kurban dan shalawat

8
Kenapa, Bang?” tanya perempuan itu lagi. “Kenapa kau tinggalkan kami berdua disini?” Lelaki-nya masih diam tak menjawab. “Kenapa kau tega meninggalkan kami berdua di tanah tandus ini?? Tidak ada satu orang pun disini, Bang. Tidak ada air, tidak ada apa-apa yang bisa dimakan. Kami bisa mati disini. Tak sayang kah kau pada kami??” Lelaki itu tetap diam. Sepertinya dia memang tipe laki-laki yang kurang ekspresif mengungkapkan perasaannya. Perempuan itu memandangnya dengan perasaan campur aduk. Tega benar suaminya itu! Sudah tau tanah disini gersang. Tidak ada air. Tidak ada tumbuhan yang berbuah. Dan jangankan mencari pasar untuk membeli makanan, tempat ini bahkan tidak berpenghuni! Maksudnya apa meninggalkan kami disini? Maunya apa sih?? Istrinya melontarkan sejuta tanya melalui kedua matanya. Suaminya masih membisu. Dia tahu keputusannya nampak tak masuk akal. Meninggalkan istri dan anak yang masih merah di tanah gersang. Dia ingin menenangkan istrinya. Ingin sekali. Sang istri sebenarnya tahu kalau suaminya seorang yang ksatria dan bertanggung jawab. Tapi kenapa sekarang bertindak tidak wajar begini..? Sang suami masih memandangnya dengan perasaan teramat sayang sekaligus ingin memberi kekuatan. Ah…aku tau…tiba-tiba batin istrinya seperti disinari cahaya. “Apakah Allah, Diakah Bang, yang memerintahkanmu berbuat ini?” tanyanya. Sang suami tersenyum lega, isterinya paham juga. “Ya,” akhirnya mulut yang mulia itu menjawab. Seolah-olah diamnya tadi memang sedang menunggu pertanyaan itu terlontar dari istrinya.

Upload: aisotardok

Post on 09-Dec-2015

219 views

Category:

Documents


1 download

TRANSCRIPT

Page 1: Kurban Dan Shalawat

Kenapa, Bang?” tanya perempuan itu lagi.

“Kenapa kau tinggalkan kami berdua disini?”

Lelaki-nya masih diam tak menjawab.

“Kenapa kau tega meninggalkan kami berdua di tanah tandus ini?? Tidak ada satu orang pun disini, Bang. Tidak ada air, tidak ada apa-apa yang bisa dimakan. Kami bisa mati disini. Tak sayang kah kau pada kami??”

Lelaki itu tetap diam. Sepertinya dia memang tipe laki-laki yang kurang ekspresif mengungkapkan perasaannya.

Perempuan itu memandangnya dengan perasaan campur aduk. Tega benar suaminya itu! Sudah tau tanah disini gersang. Tidak ada air. Tidak ada tumbuhan yang berbuah. Dan jangankan mencari pasar untuk membeli makanan, tempat ini bahkan tidak berpenghuni! Maksudnya apa meninggalkan kami disini? Maunya apa sih?? Istrinya melontarkan sejuta tanya melalui kedua matanya.

Suaminya masih membisu. Dia tahu keputusannya nampak tak masuk akal. Meninggalkan istri dan anak yang masih merah di tanah gersang. Dia ingin menenangkan istrinya. Ingin sekali.

Sang istri sebenarnya tahu kalau suaminya seorang yang ksatria dan bertanggung jawab. Tapi kenapa sekarang bertindak tidak wajar begini..?

Sang suami masih memandangnya dengan perasaan teramat sayang sekaligus ingin memberi kekuatan.

Ah…aku tau…tiba-tiba batin istrinya seperti disinari cahaya.

“Apakah Allah, Diakah Bang, yang memerintahkanmu berbuat ini?” tanyanya.

Sang suami tersenyum lega, isterinya paham juga.

“Ya,” akhirnya mulut yang mulia itu menjawab. Seolah-olah diamnya tadi memang sedang menunggu pertanyaan itu terlontar dari istrinya.

“Kalau begitu pergilah, Bang. Tidak apa-apa. Kalau memang Allah yang memerintahkanmu berbuat ini, Dia pasti tidak akan menyia-nyiakan kami berdua. “

Sang lelaki plong bukan buatan. Hatinya jadi tenang. Istrinya memang bukan wanita sembarangan.

“Pergilah… Jangan khawatirkan aku dan Ismailmu. Allah sendiri nanti yang akan mengurus kami.”

