makalah i pancasila

Upload: friska-aprianti

Post on 17-Oct-2015

113 views

Category:

Documents


0 download

DESCRIPTION

pkn

TRANSCRIPT

PANCASILA & KORUPSI

PANCASILA & KORUPSIPencemaran Nama Pancasila Oleh KorupsiFRISKA APRIANTI 3311131127KELAS CUNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam, karena berkat rakhmat dan hidayahnyalah Saya telah berhasil menyelesaikan makalah yang berjudul "Pencemaran Nama Pancasila Oleh Korupsi. Shalawat dan sallam tak lupa selalu kami panjatkan kepada junjungan kita Nabi Muhamad Rasulullah SAW beserta keluarganya, para sahabatnya, para tabi'in, para tabi'ut tabi'in, serta kita semua umatnya hingga akhir zaman. Penulisan makalah ini sesungguhnya adalah sebagian dari syarat untuk mendapatkan nilai semester pertama dalam mata kuliah Pendidikan Pancasila. Oleh sebab itu, Saya berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menghasilkan karya yang terbaik menurut kemampuan kami demi untuk meraih nilai yang terbaik pula.Akhirnya dengan segala kerendahan hati, Saya menyadari bahwa penulisan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan. Pada kesempatan ini pula Saya mengharapkan kritikan dan saran yang bersifat membangun demi untuk memperbaiki dan meningkatkan agar penulisan makalah ini bisa menjadi lebih baik lagi. Akhir kata Saya hanya bisa berdo'a semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi kita semua. Amin ya Robbal alamin.

Cimahi, 8 Oktober 2013

Penulis

BAB IPENDAHULUAN

1. Latar Belakang MasalahSelain sebagai ideologi dan dasar negara, Pancasila juga merupakan sumber dari segala sumber hukum di Indonesia. Lahir dari akar sejarah budaya bangsa, Pancasila tak dapat dipungkiri, mengandung nilai-nilai luhur universal yang menjadi pedoman bagi kehidupan berbangsa. Nilai-nilai luhur lima sila Pancasila : Ketuhanan yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia - ini tak sekedar dihafalkan, tetapi juga diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Khususnya, dalam kehidupan pribadi atau kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.Namun, benarkah nilai-nilai luhur Pancasila telah diamalkan seluruh komponen bangsa? Jika nilai-nilai universal sudah diamalkan, mengapa negara Indonesia yang menjunjung moralitas justru marak praktik korupsi, kolusi dan nepotisme sampai Indonesia dicap sebagai negara korup.Nilai-nilai luhur Pancasila yang seharusnya dijadikan acuan seperti dilupakan. Akibatnya, korupsi marak di mana-mana. Ironisnya, tindak korupsi itu dilakukan elite politik yang seharusnya memberikan contoh dalam menjunjung moralitas. Terkuaknya kasus korupsi di hampir semua lembaga atau departemen pemerintahan seakan meneguhkan bahwa kekuasaan cenderung korup. Fenomena itu menegaskan bahwa Pancasila selama ini hanya dijadikan slogan, tak dijiwai sebagai nilai luhur yang patut dijunjung tinggi. Bagaimanapun negara ini didirikan atas landasan moral yang luhur. Sebelum terbentuk Negara Indonesia, etika dan moral dalam kehidupan sehari-hari warga di bumi Nusantara sudah menjadi pegangan yang dimaklumatkan penguasa kerajaan besar mulai dari Kerajaan Sriwijaya, Majapahit hingga Mataram. Hidup penuh toleransi, tolong-menolong, gotong-royong, bermusyawarah untuk menciptakan rasa aman, tenteram dan sejahtera seperti diungkapkan dengan semboyan gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharjo sudah menjadi harapan semua orang yang belakangan populer disebut "masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila'.Berdasarkan Latar Belakang permasalahan tersebut, penulis tertarik untuk menulis makalah yang berjudul Pencemaran Nama Baik Pancasila Oleh Korupsi. Masalah pokok yang hendak dikemukakan di sini adalah kenyataan bahwa Pancasila di Indonesia telah kehilangan jiwanyanya sebagai jembatan transformasi sosial, akibat rusaknya moral para penguasa.

2. Rumusan MasalahDari latar belakang di atas, maka rumusan masalah dapat disimpulkan sebagai berikut:a. Apa yang dimaksud dengan korupsi?b. Apa hubungan atara Pancasila dan korupsi?c. Bagaimanakah peran Pancasila dalam tindakan korupsi?d. Apasajakah bentuk, jenis, ciri-ciri, sebab-sebab, dampak serta langkah-langkah pemeberantasan korupsi?e. Bagaimanakah gambaran umum tentang korupsi di Indonesia ?f. Bagaimanakah persepsi masyarakat tentang korupsi ?g. Bagaimanakah fenomena korupsi di Indonesia ?h. Bagaimana peran serta pemerintah dalam memberantas korupsi ?i. Upaya apa yang dapat ditempuh dalam pemberantasan korupsi ?j. Apakah Pancasila masih ada dijiwa para penguasa?k. Adakah cara untuk mengembalikan nama baik Pancasila?

3. TujuanAdapun tujuan dapi penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut :a. Mengetahui pengertian dari korupsi.b. Mengetahui bentuk, jenis, ciri-ciri, sebab-sebab, dampak serta langkah-langkah pemeberantasan korupsi.c. Mengetahui gambaran umum tentang korupsi yang ada di Indonesia.d. Mengetahui persepsi masyarakat tentang korupsi.e. Mengetahui fenomena korupsi di Indonesia.f. Mengetahui peran serta pemerintah dalam memberantas korupsi.g. Mengetahui upaya yang dapat ditempuh dalam pemberantasan korupsi.

BAB IIPEMBAHASAN

1. Sejarah Singkat PancasilaSebelum membahas lebih jauh tentang hukum dan korupsi, alangkah baiknya kita mengetahui dahulu sejarah singkat Pancasila sebagai dasar negara sekaligus sumber hukum Indonesia.Pancasila, sebelum dibentuk atau dirumuskan, telah ada sejak zaman kerajaan yang berupa nilai-nilainya saja. Bahkan nilai-nilai Pancasila tercantum pada Kitab Sutasoma karangan Empu Tantular, dan sebagai cikal bakal nilai-nilai Pancasila sekarang. Para penduduk kerajaan bersama-sama untuk membangun wilayah kerajaan yang damai dengan dipimpin oleh seorang raja sebagai kepala pemerintahan. Rasa persatuan dan kerakyatan yang dimiliki oleh penduduk kerajaan inilah yang mendasari adanya nilai-nilai Pancasila sejak zaman kerajan.Begitu juga pada fase penjajahan. Rakyat yang merasa diperlakukan tidak adil, dipaksa bekerja hanya untuk memenuhi kebutuhan kaum penjajah, sedangkan kehidupannya sendiri sangatlah memprihatinkan tanpa ada rasa iba serta tidak beradabnya perilaku para penjajah. Hal inilah yang memicu rakyat Indonesia untuk merapatkan barisan. Bersatu untuk melawan kaum penjajah yang telah mengganggu ketentraman hidup serta dengan semena-mena memperlakukan rakyat. Akhirnya dengan persatuan yang kuat para penjajah pun berhasil diusir dari tanah air Indonesia.Masuk fase Budi Utomo dan Sumpah Pemuda, musyawarah para tokoh dan pemuda ini untuk mencapai suatu mufakat telah mencerminkan nilai-nilai Pancasila, yaitu musyawarah untuk mufakat. Hingga akhirnya masuk pada Sidang BPUPKI I. Pada sidang pertama ini dibahas asal mula rumusan Pancasila sebagai dasar negara.Pada sidang ini ada, 3 tokoh yang berpidato dan masing-masing memaparkan gagasannya dalam merumuskan dasar negara. Yang pertama adalah Moch. Yamin. Menurutnya negara Indonesia harus memiliki 5 dasar-dasar negara, yaitu Periketuhanan, Perikeadilan, Perikemanusiaan, Perikebangsaan, dan Perikesejahteraan. Selanjutnya adalah pidato dari Soepomo. Beliau menjelaskan tentang teori kenegaraan sebagai dasar negara. Yang ketiga pidato dari Soekarno yang mengungkapkan bahwa negara harus memiliki 5 dasar, yaitu Ketuhanan (Soekarno menyebutnya dengan istilah religieustiet), Internasionalisme, Kebangsaan Nasional atau Nasionalisme, Mufakat atau Permusyawaratan, dan Kesejahteraan Sosial. Kelima konsep hidup yang kemudian dikenal dengan Pancasila ini, menurut Soekarno digali berdasarkan fenomena kehidupan agraris Indonesia dan ditemukan dalam buku Kertagama.Pada Sidang BPUPKI II terjadi pertentangan mengenai sila Pertama antara golongan agama dengan golongan kebangsaan. Adalah golongan agama wilayah Indonesia Timur yang sebagian besar beragama Non Muslim yang menolak apabila Sila Pertama pada Pancasila hanya diperuntukkan kaum Muslim atau besifat khusus. Mereka menganggap bahwa mereka seperti dikucilkan atau tidak diakui sebagai warga Indonesia. Maka atas hasil kesepakatan bersama diubahlah Sila Pertama pada Pancasila seperti yang sekarang kita ketahui. Selain dirumuskannya kembali Pancasila, dalam sidang kedua ini juga disepakati bentuk negara Indonesia, yaitu Republik, dimana negara akan dipimpin oleh seorang Presiden.Sejarah akan Pancasila memang panjang. Tetapi apakah dengan panjangnya sejarah perumusan nilai-nilai Pancasila sehingga menjadi Pancasila seutuhnya, dapat membuat panjang atau lama pula integritas Pancasila sebagai dasar negara sekaligus sumber hukum di Indonesia?

2. Pancasila Sebagai Ideologi Dasar Negara IndonesiaPancasila adalah ideologi dasar bagi negara Indonesia. Nama ini terdiri dari dua kata dari bahasa Sansekerta, panca berarti lima dan sila berarti prinsip atau asas. Pancasila merupakan rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.Pada tanggal 15 Agustus 1945 Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu, dan sejak saat itu Indonesia kosong dari kekuasaan. Keadaan tersebut dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh para pemimpin bangsa Indonesia, yaitu dengan memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, pada tanggal 17 Agustus 1945. Sehari setelah proklamasikemerdekaan, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) mengadakan sidang, denganacara utama (1) mengesahkan rancangan Hukum Dasar dengan preambulnya (Pembukaannya) dan (2) memilih Presiden dan Wakil Presiden. Untuk pengesahan Preambul, terjadi proses yang cukup panjang. Sebelum mengesahkan Preambul, Bung Hatta terlebih dahulu mengemukakan bahwa pada tanggal 17 Agustus 1945 sore hari, sesaat setelah Proklamasi Kemerdekaan, ada utusan dari Indonesia bagian Timur yang menemuinya.Intinya, rakyat Indonesia bagian Timur mengusulkan agar pada alinea keempat preambul, di belakang kata ketuhanan yang berbunyi dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya dihapus. Jika tidak maka rakyat Indonesia bagian Timur lebih baik memisahkan diri dari negara RI yang baru saja diproklamasikan. Usul ini oleh Muh. Hatta disampaikan kepada sidang pleno PPKI, khususnya kepada para anggota tokoh-tokoh Islam, antara lain kepada Ki Bagus Hadikusumo, KH. Wakhid Hasyim dan Teuku Muh.Hasan, Muh.Hatta berusaha meyakinkan tokoh-tokoh Islam, demi persatuan dan kesatuan bangsa. Oleh karena pendekatan yang terus-menerus dan demi persatuan dan kesatuan, mengingat Indonesia baru saja merdeka, akhirnya tokoh-tokoh Islam itu merelakan dicoretnya dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya di belakang kata Ketuhanan dan diganti dengan Yang Maha Esa.

