyerapan air yang besar. Banyaknya bakteri yang terdapat di dalam usus besar berfungsi mencerna beberapa bahan dan membantu penyerapan zat-zat gizi, seperti mensintesis vitamin K dan beberapa vitamin B. Pembusukan oleh bakteri dari sisa protein menjadi asam amino dan zat yang lebih sederhana seperti peptida, indol, skatol, fenol dan asam lemak. Bila asam lemak dan HCl dinetralisasi oleh bikarbonat, akan dihasilkan karbondioksida (CO2). Pembentukan berbagai gas seperti NH3, CO2, H2, H2S, dan CH4 membantu dalam pembentukan gas (flatus) dalam kolon. Bakteri ini penting untuk fungsi normal dari usus. Beberapa penyakit serta antibiotik bisa menyebabkan gangguan pada bakteri-bakteri didalam usus besar. Fermentasi bakteri pada sisa karbohidrat juga melepaskan CO2, H2, dan CH4 yang juga berperan dalam pembentukan flatus dalam kolon. Dalam sehari secara normal dihasilkan 1000 ml flatus. Kelebihan gas dapat terjadi pada aerofagia (menelan udara secara berlebihan), dan pada peningkatan gas pada lumen usus. Isi usus digerakkan secara lambat. Gerakan usus yang khas adalah pengadukan haustral. Kantong atau haustra meregang dari waktu ke waktu otot sirkular akan berkontraksi untuk mengosongkannya. Gerakan ini tidak progresif, tetapi menyebabkan isi usus bergerak bolakbalik dan meremas-remas. Terdapat dua jenis peristatik propulsif, yaitu : Kontraksi lambat dan tidak teratur, berasal dari segmen proksimal dan bergerak ke depan, menymbat beberapa haustra Peristaltik massa, merupakan kontraksi yang melibatkan segmen kolon. Gerakan

peristaltik ini menggerakan massa feses ke depan, dan akhirnya merangsang

3

Simadibrata. Karsinoma kolon rektum. Dalam: Suparman (ed) Ilmu Penyakit Dalam jilid II. Jakarta: Balai Penerbit

FKUI : 1458

7

BAB III KARSINOMA KOLORECTAL

3.1 Definisi4 Kanker kolorectal sebagaimana sifat kanker lainnya, memiliki sifat dapat tumbuh dengan relatif cepat, dapat menyusup atau mengakar (infiltrasi) ke jaringan disekitarnya serta merusaknya, dapat menyebar jauh melalui kelenjar getah bening maupun pembuluh darah ke organ yang jauh dari tempat asalnya tumbuh, seperti ke liver atau ke paru-paru, yang pada akhirnya dapat menyebabkan kematian bila tidak ditangani dengan baik.

Gambar tumor pada kolon

4

www.dharmais.co.id, Waspada Kanker Kolorektal di akses 12 november 2012

8

3.2 Patofisiologi5 Jenis utama pada kanker kolorektal adalah adenokarsinoma, yang sebelumnya dicetuskan dengan polip adenomatosa, dapat tumbuh pada mukosa colon yang normal. Penelitian yang dilakukan oleh Bert Vogelstein, dkk lebih dari 20 tahun yang lalu berhasil mengidentifikasikan alterasi genetic yang terpenting, dimana akan berkembang menjadi kanker kolorektal. Pada awalnya terjadi peningkatan gen APC (adenomatosa poliposis coli)