Waw, perempuan dahsyat…

Page 2: Kurban Dan Shalawat

Drama teragung dalam sejarah manusia tentang pengorbanan ayah-anak terhadap Tuhannya, tentang kesabaran Ismail menyerahkan kepalanya demi memenuhi perintah Allah, berawal dari perempuan ini. Berawal dari didikan perempuan dahsyat ini. Siti Hajar.

Kita tentu tahu dari sejarah, bahwa sepeninggal Ibrahim kembali ke Palestina, Siti Hajar harus pontang-panting bertahan hidup di Makkah, tanah tandus yang belum berpenghuni. Ia berjuang pertama-tama adalah untuk bayinya yang sedang kehausan. Dia berlarian mendaki dan menuruni bukit dari Shafa ke Marwah untuk mencari sesuatu yang bisa diminumkan pada Ismail bayi, sebab saat itu ASInya pun macet saking kerontangnya kondisi tubuhnya. Kebayang gak sih, gimana panasnya Makkah saat itu. Hiii…

Kita juga tahu, bahwa setelah pontang-panting itu, Allah menghadiahinya air zam-zam, mata air kebaikan yang terus mengalir hingga ribuan tahun sesudahnya. Hingga kini. Meski berjuta-juta, beratus-ratus juta atau bahkan miliaran orang yang mengunjungi Ka’bah sejak dulu hingga saat ini mengambilnya, tapi setetespun air itu tidak surut. Zam-zam, sesungguhnya adalah salah satu hadiah dariNya untuk segenap manusia, yang diberikan lewat perantaraan Siti Hajar dan kaki Ismail.

Setelah itu Hajar dan Ismail pun terus berjuang bertahan hidup. Hingga bertahun-tahun sesudahnya. Seperti keyakinan Hajar, Allah sendiri yang menjaga mereka. Allah mengirimkan buah-buahan, mengirimkan keteduhan, mengirimkan manusia-manusia lain yang kemudian membentuk sistem masyarakat di Makkah. Allah menurunkan perlindunganNya terhadap mereka.

14 tahun kemudian…

Ibrahim, ayah yang soleh itu, yang tidak terlalu ekspresif namun sangat mencintai keluarganya itu, yang meski meninggalkan mereka belasan tahun, namun tak pernah sesaat pun berhenti mendaraskan doa-doa untuk anak-istri yang ditinggalkannya itu (Quran surat Ibrahim/15: dari ayat 35 s/d 41), akhirnya kembali lagi. Bukan untuk menjemput, bukan untuk menetap. Allah telah menyiapkan tugas lain untuk Ibrahim meski saat itu beliau belum mengetahuinya. Waw, berat banget ya, menjadi nabi…

Tentu saja, perjumpaan keluarga kecil itu berlangsung haru. Bayangin aja sih, 14 tahun gak ketemu pasti kangen berats! Apalagi saat itu tak ada telpon, surat kawat, pager, hape, apalagi internet. Pastinya setiap waktu yang berlalu gak ingin disia-siakan. Diisi dengan saling cerita, bercanda, beramal-ibadah bersama, ingin membayar hutang alpa selama belasan tahun.

Hingga suatu saat….yah, situ pasti sudah bisa menebak, datanglah wahyu Allah melalui mimpi Ibrahim. Wahyu legendaris itu. Wahyu yang pastinya amat sangat berat bagi seorang ayah yang penyayang. Jangankan yang belasan tahun pergi, yang setiap harinya ketemu aja pasti rasanya mustahil untuk melaksanakan perintah itu. Menyembelih anaknya! Anak lelaki pertamanya. Putra mahkotanya.

Huhuu… Padahal, penantian Ibrahim ingin punya anak gak sebentar. Gak setahun dua tahun. Gak sembilan atau bahkan dua belas tahun seperti salah satu tetangga saya di Jember dulu. Nabi Ibrahim menantinya selama berpuluh-puluh tahun cuy! (biar terdengar gaul cuy, critanya) Berpuluh-puluh tahun barulah Allah memberinya anak melalui istri keduanya tersebut. Dari istri pertamanya, Siti Sarah, akhirnya Allah juga memberinya putra. Tapi untuk saat ini, kita pokus pada cerita Ibrahim-Ismail dulu yah.

Page 3: Kurban Dan Shalawat

Awalnya Ibrahim belum sepenuhnya yakin, apakah mimpinya menyembelih Ismail benar-benar wahyu ataukah hanya bunga-tidur belaka. Namun ketika ternyata 3 malam berturut-turut ia bermimpi hal yang sama dan keyakinannya makin kuat bahwa itu memang wahyu Allah, maka ia pun mau tak mau harus mau melaksanakan perintah tersebut. Eh, tapi kalo nabi pastinya melaksanakan wahyu dengan segenap hati ya. Memangnya kita…eh, saya.

