makalah sila ke-1 pancasila

26
TUGAS AKHIR SEMESTER MAKALAH PENDIDIKAN PANCASILA PEMAHAMAN SILA KETUHANAN YANG MAHA ESA BESERTA PERMASALAHANNYA DISUSUN OLEH : 1. MUHAMMAD YUSUF (31.2008.001) 2. HENDRA SAPUAN (31.2008.002) 3. FERDIANSYAH (31.2008.003) 4. SETYO UTOMO (31.2008.004) 5. MUKHTAR RIANSYAH(31.2008.005)

Upload: hendra-sapuan

Post on 25-Jun-2015

10.876 views

Category:

Documents


77 download

TRANSCRIPT

Page 1: Makalah Sila Ke-1 Pancasila

TUGAS AKHIR SEMESTERMAKALAH PENDIDIKAN PANCASILA

“PEMAHAMAN SILA KETUHANAN YANG MAHA ESA

BESERTA PERMASALAHANNYA ”

DISUSUN OLEH :

1. MUHAMMAD YUSUF (31.2008.001)

2. HENDRA SAPUAN (31.2008.002)

3. FERDIANSYAH (31.2008.003)

4. SETYO UTOMO (31.2008.004)

5. MUKHTAR RIANSYAH (31.2008.005)

FAKULTAS PERIKANANPROGRAM STUDI PENGOLAHAN SUMBERDAYA PERIKANAN

UNIVERSITAS ISLAM OKI (UNISKI)KAYUAGUNG

2009

Page 2: Makalah Sila Ke-1 Pancasila

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Allah S.W.T. karena

atas ridho-Nyalah Makalah Pendidikan Pancasila yang kami beri judul ” Pemahaman

Sila Ketuhanan Yang Maha Esa Beserta Permasalahannya” dapat diselesaikan.

Makalah ini kami susun untuk memenuhi tugas akhir semester Mata Kuliah

Pendidikan Pancasila.

Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kami ucapkan kepada :

1. Orang Tua kami yang telah memberi semangat, baik moril maupun materiil.

2. Dosen Pengajar Mata Kuliah Pendidikan Pancasila, Bapak H. Harun Marzuk,

S.H, M.M, M.Hum. dan Bapak Irsan, S.H, M.Hum.

3. Rekan-rekan se-almameter.

Kami sadar bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak terdapat keku-

rangan, baik dari isi maupun cara penulisannya. Hali ini disebabkan oleh keterbatasan

wawasan pengetahuan yang kami miliki. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik

dan saran yang bersifat membangun guna perbaikan di masa yang akan datang.

Atas segala bantuan yang telah diberikan saya mengucapkan terima kasih

semoga Allah memberikan balasan yang setimpal. Mudah-mudahan Allah S.W.T.

meridhoi sehingga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Kayuagung, Januari 2009

Penyusun

Page 3: Makalah Sila Ke-1 Pancasila

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR …………………………………………………… i

DAFTAR ISI …………………………………………………………….. ii

BAB I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang ............................................................................ 1

1.1.1. Arti Penting Keberadaan Pancasila .................................... 1

1.1.2. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa ......................................... 2

1.1.3. Butir-Butir Pancasila Sila Pertama ..................................... 4

1.2. Rumusan Masalah

1.2.1. Kontroversi Pancasila Ditinjau Dari Sila Ketuhanan Yang

Maha Esa ........................................................................... 4

1.2.2. Kasus Ahmadiyah .............................................................. 6

BAB II. PEMBAHASAN

2.1. Pemahaman dan Pelanggaran Terhadap Pancasila ...................... 8

2.2. Kasus Ahmadiyah

2.2.1. Tinjauan Pustaka ................................................................. 9

2.2.2. Analisis ................................................................................ 10

BAB III. KESIMPULAN DAN SARAN

3.1. Kesimpulan .................................................................................. 12

3.2. Saran ............................................................................................. 12

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 14

Page 4: Makalah Sila Ke-1 Pancasila

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Pancasila adalah dasar filsafat Negara Republik Indonesia yang secara resmi

disahkan oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945 dan tercantum dalam Pembukaan

UUD 1945, diundangkan dalam Berita Republik Indonesia tahun II No. 7 bersama-

sama dengan batang tubuh UUD 1945.

