filsafat pancasila sila ke-2

36
TUGAS PAPER PENDIDIKAN PANCASILA FILSAFAT PANCASILA SILA KE-DUA “KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB” Dosen Pengajar : Ir. I Gusti Ngurah Diwangkara Nip. 195709111 9860 1 1001 Oleh: Gede Mulyana Saputra CH. (1219151008) Kelvin Eriko (1219151009) Kenny Kurniawan (1219151034) Putu Teguh Kresna Baskara (1219151035) Arini Candra Maulidawati (1219151046) Kadek Andrika Atmaja (1219151049) JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS UDAYANA 2014/2015

Upload: arini-candra-m

Post on 02-Feb-2016

113 views

Category:

Documents


15 download

DESCRIPTION

Merupakan tugas paper dari dosen pancasila Universitas Udayana

TRANSCRIPT

Page 1: Filsafat Pancasila Sila Ke-2

TUGAS PAPER PENDIDIKAN PANCASILAFILSAFAT PANCASILA SILA KE-DUA

“KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB”

Dosen Pengajar :Ir. I Gusti Ngurah DiwangkaraNip. 195709111 9860 1 1001

Oleh:Gede Mulyana Saputra CH. (1219151008)Kelvin Eriko (1219151009)Kenny Kurniawan (1219151034)Putu Teguh Kresna Baskara (1219151035)Arini Candra Maulidawati (1219151046)Kadek Andrika Atmaja (1219151049)

JURUSAN TEKNIK SIPILFAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS UDAYANA2014/2015

Page 2: Filsafat Pancasila Sila Ke-2

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat-Nya

saya dapat menyelesaikan laporan mata kuliah Pendidikan Pancasila dengan judul “Filsafat

Pancasila Sila Ke-2”.

Pada kesempatan kali ini kami ingin mengucapkan terima kasih kepada Dosen Pengajar

mata kuliah Pancasila Bapak Ir. I Gusti Ngurah Diwangkara yang telah memberikan pengarahan

dan penjelasan kepada kami pada saat penyampaian materi dan pembuatan laporan.

Kami menyadari tugas ini masih jauh dari kata sempurna. Semoga laporan ini bermanfaat

nantinya. Maka daripada itu, kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang bersifat

membangun. Akhir kata saya ucapkan terima kasih.

Denpasar, 7 Mei 2015

Penyusun

Kelompok 3

Page 3: Filsafat Pancasila Sila Ke-2

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................................i

DAFTAR ISI.........................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang................................................................................................................. 1

1.2 Rumusan Masalah............................................................................................................ 2

1.3 Tujuan.............................................................................................................................. 2

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Pancasila............................................................................................................. 3

2.2 Pengertian Pancasila........................................................................................................ 4

2.3 Makna Pancasila Sila Ke-dua.......................................................................................... 7

2.4 Butir-butir Pancasila Sila Ke-dua.................................................................................. 10

2.5 Nilai-nilai yang Diterapkan............................................................................................ 11

2.6 Contoh Pelanggaran terhadap Pancasila Sila Ke-dua.................................................... 11

2.7 Implementasi Pancasila Sila Ke-dua dalam Kehidupan Bermasyarakat....................... 13

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan.................................................................................................................... 20

3.2 Saran.............................................................................................................................. 20

DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................... 21

Page 4: Filsafat Pancasila Sila Ke-2

BAB I

PENDAHULUAN

1.4 Latar Belakang

Negara hanya dapat dikemudikan secara terarah dan efisien apabila ada gambaran

yang  jelas tentang hakikat, tujuan dan susunannya. Dalam proses penyusunan Undang-

undang Dasar negara harus senantiasa berlandaskan pada suatu konsepsi dasar yang jelas

tentang negara dan tujuannya. Dengan kata lain realisasi pembentukan negara beserta

konstitusinya harus berlandaskan pada ideologi negara, yaitu Pancasila.

Pancasila sebagai filsafat negara Indonesia memiliki visi dasar yang bersumber pada

hakikat manusia. Visi dasar inilah yang memberi visi dan arah bagi seluruh kehidupan

kemasyarakatan dan kenegaraan Indonesia. Sifat dasar filsafat Pancasila bersumber pada

hakikat kodrat manusia karena pada hakikatnya manusia adalah sebagai pendukung pokok

negara. Inti kemanusiaan itu terkandung dalam sila kedua : Kemanusiaan Yang Adil dan

Beradab.

Dalam sila ke-dua mengandung nilai yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan

manusia sehari-hari. Hal itu karena seorang manusia dalam melakukan aktifitas sehari-hari

tidak lepas dari manusia lain. Sehingga sila ke-dua tersebut mampu memberikan dasar

kepada kita sebagai manusia agar senantiasa memanusiakan orang lain dalam kehidupan.

Selain itu, dalam sila ke-dua juga terdapat nilai keadilan di mana menuntut kita sebagai

manusia yang tidak dapat lepas dari manusia lainnya harus menghormati, menghargai dan

menjunjung tinggi keadilan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sila ke-dua tersebut terdapat butiran-butiran yang dapat menjelaskan lebih rinci apa

yang ada di dalam Pancasila sila ke-dua tersebut. Dengan adanya butiran-butiran sila ke-dua

tersebut diharapkan manusia atau lebih tepatnya bangsa Indonesia dapat memahami dam

mengamalkan apa yang ada dalam sila ke-dua tersebut. Sehingga bangsa Indonesia

senantiasa berdasar kepada kemanusiaan yang adil dan beradab dalam kehidupan

bermasyarakat.  

Page 5: Filsafat Pancasila Sila Ke-2

1.5 Rumusan Masalah

1. Bagaimana sejarah pancasila sebagai dasar Negara Indonesia?

2. Apa pengertian Pancasila ?

3. Apa arti lambang Pancasila sila ke-2?

4. Apa saja arti dan makna Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab ?

5. Apa saja butir-butir Pancasila Sila ke-2 ?

6. Apa saja nilai-nilai Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab yang dapat diambil sebagai

pembelajaran ?

7. Apa saja contoh pelanggaran tehadap Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab ?

8. Bagaimana implementasi Pancasila Sila Ke-dua dalam kehidupan bermasyarakat ?

1.3 Tujuan

1. Agar mahasiswa mengetahui pengertian Pancasila.

2. Agar mahasiswa mengetahui arti dan makna Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.

3. Agar mahasiswa mengetahui butir-butir Pancasila Sila ke-2.

4. Agar mahasiswa mengetahui nilai-nilai Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab yang

dapat diambil sebagai pembelajaran.

