isu gender

Download Isu Gender

Post on 05-Jul-2015

649 views

Category:

Documents

4 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

KEBIJAKAN PERLINDUNGAN PEREMPUAN DI DAERAH BENCANA: STUDI KASUS DI PADANG DAN SIDOARJO Aris Munandar Mohammad Noer ABSTRAK Kebijakan yang tidak sensitive gender akan berpengaruh pada keadilan dalam akses, kontrol, partisipasi dan pemanfaatan sumber daya pembangunan antara laki-laki dan perempuan. Dengan perspektif gender, studi ini mengkaji penanggulangan bencana di Padang dan Sidoarjo dengan fokus pada empat fase kebijakan penanganan bencana yaitu Pra-bencana, Tanggap Darurat, Rehabilitasi dan Rekonstruksi. Hasil studi menunjukkan bahwa isu gender di kedua daerah bencana belum terintegrasi ke dalam kebijakan pengelolaan bencana. PENDAHULUAN Pengalaman bencana yang menimpa Indonesia mulai dari Tsunami Aceh, tanah longsor, gempa bumi, badai tropis, angin puting beliung, rob, yang datang secara berturut-turut, membuat kita gagap dan terkesan tidak siap menghadapinya. Meskipun tidak mengharapkan kejadian itu berulang, akan tetapi menghadapi kenyataan bahwa Indonesia terletak di sabuk bencana Pasifik sehingga kewaspadaan dan kesiapan dalam bentuk pengelolaan bencana adalah suatu keniscayaan. Banyak isu yang harus dipertimbangkan dalam pengelolaan bencana; dari isu yang berkaitan dengan hal-hal fisik lingkungan, infrastruktur, sampai isu yang menyangkut ekonomi dan sosial-budaya. Dari semua isu itu, kecenderungan yang ada memperlihatkan isu sosial-budaya khususnya isu perempuan dan isu gender belum mendapat perhatian secara proporsional. Meskipun sangat penting dan relevan, tetapi sering luput dalam pertimbangan ketika pengelolaan bencana diformulasi, ketika kebijakan dan strategi ditentukan dan ketika program, panduan, prosedur standar operasi serta hal-hal teknis lainya, dikembangkan dan diimplementasikan. Isu gender dalam pengelolaan bencana dewasa ini mendapat perhatian yang sangat penting mengingat dalam beberapa pengalaman peristiwa bencana di berbagai tempat, keberadaan perempuan, anak-anak, dan orang-orang yang tergolong ke dalam kelompok rentan seringkali kurang atau bahkan tidak terlindungi secara memadai, 1

sehingga mereka menjadi korban yang paling besar akibat peristiwa bencana. Di sisi lain, peran perempuan pada peristiwa bencana cukiup besar, misalnya ketika mereka berusaha menyelamatkan anak-anak, harta benda, dan memberikan pertolongan kepada korban yang lain, tetapi seringkali peran mereka kurang diperhatikan. Sehubungan dengan itu, pemerintah dan masyarakat perlu memberikan perhatian yang lebih tinggi terhadap upaya perlindungan perempuan dan kelompok rentan pada peristiwa bencana, karena kaum perempuan mempunyai pengalaman, perhatian, kecepatan, dan keterampilan yang berbeda dengan kaum laki-laki ketika menghadapi bencana. Penyelenggaraan pengelolaan bencana berperspektif gender adalah suatu cara untuk memperlakukan adil dan setara terhadap perempuan dan laki-laki, mengingat keduanya berbeda dalam peran gender yang mereka sandang serta hubungan sosial yang mengaturnya. Peran gender laki-laki dianggap sebagai pemimpin, kepala keluarga dan pengambil keputusan sehingga mereka lebih terpapar dengan pemegang otoritas, kesempatan, pilihan-pilihan, akses terhadap sumber daya termasuk informasi, pengetahuan, keterampilan; dibandingkan dengan perempuan yang peran gendernya lebih pada ranah rumahtangga (care giver). Hasilnya, perempuan (keberadaan, suara, pengalaman, kebutuhan, kerisauann dan rasa amannya) terpinggirkan dari arusutama (mainstream) kebijakan, program dan kegiatan. Itulah sebabnya dalam setiap upaya men-gender-kan kebijakan, program, termasuk penanggulangan bencana, kecenderungan lebih difokuskan pada perempuan. Yaitu dengan memberi keadilan gender melalui kebijakan, program dan kegiatan agar mereka dapat ikut serta dengan memperhatikan kesulitan mereka sebagai perempuan. Dengan demikian dipercayai kesetaraan (hak dan status) antara keduanya dapat tercapai. Keberadaan kaum perempuan sering luput dari perhatian para otoritas pengelola bencana. Suara perempuan hampir tidak terwakili karena sudah dianggap terwakili oleh suara laki-laki. Akibatnya perempuan (suara, aspirasi, kebutuhan, dst) terabaikan dalam proses pengambilan keputusan sejak fase tanggap darurat sampai dengan fase membangun kembali kehidupan dirancang, diformulasikan dan dimplementasikan. Adalah suatu kenyataan bahwa sampai saat ini perspektif gender hampir-hampir absen dalam analisis bencana. 2