Pancasila merupakan pandangan hidup, dasar negara, dan pemersatu bangsa

Indonesia yang majemuk. Mengapa begitu besar pengaruh Pancasila terhadap bangsa

dan negara Indonesia? Kondisi ini dapat terjadi karena perjalanan sejarah dan kom-

pleksitas keberadaan bangsa Indonesia seperti keragaman suku, agama, bahasa dae-

rah, pulau, adat istiadat, kebiasaan budaya, serta warna kulit jauh berbeda satu sama

lain tetapi mutlak harus dipersatukan.

Sejarah Pancasila adalah bagian dari sejarah inti negara Indonesia. Sehingga

tidak heran bagi sebagian rakyat Indonesia, Pancasila dianggap sebagai sesuatu yang

sakral yang harus kita hafalkan dan mematuhi apa yang diatur di dalamnya. Ada pula

sebagian pihak yang sudah hampir tidak mempedulikan lagi semua aturan-aturan

yang dimiliki oleh Pancasila. Namun, di lain pihak muncul orang-orang yang tidak

sepihak atau menolak akan adanya Pancasila sebagai dasar negara Indonesia.

1.1.1. Arti Penting Keberadaan Pancasila

Pancasila sebagai dasar negara memang sudah final. Menggugat Pancasila

hanya akan membawa ketidakpastian baru. Bukan tidak mungkin akan timbul chaos

(kesalahan) yang memecah-belah eksistensi negara kesatuan. Akhirnya Indonesia a-

kan tercecer menjadi negara-negara kecil yang berbasis agama dan suku. Untuk

menghindarinya maka penerapan hukum-hukum agama (juga hukum-hukum adat)

dalam sistem hukum negara menjadi urgen untuk diterapkan. Sejarah Indonesia yang

awalnya merupakan kumpulan Kerajaan yang berbasis agama dan suku memperkuat

Page 5: Makalah Sila Ke-1 Pancasila

kebutuhan akan hal ini. Pancasila yang diperjuangkan untuk mengikat agama-agama

dan suku-suku itu harus tetap mengakui jati diri dan ciri khas yang dimiliki setiap a-

gama dan suku.

1.1.2. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa

Ketuhanan Yang Maha Esa mengandung makna adanya keyakinan terhadap

Tuhan Yang Maha Esa Tunggal, yang menciptakan alam semesta beserta isinya. Dan

diantara makhluk ciptakan Tuhan Yang Maha Esa yang berkaitan dengan sila ini ia-

lah manusia. Sebagai Maha Pencipta, kekuasaan Tuhan tidaklah ter-batas, sedang-kan

selainNya adalah terbatas.

Dalam memahami dan mengamalkan sila Ketuhanan Yang Maha Esa tak da-

pat dikotak-kotakkan dengan keempat sila lainnya karena Hakikat manusia sebagai

mahluk Tuhan yang Maha Esa (sebagai sebab) (hakikat sila I dan II) yang memben-

tuk persatuan mendirikan negara dan persatuan manusia dalam suatu wilayah disebut

rakyat (hakikat sila III dan IV) dan yang ingin mewujudkan suatu tujuan bersama yai-

tu keadilan dalam suatu persekutuan hidup masyarakat negara (keadilan sosial) (haki-

kat sila V).

Negara Indonesia didirikan atas landasan moral luhur, yaitu berdasarkan Ke-

tuhanan Yang Maha Esa yang sebagai konsekuensinya, maka negara menjamin kepa-

da warga negara dan penduduknya untuk memeluk dan untuk beribadah sesuai de-

ngan agama dan kepercayaannya, seperti pengertiannya terkandung dalam:

a. Pembukaan UUD 1945 aline ketiga, yang antara lain berbunyi:

“Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa .... “

Dari bunyi kalimat ini membuktikan bahwa negara Indonesia tidak menganut

paham maupun mengandung sifat sebagai negara sekuler. Sekaligus menunjukkan

bahwa negara Indonesia bukan merupakan negara agama, yaitu negara yang didiri-

kan atas landasan agama tertentu, melainkan sebagai negara yang didirikan atas

landasan Pancasila atau negara Pancasila.

b. Pasal 29 UUD 1945

1. Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa

2. Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya

Page 6: Makalah Sila Ke-1 Pancasila

masing-masing dan untuk beribadah menurut agamanya dan kepercayaannya.