3. Pancasila Sebagai Sumber HukumBagi masyarakat Indonesia, Pancasila bukanlah sesuatu yang asing. Pancasila terdiri atas 5 (lima) asas, tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 alinea IV dan diperuntukkan sebagai dasar negara Republik Indonesia. Sebagai dasar negara, Pancasila merupakan suatu asas kerohanian yang dalam ilmu kenegaraan popular disebut sebagai dasar filsafat negara (Philosofische Gronslag). Dalam kedudukan dan fungsi Pancasila sebagai dasar negara RI, pada hakikatnya sebagai dasar dan asas kerohanian dalam setiap aspek penyelenggaraan negara termasuk dalam penyusunan tertib hukum Indonesia. Maka kedudukan Pancasila sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 adalah sebagai sumber dari segala sumber hukum Indonesia, baik yang tertulis yaitu UUD Negara maupun hukum dasar tidak tertulis atau konvensi.Menurut Prof. Hamid S. Attamimi, Pancasila berkedudukan sebagai Cita Hukum (Rechtsidee) - bukan cita-cita hukum - dari negara Indonesia. Pancasila adalah Cita Hukum yang menguasai hukum dasar negara baik tertulis maupun tidak tertulis. Cita Hukum berarti gagasan, pikiran, rasa, dan cipta mengenai hukum yang seharusnya diinginkan masyarakat. Pancasila sebagai cita hukum memiliki dua fungsi : Regulatif, artinya cita hukum menguji apakah hukum yang dan dibuat adil atau tidak bagi masyarakat. Konstitutif, artinya fungsi yang menentukan bahwa tanpa dasar cita hukum maka hukum yang dibuat akan kehilangan maknanya sebagai hukum.Dalam UU No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan dinyatakan bahwa Pancasila merupakan sumber dari segala sumber hukum Negara. Pernyataan ini sesuai dengan kedudukannya, yaitu sebagai dasar (filosofi) negara sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 alinea IV. Sebagai sumber nilai dan norma negara maka setiap materi muatan peraturan perundang-undangan tidak boleh bertentangan dengan nilai yang terkandung dalam Pancasila. Lebih jelas lagi bahwa Pancasila sebagai sumber dasar hukum nasional artinya nilai-nilai Pancasila dijadikan sumber normatif penyusunan hukum oleh karena Pancasila sendiri merupakan sumber nilai dan sumber norma dalam setiap aspek penyelenggaraan negara, termasuk sebagai sumber tertib hukum di negara Republik Indonesia. Konsekuensinya, seluruh peraturan perundang-unsdangan serta penjabarannya senantiasa berdasarkan nilai-nilai yang terkandung dalam sila-sila Pancasila.Berdasarkan hal-hal tersebut, dapat dinyatakan bahwa Pancasila sebagai dasar negara berkedudukan sebagai norma dasar bernegara yang menjadi sumber, dasar, landasan norma, serta memberi fungsi konstitutif dan regulatif bagi penyusunan hukum-hukum negara.Menurut Hans Nawiasky, norma hukum dalam suatu negara berjenjang dan bertingkat membentuk suatu tertib hukum. Norma yang di bawah berdasar, bersumber dan berlaku pada norma yang lebih tinggi, norma yang lebih tinggi berdasar, bersumber dan berlaku pada norma yang lebih tinggi lagi demikian seterusnya sampai pada norma tertinggi dalam negara yang disebut sebagai Norma Fundamental Negara (Staatsfundamentalnorm). Norma dalam negara itu selain berjenjang, bertingkat dan berlapis, juga membentuk kelompok norma hukum.Hans Nawiasky berpendapat bahwa kelompok norma hukum negara terdiri atas 4 (empat) kelompok dasar, yaitu:1. Staatsfundamentalnorm atau norma fundamental negara,2. Staatgrundgesetz atau aturan dasar/pokok negara,3. Formellgesetz atau undang-undang,4. Verordnung dan Autonome Satzung atau aturan pelaksana dan aturan otonom.Kelompok norma itu bertingkat dan membentuk piramida. Kelompok norma tersebut hampir selalu ada dalam susunan norma hukum setiap negara walaupun mempunyai istilah-istilah yang berbeda ataupun jumlah norma hukum yang berbeda dalam tiap kelompoknya.Apabila dikaitkan dengan norma hukum di Indonesia maka jelas bahwa Pancasila berkedudukan sebagai Staatsfundamentalnorm menurut Hans Nawiasky. Di bawah Staatsfundamentalnorm terdapat Staatsgrundgesetz atau aturan dasar negara. Aturan dasar negara disebut juga dengan hukum dasar negara atau konstitusi negara. Dengan demikian, dasar negara menjadi tempat bergantung atau sumber dari konstitusi negara. Pancasila sebagai dasar negara Indonesia menjadi sumber norma bagi UUD 1945 sebagai konsitusi negara.Negara Indonesia adalah negara demokrasi yang berdasarkan atas hukum. Berikut ini adalah uraian mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pendapat masyarakat tentang arti hukum. Artinya, pengertian apakah yang diberikan masyarakat pada hukum. Arti-arti yang diberikan antara lain:1. Hukum sebagai ilmu pengetahuan, yakni pengetahuan yang tersusun secara sistematis atas dasar kekuatan pikiran,2. Hukum sebagai disiplin, yakni suatu sistem ajaran tentang kenyataan atau gejala-gejala yang dihadapi,3. Hukum sebagai kaedah, yakni pedoman atau patokan sikap tindak atau perilaku yang pantas atau diharapkan,4. Hukum sebagai tata hukum, yakni struktur dan proses perangkat kaedah-kaedah hukum yang berlaku pada suatu waktu dan tempat tertentu serta berbentuk tertulis,5. Hukum sebagai petugas, yakni pribadi-pribadi yang merupakan kalangan yang berhubungan erat dengan penegakan hukum (law-enforcement officer),6. Hukum sebagai keputusan penguasa, yaitu proses hubungan timbal balik antara unsur-unsur pokok dari sistem kenegaraan,7. Hukum sebagai sikap tindak atau perikelakuan yang teratur, yaitu perikelakuan yang diulang-ulang dengan cara yang sama, yang bertujuan untuk mencapai kedamaian,8. Hukum sebagai jalinan nilai-nilai, yaitu jalinan dari konsepsi-konsepsi abstrak tentang apa yang dianggap baik dan buruk (G. Duncan Mitchell : 1977).Pentingnya mengadakan identifikasi terhadap pelbagai arti hukum adalah untuk mencegah terjadinya kesimpangsiuran di dalam melakukan studi terhadap hukum, maupun di dalam penerapannya.Hukum itu merupakan keseluruhan keputusan-keputusan (dari pejabat maupun antar pribadi), yang dilandasi keyakinan atau kesadaran akan kedamaian pergaulan hidup.Paham tentang kesadaran hukum sebenarnya berkisar pada pikiran-pikiran yang menganggap bahwa kesadaran dalam diri warga masyarakat merupakan suatu faktor yang menentukan bagi sahnya hukum. Masalah keasadaran hukum timbul di dalam proses penerapan daripada hukum positif tertulis. Di dalam kerangka proses terssebut timbul masalah oleh karena adanya ketidaksesuaian antara dasar sahnya hukum (yaitu pengendalian sosial dari penguasa atau kesadaran warga masyarakat) dengan kenyataan-kenyataan dipatuhinya ataupun tidak ditaatinya hukum positif tertulis tersebut. Merupakan suatu keadaan yang dicita-citakan, bahwa ada kesesuaian proporsional antara pengendalian sosial antar penguasa, kesadaran warga masyarakat dan kenyataan dipatuhinya hukum yang mengikat warga masyarakat, kecuali atas dasar kesadaran hukumnya (G. E. Langemeijer : 1970).Jadi, kesadaran hukum merupakan kesadaran akan nilai-nilai yang terdapat di dalam diri manusia, tentang hukum yang ada atau tentang hukum yang diharapkan ada. Sebetulnya yang ditekankan adalah nilai-nilai tentang fungsi hukum dan bukan suatu penilaian (menurut) hukum terhadap kejadian-kejadian yang konkrit dalam masyarakat yang bersangkutan (Paul Scholten : 1954). Secara langsung maupun tidak langsung, kesadaran hukum berkaitan erat dengan kepatuhan atau ketaatan hukum, yang dikonkritkan dalam sikap tindak atau perikelakuan manusia.

4. Pancasila Sebagai kenyataan Hidup dalam MasyarakatDalam perjuangan bangsa Indonesia Pancasila telah berperan amat besar dan bahkan menentukan. Dampak utama Pancasila sebagai Dasar Negara RI adalah bahwa hingga sekarang Republik Indonesia masih tetap berdiri meskipun selama 55 tahun harus mengalami ancaman, tantangan dan gangguan yang bukan main banyaknya dan derajat bahayanya. Pancasila telah menjadi pusat berkumpul (rallying point) bagi berbagai pendapat yang berkembang di antara para pengikut Republik sehingga terjaga persatuan untuk menjamin keberhasilan perjuangan. Pancasila juga memberikan pedoman yang jelas untuk menetapkan arah perjuangan pada setiap saat, terutama apabila harus dihadapi ancaman yang gawat yang datang dari luar. Pancasila juga telah menimbulkan motivasi yang kuat sehingga para pengikut Republik terus menjalankan perjuangan sekalipun menghadapi tantangan dan kesukaran yang bukan main beratnya. Dengan begitu Pancasila menjadi Identitas bangsa Indonesia. Namun ada satu kekurangan penting yang terdapat pada Dasar Negara kita, yaitu bahwa Pancasila belum menjadi kenyataan hidup dalam masyarakat Indonesia.Adalah amat aneh dan tragis bahwa Bung Karno sebagai pencetus Pancasila dalam menjalankan pemerintahannya malahan melanggar nilai-nilai Pancasila ketika menerapkan Demokrasi Terpimpin serta berbagai pengaturan politik dan ekonominya. Akibatnya adalah bahwa Bung Karno tidak berhasil menjadikan Pancasila sebagai kenyataan hidup dalam masyarakat Indonesia.Apalagi saat Orde Baru (Orba) Kekuasaan telah menjadikan Pancasila sebagai alat legitimasi kekuasaan. Tafsir dan moralitas sosial banyak diambil alih elite dalam kerangka politis. Pemerintah Orba betul-betul melakukan dominasi dan hegemoni atas pemaknaan Pancasila, sehingga kebaikan Pancasila hanya dilihat dari sisi substansialnya, mirip rumah kaca yang sangat indah dari luar.Tidak heran, meski gencar indoktrinasi P4 dan melahirkan banyak orang cerdas dan penatar P4, tapi sikap dan moralitasnya tidak mencerminkan Pancasilais sejati. Realitas tersebut kemudian melahirkan politik "balas dendam", khususnya saat Orde Baru tumbang. Kemudian muncul euforia perlawanan atas berbagai hal yang berbau Orba, termasuk mereka yang selama kejayaan Orba menikmati begitu banyak keistimewaan. Pancasila kini tidak lagi menarik diperbincangkan. Lebih parah lagi, sebagian kalangan ingin menggantinya dengan ideologi baru karena itu dianggap sudah tidak sesuai dengan zaman.Sejarah panjang Pancasila dan perspektif masa depan tidak akan berhenti dari serbuan godaan, apalagi berkorelasi dengan penguatan demokrasi dan etika moral kemanusiaan, segalanya masih perlu bukti riil. Pancasila disadari akan melahirkan kebersamaan dalam pluralitas.Namun Pancasila juga memungkinkan peluang bagi penguasa untuk melakukan dominasi dan hegemoni sebagaimana di era orba. Pada aspek lain, serbuan ideologi neo-liberalisme yang bertumpu pada pasar makin menggoyahkan nilai-nilai kehidupan yang selama ini dianggap sebagai nilai-nilai luhur bangsa Indonesia.Kecenderungan kuat "pasar" menjadikan orang bersifat konsumtif, segalanya diukur berdasarkan materi dan kapital berubah menjadi dewa. Karakteristik tersebut mengikis habis nilai-nilai Pancasila yang sarat dengan nilai- nilai sosial dan kemanusiaan.Bagaimana pun kuatnya pengaruh dari luar maupun dari dalam, Pancasila sesungguhnya dapat diandalkan dalam menghadapi berbagai tantangan. Tentu, Pancasila harus benar-benar mampu diaplikasikan dengan baik oleh kita semua, khususnya para pemimpin. Sebagaimana apa yang dikatakan oleh Roeslan Abdulgani (1986), Pancasila kita bukan sekadar berisikan nilai-nilai statis, tetapi juga jiwa dinamis.