Ibrahim ini saudara, rupanya tipe ayah yang demokratis. Ia tahu, sepenuhnya tahu, bahwa jika sudah merupakan perintah Allah, maka ia akan menjalankannya dengan sungguh-sungguh. Tidak akan ada penolakan. Tidak akan ada kata enggan. Apalagi untuk nabi sekaliber Ibrahim—meskipun kita juga gak boleh ngebeda-bedain nabi sih. Untukmu ya Allah, aku dengar dan aku taat. Tapi rupanya dia gak langsung main jagal ey! Dia ngajak anaknya untuk ngobrol dulu. Dengarlah saat ia bertanya pada Ismail,

Wahai anakku, sesungguhnya Ayah menerima wahyu dari Allah. Maaf ya nak, tapi isi wahyu ini sangat berat. Bukan sekedar perintah untuk mengirimmu ke pesantren, tapi perintah untuk menyembelihmu. Ayah pengen tahu, katakanlah pada Ayah bagaimana pendapatmu?

(Redaksional resmi dari Quran: Tatkala putra itu sudah balig dan telah sanggup membantu bekerja, berkatalah (Ibrahim): Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam tidurku bahwa aku menyembelihmu, maka bagaimanakah pendapatmu mengenai hal ini…..Q.S: 37:102)

Lalu bagaimana reaksi Ismail? Marahkah dia? Ngambul kah dia? Mogok makan kah dia? Ngomel-ngomelkah dia? Mencaci maki ayahnya tidak waras kah dia? Membantah Allah dan menjadi atheis kah dia?

Dengar ini, saudara. ABG tampan dan soleh itu menjawab, tanpa ragu-ragu menjawab, “Kalau memang itu sudah perintah Allah, wahai Ayahku, silahkan engkau laksanakan saja. Apapun itu, aku akan terima. Insya Allah Ayah akan mendapatiku sebagai orang yang sabar.”

Kerweeen…! Anak seumuran itu bisa menjawab begitu. Ibu macam apa yang telah mendidiknya? Pasti dahsyat.

(Redaksional resmi dari Quran: Berkata (Isma’il): Hai ayah, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, engkau akan mendapati aku, insya Allah, termasuk golongan orang yang sabar. Q.S: 37:102)

Ibrahim terharu, tapi jadi makin kuat untuk menunaikan perintah Allah. Anaknya sehati dengannya. Pasti dia bahagia sekaligus nestapa pada saat yang bersamaan. Tapi dia juga sadar bahwa dunia dan isinya (termasuk anaknya) adalah milik Allah. Cintanya pada Allah telah menguatkan tekadnya.

Maka, diajaklah Ismail ke tempat yang dirasa sesuai wahyunya untuk menyembelih. Namun sebelumnya telah diasahnya pisau yang akan dia gunakan untuk memotong urat nadi Ismail. Diasahnya tajam-tajam. Harus sangat tajam, agar Ismail tak perlu berlama-lama merasa sakit. Ah, begitu cintanya…

Dikisahkan, saat dalam perjalanan, dia sempat digoda syaitan untuk mengurungkan misi sucinya. Dan setiap diganggu itu pula, Ibrahim melempari syetan penggoda tersebut dengan batu. Inilah yang kemudian menjadi ritual melempar jumroh dalam ibadah haji.

Page 4: Kurban Dan Shalawat

Nah, akhirnya sampailah mereka berdua di atas bukit. Dibaringkannya ismail pada sebuah tempat (mungkin batu yang besar). Namun saat melihat raut muka kesayangannya itu, hatinya terasa galau. Perkiraan saya sih, beliau tidak tega (yaeyalah….!!)

Lalu apa kata Ismail?

“Ayahanda, sebaiknya Ayah mengikatku kuat-kuat supaya aku tidak banyak bergerak sehingga menyusahkan Ayah. Selain itu, tanggalkan saja pakaianku supaya tidak terkena darah yang akan menyebabkan berkurangnya pahalaku dan terharunya ibu bila melihatnya. Dan tutuplah mataku dengan kain. Sebab kalau kau menatap mataku, aku khawatir kau akan bimbang untuk melaksanakan perintah Allah.”

Aduh duh…nak, kamu kok soleh banget.

Ayahnya makin terharu. Ia lalu menyanggupi permintaan anaknya, dan mengikat mata anaknya dengan kain.

Tapi setelah itu dia masih tidak tega. Air mata mengambang di pelupuk mata.

Ismail yang meski matanya ditutup masih bisa membaca perasaan Ayahnya, berkata lagi.

“Wahai Ayah, sebaiknya engkau balikkan saja tubuhku agar tidak berbaring telentang seperti ini. Agar kau tidak melihat wajahku dan menjadi bimbang lagi karenanya.”

