desentralisasi fiskal dan pengentasan kemiskinan

Download Desentralisasi Fiskal Dan Pengentasan Kemiskinan

Post on 30-Oct-2015

60 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • Desentralisasi Fiskal dan Pengentasan kemiskinanOleh:Eka Sastra(CoRNER)

  • Latar BelakangTransisi Sistemik Indonesia;Transisi hubungan Pusat dan Daerah (Sentralisasi Desentralisasi)Implementasi Desentralisasi di Indonesia melalui UU No 22 dan 25 Tahun 1999Desentralisasi memberikan kewenangan lebih luas kepada Pemerintah Daerah

  • Pertanyaan PenelitianPengaruh Desentralisasi Fiskal terhadap Agenda Pemberantasan KemiskinanPengalaman Desentralisasi Fiskal dan prospeknya terhadap Agenda Pemberantasan Kemiskinan di Sulawesi Selatan

  • PembahasanDesentralisasi FiskalKemiskinanHubungan antara Desentralisasi fiskal dan Agenda pemberantasan kemiskinanPengalaman Desentralisasi Fiskal terhadap pemberantasan kemiskinan di beberapa DaerahDesentralisasi Fiskal dan pemberantasan kemiskinan di Sulawesi Selatan

  • DesentralisasiDefenisi Desentralisasi: Perspektif Politik: penyerahan kekuasaan sehingga yang terjadi adalah transfer kekuasaan dalam mengambil keputusan publik kepada pemerintah Lokal (Devolusi). Perspektif Administrasi: transfer perencanaan, pengambilan keputusan, dan kewenangan adminstratif kepada Unit Administratif lokal (Dekonsentrasi) Defenisi di Indonesia (UU No 22): pelimpahan wewenang (Devolusi)

  • Bentuk DesentralisasiDekonsentrasi, yakni distribusi wewenang adminstratif di dalam struktur pemerintahan, Delegation, yang berarti pendelegasian otoritas manajemen dan pengambilan keputusan atas fungsi tertentu yang sangat spesifik, kepada organisasi yang secara langsung tidak dibawah kontrol pemerintah. Devolusi yaitu penyerahan fungsi dan otoritas dari pemerintah Pusat kepada daerah otonom. Bentuk yang terakhir yaitu Swastanisasi yaitu penyerahan beberapa otoritas dalam perencanaan dan tanggung jawab tertentu kepada organisasi swasta (World Bank Institute,Concept of Fiscal Decentralization and Worldwide Overview)

  • Ragam DesentralisasiPolitical desentralization, Adminstrative desentralization,Fiscal Desentralization, dan Economic or market desentralization. (World bank Institute, Decentralization Breifing Note)

  • Desentralisasi FiskalFiscal desentralization sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kewenangan lainnya secara spesifik berarti pemberian kewenangan untuk membuat keputusan mobilisasi dan pembiayaan dalam kerangka pelaksanaan kewenangan secara luas oleh unit pemerintahan lokal

  • Empat pilar Desentralisasi Fiskal

    Pendelegasian fungsi dan responsibilitas pengeluaran pada level pemerintahan.Pendelegasian sumber-sumber perpajakan.Transfer keuangan antara level pemerintahan.Pendelegasian pinjaman dan utang untuk menutupi defisit anggaran.(Jamie Boex,2001; An Introductory Overview of Fiscal Relations)

  • Perwujudan Desentralisasi Fiskal

    Pemerintah Pusat berhenti mengawasi alokasi pembiayaan Pemerintah daerah.Pemerintah Pusat mengalokasikan sumber-sumber dana,distribusi pendapatan, subsidi, otoritas pinjaman- kepada pemerintah daerah dan memberikan prioritas untuk menetukan prioritas pembiayaan menurut kebutuhan warganya. Pemerintah Pusat memainkan peranan menyeluruh dalam kebijakan (standart pelayanan), isu-isu modal antar-daerah, dan manajemen makroekonomi dan keuangan secara menyeluruh.(opcit, hal 4)