Oleh karena itu di dalam negara Indonesia tidak boleh ada pertentangan da-

lam hal Ketuhanan Yang Maha Esa, dan sikap atau perbuatan yang anti terhadap Tu-

han Yang Maha Esa, anti agama. Sedangkan sebaliknya dengan paham Ketuhanan

Yang Maha Esa ini hendaknya diwujudkan dan dihidup suburkan kerukunan hidup

beragama, kehidupan yang penuh doleransi dalam batas-batas yang diizinkan oleh

atau menurut tuntunan agama masing-masing, agar terwujud ketentraman dan ke-

sejukan di dalam kehidupan beragama.

Untuk senantiasa memelihra dan mewujudkan 3 model kerukunan hidup yang

meliputi :

1. Kerukunan hidup antar umat seagama

2. Kerukunan hidup antar umat beragama

3. Kerukunan hidup antar umat beragama dan Pemerintah.

Tri kerukunan hidup tersebut merupakan salah satu faktor perekat kesatuan

bangsa. Di dalam memahami sila I Ketuhanan Yang Maha Esa, hendaknya para pe-

muka agama senantiasa berperan di depan dalam menganjurkan kepada pemeluk a-

gama masing-masing untuk menaati norma-norma kehidupan beragama yang dia-

nutnya.

Sebagai negara yang bermayoritas penduduk agama Islam, Pancasila sendiri

yang sebagai dasar negara Indonesia tidak bisa lepas dari pengaruh agama yang tertu-

ang dalam sila pertama yang berbunyi sila “Ketuhanan yang Maha Esa”. yang pada

awalnya berbunyi “… dengan kewajiban menjalankan syariat islam bagi

pemeluknya” yang sejak saat itu dikenal sebagai Piagam Jakarta.

Namun dua ormas Islam terbesar saat itu dan masih bertahan sampai sekarang

yaitu Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah menentang penerapan Piagam Jakarta

tersebut, karena dua ormas Islam tersebut menyadari bahwa jika penerapan syariat

Islam diterapkan secara tidak langsung namun pasti akan menjadikan Indonesia se-

bagai negara Islam dan secara “fair” hal tersebut dapat memojokkan umat beragama

lain. Yang lebih buruk lagi adalah dapat memicu disintegrasi bangsa terutama bagi

provinsi yang mayoritas beragama nonislam. Karena itulah sampai detik ini bunyi sila

Page 7: Makalah Sila Ke-1 Pancasila

pertama adalah “ketuhanan yang maha esa” yang berarti bahwa Pancasila mengakui

dan menyakralkan keberadaan Agama, tidak hanya Islam namun termasuk juga Kris-

ten, Katolik, Budha dan Hindu sebagai agama resmi negara pada saat itu.

1.1.3. Butir-Butir Pancasila Sila Pertama

Searah dengan perkembangan, sila Ketuhanan yang Maha Esa dapat dijabar-

kan dalam beberapa point penting atau biasa disebut dengan butir-butir Pancasila.

Diantaranya:

Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan ketaqwaanya kepada Tuhan

Yang Maha Esa.

Manusia Indonesia percaya dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai

dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan

yang adil dan beradab.

Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antra pemeluk

agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang

Maha Esa.

Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan

terhadap Tuhan Yang Maha Esa

Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang

menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah

sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing

Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha

Esa kepada orang lain.

Dari butir-butir tersebut dapat dipahami bahwa setiap rakyat Indonesia wajib

memeluk satu agama yang diyakini. Tidak ada pemaksaan dan saling toleransi antara

agama yang satu dengan agama yang lain.