5. Pengertian Korupsi Korupsi berasal dari bahasa latin corruptio dari kata kerja corrumpere yang bermakna busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok. Secara harfiah, korupsi adalah perilaku pejabat publik, baik politikus/politisi maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka. Korupsi menurut Transparency International adalah perilaku pejabat publik, baik politikus/politis maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka. Korupsi dapat didefinisikan juga sebagai suatu tindak penyalahgunaan kekayaan negara (dalam konteks modern), yang melayani kepentingan umum untuk kepentingan pribadi atau perorangan. Akan tetapi praktek korupsi sendiri, seperti suap atau sogok, kerap ditemui di tengah masyarakat tanpa harus melibatkan hubungan negara.Dalam arti yang luas, korupsi adalah penyalahgunaan jabatan resmi untuk kepentingan pribadi. Semua bentuk pemerintah/pemerintahan rentan korupsi dalam prakteknya. Beratnya korupsi berbeda-beda, dari yang paling ringan dalam bentuk penggunaan pengaruh dan dukungan untuk memberi dan menerima pertolongan, sampai dengan korupsi berat yang diresmikan, dan sebagainya. Titik ujung korupsi adalah kleptokrasi, yang arti harfiahnya pemerintahan oleh para pencuri, dimana pura-pura bertindak jujur pun tidak ada sama sekali.Dari sudut pandang hukum, tindak pidana korupsi secara garis besar mencakup unsur-unsur sebagai berikut : Perbuatan melawan hukum, Penyalahgunaan kewenangan, kesempatan, atau sarana, Memperkaya diri sendiri, orang lain, atau korporasi, Merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.Korupsi adalah persoalan klasik yang telah lama ada. Sejarawan Onghokham menyebutkan bahwa korupsi ada ketika orang mulai melakukan pemisahan antara keuangan pribadi dan keuangan umum. Menurut Onghokham pemisahan keuangan tersebut tidak ada dalam konsep kekuasaan tradisional. Dengan kata lain korupsi mulai dikenal saat system politik modern dikenal. Konsepsi mengenai korupsi baru timbul setelah adanya pemisahan antara kepentingan keuangan pribadi dari seorang pejabat Negara dan keuangan jabatannya. Prinsip ini muncul di Barat setelah adanya revolusi Perancis dan di Negara-negara Anglo-Sakson, seperti Inggris dan Amerika Serikat, timbul pada permulaan abad ke 19. sejak itu penyalahgunaan wewenang demi kepentingan pribadi, khususnya dalam soal keuangan dianggap sebagai tindak korupsi.Demokrasi yang muncul di akhir abad ke 18 di Barat melihat pejabat sebagai orang yang diberi wewenang atau otoritas (kekuasaan), karena dipercaya oleh umum. Penyalahgunaan dari kepercayaan tersebut dilihat sebagai penghianatan terhadap kepercayaan yang diberikan. Konsep demokrasi sendiri masyarakat suatu system yang dibentuk oleh rakyat, dikelola oleh rakyat dan diperuntukkan bagi rakyat.

6. Persepsi Masyarakat tentang KorupsiRakyat kecil yang tidak memiliki alat pemukul guna melakukan koreksi dan memberikan sanksi pada umumnya bersikap acuh tak acuh. Namun yang paling menyedihkan adalah sikap rakyat menjadi apatis dengan semakin meluasnya praktik-praktik korupsi oleh be-berapa oknum pejabat lokal, maupun nasional.Kelompok mahasiswa sering menanggapi permasalahan korupsi dengan emosi dan demonstrasi. Tema yang sering diangkat adalah penguasa yang korup dan derita rakyat. Mereka memberikan saran kepada pemerintah untuk bertindak tegas kepada para korup-tor. Hal ini cukup berhasil terutama saat gerakan reformasi tahun 1998. Mereka tidak puas terhadap perbuatan manipulatif dan koruptif para pejabat. Oleh karena itu, mereka ingin berpartisipasi dalam usaha rekonstruksi terhadap masyarakat dan sistem pemerin-tahan secara menyeluruh, mencita-citakan keadilan, persamaan dan kesejahteraan yang merata.

7. Bentuk dan Jenis KorupsiMochtar Lubis membedakan korupsi dalam tiga jenis yaitu sebagai berikut: Penyuapan, apabila seorang pengusaha menawarkan uang atau jasa lain kepada seseorang atau aparat negara untuk suatu jasa bagi pemberi uang Pemerasan, apabila orang yang memegang kekuasaan menuntut membayar uang atau jasa lain sebagai ganti atas imbal balik fasilitas yang diberikan. Pencurian, apabila orang yang berkuasa menyalahgunakan kekuasaan dan mencuri harta rakyat, langsung atau tidak langsung.Adapun Syed Hussein Alatas menyebutkan tiga tipe fenomena dalam korupsi yaitu : Penyuapan; Pemerasan dan; Nepotisme.

8. Ciri-Ciri KorupsiMenurut Syed Hussein Alatas, ciri-ciri korupsi adalah sebagai berikut: Korupsi senantiasa melibatkan lebih dai satu orang. Korupsi pada umumnya melibatkan keserbarahasiaan. Korupsi melibatkan elemen kewajiban dan keuntungan timbal balik. Mereka yang mempraktikkan cara-cara korupsi biasanya berusaha menyelubungi perbuatannya dengan berlindung dibalik pembenaran hukum. Mereka yang terlibat korupsi adalah mereka yang menginginkan keputusan-keputusan yang tegas dan mereka yang mampu untuk memengaruhi keputusan-keputusan itu. Setiap tindakan korupsi mengandung penipuan, biasanya pada badan publik atau masyarakat umum. Setiap bentuk korupsi adalah suatu penghianatan kepercayaan.

9. Sebab-Sebab KorupsiMenurut Syed Hussein Alatas antara lain : Kelangkaan lingkungan yang subur untuk perilaku antikorupsi Kemiskinan Kurangnya pendidikan Tiadanya tindak hukum yang tegas Struktur pemerintah Perubahan radikal Kelemahan pengajaran-pengajaran agama dan etika Keadaan masyarakat.

10. Budaya Korupsi di IndonesiaMenurut Ongokham, ada dua dimensi dimana korupsi bekerja. Dimensi pertama terjadi di tingkat atas, dimana melibatkan penguasa atau pejabat tinggi pemerintahan dan mencakup nilai uang yang lebih besar. Sementara itu dalam dimensi lain, yang umumnya terjadi di lingkungan menengah dan bawah, biasanya bersentuhan langsung dengan kepentingan rakyat atau orang banyak.Korupsi yang terjadi di kalangan menengah dan bawah acap kali menghambat kepentingan kalangan menengah dan bawah itu sendiri, sebagai contoh adalah berbelitnya proses perizinan, pembuatan Kartu Tanda Penduduk (KTP), SIM, proses perizinan di imigrasi, atau bahkan pungutan liar yang dilakukan oleh para polisi di jalan-jalan yang dilalui oleh kendaraan bisnis ataupun pribadi, dan lain sebagainya.Menurut Lembaga Transparency International, DPR berubah drastis dari lembaga tukang stempel di era Orde Baru menjadi salah satu lembaga terkorup bersama kepolisian dan pengadilan.Contoh konkrit hal tersebut dapat dilihat pada pemerintah atau wakil rakyat yang baru yang menempati komisi basah DPR. Komisi basah tersebut adalah Komisi III bidang hukum dan keamanan, Komisi VII bidang pertambangan dan energi, dan Komisi X bidang pendidikan dan budaya. Komisi basah (komisi yang mengeluarkan uang) ini, malah diperebutkan oleh sejumlah partai politik (parpol) yang merupakan tempat bernaung para calon wakil rakyat tersebut.Perebutan ini sekaligus mencerminkan apa sesungguhnya motovasi mereka menjadi anggota DPR. Apakah mereka ke Senayan karena nafkah atau karena pengabdian. Pengalaman sejauh ini dengan jelas memperlihatkan motivasi nafkah jauh lebih dominan daripada motivasi pengabdian. Karena itu mereka mengincar komisi yang memiliki banyak proyek, atau komisi basah. Semua partai dan fraksi berlomba merebut kedudukan ketua atau wakil ketua yang mungkin diraih dalam komisi-komisi basah itu.Apakah ini wajah pemerintahan Indonesia? Apakah ini kelakuan para calon wakil rakyat? Mereka hanya mementingkan uang masuk ke dalam kantong mereka tanpa ada pertanggungjawaban kepada rakyat yang telah memberikan amanat dan dengan tulus hati memilih mereka untuk menjadi wakil rakyat. Lalu, apakah arti sumpah dan janji yang yang diucapkan ketika pelantikan para wakil rakyat di Jakarta? Apakah ini hanya formalitas supaya rakyat percaya bahwa wakil rakyat telah diambil sumpah dan siap untuk menjalankan pemerintahan dengan jujur dan bersih? Padahal mereka (wakil rakyat) diambil sumpah di bawah kitab suci. Saksi bisu yang tidak dipungkiri kebenarannya.Sungguh memprihatinkan. Kekuasaan dan harta telah membutakan mata para pejabat. Jangan-jangan benar apa yang pernah diucapkan oleh mantan wakil presiden M. Hatta, bahwa Korupsi di Indonesia sudah begitu berurat berakar dan telah menjadi suatu budaya yang amat susah untuk dihilangkan.Banyak faktor atau kondisi yang mendukung munculnya korupsi, diantaranya: Kurangnya transparansi di pengambilan keputusan pemerintah, Proyek yang melibatkan uang rakyat dalam jumlah besar, Lingkungan tertutup yang mementingkan diri sendiri dan jaringan teman lama, Lemahnya ketertiban hukum, Lemahnya profesi hukum, Kurangnya kebebasan berpendapat atau kebebasan media massa, Gaji pegawai pemerintah yang sangat kecil, Rakyat yang cuek, tidak tertarik, atau mudah dibohongi yang tidak memberikan perhatian yang cukup ke pemilihan umum, Kurangnya kontrol yang cukup untuk mencegah penyuapan atau korupsi, Tidak beratnya hukum atau sanksi yang dijatuhkan kepada para pelaku korupsi sehingga tidak menimbulkan efek jera.Kondisi inilah yang memberikan celah dan tempat bagi para koruptor untuk melakukan tindakan korupsi. Mungkin para koruptor berpikir bahwa tidak ada tempat untuk tidak korupsi. Di mana pun mereka (para koruptor) berada, asalkan yang mengandung banyak uang, maka di sanalah tempat bagi mereka untuk panen uang. Atau mungkin apabila berada di tempat yang tidak banyak menghasilkan uang, mereka memaksakan untuk menghasilkan uang. Apa pun caranya dan bagaimana pun akhirnya, yang penting uang adalah segalanya.Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa bukan hanya di kalangan atas korupsi itu terjadi, tetapi juga korupsi juga terjadi di kalangan menengah dan bawah. Dari pejabat tingkat menteri, sampai dengan tingkat daerah seperti gubernur, walikota, bupati, camat, dan terakhir rakyat.Kita sering melihat atau mendengar di media massa bahwa korupsi telah sampai mewabah ke pemerintahan tingkat daerah. Misalnya kasus Abdullah Puteh, mantan gubernur Aceh dalam pembelian helikopter dan APBD, serta Agus Supriadi, mantan bupati Garut yang menggunakan dana APBD, dan banyak lagi kasus lainnya. Hal ini menunjukan bahwa seolah-olah korupsi itu mudah dan bisa dilakukan oleh siapa saja dan di mana saja. Korupsi bisa menerkam siapa saja tanpa pandang bulu.Jikalau ini terus terjadi, apakah pemerintahan kita akan terus dihuni oleh para tikus berdasi? Bagaimana negara ini akan maju dan makmur apabila para penguasa yang memegang kendali pemerintahan bersikap demikian? Lantas, kemanakah sumpah yang terucap dari mulut mereka, janji yang harus dipertanggungjawabkan kepada Tuhan, Pancasila, rakyat, bangsa dan negara? Apakah kita harus menitipkan negara ini dan berharap kepada mereka yang telah nyata apa motivasi mereka masuk pemerintahan?Sekarang rakyat hanya bisa terdiam. Terdiam karena melihat para wakilnya bekerja yang jauh dari harapan. Rakyat tidak bisa berbuat apa-apa, begitu pun dengan hukum yang ada. Para aktivis dan mahasiswa yang berteriak di berbagai daerah menuntut untuk diberantasnya korupsi, hanyalah perbuatan yang sia-sia. Aspirasi mereka (para aktivis dan mahasiswa) selama ini tidak pernah didengar oleh para penegak hukum. Setelah ada kasus yang besar dan merugikan negara, barulah para penegak hukum itu pun bertindak.Lalu, apakah dampak negatif dari korupsi ini? Dampak negatif dari tindak korupsi ini sangatlah luas dan besar. Korupsi menunjukkan tantangan serius terhadap pembangunan. Di dalam dunia politik, korupsi mempersulit demokrasi dan tata pemerintahan yang baik (good governance) dengan cara menghancurkan proses formal. Korupsi di badan legislatif mengurangi akuntabilitas dan perwakilan di pembentukan kebijaksanaan; korupsi di sistem pengadilan menghentikan ketertiban hukum; dan korupsi di pemerintahan publik menghasilkan ketidakseimbangan dalam pelayanan masyarakat. Secara umum, korupsi mengikis kemampuan institusi dan pemerintah, karena pengabaian prosedur, penyedotan sumber daya, dan pejabat diangkat atau dinaikkan jabatan bukan karena prestasi. Pada saat yang bersamaan, korupsi mempersulit legitimasi pemerintahan dan nilai demokrasi seperti kepercayaan dan toleransi.Korupsi juga mempersulit pembangunan ekonomi dan mengurangi kualitas pelayanan pemerintahan, dengan membuat distorsi (kekacauan) dan ketidakefisienan yang tinggi. Korupsi menimbulkan distorsi di dalam sektor publik dengan mengalihkan investasi publik ke proyek-proyek masyarakat yang mana sogokan dan upah tersedia lebih banyak. Pejabat mungkin menambah kompleksitas proyek masyarakat untuk menyembunyikan praktek korupsi, yang akhirnya menghasilkan lebih banyak kekacauan. Korupsi juga mengurangi pemenuhan syarat-syarat keamanan bangunan, lingkungan hidup, atau aturan-aturan lain.Korupsi memerlukan dua pihak yang korup; pemberi sogokan (penyogok) dan penerima sogokan. Pada umumnya orang yang sering memberikan sogokan tidak sama dengan orang yang sering menerima sogokan. Budaya penyogokan mencakup semua aspek kehidupan sehari-hari, menghilangkan kemungkinan untuk berniaga tanpa terlibat penyogokan.Merupakan suatu pekerjaan rumah yang sangat besar dan berat bagi bangsa Indonesia. Harapan terbesar rakyat Indonesia adalah jangan sampai Indonesia terjerumus semakin dalam dan terpuruk di dasar kelamnya korupsi ini.