  • Alasan Desentralisasi Fiskal

    Penyediaan efektifitas dalam pemenuhan kebutuhan publik.Membuat pemrintahan lebih efektif dan efisien.Pengaturan Ekonomi sesuai prinsip Pasar.Akselerasi konsolidasi transisi demokrasi.Penguatan Integrasi nasional dan mengurangi ketegangan wilayah. Memberikan akses yang baik kepada masyarakat untuk memanfaatkan sumberdaya nasional.(Widjayanti,2002; Indonesias Fiscal decentralization)

  • Sementara tujuan lain dari pelaksanaan desentralisasi adalah untuk pembangunan ekonomi, mobilisasi penerimaan, penguatan pemerintah daerah, pemberdayaan pemerintah daerah, pemberian otonomi serta menjaga dari dampak inefisensi pemerintahan yang dikelola secara terpusat, serta adanya kecendrungan bahwa penyeragaman tidak mampu memberikan responsibilitas, dan satu hal yang paling penting bahwa unit pemerintahan yang terkecil ini akan mampu secara optimal melakukan distribusi kepada warga negara.

  • KEMISKINANKemiskinan: Kemiskinan Absolut dan Kemiskinan RelatifKemiskinan Relatif: Kemiskinan berdasarkan perbandingan kekayaan antarindividu atau kelompok masyarakat.Kemiskinan Absolut : Kemiskinan yang diukur berdasarkan ukuran/indikator tertentu

  • Indikator kemiskinan AbsolutKebutuhan Gisi Minimum (Ginneken, Anne Booth, Gupta, Sajogyo)Pengeluaran Perkapita (Bank Dunia)Pendapatan Minimum perkapita Pengeluaran perkapita dan konsumsi kalori perkapita (BPS)Pendidikan,Kesehatan, Akses terhadap pelayanan Dasar (UNDP)

  • Sebab kemiskinanKemiskinan Natural: kemiskinan karena situasi tertentu atau keterbatasan SDA dalam suatu daerah. Kemiskinan Kultural: Kemiskinan karena budaya dan perilaku masyarakat setempat.Kemiskinan Struktural: Kemiskinan karena problem struktural dalam masyarakat.

  • Indeks Kemiskinan Manusia/IKM (UNDP)Penduduk yang tidak berumur panjang (40 tahun)Angka buta huruf penduduk usia dewasa.Keterbatasan terhadap akses pelayanan dasar (air bersih, kesehatan, gizi balita)

  • Mengapa Agenda pemberantasan Kemiskinan? Kemerdekaan sebagai tujuan substantif dan instrumental pembangunan (Amartyasen,1999)Penyiapan SDM bagi penguatan ekonomi Daerah.Penguatan modal sosial bagi keberlanjutan pembangunanUntuk meningkatkan daya saing daerah. di tengah semakin ketatnya persaingan.Mengurangi efek negatif dari kemiskinan, kriminalitas, pertambahan penduduk yang tinggi dll

  • Desentralisasi Fiskal dan KemiskinanMelalui desentralisasi fiskal, Pemerintah daerah memiliki kewenangan dalam pengelolaan anggaran termasuk dalam hal pemberantasan kemiskinan Alokasi, distribusi dan stabilitas Anggaran dalam APBD untuk pemberantasan kemiskinan

  • Desentralisasi Fiskal di berbagai NegaraTidak ada hasil seragam dari penerapan Desentralisasi Fiskal di berbagai negara.Dampak pelaksanaan Desentralisasi Fiskal ditentukan secara spacio-temporal oleh daerah masing-masing

  • Pengalaman beberapa NegaraKajian dari Brennan dan Buchanan yang disebut dengan hypotesa Levhiatan memperlihatkan hubungan yang negatif antara Desentralisasi Fiskal dan Sektor Publik. Kajian tentang dampak desentralisasi fiskal terhadap Sektor Publik juga banyak dilakukan oleh beberapa penelitian sebelumnya. Nelson (1986), grossman (1989) dan Grosman and West (1994) membantah hipotesa leviathan dari Brennan dan Buchanan.(Wold bank Institute, Concept of fiscal decentralization and world wide overview)