1.2. RUMUSAN MASALAH

1.2.1. Kontroversi Pancasila Ditinjau Dari Sila Ketuhanan Yang Maha Esa

Page 8: Makalah Sila Ke-1 Pancasila

Sebagai dasar negara RI, Pancasila juga bukanlah perahan murni dari nilai-ni-

lai yang berkembang di masyarakat Indonesia. Karena ternyata, sila-sila dalam Pan-

casila, sama persis dengan asas Zionisme dan Freemasonry. Seperti Monoteisme (Ke-

tuhanan YME), Nasionalisme (Kebangsaan), Humanisme (Kemanusiaan yang adil

dan beradab), Demokrasi (Musyawarah), dan Sosialisme (Keadilan Sosial). Tegas-

nya, Bung Karno, Yamin, dan Soepomo mengadopsi (baca: memaksakan) asas Zionis

dan Freemasonry untuk diterapkan di Indonesia.

Selain alasan di atas, agama-agama yang berlaku di Indonesia tidak hanya Is-

lam, tetapi ada Kristen Protestan dan Katolik, Hindu, Budha, bahkan Konghucu. Ke-

semua agama itu, menganut paham atau konsep bertuhan banyak, bahkan pengikut a-

nimisme. Hanya agama Islam saja yang memiliki konsep Berketuhanan Yang Maha

Esa (Allahu Ahad).

Sejak awal, Pancasila agaknya tidak dimaksudkan sebagai alat pemersatu, a-

palagi untuk mengakomodir ke-Bhinekaan yang menjadi ciri bangsa Indonesia. Te-

tapi untuk menjegal peluang berlakunya Syari’at Islam. Para nasionalis sekuler, ter-

utama Non Muslim, hingga kini menjadikan Pancasila sebagai senjata ampuh untuk

menjegal Syariat Islam, meski konsep Ketuhanan yang terdapat dalam Pancasila ber-

beda dengan konsep bertuhan banyak yang mereka anut. Mereka lebih sibuk menye-

rimpung orang Islam yang mau menjalankan Syariat agamanya, ketimbang dengan

gigih memperjuangkan haknya dalam menjalankan ibadah dan menerapkan ketentuan

agamanya. Bagaimana toleransi bisa dibangun di atas konstruksi filsafat yang meng-

hasilkan anarkisme ideologi seperti ini?

Dalam memperingati hari lahir Pancasila, 4 Juni 2006, di Bandung, muncul

sejumlah tokoh nasional berupaya memperalat isu Pancasila untuk kepentingan zio-

nisme. Celakanya, mereka menggunakan cara yang tidak cerdas dan manipulatif. De-

ngan berlandaskan asas Bhineka Tunggal Ika, mereka memosisikan agama seolah-

olah perampas hak dan kemerdekaan bangsa Indonesia. Segala hal yang berkaitan

dengan agama dianggap membelenggu kebebasan. Kebencian pada agama, pada gi-

lirannya, menyebabkan parameter kebenaran porak-poranda, kemungkaran akhlak

Page 9: Makalah Sila Ke-1 Pancasila

merajalela. Kesyirikan, aliran sesat, dan perilaku menyesatkan membawa epidemi

kerusakan dan juga bencana.

Anehnya, peristiwa bencana gempa bumi yang menewaskan lebih dari 6000

jiwa di Jogjakata, 27 Mei 2006, malah yang disalahkan Islam dan umat Islam. Seo-

rang paranormal mengatakan,”Bencana gempa di Jogjakarta, terjadi akibat pendu-

kung RUU APP yang kian anarkis.” Lalu, pembakaran kantor Bupati Tuban, cap

jempol atau silang darah di Jatim, yang dilakukan anggota PKB dan PDIP, dan meny-

atroni aktivis FPI, Majelis Mujahidin, dan Hizbut Tahrir. Apakah bukan tindakan a-

narkis? Jangan lupa, Bupati Bantul, Idham Samawi, yang daerahnya paling banyak

korban gempa bumi berasal dari PDIP.

Tidak itu saja. Upaya penyeragaman budaya, maupun moral atas nama agama,

juga dikritik pedas. “Bhineka Tunggal Ika sebagai landasan awal bangsa Indonesia

harus dipertahankan. Masyarakat Indonesia beraneka ragam, sehingga tindakan

menyeragamkan budaya itu tidak dibenarkan,” kata Megawati. Penyeragaman yang

dimaksud, sebagaimana dikatakan Akbar Tanjung,”Keberagaman itu tidak dirusak

dengan memaksakan kehendak. Pihak yang merongrong Bhineka, adalah kekuatan-

kekuatan yang ingin menyeragamkan.”