11. Gambaran Umum Korupsi di IndonesiaKorupsi di Indonsia dimulai sejak era Orde Lama sekitar tahun 1960-an bahkan sangat mungkin pada tahun-tahun sebelumnya. Pemerintah melalui Undang-Undang Nomor 24 Prp 1960 yang diikuti dengan dilaksanakannya Operasi Budhi dan Pembentukan Tim Pemberantasan Korupsi berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 228 Tahun 1967 yang dipimpin langsung oleh Jaksa Agung, belum membuahkan hasil nyata.Pada era Orde Baru, muncul Undang-Undang Nomor3 Tahun 1971 dengan Operasi Tertibyang dilakukan Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib), namun dengan kemajuan iptek, modus operandi korupsi semakin canggih dan rumit sehingga Undang-Undang tersebut gagal dilaksanakan. Selanjutnya dikeluarkan kembali Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999.Upaya-upaya hukum yang telah dilakukan pemerintah sebenarnya sudah cukup banyak dan sistematis. Namun korupsi di Indonesia semakin banyak sejak akhir 1997 saat negara mengalami krisis politik, sosial, kepemimpinan, dan kepercayaan yang pada akhirnya menjadi krisis multidimensi. Gerakan reformasi yang menumbangkan rezim Orde Baru menuntut antara lain ditegakkannya supremasi hukum dan pemberantasan Korupsi, Kolusi & Nepotisme (KKN). Tuntutan tersebut akhirnya dituangkan di dalam Ketetapan MPR Nomor IV/MPR/1999 & Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penye-lenggaraan Negara yang Bersih & Bebas dari KKN.

12. Fenomena Korupsi di IndonesiaFenomena umum yang biasanya terjadi di negara berkembang contohnya Indonesia di antaranya: Proses modernisasi belum ditunjang oleh kemampuan sumber daya manusia pada lembaga-lembaga politik yang ada. Institusi-institusi politik yang ada masih lemah disebabkan oleh mudahnya ok-num lembaga tersebut dipengaruhi oleh kekuatan bisnis/ekonomi, sosial, keaga-maan, kedaerahan, kesukuan, dan profesi serta kekuatan asing lainnya. Selalu muncul kelompok sosial baru yang ingin berpolitik, namun sebenarnya banyak di antara mereka yang tidak mampu. Mereka hanya ingin memuaskan ambisi dan kepentingan pribadinya dengan dalih kepentingan rakyat.Sebagai akibatnya, terjadilah runtutan peristiwa sebagai berikut : Partai politik sering inkonsisten, artinya pendirian dan ideologinya sering berubah-ubah sesuai dengan kepentingan politik saat itu. Muncul pemimpin yang mengedepankan kepentingan pribadi daripada kepentingan umum. Sebagai oknum pemimpin politik, partisipan dan kelompoknya berlomba-lomba mencari keuntungan materil dengan mengabaikan kebutuhan rakyat. Terjadi erosi loyalitas kepada negara karena menonjolkan pemupukan harta dan kekuasaan. Dimulailah pola tingkah para korup. Sumber kekuasaan dan ekonomi mulai terkonsentrasi pada beberapa kelompok kecil yang mengusainya saja. Derita dan kemiskinan tetap ada pada kelompok masyarakat besar (rakyat). Lembaga-lembaga politik digunakan sebagai dwi aliansi, yaitu sebagai sektor di bidang politik dan ekonomi-bisnis. Kesempatan korupsi lebih meningkat seiring dengan semakin meningkatnya jabatan dan hirarki politik kekuasaan.

13. Kanker KorupsiAda asap karena ada api, kejadian-kejadian yang sering terjadi saat ini tentu saja karena ada penyebabnya dan memiliki faktor pendukung. Ada banyak faktor yang mendukung tumbuhsuburnya korupsi yakni rendahnya kualitas sumber daya manusia. Kualitas tersebut bukan hanyadari segi pengetahuan atau intelektualnya tetapi juga menyangkut kualitas moral dankepribadiaannya; monopoli kekuasaan; faktor budaya; sistem sosialis-komunis; tidak adanyasupremasi hukum dan yang terpenting ialah bagaimana pemerintah menyikapi fenomena korupsi. Cenderung pemerintah baru akan menindaklanjuti suatu perkara korupsi ketika kasus tersebutdiangkat oleh media massa kehadapan publik. Faktor-faktor seperti itulah yang membuat ladangyang subur untuk tumbuhnya perilaku kejahatan korupsi.Ada sebab sudah pasti tentu ada akibat. Korupsi yang sudah memiliki ladang akan dengan mudah tumbuh dan berkembang. Korupsi bagaikan kanker yang dengan cepat merembes kemana-mana tidak hanya di pemerintahan tingkat pusat bahkan sudah berhasil menyusupi pemerintah- pemerintah di daerah. Korupsi kemudian mengkorupsi Indonesia melalui aparatur-aparatur negarayang selanjutnya menimbulkan ketidakstabilan domestik dalam banyak aspek. Kondisi domestik yang sedemikian rupa tidak stabil membawa dampak buruk yang sangat banyak bagi Indonesia.Namun, penulis disini akan fokus bagaiman korupsi berhasil membentuk citra buruk Indonesia di mata dunia internasional yang kemudian melahirkan perilaku-perilakusinis, ketidakpercayaan dunia internasional terhadap Indonesia. Bentuk-bentuk perilaku sinis dan ketidakpercayaan tersebut diwujudkan melalui politik luar negerinya terhadap Indonesia yang nantinya secara langsung akan mempengaruhi cepat lambatnya pembangunan nasional dan destabilisasi ekonomi, politik, pertahanan keamanan Indonesia.Korupsi memang tidak seperti halnya penyakit polio yang dapat di obati sekali pukul dengan vaksin. Akan tetapi, dengan politicl will dan kesadaran dari semua pihak maka, korupsi perlahan-lahan dapat dikurangi untuk membangun Indonesia sebagai negara besar tanpa korupsiyang menggerogoti perekonomian, sistem politik dan efisiensi organisasi Indonesia.

14. Korupsi Menghianati IndonesiaAcuan moral atau etika kehidupan itu bisa ditemukan dalam karya para pujangga kerajaan, seperti dilukiskan oleh Empu Tantular dalam Sotasoma dan Empu Prapanca dalam Negara Kertagama. Nilai-nilai luhur itulah yang digali oleh para pendiri bangsa dan dirumuskan dalam Pancasila. Jadi, nilai-nilai luhur dan agung dalam Pancasila bukanlah sebuah atribut tanpa makna, melainkan ungkapan 'jiwa bangsa Indonesia'.Sebagai falsafah hidup, Pancasila memuat nilai-nilai luhur dan sudah semestinya diamalkan agar tercipta kehidupan yang baik. Penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara merupakan "konsekuensi logis" dari kesadaran kehendak, yang berawal dari dalam diri atau pengekangan dalam diri. Jika diterapkan, menimbulkan kehidupan manusia yang mencerminkan: 1) rasa keimanan, 2) rasa kemanusiaan, 3) rasa berbangsa/kebangsaan, 4) rasa demokrasi, dan 5) rasa keadilan sebagai implementasi lima sila dari Pancasila. (Prof Drs HAW Widjaya).Kandungan nilai-nilai Pancasila memiliki kesesuaian dengan fitrah Ilahiyah yang termuat di dalam ajaran sejumlah kitab suci dalam semua agama. Nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila itu tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang dimiliki dan diamalkan sebagai landasan hidup pemeluk agama apa pun. Maka, Pancasila dianggap sebagai ideologi yang bersifat universal karena dalam Pancasila ada nilai-nilai sosialis religius dan nilai-nilai etis.Sayang seribu sayang, nilai-nilai itu tampaknya belum diamalkan dalam kehidupan sehari-hari bangsa Indonesia. Pancasila kerap kali ditafsirkan sepihak, dan cenderung diselewengkan sejumlah oknum dan pejabat negara. Nurani sebagian pejabat di Indonesia tidak lagi berjiwa Pancasilais. Tak heran, jika korupsi merajalela dan merebak di mana-mana.Negeri Indonesia yang dibangun di atas pijakan keluhuran budi kebhinnekaan Nusantara oleh para pendiri bangsa seperti dilupakan. Korupsi pun menjadi penyakit yang sulit disembuhkan, karena dilakukan secara sistemik. Terkuaknya kasus-kasus korupsi di lembaga-lembaga penegak hukum, belakangan ini merupakan wajah buram sejarah korupsi di Indonesia.Mengapa korupsi menjadi penyakit menahun di setiap lembaga dan departemen/kementerian di Indonesia? Pasalnya, Pancasila yang memuat nilai-nilai moral dan etis seakan menjadi pepesan kosong yang tak bermakna dan cenderung dilupakan. Karena itu, kini waktunya menjadikan Pancasila sebagai rumah bagi mentalitas semua komponen masyarakat. Pancasila harus kembali dijadikan sebagai 'kompas' atau 'rambu-rambu' untuk bertindak dan berperilaku agar tak melenceng dari nilai-nilai yang telah dijadikan sebagai kontrak sosial bersama sejak Indonesia merdeka.Pada aras lain, Pancasila harus kembali dijadikan acuan hukum bahkan sumber dari segala sumber hukum. Karena, dengan cara itu, Indonesia benar-benar menjadi negara hukum, tidak lagi menjadikan nafsu atau ketamakan harta di balik kepentingan setiap perundang-undangan atau konstitusi. Sistem warisan rezim Orde Baru yang kental ketamakan akan kekuasaan dan harta tampaknya tetap menyelimuti di antara komponen warga bangsa.Tak pelak, cara-cara lama penyusunan konstitusi yang kerap ditengarai hanya untuk mencari celah pembenaran atas kehendak kelompok, golongan, atau pribadi tertentu, tetap saja marak. Tak sedikit perundang-undangan dibuat dengan mencederai prinsip sila keempat Pancasila, yang lebih mengedepankan musyawarah-mufakat.Fakta bahwa banyak di antara elite politik dan pejabat negeri ini ramai-ramai korupsi, tak dapat disangkal, tidak sesuai acuan nilai-nilai luhur universal Pancasila. Perilaku pemimpin korup demikian jelas merupakan pengkhianatan terhadap Pancasila.

15. Dampak Akibat KorupsiBidang KehidupanDampak Korupsi

Hukum Sistem hukum tidak lagi berdasarkan pada prinsip-prinsip keadailan hukum. Besarnya peluang eksekutif mencampuri badan peradilan. Hilangnya kepastian hukum dan rasa keadilan masyarakat Sistem hukum dan peradilan dapat dikendalikan dengan uang Hilangnya perlindungan hukum terhadap rakyat terutama rakyat miskin Peradilan dan kepastian hukum menjadi bertele-tele karena disalahgunakan oleh aparat penegak hukum.

Politik Terpusatnya kekuasaan pada pejabat negara tertentu (pemeritah pusat) Daerah dan pemerintah daerah sangat bergantung pada pemerintah pusat. Lemahnya sikap dan moralitas para penyelenggara negara. Terhambatnya kaderisasi dan pengembangan sumber daya manusia indonesia. Terjadinya ketidakstabilan politik karena rakyat tidak percaya terhadap pemerintah. Diabaikannya pembangunan nasional karena penyelenggara negara disibukkan dengan membuat kebijakan popilis bukan realistis.

Ekonomi Pembangunan dan sumber-sumber ekonomi dikuasai orang yang berada di lingkaran kekuasaan. Munculnya para pengusaha yang mengandalkan kebijakan pemerintah bukan berdasarkan kemandirian. Rapuhnya dasar ekonomi nasional karena pertumbuhan ekonomi bukan didasarkan pada kondisi sebenarnya. Munculnya para konglomerat yang tidak memiliki basis ekonomi kerakyatan. Munculnya spekulan ekonomi yang menjatuhkan ekonomi secara keseluruhan. Hilangnya nilai moralitas dalam berusaha, yakni diterapkannya sistem ekonomi kapitalis yang sangat merugikan pengusaha menengah dan kecil. Terjadinya tindak pencucian uang.

Sosial Budaya Hilangnya nilai-nilai moral sosial Hilangnya figur pemimpin dan contoh teladan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Berkurangnya tindakan menjunjung tinggi hukum, berkurangnya kepedulian dan kesetiakawanan Lunturnya nilai-nilai budaya bangsa.