5. Agar mahasiswa mengetahui contoh pelanggaran tehadap Sila Kemanusiaan yang Adil

dan Beradab.

6. Agar mahasiswa mengetahui implementasi Pancasila Sila Ke-dua dalam kehidupan

bermasyarakat.

Page 6: Filsafat Pancasila Sila Ke-2

BAB II

PEMBAHASAN

2.8 Sejarah Pancasila

Sebagai realisasi janji jepang maka pada hari ulang tahun kaisar hirohito tanggal 29

april 1945 jepang memberi semacam’hadiah ulang tahun’kepada bangsa indonesia, yaitu

janji ke 2 dari pemerintah jepang berupa’ kemerdekaan tanpa syarat.tindak lanjut janji

tersebut di bantulah suatu badan yang bertugas untuk menyelidiki usaha usaha persiapan

kemerdekaan indonesia yang di kenal dengan nama BPUPKI (badan penyelidik usaha

pesiapan kemerdekaan indonesia), yang dalam bahasa jepang di sebut dokuritsu zyunbi

tioosakai.

Pada hari itu diumukan nama nama ketua serta para anggotanya.

1. Sidang pertama BPUPKI

BPUPKI mulai bekerja pada tanggal 28 mei 1945, dimulai upacara pembukaan dan pada

keesokan harinya di mulai sidang sidang ( 29 mei samapai juni 1945). Yang menjadi

pembicaranya adalah mr.muh.yamin, mr. Soepomo, drs. Moh. Hatta, dan ir.soekrno.

sayang sekali notulen sidang pertama sebanyak 40 halaman telah hilang dan sampai

sekarang belum di temukan, sehingga banyak catatan sejarah sidang tersebut tidak di

ketahui bangsa indonesia. Hanya berdasar saksi hidup dapat dirunut garis garis besar

yang di bicarakan dalam sidang tersebut :

a. Isi pidato mr. Muh yamin

Di dalam bukunya naskah persiapan undang undang dasar 1945, di katakan bahwa

pada tanggal 29 mei 1945 itu beliau berpidato tentang rancangan usulan dasar negara

sebagai berikut :

1. Peri kebangsaan

2. Peri kemanusiaan

3. Peri ketuhanan

4. Peri kerakyatan

5. Kesejahteraan rakyat

Tetapi notulen pidato mr. Moh yamin ini tidak terdapat di dalam arsip nasional.

Page 7: Filsafat Pancasila Sila Ke-2

b. Isi pidato Mr. Soepomo

Sidang tanggal 31 mei 1945 mengetengahkan pembicara mr.soepomo. Beliau adalah

seorang ahli hukum yang sangat cerdas dan masih muda usia waktu itu.didalam

pidatonya mr. Soepomo menjelaskan bahwa dasar pemerintahan suatu negara

bergantung pada staatsidee yang akan di pakai menurut soepomo, di dalam ilmu

negara ada beberapa aliran pikiran tentang negara yaitu :

Pertama, aliran pikiran perseorangan (idividualis) sebagaimana di ajarkan oleh

Thomas Hobbes (abad 17) , Jean Jacques Rousseau (abad 18) , Herbert Spencer (abad

19) dan Harold J Laski (abad 20). Menurut alam pikiran ini negara ialah masyarakat

hukum ( legal society) yang di susun atas kontrak seluruh orang dalam masyarakat itu

( kontrak sosial).Sebagai bangsa Indonesia, kita patut mengerti dan memahami apa

Pancasila itu.

2.9 Pengertian Pancasila

Pancasila berasal dari dua kata yakni Panca dan Sila menurut bahasa Sanskerta.

Sehingga pancasila mengandung arti lima buah prinsip atau asas. Asas-asas atau prinsip-

prinsip tersebut antara lain:

1. Ketuhanan Yang Maha Esa

2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab

3. Persatuan Indonesia

4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/

perwakilan

5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pancasila adalah falsafah atau pandangan hidup, jiwa dan kepribadian serta tujuan

hidup bangsa Indonesia. Sebagai pandangan hidup bangsa, Pancasila mempunyai nilai-nilai

yang dijadikan dasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, selain itu nilai-nilai

Pancasila telah memberikan ciri-ciri (identitas) bangsa yang membedakan bangsa Indonesia

dari bangsa lain dalam bersikap, bertingkah laku secara perorangaan maupun secara

kemasyarakatan.

Page 8: Filsafat Pancasila Sila Ke-2

Pada hakikatnya pengertian Pancasila dapat dikembalikan kepada dua pengertian,

yakni Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia dan Pancasila sebagai pandangan

hidup bangsa Indonesia.

1. Pancasila sebagai Dasar Negara Republik Indonesia

Setiap negara di dunia ini mempunyai dasar negara yang dijadikan landasan dalam

menyelenggarakan pemerintah negara. Seperti Indonesia, Pancasila dijadikan sebagai dasar

negara atau ideologi negara untuk mengatur penyelenggaraan negara. Hal tersebut sesuai

dengan bunyi pembukaan UUD 1945 alenia ke-4 yang berbunyi :

“Maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-

undang Dasar negara Indonesia yang berbentuk dalam suatu susunan negara...”

Dengan demikian kedudukan Pancasila sebagai dasar negara termaktub secara yuridis

konstitusional dalam pembukaan UUD 1945, yang merupakan cita-cita hukum dan norma

hukum yang menguasai hukum dasar negara Republik Indonesia dan dituangkan dalam

pasal-pasal UUD 1945 dan diatur dalam peraturan perundangan.

Selain bersifat yuridis konstitusional, Pancasila juga bersifat yuridis ketatanegaraan

yang artinya Pancasila sebagai dasar negara, pada hakikatnya adalah sebagai sumber dari

segala sumber hukum. Artinya segala peraturan perundangan secara material harus berdasar

dan bersumber pada Pancasila. Apabila ada peraturan (termasuk di dalamnya UUD 1945)

yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur Pancasila, maka sudah sepatutnya peraturan

tersebut dicabut.

Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila memiliki sifat objektif-subjektif.

