evaluasi program pengentasan kemiskinan di provinsi ...· kesejahteraan keluarga (takesra) dan...

Download EVALUASI PROGRAM PENGENTASAN KEMISKINAN DI PROVINSI ...· Kesejahteraan Keluarga (Takesra) dan Kredit

Post on 22-Aug-2019

212 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • 1

    EVALUASI PROGRAM PENGENTASAN KEMISKINAN DI PROVINSI

    KEPULAUAN RIAU (Studi Kasus Pada Kegiatan Rehabilitasi Rumah

    Tidak Layak Huni di Kota Tanjungpinang)

    NASKAH PUBLIKASI

    OLEH ;

    RITO YENDRIWALIS

    NIM 100565201049

    PROGRAM STUDI ILMU PEMERINTAHAN

    FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

    UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI

    TAHUN 2015

  • 2

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah

    Salah satu indikator utama keberhasilan pertumbuhan ekonomi suatu

    negara dapat dilihat dari angka kemiskinannya. Kemiskinan menjadi salah

    satu tema utama dalam pembangunan. Keberhasilan dan kegagalan

    pembangunan acapkali diukur berdasarkan perubahan pada tingkat kemiskinan

    (Suryahadi dan Sumarto, 2001). Hal ini karena kemiskinan merupakan

    masalah pembangunan yang ditandai dengan pengangguran, keterbelakangan,

    dan keterpurukan. Masyarakat miskin sangat lemah dalam kemampuan

    berusaha dan mempunyai akses yang terbatas kepada kegiatan sosial ekonomi.

    Kemiskinan dengan demikian erat kaitannya dengan kapasitas dan jumlah

    penduduk dalam suatu daerah itu sendiri.

    Kemiskinan menjadi salah satu ukuran terpenting untuk mengetahui

    tingkat kesejahteraan suatu rumah tangga. Sebagai suatu ukuran agregat,

    tingkat kemiskinan di suatu wilayah lazim digunakan untuk mengukur tingkat

    kesejahteraan di wilayah tersebut. Dengan demikian, kemiskinan menjadi

    salah satu tema utama pembangunan. Keberhasilan dan kegagalan

    pembangunan acapkali diukur berdasarkan perubahan pada tingkat kemiskinan

    (Suryahadi dan Sumarto, 2001).

    Kemiskinan terjadi karena kemampuan masyarakat pelaku ekonomi tidak

    sama, sehingga terdapat masyarakat yang tidak dapat ikut serta dalam proses

    pembangunan atau menikmati hasil-hasil pembangunan (Soegijoko, 1997).

    Kemiskinan merupakan masalah pembangunan kesejahteraan sosial yang

  • 3

    berkaitan dengan berbagai bidang pembangunan lainnya, ditandai adanya

    pengangguran, keterbelakangan, dan ketidakberdayaan. Oleh karena itu,

    kemiskinan merupakan masalah nasional yang penanggulangannya tidak dapat

    ditunda dan menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan pembangunan

    kesejahteraan sosial. Kemiskinan merupakan masalah yang sulit

    ditanggulangi, karena mayoritas masuk kategori kemiskinan kronis (chronic

    poverty) yang terjadi terus-menerus atau juga disebut kemiskinan structural

    (Rencana Strategis 2010-2014 Kemensos, 2011).

    Muttaqien (2006) mengungkapkan, bahwa kemiskinan menyebabkan efek

    yang hampir sama di semua negara. Kemiskinan menyebabkan: (1) Hilangnya

    kesejahteraan bagi kalangan miskin (sandang, pangan, papan), (2) Hilangnya

    hak akan pendidikan, (3) Hilangnya hak akan kesehatan, (4) Tersingkirnya

    dari pekerjaan yang layak secara kemanusiaan, (5) Termarjinalkannya dari hak

    atas perlindungan hukum, (6) Hilangnya hak atas rasa aman, (7) Hilangnya

    hak atas partisipasi terhadap pemerintah dan keputusan publik, (8) Hilangnya

    hak atas psikis, (9) Hilangnya hak untuk berinovasi, dan (10) Hilangnya hak

    atas kebebasan hidup.

    Menurut World Bank (2006) ada tiga ciri yang menonjol dari kemiskinan

    di Indonesia, yaitu: (1) banyak rumah tangga yang berada di sekitar garis

    kemiskinan nasional yang setara dengan PPP 1.55 dolar AS perhari, sehingga

    banyak penduduk yang meskipun tergolong tidak miskin tetapi rentan

    terhadap kemiskinan, (2) ukuran kemiskinan didasarkan pada pendapatan

    sehingga tidak menggambarkan batas kemiskinan yang sebenarnya. Banyak

  • 4

    orang yang mungkin tidak tergolong miskin dari segi pendapatan tetapi dapat

    dikategorikan miskin atas dasar kurang akses terhadap pelayanan dasar serta

    rendahnya indikator-indikator pembangunan manusia, (3) mengingat sangat

    luas dan beragamnya wilayah Indonesia, perbedaan antar daerah merupakan

    ciri mendasar dari kemiskinan di Indonesia. Implikasinya, pengentasan

    kemiskinan hendaknya mempertimbangkan aspek lokalitas atau indikator-

    indikator lokal yang ada.

    Menurut Remi dan Tjiptoherijanto (2002) upaya menurunkan tingkat

    kemiskinan telah dimulai awal tahun 1970-an diantaranya melalui program

    Bimbingan Masyarakat (Bimas) dan Bantuan Desa (Bandes). Tetapi upaya

    tersebut mengalami tahapan jenuh pada pertengahan tahun 1980-an, yang juga

    berarti upaya penurunan kemiskinan di tahun 1970-an tidak maksimal,

    sehingga jumlah orang miskin pada awal 1990-an kembali naik. Disamping itu

    kecenderungan ketidakmerataan pendapatan melebar yang mencakup antar

    sektor, antar kelompok, dan ketidakmerataan antar wilayah.