Secara hakiki, korupsi merupakan bentuk kekerasan struktural yang dilakukan oleh Negara dan pejabat pemerintahan terhadap masyarakat. Betapa tidak, korupsi yang kian subur akan semakin membuat beban devisit anggaran Negara semakin bertambah. Hal ini kemudian akan mengakibatkan sistem ekonomi menjadi colaps dan berujung kepada semakin tingginya inflasi yang membuat harga-harga kebutuhan masyarakt kian melambung tinggi. Eknomi biaya tinggi ini berakibat terjadinya ketidakseimbangan antara daya beli masyarakat dengan tingkat harga komoditas terutama komoditas bahan pokok. Masyarakat cenderung dipaksa untuk menerima keadaan ini, meski ambruknya sistem ekonomi ini, adalah akibat dari ulah para pejabat yang mengkorupsi uang Negara demi kepentingan pribadi, kelompok dan golongan masing-masing. Intinya, masyarakat dipaksa untuk menanggung beban yang tidak dilakukannya. Kita tentu masih ingat dengan krisis moneter yang terjadi antara tahun 1997/1998 lalu!!!. Penyebab utama dari terjadinya krisis yang melanda Indonesia ketika itu adalah beban keuangan Negara yang semakin menipis akibat ulah pemerintahan Orde Baru yang sangat korup.Korupsi dikatakan sebaga bentuk kekerasan struktural, sebab korupsi yang dilakukan oleh para pejabat merupakan bentuk penyelewengan terhadap kekuasaan Negara, dimana korupsi lahir dari penggunaan otoritas kekuasaan untuk menindas, merampok dan menghisap uang rakyat demi kepentingan pribadi. Akibatnya, fungsi Negara untuk melayani kepentingan rakyatnya, berubah menjadi mesin penghisap bagi rakyatnya sendiri. Relasi politik yang terbangun antara masyarakat dan Negara melalui pemerintah sungguh tidak seimbang. Hal ini berakibat kepada munculnya aristokrasi baru dalam bangunan pemerintahan kita. Negara dituding telah dengan sengaja menciptakan ketimpangan sosial dalam kehidupan masyarakat. Kemiskinan yang semakin meluas, antrian panjang barisan pengangguran, tidak memadainya gaji dan upah buruh, anggaran social yang semakin kecil akibat pencabutan subsidi (Pendidikan, kesehatan, listril, BBM, telepon dan lain-lain), adalah deretan panjang persoalan yang menghimpit masyarakat sehingga membuat beban hidup masyarakat semakin sulit. Bukankah ini akibat dari praktek kongkalikong (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) yang dilakukan oleh pejabat-pejabat pemerintah kita yang korup?. Salah satu fakta penting yang bisa kita saksikan adalah bagaimana pemerintah dengan lapang dada telah suka rela melunasi hutang-hutang Negara yang telah dikorup oleh pemerintah Orde Baru dulu. Di dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), pemerintah mengalokasi anggaran kurang lebih 40 (empat puluh) persen untuk mebayar utang-utang luar negeri melalui IMF, Bank Dunia, Paris Club, CGI, serta lembaga donor lainnya. Belum lagi dana penggunaan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) yang harus ditanggung oleh Negara. Alokasi pemabayaran utang-utang Negara akibat korupsi ini, akan menuai konsekuensi, yakni ; membebankan pembayaran utang tersebut kepada rakyat Indoensia yang sama sekali tidak pernah menikmati utang-utang tersebut. Membebankan dengan memilih mencabut anggaran dan subsidi sosial bagi masyarakat. Membebankan dengan semakin terpuruknya nasib dan kehidupan masyarakat. Sungguh tidak adil, Koruptor yang menikmati, rakyat yang dikorbankan!!!. Dari pemaparan tersebut, maka sangatlah wajar jika dikatakan bahwa praktek korupsi merupakan sebuah bentuk tindakan kekerasan secara sistemik, yang telah sengaja dibangun dan diciptakan oleh struktur kekuasaan negara terhadap masyarakat sendiri.

16. Pancasila Sebagai Sumber Nilai Anti KorupsiMantan ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, Antasari Azhar pernah menegaskan Pancasila sesungguhnya merupakan sumber nilai anti korupsi. Persoalannya arah idiologi kita sekarang seperti di persimpangan jalan. Nilai-nilai lain yang kita anut menjadikan tindak korupsi merebak kemana-mana. Korupsi itu terjadi ketika ada pertemuan saat dan kesempatan. Akan tetapi, karena nilai-nilai kearifan lokal semakin ditinggalkan, yang ada nilai-nilai kapitalis, sehingga terdoronglah seseorang untuk bertindak korupsi. Saatnya Pancasila kembali direvitalisasi sebagai dasar filsafat Negara dan menjadi Prinsip Prima bersama-sama norma agama. Sebagai prinsip prima, maka nilai-nilai Pancasila dan norma-norma agama merupakan dasar untuk seluruh masyarakat Indonesia berbuat baik.Dalam pembentukan peraturan perundang-undangan pun harus menjadi acuan, dan inilah kunci terwujudnya Indonesia sebagai Negara hukum. Yang kita lihat sekarang peraturan perundang-undangan kita tumpang tindih yang mempengaruhi pada tindak kewenangan antar lembaga. Di Depkumham memang ada direktorat yang mengatur harmonisasi peraturan perundang-undangan. Akan tetapi tetap terjadi tumpang tindih, misalnya empat peraturan perundang-unangan yang tumpang tindih, yakni ada yang memberi kewenangan kepada gubernur, juga ada kewenangan di soal itu di Dephut, bahkan ada yang lain di kementrian KLH.Antasari menilai implementasi nilai-nilai sesuai azas Pancasila yang semakin menyimpang, hal ini terlihat pada banyak kasus korupsi. Dari 30 delik korupsi, 28 pasal di antarnaya menyangkut perilaku. Sehingga apabila nilai-nilai Pancasila sudah dilupakan perilakunya menjadi korup. Persoalannya sekarang bagaimana jika 60% dari 300-an kabupaten di Indonesia berurusan dengan KPK karena problem perilaku menyimpang. Apa tidak berhenti republik ini? Makanya, marilah kita memotivasi diri kembali pada jalan nilai yang benar. Intinya, kita perjuangan suatu pemerintahan dengan pelayanan publik yang baik, itulah pemerintahan yang bersih (termasuk dari korupsi) dan berwibawa. Dengan begitu, cap kita sebagai salah satu Negara terkorup, dihilangkan.Kalau dibandingkan dengan Negara tetangga ternyata penjara mereka terisi lebih sedikit dari kita di Indonesia. Isi penjara kita lebih banyak dari mereka, ini adalah bukti nyata pemerintah dalam memberantas korupsi. Tetapi mengapa masih disebut Negara terkorup dibanding Singapura. Ternyata, itu berkaitan dengan persepsi masyarakat dalam pelayanan publik sesuai kuesioner lembaga tranparansi internasional kepada masyarakat. Jadi, pemerintah dengan pejabatnya yang bersih dan berwibawa, adalah pemerintahan dengan pelayanan publik yang baik, termasuk dalam hal pelayanan administrasi kependudukan, investasi dan seterusnya. Akhirnya, Antasari Azhar (saat itu) minta semua komponen bangsa agar bersama-sama memperjuangkan implementasi nilai-nilai Pancasila dalam pemberantasan korupsi, karena KPK tak mungkin bisa bekerja sendiri.

17. Mengembalikan Nama Baik PancasilaTidak ada gunanya kita secara verbal menjunjung tinggi sila Ketuhanan Yang Maha Esa, tapi kita takut melawan kemusyrikan. Tidak ada gunanya kita mengagungkan sila perikemanusiaan, kalau kita membiarkan terus berkembangnya situasi yang tidak manusiawi.Komitmen kita pada eksistensi Pancasila sebagai dasar negara sebenarnya sudah final, sehingga tidak ada pilihan lain, kecuali Pancasila harus terus disuarakan, memulihkan nama baiknya. Caranya, dengan membumikan substansi dan nilai yang dikandungnya.Sebagai konsep dan nilai-nilai normatif, Pancasila tentu jauh dari kekeliruan, hanya para aktor yang sering menyalahgunakannya. Menghidupkan kembali wacana publik tentang Pancasila bukan didasari romantisme historis dan kerinduan belaka terhadap masa lalu. Tapi, suatu fakta riil akan pentingnya identitas nasional dalam membingkai dinamika yang kompleks.Revitalisasi Pancasila mendesak karena memang kita membutuhkan simbol pemersatu dan identitas nasional yang bisa diterima berbagai kalangan. Sebab, sejak reformasi bergulir dan mengambil alih kekuasaan, faktor pemersatu bangsa mengalami kemerosotan.Paling tidak terdapat dua hal penting yang harus diperhatikan dalam memulihkan nama baik Pancasila. Pertama, melakukan sosialisasi antar-komunitas kita masing-masing dan terus meramaikan wacana publik soal eksistensi dan substansi Pancasila. Membangun kembali kesadaran akan Pancasila sebagai identitas nasional.Kedua, sikap konsisten dari berbagai elemen bangsa, khususnya para pemimpin negeri ini menjadikan Pancasila sebagai pedoman dalam berpikir dan bertindak. Tidak sekadar menjadi "lipstik" penghias dan pemanis bibir, tapi perlu langkah kongkret. Pancasila harus menjadi nilai fundamental dalam mengangkat derajat kemanusiaan kita. Nilai-nilai Pancasila harus menjadi solusi atas derita kemiskinan yang selama ini menjadi hantu menakutkan di tengah masyarakat.Mayoritas masyarakat kita bukan hanya tidak punya strategi, tapi tidak pernah berpikir untuk mengubah ideologi Pancasila, karena mereka terlalu sibuk memikirkan nasib dan kebutuhan hidup sehari-hari. Mereka hanya memikirkan kapan bisa keluar dari belenggu kemiskinan.Di sinilah pentingnya Pancasila sebagai nilai pencerahan dalam bingkai pembangunan yang lebih kongkret agar bisa mengubah nasib masyarakat. Nasionalisme memang penting untuk selalu dipertanyakan, tapi tidak kalah pentingnya "kemerdekaan" yang menyertai semangat nasionalisme itu sendiri.Apa yang diperjuangkan rakyat Indonesia dulu adalah kemerdekaan bangsa untuk mencapai kemerdekaan personal yang sejati. Nasionalisme adalah senjata utama dalam menguatkan gerakan revolusi, namun kemerdekaan sebagai tujuan utamanya, merdeka dari segala bentuk penindasan, termasuk merdeka dari kemiskinan. Mudah-mudahan hal ini bisa diingat terus oleh para pemimpin kita.

18. Mengembalikan Kepercayaan Masyarakat Tidak bisa kita pungkiri bahwa tingkat praktek korupsi dikalangan pejabat-pejabat Negara, menjadikan masyarakat menarik dukungannya terhadap pemerintah. Kepercayaan serta harapan masyarakat (expectation) terhadap pemerintah bisa dikatakan semakin menurun, bahkan senderung apatis terhadap pemerintah beserta aparatur-aparatur hukumnya (Polisi, Jaksa, Hakim, dan lain sebagainya). Selama ini, pemberantasan korupsi yang dilakukan oleh pemerintah terkesan berjalan dengan lamban. Berbelit-belit dan sangat birokratisnya upaya pemberantasan korupsi yang dilakukan, menjadi salah satu faktor mendasar penyelesaiaan sebuah kasus. Semisal, pemeriksaan seorang pejabat legeslatif (anggota DPRD) yang harus menunggu izin dan keputusan dari Menteri Dalam Negeri, atau pejabat pemerintahan daerah yang harus menunggu persetujuan Presiden, dan lain-lain, menjadi salah satu kendala utama yang harus mampu pemerintah carikan solusi yang tepat. Pemerintah dalam hal ini dituntut untuk membuat kebijakan (policy) yang bertujuan untuk mempelancar proses pemberantasan korupsi sehingga dapat berjalan cepat, efisien dan efektif tanpa harus dihalangi oleh aturan-aturan yang telampau birokratis.Sejak periode kepemimpinan Susilo Bambang Yudoyono dan Jusuf Kalla, program pemberantasan korupsi menjadi prioritas utama dalam program kerja pemerintahannya. Upaya ini harus kita apresiasi dengan memberikan bentuk penghargaan yang tinggi atas upaya yang dilakukan tersebut. Namun patut kita catat bahwa, meskipun pemerintahan SBY-JK telah berhasil mengungkap kasus-kasus korupsi yang melibatkan pejabat-pejabat negara (semisal kasus KPU, kasus Bulog, kasus mantan gubernur Aceh, serta kasus-kasus yang melibatkan pejabat pemerintah di beberapa daerah), namun upaya pemberantasan korupsi ini belum mampu menyentuh para koruptor-koruptor kakap (dari era Orde Baru sampai sekarang) yang hingga saat ini masih bebas berkeliaran tanpa pernah sedikitpun tersentuh oleh hukum. Jika pemerintah mampu memberikan bukti nyata dari komitmen pemberantasan korupsi, maka kpercayaan masyarakatpun akan kembali pulih, bahkan lebih partisipatif dalam setiap masalah-masalah yang sedang dihadapi oleh bangsa dan Negara. Namun sebaliknya, jika pemerintah lamban dan gagal dalam menunaikan kewajiban dan tanggung jawabnya untuk menuntaskan kasus-kasus korupsi yang ada, maka rakyat akan jauh semakin jauh meninggalkannya. Apa jadinya sebuah pemerintahan tanpa dukungan dari masyarakatnya?