Sifat subjektif maksudnya Pancasila merupakan hasil perenungan dan pemikiran bangsa

Indonesia, sedangkan bersifat objektif artinya nilai Pancasila sesuai dengan kenyataan dan

bersifat universal yang diterima oleh bangsa-bangsa beradab. Oleh karena memiliki nilai

objektif-universal dan diyakini kebenarannya oleh seluruh bangsa Indonesia maka Pancasila

selalu dipertahankan sebagai dasar negara.

Page 9: Filsafat Pancasila Sila Ke-2

Jadi berdasarkan uraian tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa Pancasila

sebagai dasar negara memiliki peranan yang sangat penting dalam mengatur kehidupan

berbangsa dan bernegara sehingga cita-cita para pendiri bangsa Indonesi dapat terwujud.

2. Pancasila sebagai Pandangan Hidup Bangsa Indonesia

Setiap bangsa di dunia yang ingin berdiri kokoh dan mengetahui dengan jelas ke arah

mana tujuan yang ingin dicapainya sangat memerlukan pandangan hidup. Dengan pandangan

hidup inilah suatu bangsa akan memandang persoalan yang dihadapinya sehingga dapat

memecahkannya secara tepat. Tanpa memiliki pandangan hidup, suatu bangsa akan merasa

terombang-ambing dalam menghadapi persoalan yang timbul, baik persoalan masyarakatnya

sendiri maupun persoalan dunia.

Pancasila sebagai pandangan hidup sering juga disebut way of life, pegangan hidup,

pedoman hidup, pandangan dunia atau petunjuk hidup. Walaupun ada banyak istilah

mengenai pengertian pandangan hidup tetapi pada dasarnya memiliki makna yang sama.

Lebih lanjut Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa dipergunakan sebagai petunjuk

dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia baik dari segi sikap maupun perilaku

haruslah selalu dijiwai oleh nilai-nilai luhur Pancasila.

Hal ini sangat penting karena dengan menerapkan nilai-nilai luhur Pancasila dalam

kehidupan sehari-hari maka tata kehidupan yang harmonis di antara masyarakat Indonesia

dapat terwujud. Untuk dapat mewujudkan semua itu maka masyarakat Indonesia tidak bisa

hidup sendiri, mereka harus tetap mengadakan hubungan dengan masyarakat lain. Dengan

begitu masing-masing pandangan hidup dapat beradaptasi, artinya pandangan hidup

perorangan atau individu dapat beradaptasi dengan pandangan hidup kelompok karena pada

dasarnya Pancasila mengakui adanya kehidupan individu maupun kehidupan kelompok.

Selain sebagai dasar Negara, Pancasila juga merupakan pandangan hidup bangsa

Indonesia. Sebagai pendangan hidup bangsa Indonesia, Pancasila berarti konsepsi dasar

tentang kehidupan yang dicita-citakan oleh bangsa Indonesia dalam menghadapi berbagai

tantangan dalam menjalani hidup. Dalam konsepsi dasar itu terkandung gagasan dan pikiran

tentang kehidupan yang dianggap baik dan benar bagi bangsa Indonesia yang bersifat

majemuk.

Page 10: Filsafat Pancasila Sila Ke-2

Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa sebenarnya merupakan perwujudan dari

nilai-nilai budaya milik bangsa Indonesia sendiri yang diyakini kebaikan dan kebenarannya.

Pancasila digali dari budaya bangsa sendiri yang sudah ada, tumbuh, dan berkembang

berabad-abad lamanya. Oleh karna itu, Pancasila adalah khas milik bangsa Indonesia sejak

keberadaannya sebagai sebuah bangsa. Pancasila merangkum nilai-nilai yang sama yang

terkandung dalam adat-istiadat, kebudayaan, dan agama-agama yang ada di Indonesia.

Dengan demikian, Pancasila sebagai pandangan hidup mencerminkan jiwa dan kepribadian

bangsa Indonesia.

Sebagai pandangan hidup bangsa, Pancasila juga berperan sebagai pedoman dan

penuntun dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Dengan demikian, ia

menjadi sebuah ukuran/kriteria umum yang diterima dan berlaku untuk semua pihak. Secara

sederhana, ideologi dipahami sebagai gagasan-gagasan dan nilai-nilai yang tersusun secara

sistematis yang diyakini kebenarannya oleh suatu masyarakat dan diwujudkan di dalam

kehidupan nyata. Nilai-nilai yang tercermin di dalam pandangan hidup ditempatkan secara

sistematis kedalam seluruh aspek kehidupan yang mencakup aspek politik, ekonomi, sosial,

budaya dan pertahanan keamanan didalam upaya mewujudkan cita-citanya. Jadi, dengan kata

lain ideologi berisi pandangan hidup suatu bangsa yang menyentuh segala segi kehidupan

bangsa. Setiap bangsa yang ingin berdiri kokoh dan mengetahui dengan jelas kearah mana

tujuan yang ingin dicapainya sangat membutuhkan pandangan hidup. Dengan pandangan

hidup yang jelas, suatu bangsa akan memiliki pegangan dan pedoman bagaimana mereka

memecahkan masalah-masalah politik, ekonomi, sosial dan budaya yang timbul dalam gerak

masyarakat yang makin maju. Dengan berpedoman pada pandangan hidup sebagai ideologi,

sebuah bangsa akan membangun diri dan negerinya.

2.10 Makna Pancasila Sila Ke-dua

Kemanusiaan berasal dari kata manusia, yaitu makhluk berbudi yang memiliki

potensi pikir, rasa, karsa, dan cipta. Kemanusiaan terutama berarti sifat manusia yang

merupakan esensi dan identitas manusia karena martabat kemanusiaannya (human dignity).

Adil terutama mengandung arti bahwa suatu keputusan dan tindakan didasarkan atas

norma-norma yang objektif; jadi, tidak subjektif apalagi sewenang-wenang.

Page 11: Filsafat Pancasila Sila Ke-2

Beradab berasal dari kata adab yang berarti budaya. Jadi, beradab berarti berbudaya.

Ini mmengandung arti bahwa sikap hidup, keputusan, dan tindakan selalu berdasarkan nila-

nilai budaya, terutama norma sosial dan kesusilaan (moral). Adab terutama mengandung

pengertian tata kesopanan, kesusilaan atau moral. Dengan demikian, bearadab dapat

ditafsirkan sebagai berdasar nilai-nilai kesusilaan atau moralitas khususnya dan kebudayaan

umumnya.