  • Desentralisasi Fiskal di Sul-Sel

  • Gambaran Sulawesi SelatanJumlah Kabupaten: 21Jumlah Kota: 2 Penduduk 7,7 juta komposisiPerekonomian: Pertanian utama.Disparitas Antar Daerah:

  • Chart1

    63.6166577153

    62.0811113011

    62.9048233044

    60.8739206267

    56.9039798388

    60.7358094773

    62.7040692484

    62.5123523036

    61.4936726185

    62.6973952237

    63.1389723439

    61.7697101202

    63.9953885372

    60.9169932402

    63.8021614084

    63.5014934874

    67.157820794

    67.9985716085

    63.4727759752

    59.3925626227

    62.0710138315

    62.707764049

    71.355724687

    69.7311658273

    HDI dab GRDP di Sulawesi Selatan

    GDRP Percapita 1998 (ribu rupiah)

    HDI 1999

    HDI dan GRDP di Sulawesi Selatan

    Core

    120,933,988

    Kab/KotaHDIHPI 99GDRP Percapita (ribu rupiah)Total Revenue by Budget Year (ribu rupiah)POPULASI by YearTR/Capita (ribu rupiah)

    HDI 96HDI 99GDRP 96GDRP 991995/961999/20002001199519992000199519992001

    Sulawesi Selatan66.063.626.31,236.71,206.7197,013,364335,484,973622,544,1427,5787,9787,77825,99742,04980,034

    Selayar63.362.131.21,021.11,054.814,935,97040,434,58576,771,182100100103149,501404,435742,138

    Bulukumba64.262.930.2978.2930.125,967,92755,215,140139,581,38035436535373,290151,369395,883

    Bantaeng60.660.931.7850.1856.015,171,00029,257,77372,124,05716117015894,518171,882457,541

    Jeneponto58.156.935.3698.5677.521,414,98140,434,58597,112,54431733531767,530120,877305,885

    Takalar62.460.733.5926.2921.420,168,15043,741,355110,353,45422423722989,871184,939481,105

    Gowa64.562.735.5951.2941.934,282,89887,474,906178,218,53047149851472,861175,485346,899

    Sinjai61.062.523.4941.6914.419,247,05631,402,04190,194,11920721620493,111145,663441,086

    Maros62.461.531.01,202.51,157.923,874,08740,434,585119,983,03726127427191,432147,415443,296

    Pangkep63.362.733.01,391.41,422.826,727,82360,323,78397,896,559260267263102,992225,788371,572

    Barru65.563.129.9991.4986.719,709,48941,403,12391,137,316152157151129,405264,135602,601

    Bone63.861.826.01,305.01,256.844,466,955107,049,803183,838,57661461664772,371173,790284,133

    Soppeng66.164.033.01,082.61,032.224,914,47433,688,74597,580,372229230218108,934146,161447,036

    Wajo66.660.929.61,412.61,403.630,809,42163,227,934122,003,75536436835684,707171,780342,627

    Sidenreng Rappang66.163.827.11,170.71,097.123,854,62950,273,092120,933,98824425323897,720198,963509,106

    Pinrang65.563.530.31,264.61,245.326,338,35235,635,674133,462,42331232231084,467110,701430,696

    Enrekang65.367.227.9774.6768.318,345,59335,635,67486,544,676155157166118,352226,784520,332

    Luwu68.868.026.71,091.71,038.056,037,426128,039,546349,527,67479887782770,254146,069422,645

    Tana Toraja65.263.525.5732.7753.933,492,77560,323,783164,889,76637938939288,343155,187420,969

    Polewali Mamasa61.259.428.9826.3845.932,575,92287,474,906148,892,20642143544677,337201,307334,149

    Majene62.562.130.31,247.81,191.616,732,29835,635,67488,133,931116116120144,735306,509732,788

    Mamuju64.662.740.4735.7717.026,887,22587,474,906151,908,993239288296112,587304,

Recommended

View more >