Padahal, justru Bung Karno pula orang pertama yang mengkhianati Pancasila.

Dengan memaksakan kehendak, ia berusaha menyeragamkan ideologi, budaya, dan

seni. Ideologi NASAKOM (Nasionalisme, agama, dan komunis) dipaksakan berlaku

secara despotis. Demikian pula, seni yang boleh dipertunjukkan hanya seni gaya Le-

kra. Sementara yang berjiwa keagamaan dinyatakan sebagai musuh revolusi. Begitu

pun Soeharto, berusaha menyeragamkan ideologi melalui asas tunggal Pancasila.

Hasilnya, kehancuran.

1.2.2. Kasus Ahmadiyah

Dari berbagai aliran keagamaan Islam di Indonesia, Ahmadiyah merupakan

kasus yang paling kontroversional. Hal ini disebabkan oleh tiga faktor utama.

Yang pertama, dari sudut pandang hukum Islam, Ahmadiyah telah divonis

sebagai aliran sesat dan dinyatakan sebagai kelompok di luar Islam melalui fatwa

MUI, dan didukung kuat oleh kelompok Islam beraliran keras.

Page 10: Makalah Sila Ke-1 Pancasila

Kedua,munculnya sebagian aktivis kemanusiaan yang menganggap Ahmad-

iyah sebagai gerakan keagamaan yang melakukan tafsir keagamaan, yang meskipun

berbeda dan bertentangan dengan keyakinan Islam mainstream, tapi harus dihargai

sebagai bentuk keyakinan yang dijamin oleh konstitusi.

Ketiga, di satu sisi, Ahmadiyah merupakan organisasi yang sah dan resmi se-

cara hukum. Tapi di sisi lain, Ahmadiyah juga dianggap melanggar undang-undang

lain yang populer dengan pasal-pasal penodaan agama. Ketiga faktor inilah yang

saling berbenturan dan seakan masing-masing berusaha mendapatkan simpatik pu-

blik.

Puncak titik klimaksnya adalah pada tragedi Monas pada tanggal 1 Juli 2008,

dimana sekelompok orang yang mengatasnamakan diri mereka Komando Laskar Is-

lam, menyerang kelompok massa AKKBB (Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan

Beragama dan Berkeyakinan), yang berbaur dengan massa Ahmadiyah. Insiden ini

sempat menjadi Headline di beberapa media cetak maupun elektronik. Insiden ini

berujung pada ditangkapnya beberapa anggota FPI (Front Pembela Islam),yang

diyakini sebagai motor penggerak dalam penyerangan tersebut.

Dari segi keamanan sendiri, Ahmadiyah sebenarnya tidak bermasalah. Perso-

alan muncul justru dari penentang Ahmadiyah, yang cenderung bersikap anarkis, se-

hingga perhatian publik tidak hanya tertuju pada penyimpangan Ahmadiyah, tetapi

juga kosekuensi yang muncul akibat penentangan yang bersifat anarkis itu.

Page 11: Makalah Sila Ke-1 Pancasila

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. PEMAHAMAN DAN PELANGGARAN TERHADAP PANCA-

SILA

Ideologi Pancasila merupakan dasar negara yang mengakui dan mengagung-

kan keberadaan agama dalam pemerintahan. Sehingga kita sebagai warga negara In-

donesia tidak perlu meragukan konsistensi atas Ideologi Pancasila terhadap agama.

Tidak perlu berusaha mengganti ideologi Pancasila dengan ideologi berbasis agama

dengan alasan bahwa ideologi Pancasila bukan ideologi beragama. Ideologi Pancasila

adalah ideologi beragama.

Sesama umat beragama seharusnya kita saling tolong menolong. Tidak perlu

melakukan permusuhan ataupun diskriminasi terhadap umat yang berbeda agama,

berbeda keyakinan maupun berbeda adat istiadat.