Jadi, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab adalah kesadaran sikap dan perbuatan

manusia yang didasarkan kepada potensi budi nurani manusia dalam hubungan dengan

norma-norma dan kebudayaan umumnya, baik terhadap diri pribadi, sesama manusia,

maupun terhadap alam dan hewan.

Pada prinsipnya Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab adalah sikap dan perbuatan

manusia yang sesuai dengan kodrat hakikat manusia yang berbudi, sadar nilai, dan

berbudaya. Sila ke-2 “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” didasari dan dijiwai oleh sila

ke-1 “Ketuhanan Yang Maha Esa”, serta mendasari dan menjiwai sila ke-3, ke-4 dan ke-5.

Nilai-nilai sila “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” adalah sebagai dasar dalam kehidupan

kenegaraan, kebangsaan dan kemasyarakatan. Di dalam sila ke II Kemanusiaan Yang Adil

dan Beradab telah tersimpul cita-cita kemanusiaan yang lengkap, yang memenuhi seluruh

hakikat mahkluk manusia. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab adalah suatu rumusan sifat

keluhuran budi manusia (Indonesia). Dengan Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, maka

setiap warga Negara mempunyai kedudukan yang sederajat dan sama terhadap Undang-

Undang Negara, mempunyai hak dan kewajiban yang sama; setiap warga Negara dijamin

haknya serta kebebasannya yang menyangkut hubungan dengan Tuhan, dengan orang-orang

seorang, dengan Negara, dengan masyarakat, dan menyangkut pula kemerdekaan

menyatakan pendapat dan mencapai kehidupan yang layak sesuai dengan hak asasi manusia.

Hakikat pengertian di atas sesuai dengan :

a. Pembukaan UUD 1945 alinea pertama : “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah

hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan

karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan .”

b. Pasal 27, 28, 29,30,dan 31 UUD 1945.

Page 12: Filsafat Pancasila Sila Ke-2

c. Ketetapan MPR Nomor II/MPR/1978 tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan

Pancasila, memberikan petunjuk-petunjuk nyata dan jelas wujud pengamalan sila ”

Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab”.

Menurut perumusan Dewan Perancang Nasional, perikemanusiaan adalah daya serta

karya budi dan hati nurani manusia untuk membangun dan membentuk kesatuan diantara

manusia sesamanya, tidak terbatas pada manusia-sesamanya yang terdekat saja, melainkan

juga seluruh umat manusia. Sedangkan menurut Bung Karno, istilah perikemanusiaan adalah

hasil dari pertumbuhan rohani, kebudayaan, hasil pertumbuhan dari alam tingkat rena ke taraf

yang lebih tinggi.

Pokok pikiran dari sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab :

1. Menempatkan manusia sesuai dengan hakikatnya sebagai makhluk Tuhan. Maksudnya,

kemanusiaan itu universal.

2. Menjunjung tinggi kemerdekaan sebagai hak segala bangsa. Menghargai hak setiap

warga dan menolak rasialisme.

3. Mewujudkan keadilan dan peradaban yang tidak lemah.

Hakikat manusia memiliki unsur-unsur yang diantaranya adalah susunan kodrat

manusia (yang terdiri atas raga dan jiwa), sifat kodrat manusia (yang terdiri atas makhluk

sosial dan individu), kedudukan kodrat manusia (yang terdiri atas makhluk berdiri sendiri

dan makhluk Tuhan).

Kemanusiaan yang Adil dan Beradab adalah kemanusiaan sejati yang menghormati

serta mengembangkan kemerdekaan, martabat dan hak sesama manusia, memperlakukannya

secara adil dan beradab. Ikut berusaha mencerdaskan masyarakat agar masing-masing warga

yang berusaha secara halal dapat hidup layak sebagai manusia dan mengembangkan

pribadinya. Unsur kemanusiaan yang hakiki dalam keadilan sosial dalam suatu masyarakat

dan Negara. Yang diatur menurut hukum yang adil dan bermoral (Ketuhanan) sehingga

keadilan dapat diperoleh dengan mudah dan cepat oleh semua tanpa diskriminasi apapun.

Sikap seperti itu diperluas terhadap semua orang dari segala bangsa.

Page 13: Filsafat Pancasila Sila Ke-2

2.11 Butir-butir Pancasila Sila Ke-dua

Sila ke-dua Pancasila ini mengandung makna warga Negara Indonesia mengakui

adanya manusia yang bermartabat (bermartabat adalah manusia yang memiliki kedudukan,

dan derajat yang lebih tinggi dan harus dipertahankan dengan kehidupan yang layak),

memperlakukan manusia secara adil dan beradab di mana manusia memiliki daya cipta, rasa,

karsa, niat dan keinginan sehingga jelas adanya perbedaan antara manusia dan hewan.

Jadi sila ke-dua ini menghendaki warga Negara untuk menghormati kedudukan setiap

manusia dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing, setiap manusia berhak

mempunyai kehidupan yang layak dan bertindak jujur serta menggunakan norma sopan

santun dalam pergaulan sesama manusia.

Butir-butir sila ke-dua adalah sebagai berikut:

1. Mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan kewajiban antar sesama manusia.

2. Saling mencintai sesama manusia.

3. Mengembangkan sikap tenggang rasa.

4. Tidak bersikap semena-mena terhadap orang lain.

5. Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

6. Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.

7. Berani membela kebenaran dan keadilan.

8. Merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh  umat manusia, karena itu perlu

mengembangkan sikap saling menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.

Makna dari sila ini diharapkan dapat mendorong seseorang untuk senantiasa

menghormati harkat dan martabat oranglain sebagai pribadi dan anggota masyarakat. Dengan

sikap ini diharapkan dapat menyadarkan bahwa dirinya merupakan makhluk sosial yang

mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Atas dasar sikap perikemanusiaan ini, maka

bangsa Indonesia menghormati hak hidup bangsa lain menurut aspirasinya masing-masing.

Dan menolak segala bentuk penjajahan di muka bumi ini. Hal itu dikarenakan berlawanan

dengan nilai perikemanusiaan.

Page 14: Filsafat Pancasila Sila Ke-2

2.12 Nilai-nilai yang Diterapkan

Berikut adalah nilai-nilai Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab yang dapat diambil

sebagai pembelajaran:

1. Nilai dasar dari sila kedua mencakup peningkatan martabat, hak dan kewajiban asasi

warga negara, penghapusan penjajahan, kesengsaraan dan ketidakadilan dari muka bumi.