19. Bangkitkan Hukum Sekarang JugaMembangkitkan hukum berarti menegakkan kembali integritas hukum yang ada di Indonesia. Dalam hal ini adalah mencakup masalah korupsi. Hukum adalah sistem yang terpenting dalam pelaksanaan atas rangkaian kekuasaan kelembagaan dari bentuk penyalahgunaan kekuasaan dalam bidang politik, ekonomi dan masyarakat dalam berbagai cara dan bertindak, sebagai perantara utama dalam hubungan sosial antar masyarakat terhadap kriminalisasi dalam hukum pidana.Negara Indonesia adalah negara hukum. Hal ini tertuang secara jelas dalam Pasal 1 ayat (3) UUD 1945 Perubahan Ketiga berbunyi Negara Indonesia adalah negara hukum. Artinya, Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara yang berdasar atas hukum (rechtsstaat), tidak berdasar atas kekuasaan (machessaat), dan pemerintahan berdasarkan sistem konstitusi (hukum dasar), bukan absolutisme (kekuasaan yang tidak terbatas).Yang dimaksud dengan negara hukum adalah negara yang penyelenggaraan kekuasaan pemerintahannya didasarkan atas hukum. Di dalamnya pemerintah dan lembaga-lembaga lain dalam melaksanakan tindakan apapun harus dilandasi oleh hukum dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Dalam negara hukum, kekuasaan menjalankan pemerintahan berdasarkan kedaulatan hukum (supremasi hukum) dan bertujuan untuk menyelenggarakan ketertiban hukum (Mustafa KAmal Pasha, 2003).Negara berdasar atas hukum menempatkan hukum sebagai hal yang tertinggi (supreme) sehingga ada istilah supremasi hukum. Supremasi hukum harus tidak boleh mengabaikan tiga ide dasar hukum, yaitu keadilan, kemanfaatan, dan kepastian (Achmad Ali, 2002). Di negara hukum, hukum tidak hanya sebagai formalitas atau prosedur belaka dari kekuasaan. Bila sekedar formalitas, hukum dapat menjadi sarana pembenaran untuk dapat melakukan tindakan yang salah atau menyimpang. Contoh, pada masa lalu presiden sering membuat Keppres sebagai tempat berlindung dengan dalih telah berdasarkan hukum, padahal dengan Keppres tersebut presiden dapat menyalahgunakan kekuasaannya. Oleh karena itu di negara hukum, hukum harus tidak boleh mengabaikan rasa keadilan masyarakat.Berdasarkan pernyataan di atas, secara umum bahwa negara Indonesia adalah negara hukum. Lalu, bagaimana keadaan keadaan hukum di Indonesia sekarang? Dalam cakupannya dengan masalah korupsi, hukum Indonesia bisa dikatakan dalam keadaan lemah. Berbagai upaya dilakukan oleh aparat hukum untuk memberantas korupsi ini. Tetapi tetap saja ada dan itu semakin meluas. Mungkin bisa dibilang gugur satu tumbuh seribu.Korupsi di Indonesia harus dihapuskan. Berbagai cara harus dilakukan untuk membuat korupsi ini tidak meluas. Untuk mencegah meluasnya wabah korupsi, salah satunya dapat dilakukan dengan partisipasi publik dalam mengontrol penyelenggaraan negara, dalam hal ini adalah peran media massa. Media massa sangat dibutuhkan oleh masyarakat sebagai jembatan penghubung antara pemerintah dan rakyat, untuk mengetahui apa dan bagaimana para pejabat dalam menyelenggarakan kebijakan Negara di pemerintahan. Hal ini sangat diperlukan mengingat kurangnya pengetahuan masyarakat akan hal pemerintahan dan kurangnya pula transparansi pemerintah atau pejabat dalam pengambilan keputusan.Akuntabilitas dan transparansi birokrasi pemerintahan di Indonesia menjadi syarat lain untuk mengeliminasi korupsi pada birokrasi pemerintahan. Transparansi sangat penting dilakukan pemerintah untuk supaya rakyat mengetahui apa yang sedang terjadi di pemerintahan. Sekarang masih terlihat kurangnya transparansi dan akuntabilitas pemerintahan. Buktinya rakyat tidak mengetahui, atau seolah-olah bodoh dalam menilai kinerja pemerintah. Bukankah para pejabat di pemerintahan itu dipilih oleh rakyat secara langsung? Mengapa sekarang setelah duduk manis di kursi pemerintahan tidak bertanggungjawab kepada rakyat? Bahkan janji-janji yang dilontarkan pada saat kampanye untuk mensejahterakan rakyat, telah mereka lupakan karena terlalu nikmat duduk di kursi jabatan. Rakyat telah menjadi korban janji-janji palsu mereka.Di sinilah peran publik dan media massa, serta lembaga masyarakat dan organisasi lain untuk memantau kinerja pemerintah. Mereka semua harus bisa mendorong para pejabat/pemerintah untuk bersikap transparan atau terbuka. Hanya saja, langkah-langkah publik untuk mendorong transparansi dan akuntabilitas itu seolah masih membentur tembok kekar birokrasi yang tebal. Malahan korupsi terkesan terbuka dan menjadi-jadi.Berbicara mengenai kebangkitan hukum, sebenarnya awalnya terletak di dalam hati dan jiwa manusia itu sendiri. Manusia harus mempunyai kesadaran hukum dan disiplin hukum. Kesadaran dan disiplin hukum inilah yang bisa membangkitkan hukum dengan sebaik-baiknya karena manusia adalah merupakan subyek hukum. Masalahnya sekarang adalah apakah manusia itu mempunyai kesadaran hukum? Apabila dikaitkan dengan Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum, apakah manusia itu telah memaknai dan menjiwai nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila? Jika nilai-nilai Pancasila tersebut telah dimaknai dan dijiwai dengan sebenar-benarnya, mungkin korupsi di Indonesia tidak akan ada sama sekali. Karena dengan diamalkannya nilai-nilai tersebut (yang menjadi pedoman hukum), maka manusia atau rakyat telah memiliki kesadaran akan hukum dan berjalannya ketertiban hukum.Suatu hal yang mudah untuk diucapkan, tetapi susah untuk dilakukan. Membangkitkan hukum bukanlah perkara yang mudah. Membutuhkan proses yang panjang dan waktu yang lama untuk itu semua. Tetapi kita semua harus yakin dan optimis bahwa suatu saat nanti supremasi hukum di Indonesia akan bangkit dan berjaya kembali.

20. Langkah-langkah Pemberantasan KorupsiUpaya yang dapat dilakukan dengan langkah-langkah : Pemberlakuan berbagai UU yang mempersempit peluang korupsi Pembentukan berbagai lembaga yang diperlukan untuk mencegah korupsi Pelaksanaan sistem rekruitmen aparat secara adil dan terbuka Peningkatan kualitas kerja berbagai lembaga independen masyarakat untuk memantau kinerja para penyelenggara negara Pemberian gaji dan kesejahteraan pegawai yang memadai.Cara yang kedua yang ditempuh untuk menindak lanjuti korupsi adalah : Pemberian hukum secara sosial dalam bentuk isolasi kepada para koruptor Penindakan secara tegas dan konsisten terhadap setiap aparat hukum yang bersikap tidak tegas dan meloloskan koruptor dari jerat hukum Penindakan secara tegas tanpa diskriminasi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku terhadap para pelaku korupsi Memberikan tekanan langsung kepada pemerintah dan lembaga-lembaga penegak hukum untuk segera memproses secara hukum para pelaku korupsi.

Salah satu langkah nyata dalam upaya pemberantasan korupsi secara represif adalah dengan ditetapkannya UU No. 46 Tahun 2003 tentang Pengendalian Tindak Pidana Korupsi. Hakim dalam pengadilan tindak Pidana Korupsi terdiri dari hakim ad hoc yang persyaratan dan pemilihan serta pengangkatannya berbeda dengan hakim pada umumnya. Keberadaan hakim ad hoc diperlukan karena keahliannya sejalan dengan kompleksitas perkara tindak pidana korupsi, baik yang menyangkut modus operandi, pembuktian, maupun luasnya cakupan tindak pidana korupsi yang antara lain di bidang keuangan dan perbankan, perpajakan, pasar modal , pengadaan barang dan jasa pemerintah.

21. Peran Serta Pemerintah dalam Memberantas Korupsi

a. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)Partisipasi dan dukungan dari masyarakat sangat dibutuhkan dalam mengawali upaya-upaya pemerintah melalui KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) dan aparat hukum lain.KPK yang ditetapkan melalui Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 Tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi untuk mengatasi, menanggulangi, dan memberan-tas korupsi, merupakan komisi independen yang diharapkan mampu menjadi martir bagi para pelaku tindak KKN.

Sejarah Lembaga Pemberantasan Korupsi di Indonesia Orde LamaKabinet DjuandaDi masa Orde Lama, tercatat dua kali dibentuk badan pemberantasan korupsi. Yang pertama, dengan perangkat aturan Undang-Undang Keadaan Bahaya, lembaga ini disebut Panitia Retooling Aparatur Negara (Paran). Badan ini dipimpin oleh A.H. Nasution dan dibantu oleh dua orang anggota, yakni Profesor M. Yamin dan Roeslan Abdulgani. Kepada Paran inilah semua pejabat harus menyampaikan data mengenai pejabat tersebut dalam bentuk isian formulir yang disediakan. Mudah ditebak, model perlawanan para pejabat yang korup pada saat itu adalah bereaksi keras dengan dalih yuridis bahwa dengan doktrin pertanggungjawaban secara langsung kepada Presiden, formulir itu tidak diserahkan kepada Paran, tapi langsung kepada Presiden. Diimbuhi dengan kekacauan politik, Paran berakhir tragis, deadlock, dan akhirnya menyerahkan kembali pelaksanaan tugasnya kepada Kabinet Djuanda.

Operasi BudhiPada 1963, melalui Keputusan Presiden No. 275 Tahun 1963, pemerintah menunjuk lagi A.H. Nasution, yang saat itu menjabat sebagai Menteri Koordinator Pertahanan dan Keamanan/Kasab, dibantu oleh Wiryono Prodjodikusumo dengan lembaga baru yang lebih dikenal dengan Operasi Budhi. Kali ini dengan tugas yang lebih berat, yakni menyeret pelaku korupsi ke pengadilan dengan sasaran utama perusahaan-perusahaan negara serta lembaga-lembaga negara lainnya yang dianggap rawan praktek korupsi dan kolusi.Lagi-lagi alasan politis menyebabkan kemandekan, seperti Direktur Utama Pertamina yang tugas ke luar negeri dan direksi lainnya menolak karena belum ada surat tugas dari atasan, menjadi penghalang efektivitas lembaga ini. Operasi ini juga berakhir, meski berhasil menyelamatkan keuangan negara kurang-lebih Rp 11 miliar. Operasi Budhi ini dihentikan dengan pengumuman pembubarannya oleh Soebandrio kemudian diganti menjadi Komando Tertinggi Retooling Aparat Revolusi (Kontrar) dengan Presiden Soekarno menjadi ketuanya serta dibantu oleh Soebandrio dan Letjen Ahmad Yani. Bohari pada tahun 2001 mencatatkan bahwa seiring dengan lahirnya lembaga ini, pemberantasan korupsi pada masa Orde Lama pun kembali masuk ke jalur lambat, bahkan macet.

Orde BaruPada masa awal Orde Baru, melalui pidato kenegaraan pada 16 Agustus 1967, Soeharto terang-terangan mengkritik Orde Lama, yang tidak mampu memberantas korupsi dalam hubungan dengan demokrasi yang terpusat ke istana. Pidato itu seakan memberi harapan besar seiring dengan dibentuknya Tim Pemberantasan Korupsi (TPK), yang diketuai Jaksa Agung. Namun, ternyata ketidakseriusan TPK mulai dipertanyakan dan berujung pada kebijakan Soeharto untuk menunjuk Komite Empat beranggotakan tokoh-tokoh tua yang dianggap bersih dan berwibawa, seperti Prof Johannes, I.J. Kasimo, Mr Wilopo, dan A. Tjokroaminoto, dengan tugas utama membersihkan Departemen Agama, Bulog, CV Waringin, PT Mantrust, Telkom, Pertamina, dan lain-lain.Empat tokoh bersih ini jadi tanpa taji ketika hasil temuan atas kasus korupsi di Pertamina, misalnya, sama sekali tidak digubris oleh pemerintah. Lemahnya posisi komite ini pun menjadi alasan utama. Kemudian, ketika Laksamana Sudomo diangkat sebagai Pangkopkamtib, dibentuklah Operasi Tertib (Opstib) dengan tugas antara lain juga memberantas korupsi. Perselisihan pendapat mengenai metode pemberantasan korupsi yang bottom up atau top down di kalangan pemberantas korupsi itu sendiri cenderung semakin melemahkan pemberantasan korupsi, sehingga Opstib pun hilang seiring dengan makin menguatnya kedudukan para koruptor di singgasana Orde Baru.