Sejatinya perempuan itu bukan saja sebagai korban tetapi mereka adalah sumberdaya yang berpotensi dapat memobilisasi kekuatan dalam masyarakatnya, terutama ketika sendi-sendi kehidupan tidak berfungsi seperti dalam keadaan bencana. Dari pengalaman berbagai bencana yang baru kita alami, peran dan inisiatif perempuan untuk menjaga kelangsungan kehidupan keseharian dalam keluarga dan dalam bermasyarakat, berjalan dan diakui secara luas. Potensi ini akan dapat lebih bermanfaat jika peran serta dan inisiatif mereka itu diapresiasi dan diakomodasi dalam penyelenggaraan pengelolaan bencana pada setiap tahapannya. Studi ini bermaksud mengakomodasi pendekatan sensitif gender ke dalam penyelenggaraan pengelolaan bencana dengan bertolak dari argumen banwa menggunakan lensa gender memperkaya analisis penanggulangan bencana dan menyodorkan lebih banyak option response yang cocok untuk kemaslahatan perempuan dan laki-laki. Jadi tujuannya tidak semata-mata untuk memberi perhatian pada nasib perempuan saja, akan tetapi juga untuk kebaikan dari penyelenggaraan pengelolaan bencana itu sendiri, yang selama ini bias laki-laki. Permasalahan Dalam kajian ini ada dua pertanyaan besar yang akan dijawab: 1. Apakah isu perempuan dan isu gender sudah terintegrasi dalam pengelolaan bencana? Jika sudah, bagaimana implementasinya di lapangan? 2. Jika belum, mengapa isu perempuan dan isu gender tidak terintegrasi ke dalam pengelolaan bencana? Tujuan Penelitian 1. Melakukan telaah dari perspektif gender atas peraturan, kebijakan, strategi, programprogram kegiatan, pedoman dan instrumen berkaitan dengan perlindungan perempuan dalam pengelolaan bencana pada fase-fase penanganan bencana yang meliputi persiapan, tanggap darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi yang dikeluarkan oleh beberapa Kementerian / Lembaga serta organisasi lainya. 2. Melakukan studi yang berkaitan dengan implementasi beberapa program kegiatan terpilih (meliputi fase persiapan, tanggap darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi) 3

termasuk implementasi metode dan instrumen untuk penguatan kapasitas kelembagaan, dengan fokus pada keterkaitan antara gender dan pengelolaan bencana, sembari mengidentifikasi celah di mana integrasi perspektif gender dapat meningkatkan model-model penyelenggaraan pengelolaan bencana yang ada. Metode Penelitian 1. Melakukan telaah atas dokumen (desk review) yang berkaitan dengan pengelolaan bencana dari perspektif gender 2. Melakukan studi lapanga untuk mengumpulkan data dan informasi mengenai implementasi; best practice, pengalaman serta tantangan yang dihadapi serta rekomendasi dari: a. Stakeholders terpilih (pemegang otoritas dari Dinas/ Lembaga di daerah terpilih yang bertanggung jawab menangani penanggulangan bencana di tingkat daerah; b. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan Organisasi Sosial Kemasyarakatan yang bekerja dalam penanggulangan bencana di daerah; c. Para korban (khususnya perempuan dan penduduk rentan (anak-anak, lansia, penderita cacat). Pengumpulan data dan informasi dilakukan dengan cara: a. Obervasi b. FGD dengan 5 kelompok terpilih : survivor (1)kelompok-kelompok perempuan dan lansia perempuan; (2)survivor laki-laki dan lansia laki-laki; (3)remaja; (4) masyarakat di tingkat desa; dan (5) otoritas di tingkat desa c. Wawancara mendalam dengan narasumber di lapangan bekerjasama dengan PSW setempat TINJAUAN KONSEPTUAL Beberapa konsep dan definisi yang dipakai dalam kajian ini mencakup: Kebijakan (Policy). Prinsip atau cara bertindak yang dipilih untuk mengarahkan pengambilan keputusan. Menurut Titmuss, kebijakan senantiasa berorientasi pada masalah (problem-oriented) dan kepada tindakan (action-oriented). Dengan demikian,

4

kebijakan adalah suatu ketetapan yang memuat prinsip-prinsip untuk mengarahkan carabertindak yang dibuat secara terencana dan konsisten dalam mencapai tujuan tertentu. Perempuan. Kategori jenis kelamin (sex) yang ditandai oleh ciri-ciri biologis tertentu, antara lain; memiliki alat menyusui, memiliki vagina, memiliki alat reproduksi dan melahirkan. Ciri-ciri biologis yang melekat pada perempuan seringkali berimplikasi pada perbedaan peran atau perbedaan gender yang meliputi; kultur, psikologis, dan sosial dengan laki-laki, di mana kaum perempuan menjadi subordinasi kaum laki-laki. Perempuan menjalankan peran domestik dan laki-laki menjalankan peran publik; perempuan menjalankan peran ibu rumah tangga dan laki-laki menjadi kepala rumah tangga. (Fakih, 2005). Bencana. Suatu kejadian alam maupun kesalahan ulah manusia yang membuat fungsi kehidupan masyarakat terganggu (karena sendiri. Penanggulangan Bencana. Serangkaian upaya/ kegiatan yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan untuk antisipasi menghadapi risiko timbulnya bencana, dari upaya/ kegiatan kesiapsiagaan menghadapi bencana, tanggap darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi dengan mengakomodasi pengalaman serta kebutuhan masyarakat dengan memperhatikan bahwa masyarakat tidak homogen; masyarakat terdiri dari perempuan dan laki-laki termasuk anak-anak, lansia dan penduduk rentan lainnya. Fase Kesiapsiagaan. Serangkaian upaya/ kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta melalui langkah-langkah yang tepat guna dan berdaya guna, dengan memperhatikan bahwa masyarakat yang terdiri dari perempuan dan laki-laki berpotensi berbeda dalam kesiapsiagaannya karena adanya isu gender (isu yang muncul karena adanya perbedaan diantara keduanya dalam memperoleh akses dan manfaat dari adanya informasi, pengetahuan tentang bencana, dst). Fase Tanggap Darurat Bencana. Serangkaian upaya/ kegiatan yang dilakukan dengan segera