2. Harkat dan martabat manusia sebagai makhluk sosial.

3. Tidak semena-mena terhadap orang lain. Menjujung tinggi nilai-nilai kemanusian. Gemar

melakukan kegiatan kemanusian. Berani membela kebenaran dan keadilan hormat

menghormati dan bekerjasama dengan bangsa-bangsa lain.

4. Perlakuan yang adil terhadap sesama manusia,

5. Pengertian manusia yang beradab, yang memiliki daya cipta, rasa, dan karsa, dan

keyakinan, sehingga ada perbedaan jelas antara manusia dan binatang,

6. Relasi yang setara dan adil antara perempuan dan laki-laki,

7. Saling terkait dengan sila-sila lain.

2.13 Contoh Pelanggaran terhadap Pancasila Sila Ke-dua

Berikut adalah beberapa contoh pelanggaran tehadap Sila Kemanusiaan yang Adil

dan Beradab :

a. Banyak orang yang kurang paham tentang sila kedua dalam pancasila dan rasa

kemanusiaannya juga kurang, sehingga orang orang itu menganggap kebiasaannya itu

benar, salah satunya adalah pemungutan yang dilakukan oleh sejumlah preman yang

mengharuskan sopir angkot untuk membayar jika berhenti di wilayahnya, biasanya orang

yang meminta bayaran itu adalah orang yang telah lama ditakuti di wilayah itu sehingga

para sopir juga beranggapan bahwa dia juga harus takut pada orang itu. Mereka

menganggap uang pungutan itu adalah unag pengertian kerena penumpang bus sudah

menggunakan tempatnya untuk menunggu.Bahkan tarifnya juga ditentukan sendiri.Tidak

adanya tindakan tegas dari penegak hukum membuat praktek pungutan ini berkelanjutan

dan menjadi kebiasaan.

b. Pungutan keamanan untuk para pedagang pasar Kita sering mendengar istilah preman

pasar, hal seperti ini sudah menjadi rahasia umum apabila para pedagang juga harus

membayar kepada preman tersebut. Hal ini juga terjadi di wilayah gamping, kegiatan

Page 15: Filsafat Pancasila Sila Ke-2

seperti ini malah tidak dilakukan sendirian, mereka membagi tim di berbagai blok pasar

sehingga mereka bisa memungut biaya keamanan tersebut kepada para pedagang yang

menetap disitu, mungkin kejadian seperti ini tidak hanya terjadi di wilayah gamping

bahkan di kota kota besar lainnya pun juga banyak terjad aksi pemungutan biaya

keamanan ini, jika dilihat dari sisi pedagang, mereka akan lebih aman kalau tidak usah

ada preman yang meminta imbalan keamanan tersebut.

c. Maraknya pencurian hasil panen Terdesak oleh kebutuhan untuk hidup, terkadang

manusia menjadi sempit pikirannya sehingga merekapun harus mencuri untuk memenuhi

kebutuhan pangannya. Di wilayah ini bukan harta yang mereka curi tetapi tanaman yang

siap dipanen sehingga sang pemilik lahan banyak yang heran. Para pencuri itu tidak

Mengambil tanaman tidak hanya di satu tempat saja sehingga sang pemilik lahan tidak

teralu curiga apabila ada tanamannya yang berkurang. Tapi dengan makin banyaknya

tanaman yang dicuri warga berinisiatif untuk melapor kepada pihak yang berwajib, dan

sampai saat ini belum ada tanggapan.

d. Pencurian binatang ternak menjelang perayaan hari besar Menjelang perayaan hari besar

biasanya orang-orang memakai yang terbaik. Banyak juga yang harus membeli pakaian

baru, sehingga hal ini juga dapat menimbulkan pikiran ¡§kalau ga baru namanya ga

lebaran¡¨ karena terdorong oleh keinginan untuk membeli barang baru maka kadang

mengorbankan yang dimilikinya untuk dijual.Bagamana jika orang itu sedang tidak

memiliki barang yang berharga? Maka orang yang berfikiran sempit akan melakukan hal

yang bodoh. Mencuri misalnya, di kampung wilayah gamping ini sudah sering terjadi

pencurian binatang ternak untuk kebutuhan lebaran. Banyak warga yang melapor tetapi

warganya juga susah untuk diajak bekerjasama sehingga pencurian seperti itu sering

terjadi.

e. Maraknya KKN(korupsi,Kolusi,dan Nepotisme) yang di lakukan oleh para tikus-tikus

kantor yang mewakili masyarkat dan telah di percaya oleh masyarakat yang melakukan

tindakan yang hanya mentingkan dirinya sendiri dengan menggelapkan uang Negara

demi memperkaya dirinya sendiri.

f. Tragedi kemanusiaan Trisakti 

Mari kita kembali saja reformasi. Dua belas tahun lalu atau 12 Mei 1998, situasi

Indonesia khususnya Ibu Kota Jakarta sedang genting. Demonstrasi mahasiswa untuk

Page 16: Filsafat Pancasila Sila Ke-2

menuntut reformasi dan pengunduran diri Presiden Soeharto kian membesar tiap hari.

Dan kita tahu, aksi itu akhirnya melibatkan rakyat dari berbagai lapisan. 

Salah satu momentum penting yang menjadi titik balik perjuangan mahasiswa

adalah peristiwa yang menewaskan empat mahasiswa Universitas Trisakti, Elang Mulia

Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendrawan Sie, mereka ditembak aparat

keamanan saat melakukan aksi damai dan mimbar bebas di kampus A Universitas

Trisakti, Jalan Kyai Tapa Grogol, Jakarta Barat. Aksi yang diikuti sekira 6.000

mahasiswa, dosen, dan civitas akademika lainnya itu berlangsung sejak pukul 10.30

WIB.

Tewasnya keempat mahasiwa tersebut tidak mematikan semangat rekan-rekan

mereka. Justru sebaliknya, kejadian itu menimbulkan aksi solidaritas di seluruh kampus

di Indonesia. Apalagi, pemakaman mereka disiarkan secara dramatis oleh televisi.

Keempat mahasiswa itu menjadi martir dan diberi gelar pahlawan reformasi. 

Puncak dari perjuangan itu adalah ketika Soeharto mengundurkan diri sebagai presiden

pada Kamis, 21 Mei 2008. 