Era ReformasiDi era reformasi, usaha pemberantasan korupsi dimulai oleh B.J. Habibie dengan mengeluarkan UU Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme berikut pembentukan berbagai komisi atau badan baru, seperti Komisi Pengawas Kekayaan Pejabat Negara (KPKPN), KPPU, atau Lembaga Ombudsman. Presiden berikutnya, Abdurrahman Wahid, membentuk Tim Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (TGPTPK) melalui Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2000. Namun, di tengah semangat menggebu-gebu untuk memberantas korupsi dari anggota tim ini, melalui suatu judicial review Mahkamah Agung, TGPTPK akhirnya dibubarkan dengan logika membenturkannya ke UU Nomor 31 Tahun 1999. Nasib serupa tapi tak sama dialami oleh KPKPN, dengan dibentuknya Komisi Pemberantasan Korupsi, tugas KPKPN melebur masuk ke dalam KPK, sehingga KPKPN sendiri hilang dan menguap. Artinya, KPK-lah lembaga pemberantasan korupsi terbaru yang masih eksis.

Daftar Ketua KPKNoNamaMulai JabatanAkhir Jabatan

1Taufiequrachman Ruki20032007

2Antasari Azhar20072009

3Tumpak Hatorangan Panggabean20092010

4Busyro Muqoddas20102011

5Abraham Samad20112015

1. KPK di bawah Taufiequrachman Ruki (2003-2007)Pada tanggal 16 Desember 2003, Taufiequrachman Ruki, seorang alumni Akademi Kepolisian (Akpol) 1971, dilantik menjadi Ketua KPK. Di bawah kepemimpinan Taufiequrachman Ruki, KPK hendak memposisikan dirinya sebagai katalisator (pemicu) bagi aparat dan institusi lain untuk terciptanya jalannya sebuah "good and clean governance" (pemerintahan baik dan bersih) di Republik Indonesia. Sebagai seorang mantan Anggota DPR RI dari tahun 1992 sampai 2001, Taufiequrachman walaupun konsisten mendapat kritik dari berbagai pihak tentang dugaan tebang pilih pemberantasan korupsi.Taufiequrachman juga menyampaikan bahwa pembudayaan etika dan integritas antikorupsi harus melalui proses yang tidak mudah, sehingga dibutuhkan adanya peran pemimpin sebagai teladan dengan melibatkan institusi keluarga, pemerintah, organisasi masyarakat dan organisasi bisnis. Pada tahun 2007 Taufiequrachman Ruki digantikan oleh Antasari Azhar sebagai Ketua KPK. Sekarang sejak Desember 2011, KPK diketuai oleh Abraham Samad

2. KPK di bawah Antasari Azhar (2007-2009)

Kontroversi Antasari Azhar saat menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan (2000-2007)yang gagal mengeksekusi Tommy Soeharto tidak menghalangi pengangkatannya menjadi Ketua KPK setelah berhasil mengungguli calon lainnya yaitu Chandra M. Hamzah dengan memperoleh 41 suara dalam pemungutan suara yang dilangsungkan Komisi III DPR. Kiprahnya sebagai Ketua KPK antara lain menangkap Jaksa Urip Tri Gunawan dan Artalyta Suryani dalam kaitan penyuapan kasus BLBI Syamsul Nursalim. Kemudian penangkapan Al Amin Nur Nasution dalam kasus persetujuan pelepasan kawasan Hutan lindung Tanjung Pantai Air Telang, Sumatera Selatan. Antasari juga berjasa menyeret Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Aulia Tantowi Pohan yang juga merupakan besan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke penjara atas kasus korupsi aliran dana BI. Statusnya sebagai tersangka dalam kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 4 Mei 2009 memberhentikan dari jabatannya sebagai ketua KPK.

3. KPK di bawah Tumpak Hatorangan Panggabean (Pelaksana Tugas) (2009-2010)

Mantan Komisaris PT Pos Indonesia, Tumpak Hatorangan Panggabean terpilih menjadi pelaksana tugas sementara Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)dan dilantik pada 6 Oktober 2009 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.Serta ditetapkan berdasarkan Perppu nomor 4 tahun 2009 yang diterbitkan pada 21 September 2009.Pengangkatannya dilakukan untuk mengisi kekosongan pimpinan KPK setelah ketua KPK Antasari Azhar dinonaktifkan dan diberhentikan akibat tersangkut kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen.Dibawah masanya memang KPK berhasil menetapkan bekas Menteri Sosial (Mensos) Bachtiar Chamsyah sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi pengadaan mesin jahit dan impor sapi. Selain itu, KPK juga berhasil menetapkan Gubernur Kepulauan Riau (Kepri), Ismet Abdullah sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan mobil kebakaran. Tapi beberapa kasus masih mandek penanganannya, misalnya saja, kasus Bank Century, membuat penilaian bahwa lembaga itu mulai melempem.Pada tranggal 15 Maret 2010 beliau diberhentikan dengan Keppres No. 33/P/2010 karena perpu ditolak oleh DPR.

4. KPK di bawah Busyro Muqoddas (2010-2011)M. Busyro Muqoddas, S.H, M.Hum dilantik dan diambil sumpah oleh Presiden RI pada 20 Desember 2010 sebagai ketua KPK menggantikan Antasari Azhar. Sebelumnya, Busyro merupakan ketua merangkap anggota Komisi Yudisial RI periode 2005-2010. Pada saat sebagai ketua sangat sering mengkritik DPR , yang terakhir terkait hedonisme para anggota DPR. Pada pemilihan pimpinan KPK tanggal 2 Desember 2011 beliau "turun pangkat" menjadi waki ketua KPK. Busyro hanya memperoleh 5 suara dibandingan Abraham Samad yang memperoleh 43 suara. Serah terima jabatan dan pelantikan akan dilaksanakan pada 17 Desember 2011.

Kontroversi

Kasus pembunuhanKetua KPK Antasari Azhar terbukti merancang pembunuhan terhadap Nasrudin Zulkarnaen dan divonis 18 tahun penjara serta dicopot dari jabatannya sebagai ketua KPK. Kasus AnggoroBermula saat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sedang melakukan penyidikan dan pencekalan terhadap sejumlah pejabat PT Masaro Radiokom dalam kasus Proyek Sistem Komunikasi Radio Terpadu (SKRT) Kementerian Kehutanan

Penanganan Kasus Korupsi oleh KPK2011 11 Februari KPK menangkap Jaksa Dwi Seno Widjanarko asal Kejaksaan Negeri Tangerang di kawasan Pondok Aren, Bintaro, Tangerang. Dia diduga memeras Agus Suharto, pegawai BRI Unit Juanda, Ciputat. Upaya pemerasan terhadap Agus suharto ini diduga terkait dengan perkara penggelapan sertifikat di BRI cabang Juanda, Ciputat, Tangerang Selatan yang ditangani Jaksa Seno. Atas perbuatannya, Seno disangkakan melanggar Pasal 12 huruf E Undang Undang No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Korupsi. 4 Oktober KPK menahan FL (Bupati Nias Selatan periode 2006 s.d. 2011) dalam dugaan tindak pidana korupsi memberikan sesuatu kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara dengan maksud supaya pegawai negeri atau penyelanggara negara tersebut berbuat atau tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya yang bertentangan dengan kewajiban. KPK menetapkan Timas Ginting selaku pejabat pembuat komitmen di Direktorat Jenderal Pembinaan Pengembangan Sarana dan Prasarana Kawasan Transmigrasi (P2MKT) Kemenakertrans sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), kasus ini juga menyeret Muhammad Nazaruddin dan istrinya Neneng Sri Wahyuni sebagai tersangka. 26 September Penyidik KPK menahan tersangka ME (Bupati Kabupaten Seluma)dalam pengembangan penyidikan dugaan tindak pidana korupsi pemberian hadiah di Pemerintah Kabupaten Seluma 28 September KPK menetapkan RSP (mantan Kepala Pusat Penanggulangan Krisis Departemen Kesehatan selaku Kuasa Pengguna Anggaran merangkap Pejabat Pembuat Komitmen) sebagai tersangka dalam dugaan tindak pidana korupsi dalam pengadaan alat kesehatan I untuk kebutuhan Pusat Penanggulangan Krisis Departemen Kesehatan dari dana DIPA Revisi APBN Pusat Penanggulangan Krisis Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan Tahun Anggaran 2007. 8 September KPK menahanan tersangka B (pemimpin Tim Pemeriksa BPK-RI di Manado) dan MM (anggota tim Pemeriksa BPK-RI di Manado) atas dugaan penerimaan sesuatu atau hadiah berupa uang dari JSMR Wali Kota Tomohon periode 2005 s.d. 2010 terkait pemeriksaan Laporan Keuangan Daerah Kota Tomohon Tahun Anggaran (TA) 2007. 25 Agustus KPK menangkap Kabag Program Evaluasi di Ditjen Pembinaan Pembangunan Kawasan Transmigrasi (P2KT) Dadong Irba Relawan , Sesditjen P2KT I Nyoman Suisnaya dan direksi PT Alam Jaya Papua Dharnawati terkait kasus korupsi di Kemenakertrans , kasus ini juga membuat menakertrans Muhaimin Iskandar dan menkeu Agus Martowardojo diperiksa. 13 Agustus KPK menahan mantan bendahara umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin sebagai tersangka kasus suap proyek Wisma Atlet SEA Games setelah ditangkap di Cartagena, Colombia pada tanggal 6 Agustus 2011 dan tiba di Jakarta, pada 13 Agustus 2011. Dalam upaya untuk menangkap Muhammad Nazaruddin yang buron, KPK melayangkan permohonan penerbitan Red Notice pada tanggal 5 Juli 2011 kepada Kepolisian RI yang diteruskan kepada Interpol. Sebelumnya KPK telah melakukan permintaan pencegahan terhadap Muhammad Nazaruddin kepada Kementerian Hukum dan HAM pada tanggal 24 Mei 2011. 1 Juni KPK menangkap tangan seorang hakim Pengadilan Hubungan Industrial Imas Dianasari di daerah Cinunu, Bandung, Jawa Barat karena menerima uang dari seseorang berinisial OJ yang diduga merupakan karyawan PT OI. 2 Juni KPK menangkap tangan Hakim Syarifuddin diduga menerima suap Rp250 juta dari kurator PT Skycamping Indonesia (PT SCI), Puguh Wirawan. Selain uang Rp250 juta, KPK juga menemukan uang tunai Rp142 juta, US$116.128, Sin$245 ribu, serta belasan ribu mata uang Kamboja dan Thailanddi rumah dinas Syarifudin. 2 Juni KPK menangkap basah seorang Hakim pengawas di Pengadilan Niaga Jakarta yang diduga menerima uang suap di daerah Sunter Jakarta Utara. Dia diduga menerima suap dari kasus kepailitian. 22 November Penyidik KPK menangkap tangan jaksa Kasub Bagian pembinaan di Kejaksaan negeri Cibinong bernama Sisyoto bersama pengusaha E, AB dan satu orang sopir. Dalam penangkapan itu petugas KPK menemukan uang Rp 100 juta yang diduga merupakan suap untuk Jaksa Sisyoto. 11 Desember Kepolisian Thailand menangkap Nunun Nurbaetie, tersangka kasus cek pelawat yang menjadi buronan internasional. Ia ditangkap di sebuah rumah kontrakan yang berada di Distrik Saphan Sung, Bangkok, Thailand. Selanjutnya Nunun diserahkan ke KPK dan diterbangkan ke Indonesia.2010 Mantan Mendagri Hari Sabarno, Direktur Jenderal Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri Oentarto Sindung Mawardi dan Hengky Samuel Daud diselidiki terkait kasus korupsi pengadaan mobil pemadam kebakaran di 20 provinsi pada 2002-2004. 30 Maret Sekitar pukul 10.30, KPK menangkap seorang hakim Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PT TUN) Jakarta berinisial IB dan pengacara berinisial AS, yang diduga tengah melakukan transaksi penyuapan di jalan Mardani Raya, Cempaka Putih-Jakarta Pusat. 2009 3 September KPK menetapkan status tersangka terhadap bekas Sekretaris Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Sutedjo Yuwono, mantan Direktur Bina Pelayanan Medik Kementerian Kesehatan Ratna Dewi Umar, dan mantan Kepala Pusat Penanggulangan Krisis di Kementerian Kesehatan Rustam Syarifuddin Pakaya dalam kasus korupsi alat kesehatan berbiaya Rp 40 miliar pada tahun anggaran 2007.[19] Pada 23 Agustus 2011, Sutedjo Yuwono dinyatakan terbukti melakukan korupsi pengadaan alat kesehatan (alkes) penanggulangan flu burung di Kemenko Kesra pada 2006. Pengadilan Tipikor menjatuhkan hukuman tiga tahun penjara kepada Sutedjo. 2008 16 Januari Mantan Kapolri Rusdihardjo ditahan di Rutan Brimob Kelapa Dua. Terlibat kasus dugaan korupsi pada pungli pada pengurusan dokumen keimigrasian saat menjabat sebagai Duta Besar RI di Malaysia. Dugan kerugian negara yang diakibatkan Rusdihardjo sebesar 6.150.051 ringgit Malaysia atau sekitar Rp15 miliar. Rusdiharjo telah di vonis pengadilan Tipikor selama 2 tahun. 14 Februari Direktur Hukum BI Oey Hoey Tiong di Rutan Polda Metro Jaya dan Rusli Simanjuntak ditahan di Rutan Brimob Kelapa Dua. Kedua petinggi BI ini ditetapkan tersangka dalam penggunaan dana YPPI sebesar Rp 100 miliar. Mantan Direktur Hukum BI Oey Hoey Tiong dan mantan Kepala Biro BI Rusli Simanjuntak yang masing-masing empat tahun penjara. 10 April Gubernur Bank Indonesia (BI) Burhanuddin Abdullah ditahan di Rutan Mabes Polri. Burhanuddin diduga telah menggunakan dana YPPI sebesar Rp 100 miliar. Burhanuddin sudah di vonis pengadilan tipikor lima tahun penjara, 27 November Aulia Pohan, besan Presiden SBY. Dia bersama tersangka lain, Maman Sumantri mendekam di ruang tahanan Markas Komando Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. Sementara Bun Bunan Hutapea dan Aslim Tadjuddin dititipkan oleh KPK di tahanan Badan Reserse Kriminal Mabes Polri. Mereka diduga terlibat dalam pengucuran dana Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia (YPPI) sebesar Rp100 miliar. 2 Maret Jaksa Urip Tri Gunawan ditahan di Rutan Brimob Kelapa Dua dan Arthalita Suryani ditahan di Rutan Pondok Bambu. Jaksa Urip tertangkap tangan menerima 610.000 dolar AS dari Arthalita Suryani di rumah obligor BLBI Syamsul Nursalim di kawasan Permata Hijau, Jakarta Selatan. Urip di vonis ditingkat pengadilan Tipikor dan diperkuat ditingkat kasasi di Mahkamah Agung selama 20 tahun penjara. Sedangkan Arthalita di vonis di Tipikor selama 5 tahun penjara. 12 Maret Pimpro Pengembangan Pelatihan dan Pengadaan alat pelatihan Depnakertrans Taswin Zein ditahan di Rutan Polda Metro Jaya. Taswin diduga terlibat dalam kasus penggelembungan Anggaran Biaya Tambahan (ABT) Depnakertrans tahun 2004 sebesar Rp 15 miliar dan Anggaran Daftar Isian sebesar Rp 35 miliar. Taswin telah di vonis Pengadilan Tipikor selama 4 tahun penjara. 20 Maret Mantan Gubernur Riau Saleh Djasit (1998-2004) ditahan sejak 20 Maret 2008 di rutan Polda Metro Jaya. Saleh yang juga anggota DPR RI (Partai Golkar) ditetapkan sebagai tersangka sejak November 2007 dalam kasus dugaan korupsi pengadaan 20 unit mobil pemadam kebakaran senilai Rp 15 miliar. Saleh Djasit telah di vonis Pengadilan Tipikor selama 4 tahun penjara. 10 November Mantan gubernur Jawa Barat Danny Setiawan dan Dirjen Otonomi Daerah Departemen Dalam Negeri Oentarto Sindung Mawardi ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus Damkar ditahan di rutan Bareskrim Mabes Polri. KPK juga menahan mantan Kepala Biro Pengendalian Program Pemprov Jabar Ijudin Budhyana dan mantan kepala perlengkapan Wahyu Kurnia. Ijudin saat ini masih menjabat sebagai Kepala Dinas Pariwisata Jabar. Selain itu KPK telah menahan Ismed Rusdani pada Rabu (12/12/08). Ismed yang menjabat staf biro keuangan di lingkungan Pemprov Kalimantan Timur ditahan di Rutan Polda Metro Jaya. Damkar juga menyeret Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Depok Yusuf juga ditetapkan sebagai tersangka pada Senin 22 September 2008 9 April Anggota DPR RI (PPP) Al Amin Nur Nasution dan Sekda Kabupaten Bintan Azirwan ditahan di Rutan Polda Metro Jaya, Sekda Bintan Azirwan ditahan di Rutan Polres Jakarta Selatan. Al Amin tertangkap tangan menerima suap dari Azirwan. Saat tertangkap ditemukan Rp 71juta dan 33.000 dolar Singapura. Mereka ditangkap bersama tiga orang lainnya di Hotel Ritz Carlton. 17 April Anggota DPR RI (Partai Golkar) Hamka Yamdhu dan mantan Anggota DPR RI (Partai Golkar) Anthony Zeidra Abidin. Anthony Z Abidin yang juga menjabat Wakil Gubernur Jambi ditahan di Polres Jakarta Timur, Hamka Yamdhu ditahan di Rutan Polres Jakarta Barat. Hamda dan Anthony Z Abidin diduga menerima Rp 31,5 miliar dari Bank Indonesia.