Hanya karena merasa berasal dari agama mayoritas tidak seharusnya kita me-

rendahkan umat yang berbeda agama ataupun membuat aturan yang secara langsung

dan tidak langsung memaksakan aturan agama yang dianut atau standar agama terten-

tu kepada pemeluk agama lainya dengan dalih moralitas.

Hendaknya kita tidak menggunakan standar sebuah agama tertentu untuk dija-

dikan tolak ukur nilai moralitas bangsa Indonesia. Sesungguhnya tidak ada agama

yang salah dan mengajarkan permusuhan.

Sebuah kesalahan fatal bila menjadikan salah satu agama sebagai standar to-

lak ukur benar salah dan moralitas bangsa. Karena akan terjadi chaos dan timbul ge-

sekan antar agama. kalaupun penggunaan dasar agama haruslah mengakomodir stan-

dar dari Islam, Kristen, Katolik, Budha dan Hindu bukan berdasarkan salah satu aga-

ma entah agama mayoritas ataupun minoritas.

Page 12: Makalah Sila Ke-1 Pancasila

2.2. KASUS AHMADIYAH

2.2.1. Tinjauan Pustaka

Keyakinan warga Ahmadiyah bahwa Mirza Ghulam Ahmad mendapat status

kenabian merupakan persoalan kunci, yang memicu kontroversi dengan umat Islam

mainstream, bukan hanya di Indonesia, tapi juga di negara Muslim di dunia. Selain

itu, hasil pengalaman spiritual Mirza Ghulam Ahmad yang kemudian dikompilasi

oleh pengikutnya dalam buku ’Tadzkirah’, diposisikan sebagai ’kitab suci’.

Dalam rapat kerja nasional (RAKERNAS) 4-6 November 2007 Majelis Ula-

ma Indonesia menetapkan sepuluh kriteria aliran sesat, salah satunya adalah Meng-

ingkari salah satu dari rukun Iman dan rukun Islam. Juga apabila ada yang meleceh-

kan dan atau merendahkan Nabi dan Rasul.

Selain mengaku sebagai rasul, beberapa paham Amadilla yang dianggap sesat, antara

lain:

1. Pengakuan Mirza Ghulam Ahmad sebagai Tuhan. “Engkau dariku dan Aku

darimu, punggungmu hádala punggung-Ku” (Tadzkirah 700)

2. Sikap Mirza Ghulam Ahmad terhadap Muhammad SAW. “Sesungguhnya Nabi

saw memiliki tiga ribu mukjizat” (Kitab Tuhfan Kolrawiyah 67, RK 17/153). Dan

sesungguhnya mukjizatku lebih dari satu juta mukjizat.” (Tadzkirah asy-

Syahadatain 41, RK20/43)

3. Hujatan Mirza Ghulam Ahmad terhadap nabi Isa a.s. “Ya, dialah (Yesus Al-

Masih) yang terbiasa banyak memaki dan Sangay jelek akhlaknya.” (RK 11/289,

lampiran Injam Atiham 5 (foot note)).

4. Iuran wajib organisasi. “Candah (iuran) yang dinyatakan wajib oleh hazrat aqdas

masih mau’ud a.s. (Mirza Ghulam Ahmad, pen) lepada setiap ahmadi untuk

membayarnya dan siapa-siapa yang sampai tiga bulan berturut-turut tidak

membayar, dikatakan keluar dari jemaat beliau. Itu sama sekali lain dan terpisah

dari zakat”

5. Sakralisasi desa Qadian. “Sesungguhnya bumi Al-Qadian berhak untuk dihargai,

karena menyerang dia sama dengan menyerang tanah haram.” (Durr Tsami 52)

Page 13: Makalah Sila Ke-1 Pancasila

2.2.2. Analisis

Sila Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Esensinya adalah Tuhan. Berhu-

bungan dengan Agama. Bagaimana agama memandang Ahmadiyah?

1. Ahmadiyah bukan beda dalam masalah furu’ (khilafiyah) tapi sudah beda dalam

hal Aqidah. Sedangkan dalam hal Aqidah itu mutlak harus diikuti. Barangsiapa

yang berbeda, berarti dia telah murtad atau kafir.