2.14 Implementasi Pancasila Sila Ke-dua dalam Kehidupan Bermasyarakat

Kemanusiaan atau peri kemanusiaan adalah sifat yang dimiliki oleh setiap manusia.

Manusia pada dasarnya adalah sama dan mempunyai nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat

universal. Segala perbedaan yang tampak tidaklah boleh dijadikan alasan untuk bertentangan

dengan nilai-nilai kemanusiaan tersebut, termasuk perbedaan agama, karena agama pada

dasarnya justru menjunjung tinggi persamaan derajat manusia.

Salah satu faktor utama dari peri kemanusiaan adalah sikap toleransi. Toleransi di sini

adalah toleransi yang positif, yaitu toleransi dalam hal kebaikan, bukan sebaliknya yaitu

toleransi dalam halkeburukan. Toleransi adalah hal yang sangat krusial di negara ini,

mengingat keanekaragaman yang sangat luar biasa mulai dari suku, bahasa, budaya,

agama/kepercayaan, adat istiadat, dan seterusnya. Toleransi yang positif akan menyuburkan

sikap berperikemanusiaan, seperti menjunjung tinggi persamaan derajat/hak/kewajiban asasi

setiap manusia tanpa melihat apapun perbedaannya, mengembangkan sikap tenggan rasa,

empati, dst.

Page 17: Filsafat Pancasila Sila Ke-2

Adil adalah salah satu faktor terpenting dalam hubungan antar manusia. Tidak ada

satu manusia pun yang mau diperlakukan tidak adil. Di dalam hubungan antar manusia

seering terjadi gesekan-gesekan yang menimbulkan permasalahan. Dan nilai keadilan inilah

poin utama yang digunakan dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan tersebut.

Dengan memegang teguh prinsip adil, maka hubungan antar manusia akan harmonis sesuai

dengan yang seharusnya. Dan dengan dasar prinsip keadilan, maka dapat dikembangkan

prinsip-prinsip lain sebagai turunannya, antara lain: tidak melakukan perbuatan yang

merugikan orang lain, menghargai hak orang lain, menjaga keseimbangan antara hak dan

kewajiban, tidak memaksakan kehendak kepada orang lain, tidak semena-mena kepada orang

lain, tidak menggunakan fasilitas umum/fasilitas negara untuk kepentingan pribadi, dsb.

Beradab adalah menunjuk kepada tingkatan kemajuan kehidupan, baik dalam

bermasyarakta maupun secara individu. Beradab erat kaitannya dengan aturan-aturan hidup,

budi pekerti, tata krama, sopan santun, adat istiadat, kebudayaan, kemajuan ilmua

pengetahuan, dsb.

Semua aturan di atas bertujuan untuk menjaga agar manusia tetap beradab, tetap

menghargai harkat dan derajat dirinya sebagai manusia, dan menghindari kezaliman

(menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya yang sesuai). Adab diperlukan agar manusia

bisa meletakkan diri pada tempat yang sesuai, agar nyaman dan bisa berkembang sesuai

dengan harkatnya masing-masing. Sesuatu yang tidak pada tempatnya akan cenderung

menyebabkan ketidaksadaran, kebodohan, kejahilan, dan kerusakan pada sistem

kemasyarakatan.

Manusia adalah makhluk paling luhur, akan tetapi manusia juga dapat jatuh menjadi

makhluk yang paling rendah, yang tega menzalimi sesama dengan beribu alasan. Oleh karena

itu adab harus terus dilestarikan untuk menjaga keluhuran budi manusia. Adab sangatlah

dibutuhkan manusia agar tidak bertingkah laku seperti hewan, yaitu semena-mena

mengandalkan kekuatan, kekuasaan, kepandaian, dan semua kelebihannya, tanpa disertai

budi pekerti dan hati nurani.

Sesuai dengan butir-butir sila ke-dua yang telah diuraikan pada pembahasan di atas,

sila perikemanusiaan ini memiliki makna yang sangat berarti sebagai landasan kehidupan

Page 18: Filsafat Pancasila Sila Ke-2

manusia. Sila ini dijadikan sebagai pedoman bertingkah laku dalam masyarakat. Selain itu

peri kemanusiaan adalah naluri manusia yang berkembang sejak lahir. Sama halnya dengan

naluri manusia yang lain, seperti naluri suka berkumpul, naluri berkeluarga, dan lain-lain.

Oleh karena peri kemanusiaan merupakan naluri, maka tidak mungkin manusia

menghapuskannya. Dengan perasaan peri kemanusiaan itulah manusia dapat membentuk

masyarakat yang penuh kasih sayang serta saling menghormati diantara anggota-anggotanya.

Oleh karena itu tepatlah rumusan sila kemanusiaan yang adil dan beradab masuk

dalam falsafah Pancasila. Nilai-nilai budaya yang terkandung dalam sila ini membentuk

watak bangsa kita menjadi bangsa yang lemah lembut, sopan santun, tengang rasa, saling

mencintai,  bergotong royong dalam kebaikan, dan lain sebagainya.

Sehubungan dengan hal tersebut maka pengamalannya adalah sebagai berikut:

1. Mengakui persamaan derajat, persamaan hak, dan persamaan kewajiban antara sesama

manusia. Butir ini menghendaki bahwa setiap manusia mempunyai martabat, sehingga

tidak boleh melecehkan manusia yang lain, atau menghalangi manusia lain untuk hidup

secara layak, serta menghormati kepunyaan atau milik (harta, sifat dan karakter) orang

lain.

2. Saling mencintai sesama manusia. Kata cinta menghendaki adanya suatu keinginan yang

sangat besar untuk memperoleh sesuatu dan rasa untuk memiliki dan kalau perlu

pengorbanan untuk mempertahankannya. Dengan perasaan cinta  pula manusia dapat

mempergiat hubungan sosial seperti kerjasama, gotong royong, dan solidaritas. Dengan

rasa cinta kasih itu pula orang akan berbuat ikhlas, saling membesarkan hati, saling

berlaku setia dan jujur, saling menghargai harkat dan derajat satu sama lain.

3. Mengembangkan sikap tenggang rasa. Sikap ini menghendaki adanya usaha dan kemauan

dari setiap manusia Indonesia untuk menghargai dan menghormati perasaan orang lain.