2006Desember 27 Desember - Menetapkan Bupati Kutai Kartanegara Syaukani H.R. sebagai tersangka dalam kasus korupsi Bandara Loa Kulu yang diperkirakan merugikan negara sebanyak Rp 15,9 miliar. Tribun Kaltim 22 Desember - Menahan Bupati Kendal Hendy Boedoro setelah menjalani pemeriksaan Hari Jumat (22/12). Hendy ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi APBD Kabupaten Kendal 2003 hingga 2005 senilai Rp 47 miliar. Selain Hendy, turut pula ditahan mantan Kepala Dinas Pengelola Keuangan Daerah Warsa Susilo. Tempo Interaktif 21 Desember - Menetapkan mantan Gubernur Kalimantan Selatan H.M. Sjachriel Darham sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi penggunaan uang taktis. Sjachriel Darham sudah lima kali diperiksa penyidik dan belum ditahan. Tempo InteraktifDesember 2008, menahan BUPATI Garut 2004-2009 Letkol.(Purn) H. Agus Supriadi SH, yang tersangkut penyelewangan dana bantuan bencana alam sebesar 10 milyar negara dirugikan,Bupati Agus dikenakan hukuman 15 tahun penjara dan denda 300 juta.November 30 November - Jaksa KPK Tuntut Mulyana W. Kusumah 18 Bulan dalam kasus dugaan korupsi pengadaan kotak suara Pemilihan Umum 2004. Tempo Interaktif 30 November - Menahan bekas Konsul Jenderal RI di Johor Baru, Malaysia, Eda Makmur. Eda diduga terlibat kasus dugaan korupsi pungutan liar atau memungut tarif pengurusan dokumen keimigrasian di luar ketentuan yang merugikan negara sebesar RM 5,54 juta atau sekitar Rp 3,85 miliar. Tempo Interaktif 30 November - Menahan Rokhmin Dahuri, Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2001-2004. Rokhmin diduga terlibat korupsi dana nonbujeter di departemennya. Total dana yang dikumpulkan adalah Rp 31,7 miliar. Tempo InteraktifSeptember 2 September - Memeriksa Gubernur Jawa Barat Danny Setiawan selama 11 jam di gedung KPK. Pemeriksaan ini terkait kasus pembelian alat berat senilai Rp 185,63 miliar oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang dianggarkan pada 2003-2004. Tempo InteraktifJuni 19 Juni - Menahan Gubernur Kalimantan Timur, Suwarna A.F. setelah diperiksa KPK dalam kasus izin pelepasan kawasan hutan seluas 147 ribu hektare untuk perkebunan kelapa sawit tanpa jaminan, dimana negara dirugikan tak kurang dari Rp 440 miliar. Tempo Interaktif2005 Kasus penyuapan anggota KPU, Mulyana W. Kusumah kepada tim audit BPK (2005) Kasus korupsi di KPU, dengan tersangka Nazaruddin Sjamsuddin, Safder Yusacc dan Hamdani Amin (2005) Kasus penyuapan panitera PT Jakarta oleh kuasa hukum Abdullah Puteh, dengan tersangka Teuku Syaifuddin Popon, Syamsu Rizal Ramadhan, dan M. Soleh. (2005) Kasus penyuapan Hakim Agung MA dalam perkara Probosutedjo, dengan tersangka Harini Wijoso, Sinuhadji, Pono Waluyo, Sudi Ahmad, Suhartoyo dan Triyadi Dugaan korupsi perugian negara sebesar 32 miliar rupiah dengan tersangka Theo Toemion (2005) Kasus korupsi di KBRI Malaysia (2005)2004 Dugaan korupsi dalam pengadaan Helikopter jenis MI-2 Merk Ple Rostov Rusia milik Pemda NAD (2004). Sedang berjalan, dengan tersangka Ir. H. Abdullah Puteh. Dugaan korupsi dalam pengadaan Buku dan Bacaan SD, SLTP, yang dibiayai oleh Bank Dunia (2004) Dugaan korupsi dalam Proyek Program Pengadaan Busway pada Pemda DKI Jakarta (2004) Dugaan penyalahgunaan jabatan oleh Kepala Bagian Keuangan Dirjen Perhubungan Laut dalam pembelian tanah yang merugikan keuangan negara Rp10 milyar lebih. (2004). Sedang berjalan, dengan tersangka tersangka Drs. Muhammad Harun Let Let dkk. Dugaan korupsi pada penyalahgunaan fasilitas preshipment dan placement deposito dari BI kepada PT Texmaco Group melalui Bank BNI (2004) Dugaan telah terjadinya TPK atas penjualan aset kredit PT PPSU oleh BPPN. (2004)

Agenda KPK Sehari - Hari Membangun kultur yang mendukung pemberantasan korupsi. Mendorong pemerintah melakukan reformasi public sector dengan mewujudkan good governance. Membangun kepercayaan masyarakat. Mewujudkan keberhasilan penindakan terhadap pelaku korupsi besar. Memacu aparat hukum lain untuk memberantas korupsi.

b. Indonesia Corruption Watch (ICW)Indonesia Corruption Watch (ICW) saat ini menjadi salah satu lembaga independen paling lantang bersuara dalam gerakan antikorupsi. Eksistensi ICW dalam pemberantasan korupsi sejak tahun 1998 telah diakui publik. Secara berturut-turut, tahun ini ICW mendapat penghargaan UII Award dari Universitas Islam Indonesia, Soegeng Sarjadi Syndicate Award, dan penghargaan dari Dewan Pers.Selain award dari sejumlah institusi, ICW juga mendapat penghargaan yang jauh lebih bernilai, yakni dukungan dari masyarakat luas. Sejak membuka Divisi Kampanye Publik dan Penggalangan Dana pada 2010 lalu, ICW telah berhasil mengumpulkan dukungan nyata berupa barisan supporter ICW yang kini berjumlah 560 orang. Para supporter ini secara rutin memberikan donasi untuk mendukung kerja-kerja pemberantasan korupsi.Korupsi yang sudah sedemikian menggurita di Indonesia memang harus dilawan secara bersama-sama. Bersama masyarakat, ICW berupaya meningkatkan kapasitas publik untuk menuntut haknya mendapatkan fasilitas dasar yang dijamin oleh negara tanpa dikorupsi. Kontrol masyarakat yang kuat sangat diperlukan untuk membuat perubahan. ICW juga berupaya mendobrak kebuntuan hukum untuk lebih dapat diandalkan dalam upaya pemberantasan korupsi.

Divisi Penggalangan Dana dan Kampanye PublikIndonesia Corruption Watch (ICW) adalah sebuah organisasi independen. Untuk menjaga independensi sekaligus meningkatkan rasa kepemilikan publik dan menjaga keberlangsungan program, sejak Maret 2010 lalu ICW membuka peluang donasi publik.Dengan memberi bantuan finansial kepada lembaga ini, masyarakat dapat turut serta dalam kerja-kerja pemberantasan korupsi. Donasi yang dikumpulkan dari publik dimanfaatkan untuk menjalankan sejumlah program ICW, diantaranya; investigasi kasus, pemantauan anggaran sekolah, advokasi layanan kesehatan, membangun generasi pemuda melawan korupsi, serta menyelenggarakan pendidikan antikorupsi di sekolah dan kampus.Transparansi dan akuntabilitas menjadi pilar utama gerakan antikorupsi. Untuk menjamin transparansi, setiap bulan ICW mempublikasikan hasil perolehan donasi di website www.fundraising.antikorupsi.