Ibrahim menuruti kemauan anaknya dan kembali meneguhkan jiwa. Laki-laki mulia nan keren itu yakin, Allah pasti punya maksud lain di balik perintah ini. Pasti itu. Dan maksud yang bersumber dari Pemilik kebaikan, ia yakin tidak akan salah.

Maka dengan kemantapan iman, sambil berlinangan air mata, ia bersiap menyembelih leher anaknya…

“Lihatlah ini ya Allah….Inilah bukti kecintaanku padaMu. Inilah anakku yang pertama-, yang aku tunggu-tunggu kehadirannya selama berpuluh-puluh tahun. Yang saat ia masih bayi merah Engkau memintaku meninggalkannya di padang tandus, aku menurutinya. Engkau menyuruhku pergi meninggalkan ia, aku menurutinya. Belasan tahun aku tak di sampingnya dan melewatkan banyak momen bersamanya. Saat aku kembali, ia sudah jadi remaja tampan yang soleh. Betapa tak habis rasa syukurku karenanya ya Allah… betapa pemurahnya Engkau padaku. Dan kini, saat rindu itu belum lunas, saat rasa sayang itu baru sampai pada puncaknya, Engkau menyuruhku menyembelihnya. Menyembelih kesayanganku ini dengan tanganku sendiri. Dan lihatlah ini ya Allah… aku pun menurutinya. Aku menurutinya karenaMu, ya Allah…!”

Pisau itu sudah menyentuh leher Ismail saat Allah tiba-tiba berfirman… **

”…Wahai Ibrahim… Sesungguhnnya engkau telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata…” (QS: 37: 104-106)

Allah mengatakan pada Ibrahim bahwa Ibrahim telah membenarkan wahyuNya. Ibrahim telah melaksanakan permintaanNya, meskipun itu harus membenamkan dulu rasa

Page 5: Kurban Dan Shalawat

kecintaannya yang teramat sangat pada anaknya. Sebenarnya tujuan Allah mewahyukan hal itu bukan untuk menyuruh Ibrahim berbuat kejam, barbar pada anaknya sendiri. Tapi wahai Ibrahim, ayah para nabi, ayah yang sangat soleh, ayah yang sangat perhatian pada generasi penerusnya, Allah mewahyukan hal tersebut agar Ibrahim menyembelih rasa cintanya yang hampir berlebihan pada Ismail. Allah menyuruhnnya agar cintanya yang meluap-luap pada Ismail tidak menjadikan ia lupa pada Tuhannya.

Karena itu, sebagai balasan dari ketundukan, keikhlasan, dan kesabaran Ibrahim-Ismail, Allah mengganti Ismail dengan kurban yang besar. Yaitu domba yang gemuk. Inipun merupakan perlambang. Bukan dombanya, bukan gemuknya, bukan mahalnya, tapi keikhlasan kita untuk menyerahkan apa yang terbaik dari kita, apa yang sangat kita cintai, kepada Dia Pemilik semua.

Karena itulah hari raya Idul Adha sering disebut sebagai hari raya besar bagi umat Islam. Ritual thawaf, sa’i, lempar jumroh, wuquf adalah penggambaran rasa pengorbanan, keikhlasan, keyakinan, ketundukan, kepasrahan, semuanya bercampur jadi satu yang kemudian diabadikan oleh Allah dalam ritual ibadah haji. Mungkin salah satu tujuannya agar manusia selalu ingat akan kisah itu. Kisah cinta manusia kepada Tuhannya.

Allahu Akbar walillaahilhamd.

Selamat hari raya idul adha.

Jakarta, 7 desember 2008

Mencomot dari berbagai sumber, diantaranya: Al Quran, internet, dan cerita para ustadz. Mohon dimaklumi kalau menemukan perbedaan versi dengan yang pernah Anda ketahui.

** Dalam versi lain diceritakan, saat Ismail sudah dibaringkan, Ibrahim sebenarnya sudah mencoba menyembelih Ismail, namun parangnya menjadi tumpul. Lalu, karena Ismail mengira ayahnya tidak tega, ia pun mememinta ditelungkupkan. Tetapi saat parang yang sudah diasah tajam-tajam itu diletakkan di leher belakang Ismail, ia kembali menjadi tumpul. Lalu datanglah firman Allah tersebut….

Sedikit-sedikit saya jadi tahu, mengapa dalam sholawat nabi versi lengkap, setiap mendoakan kebaikan bagi nabi Muhammad, selalu disambung dengan kata-kata “seperti yang telah Engkau berikan kepada keluarga Ibrahim…” Karena ternyata keluarga tersebut memang dahsyat.