Harusnya dalam bertingkah laku baik lisan maupun perbuatan kepada orang lain,

hendaknya diukur dengan diri kita sendiri; bilamana kita tidak senang disakiti hatinya,

maka janganlah kita menyakiti orang lain. Sikap tenggang rasa juga dapat kita wujudkan

dalam toleransi dalam beragama.

Page 19: Filsafat Pancasila Sila Ke-2

4. Tidak semena-mena terhadap orang lain. Semena-mena berarti sewenang-wenang, berat

sebelah, dan tidak berimbang. Oleh sebab itu butir ini menghendaki, perilaku setiap

manusia terhadap orang tidak boleh sewenang-wenang, harus menjunjung tinggi hak dan

kewajiban.

5. Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Setiap warga Negara harus menjunjung tinggi dan

melaksanakan nilai-nilai kemanusiaan dengan baik, seperti:

a. Mengakui adanya masyarakat yang bersifat majemuk.

b. Melakukan musyawarah dengan dasar kesadaran dan kedewasaan untuk menerima

kompromi.

c. Melakukan sesuatu dengan pertimbangan moral dan ketentuan agama.

d. Melakukan sesuatu dengan jujur dan kompetisi yang  sehat.

e. Memerhatikan kehidupan yang layak antar sesama.

f. Melakukan kerja sama dengan iktikad baik dan tidak curang.

6. Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan diartikan gemar melakukan kegiatan

kemanusiaan sehingga setiap manusia dapat hidup layak, bebas, dan aman. Kegiatan ini

dapat dilakukan seperti kegiatan donor darah, memberikan santunan anak yatim piatu,

orang yang tertimpa musibah dan orang yang tidak mampu.

7. Berani membela kebenaran dan keadilan. Butir ini menghendaki manusia Indonesia

untuk mempunyai hati yang mantap dan percaya diri dalam menegakkan kebenaran dan

keadilan.

8. Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia, karena itu di

kembangkan sikap saling menghormati dan bekerja sama dengan bangsa lain. Butir ini

menganjurkan untuk saling menghormati, sikap saling menghormati ini dapat di lakukan

dengan menghormati kedaulatan suatu bangsa dan menjalin kerja sama yang

menguntungkan.

Selain itu penjelmaan Pancasila ke dalam hukum Negara kita tertuang dalam Undang-

Undang Dasar 1945 pasal 27 tentang Warga Negara dan Penduduk, pasal 28 A-J tentang

HAM, dan pasal 31 ayat 1 tentang pendidikan.

Page 20: Filsafat Pancasila Sila Ke-2

Sebagai salah satu contoh nyata dari pelanggaran yang pernah terjadi di Indonesia

adalah pada masa kepemimpinan Soeharto, pada saat itu setiap orang atau kelompok yang

tidak sependapat dengan Soeharto akan dibunuh secara diam-diam. Tindakan ini sangat tidak

manusiawi, karena sampai sekarang jasad mereka tidak pernah diketahui dimana dan alasan

mereka dihilangkan nyawanya sangat tidak jelas. Hal yang sangat terlihat jelas adalah

pelanggaran dalam kebebasan berpendapat juga masalah hak hidup yang notaben-nya adalah

hak dasar seorang manusia untuk hidup. Dan pada saat itu Indonesia sudah menganut

ideologi Pancasila, itu berarti pada masa kepemimpinan Soeharto terjadi penyimpangan pada

sila kedua Pancasila.

Seperti ditarik dari pengalaman bangsa yang dijajah, pelanggaran nilai-nilai HAM

paling sering terjadi antara yang dijajah dengan yang menjajah, yang dikuasai dengan sang

penguasa, rakyat dengan dominasi kekuasaan, rakyat dengan dominasi pemerintahnya. Ini

yang dinamakan pelanggaran HAM yang bersifat vertikal. Dikarenakan pemerintah

dilengkapi dengan sarana pengamanan seperti militer lengkap dengan senjatanya ataupun

penegak hukum lainnya seperti polisi, kejaksaan, kehakiman dll. Sangat mudah terjadi

penyimpangan yang di satu sisi pemerintah dengan kekuasaan seharusnya mengayomi atau

memberi rasa aman kepada masyarakat justru sebaliknya menjalankan pemerintahan yang

represif dan menghantui rakyatnya dengan rasa takut apabila berhadapan dengan penegak

hukum yang berlaku sewenang-wenang dalam melakukan penegakan hukum. Hal ini terjadi

sejak jaman kemerdekaan sampai dengan saat ini, sehingga kemerdekaan yang seharusnya

memberikan kemerdekaan sepenuhnya untuk rakyat tidak tercapai tetapi yang terjadi justru

penjajahan yang masa lalu dilakukan oleh Belanda, setelah kemerdekaan bangsa Indonesia

dijajah oleh bangsa sendiri yang kebetulan dipercaya oleh rakyat untuk duduk dalam posisi

sebagai pengelola Negara.

Dalam banyak kasus yang menyangkut pihak aparat keamanan (terutama militer),

penegakan HAM menjadi tumpul di Indonesia yang merupakan suatu indikasi bahwa

kekuatan militer masih punya pengaruh yang cukup dominan dalam pemerintahan Republik

Indonesia yang katanya demokratis saat ini, sebagai contoh:

a. Tidak tuntasnya siapa sebenarnya penembak mati 4 mahasiswa Trisakti pada tanggal 12

Mei 1998.

Page 21: Filsafat Pancasila Sila Ke-2

b. Tidak pernah terungkapnya siapa sebenarnya yang berada di balik kerusuhan 13-14 Mei

1998.

c. Berbelit-belitnya penyelesaian masalah siapa di balik skenario pembunuhan Munir.

Rakyat bisa juga mencoba melakukan intimidasi, pemaksaan kehendak terhadap

rakyat yang lain sehingga menimbulkan keterpaksaan lain pihak dalam melakukan sesuatu

atau pada banyak hal memberikan sesuatu secara terpaksa kepada pihak lain, apakah itu

secara organisasi maupun secara individu. Yang paling menonjol saat ini di Indonesia adalah

praktek premanisme dan mafia pengadilan.

Beberapa contoh premanisme yang dibiarkan secara berlarut-larut oleh oknum

penegak hukum karena membawa manfaat secara pribadi terhadap oknum penegak hukum

tersebut adalah:

Pemandangan yang biasa di Jakarta adanya terminal bayangan di jalan-jalan yang

dikuasai sekelompok preman dan mengharuskan sopir angkot untuk memberi uang

menurut tarif yang mereka tentukan sendiri apabila melewati terminal bayangan ini.