    Pada dekade 1990-an pemerintah memunculkan kembali program

    pengentasan kemiskinan, diantaranya Program Inpres Desa Tertinggal (IDT),

    Program Pembangunan Prasarana Desa Tertinggal (P3DT), Tabungan

    Kesejahteraan Keluarga (Takesra) dan Kredit Keluarga Sejahtera (Kukesra).

    Adanya program-program tersebut dan program pembangunan lainnya secara

    perlahan-lahan mampu menurunkan angka kemiskinan. Akan tetapi dengan

    timbulnya krisis ekonomi yang melanda Indonesia sejak pertengahan 1997,

    telah menyebabkan bertambahnya penduduk miskin. Akibat krisis ekonomi

  • 5

    yang terus berkelanjutan, sampai dengan akhir tahun 1998 jumlah penduduk

    miskin telah menjadi 49,5 juta jiwa atau sekitar 24,2 % dari jumlah penduduk

    Indonesia. Perlu dicatat bahwa peningkatan jumlah penduduk miskin tersebut

    tidak sepenuhnya terjadi akibat krisis ekonomi, tetapi juga dikarenakan

    perubahan standar yang digunakan (BPS, 2003). Jumlah penduduk yang

    meningkat tersebut terutama disebabkan oleh besarnya jumlah penduduk yang

    berada sedikit di atas garis kemiskinan. Dalam kondisi krisis, kenaikan harga-

    harga yang tidak diikuti oleh kenaikan pendapatan nominal menyebabkan

    garis kemiskinan bergeser ke atas sehingga penduduk yang semula tidak

    termasuk miskin menjadi miskin (UU No. 25 Tahun 2000 tentang Propenas).

    Timbulnya krisis ekonomi tersebut, maka pemerintah melaksanakan

    program Jaring Pengaman Sosial (JPS) untuk menutupi penurunan daya beli

    mayoritas penduduk. Aktivitas program ini: 1) Program keamanan pangan

    dalam bentuk penyediaan beras murah untuk keluarga miskin; 2) Program

    pendidikan dan perlindungan sosial; 3) Program kesehatan melalui aktivitas

    memberikan pelayanan kesehatan dasar bagi keluarga miskin; 4) Program

    padat karya untuk mempertahankan daya beli rumah tangga miskin (Remi dan

    Tjiptoherijanto, 2002). Upaya tersebut dilanjutkan dengan meluncurkan

    program Pemberdayaan Daerah dalam Mengatasi Dampak Krisis Ekonomi

    (PDM/DKE) pada akhir tahun 1998 berupa pemberian dana langsung kepada

    masyarakat melalui pemerintah daerah. Berikutnya pemerintah juga

    melaksanakan Program Pengembangan Kecamatan (PPK) dengan sasaran

    perdesaan dan Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP)

  • 6

    dengan sasaran perkotaan. Sebagai kelanjutan Program JPS, pemerintah

    melaksanakan Program Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakar

    Minyak (PKPS BBM) yang dilaksanakan diantaranya pada bidang pangan,

    kesehatan, pendidikan, prasarana dan sebagainya.

    Sejak digiatkannya kembali program-program pengentasan kemiskinan

    tersebut, jumlah penduduk miskin di Indonesia secara perlahan berhasil

    diturunkan jumlahnya. Jumlah penduduk miskin pada tahun 1998 sebesar 49,5

    juta jiwa (24,2% dari jumlah penduduk Indonesia), pada tahun 2002 telah

    turun menjadi 38,4 juta jiwa (18,20%) dan pada tahun 2003 sebesar 37,3 juta

    jiwa (17,4%). (BPS, 2003).

    Berdasarkan hasil kajian dampak program pengentasan di Kepulauan

    Riau yang dilakukan oleh Pusat Kajian Kebijakan Publik Universitas Maritim

    Raja Ali Haji bersama dengan Bappeda Kepri pada tahun 2014, disimpulkan

    beberapa hal terkait dengan dampak Program Penanggulangan Kemiskinan

    Provinsi Kepulauan Riau bahwa; 1) Tujuan dilaksanakanya Program

    Penanggulangan Kemiskinan di Provinsi Kepulauan Riau telah tercapai

    sebesar 51%. Artinya bahwa Program Penanggulangan Kemiskinan Provinsi

    Kepulauan Riau telah mampu mendukung pengurangan angka kemiskinan

    Provinsi Kepulauan Riau, 2) Sasaran Program Penanggulangan Kemiskinan di

    Provinsi Kepulauan Riau adalah penduduk miskin yang masuk kategori sangat

    miskin (kelompok 1) dan miskin (kelompok 2) sebagaimana yang terdata

    dalam PPLS (Pendataan Program Perlindungan Sosial) tahun 2011. Sedangkan

    untuk kelompok 3 atau kelompok hampir miskin tidak menjadi prioritas dalam

  • 7

    program pengentasan kemiskinan, namun demikian masih ada yang menerima

    program pengentasan kemiskinan. Dari 11 kegiatan pengentasan kemiskinan

    tersebut yang umum diberikan kepada penduduk yang masuk kelompok

    hamper miskin adalah kegiatan pelayanan dibidang kesehatan khususnya

    program jamkesda, dan 3) Program Penanggulangan Kemiskinan Provinsi

    kepulauan riau telah mempengaruhi perilaku, pola pikir dan status ekonomi

    masyarakat Provinsi Kepulauan Riau. Ada program yang mampu mendorong

Recommended

View more >