Tidak pernah ada tindakan penegak hukum untuk praktek pemaksaan kehendak ini.

Praktek pungutan keamanan untuk para pedagang kaki lima, pasar ataupun  toko-toko

kecil. Biasanya ini dilakukan jutru oleh organisasi massa yang berafiliasi dengan partai

politik.

Pembiaran oleh pemerintah, organisasi preman berkedok agama yang merusak  tempat-

tempat usaha hiburan bahkan yang terakhir peristiwa Monas yang target kekerasan adalah

organisasi massa lainnya.

Pada hakekatnya praktek premanisme merupakan bisnis yang empuk bagi sebagian

rakyat kepada rakyat yang lain berupa pemaksaan kehendak dengan tindak kekerasan yang

tidak jarang berujung dengan penganiayan bahkan pembunuhan. Penegak hukum menutup

mata bahkan oleh oknum-oknum di tubuh militer dan kepolisian dijadikan objek penambahan

penghasilan dengan cara memberikan backing.

Praktek mafia pengadilan bisa juga dikatakan pelanggaran HAM horizontal karena

ada unsur pemerasan kelompok mafia pengadilan apabila oleh sesuatu hal kita berhubungan

Page 22: Filsafat Pancasila Sila Ke-2

dengan penegak hukum karena terkena kasus hukum baik yang ringan ataupun yang berat,

selalu akan ada makelar pengadilan atau kelompok mafia pengadilan yang akan mengurus

masalah pembebasan atau paling tidak peringanan hukuman melalui kelompok ini yang

mengenal baik para pejabat penegak hukum. Bukannya proses hukum yang dilakukan untuk

menegakkan hukum secara adil dan beradab tapi proses mediasi dengan motif uang

gratifikasi yang menjadi fokusnya.

Sangat banyak hal yang terjadi di masyarakat yang berkaitan dengan intimidasi

kelompok masyarakat yang satu terhadap kelompok masyarakat lainnya. Pada banyak kasus

pembebasan tanah sangat sering terjadi intimidasi terhadap pemilik tanah agar menjual

tanahnya dengan harga yang dipaksakan oleh pembeli melalui intimidasi. Kemungkinan

besar masyarakat Indonesia banyak yang tidak mengetahui bahwa setiap tindak pemerasan

dan pemaksaan kehendak terhadap pihak lain adalah salah satu pelanggaran hak asasi

manusia.

Page 23: Filsafat Pancasila Sila Ke-2

BAB III

PENUTUP

3.3 Kesimpulan

Secara umum Pancasila merupakan hal yang fundamental dalam menentukan

kehidupan di Indonesia, terutama pada sila ke-dua yang mengatur tentang bagaimana cara

hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Sila ke-dua ini memiliki pengertian sebagai

pandangan dunia, pandangan hidup, pegangan hidup, pedoman hidup, dan petunjuk hidup.

Pancasila sebagai pegangan hidup  yang merupakan pandangan hidup bangsa, penjelmaan

falsafah hidup bangsa, dalam pelaksanaan hidup sehari-hari tidak boleh bertentangan dengan

norma-norma agama, norma-norma kesusilaan, norma-norma sopan santun, dan tidak

bertentangan dengan norma-norma hukum yang berlaku. Nilai-nilai budaya yang terkandung

dalam sila ini membentuk watak bangsa kita menjadi bangsa yang lemah lembut, sopan

santun, tengang rasa, saling mencintai,  bergotong royong dalam kebaikan, dan lain

sebagainya. Untuk itu, rumusan sila kemanusiaan yang adil dan beradab masuk dalam

falsafah Pancasila.

Pada hakikatnya manusia memiliki unsur-unsur yang isinya merupakan susunan

kodrat manusia, sifat kodrat manusia, dan kedudukan kodrat manusia. Sila kedua Pancasila

mengandung makna warga Negara Indonesia mengakui adanya manusia yang bermartabat,

memperlakukan manusia secara adil dan beradab di mana manusia memiliki daya cipta, rasa,

dan karsa. Nilai-nilai budaya yang terkandung dalam sila ini membentuk watak bangsa kita

menjadi bangsa yang lemah lembut, sopan santun, tengang rasa, saling mencintai,  bergotong

royong dalam kebaikan, dan lain sebagainya.

3.4 Saran

Pancasila bukan hanya sekedar bahan hafalan saja, tetapi juga perlu diterapkan.

Sebagaimana melakukan pekerjaan lain, ketika kita tidak bisa melakukannya kita akan

mencoba hingga berhasil. Demikian juga dengan penerapan pancasila, jika setiap orang mau

mencoba untuk mengamalkan butir butir pancasila maka tujuan Negara juga bisa tercapai.

Page 24: Filsafat Pancasila Sila Ke-2

Dengan adanya pendidikan pancasila ini diharapkan kita bisa mengamalkan apa yang

ada dalam pancasila, minimal di tempat kita tinggal. Sehingga apa yang telah kita pelajari

selama ini mengenai pancasila dapat dilaksanakan dengan baik.

Page 25: Filsafat Pancasila Sila Ke-2

DAFTAR PUSTAKA

Bolo, Andreas Doweng dkk. 2000. Pendidikan Nilai Pancasila. Bandung: Unpar Press.

Kaelan. 2002. Filsafat Pancasila. Yogyakarta : Paradigma.

Mufid, Ibram. 2010. Hakikat Pengertian Pancasila (Sila Kedua).

Muzayin. 1990. Ideologi Pancasila. Jakarta: Golden Terayon Press.

Rukiyati, dkk. 2008. Pendidikan Pancasila. Yogyakarta: UNY Press.

Taufiq. 2011. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.

Salam, H. Burhanuddin. 1998. Filsafat Pancasilaisme. Rineka Cipta: Jakarta

Thalib, Muhammad. 1999. Doktrin Zionisme dan Idiologi Pancasila. Windah Press:

Yogyakarta.

2011, Latif, Y, Negara Paripurna: Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila, Jakarta:

Gramedia Pustaka Utama,

2014, Latif, Y, Mata Air Keteladanan: Pancasila dalam Perbuatan, Jakarta: Mizan.

1969, Purbopranoto, K, Hak-hak Azasi Manusia dan Pantjasila, Cet. Ke-3 Revisi, Djakarta:

Pradnja Paramita