2. Ahmadiyah tidak memiliki platform ajaran sendiri, tidak seperti agama lain yang

memiliki platform ajarannya masing-masing. Jadi lebih baik ahmadiyah

mendirikan agama sendiri, tanpa membawa-bawa Islam beserta segala

atributnya.

3. Kitab-kitab karangan Mirza Ghulam Ahmad beserta tadzkirahnya menyebutkan

bahwa setiap orang yang mengingkari kenabian Mirza Ghulam Ahmad (tidak

mengakuinya) dianggap KAFIR oleh kalangan Ahmadiyah. Jadi bagi setiap umat

Islam yang membela Ahmadiyah, pelajarilah dulu semuanya. Padahal jelas-jelas

mereka menganggap setiap orang yang tidak mengakui kenabian Mirza Ghulam

Ahmad dianggap KAFIR.

4. Setiap umat beragama yang mempelajari agamanya dengan baik dan benar, dia

akan merasakan nikmatnya beribadah dan menjalani ajaran agama tersebut. Dan

akan menjadi sakit sekali bila agamanya itu dinodai. jadi bila ada umat Islam

yang justru malah membela Ahmadiyah, berarti dia tidak mempelajari Islam

dengan baik dan benar (lihat juga poin-poin di atas).

5. Ahmadiyah juga telah membajak kitab suci Al-Qur’an. Tapi (juga) dibiarkan o-

leh pemerintah dan para aparatnya. Tapi bila lagu ‘Indonesia Raya’ dibajak atau

‘Indonesia’ dinodai langsung ditangkap dan ditindak tegas.

6. Dalam buku karangan nabi palsu tersebut juga ada yang isinya menghina Nabi

Isa a.s.

7. Mirza Ghulam Ahmad tidak hanya mengaku dirinya nabi, tapi juga mengaku di-

rinya itu malaikat, juga mengaku sebagai tuhan pencipta langit dan bumi (baca

tadzkirah).

Page 14: Makalah Sila Ke-1 Pancasila

Jadi sudah jelas bahwa Ahmadiyah itu tidak sesuai dengan ajaran agama

Islam yang telah diakui, tidak pantas menganggap diri-nya Islam. Wajar bila ba-nyak

umat Islam yang melakukan berbagai aksi. Ini karena agama mereka telah dinodai.

Dan juga dipandang dari Pancasila, Ahmadiyah jelas melanggar karena setiap

umat beragama yang mempelajari agamanya dengan baik dan benar, dia akan merasa-

kan nikmatnya beribadah dan menjalani ajaran agama tersebut. Dan akan menjadi sa-

kit sekali bila agamanya itu dinodai, seperti yang dijelaskan diatas. Hal ini berten-

tangan dengan Sila Ketuhanan Yang Maha Esa dan juga Sila Kemanusiaan Yang Adil

dan Beradab.

Page 15: Makalah Sila Ke-1 Pancasila

BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

3.1. KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat diambil kesimpulan yaitu :

1. Pancasila adalah ideologi yang sangat baik untuk diterapkan di negara Indonesia

yang terdiri dari berbagai macam agama, suku, ras dan bahasa karena Pancasila

mengakui adanya pluralitas.

2. Dengan mempertahankan ideologi Pancasila sebagai dasar negara, jika melak-

sanakannya dengan baik, maka perwujudan untuk menuju negara yang aman dan

sejahtera pasti akan terwujud.

3. Dalam memahami sila Ketuhanan Yang Maha Esa tak dapat dipisahkan dari ke-

empat sila lainnya.

4. Ditinjau dari Pancasila Sila Ketuhanan Yang Maha Esa kasus Ahmadiyah meru-

pakan suatu pelanggaran karena Pancasila mengajarkan kebebasan memeluk aga-

ma dan keyakinan masing-masing bukan kebebasan mengubah ajaran suatu aga-

ma yang dalam hal ini agama Islam.

3.2. SARAN

Berdasarkan pembahasan diatas, ada beberapa saran yang perlu untuk diper-

timbangkan untuk lebih meningkatkan pemahaman terhadap nilai Pancasila, yaitu :

1. Untuk semakin memperkokoh rasa bangga terhadap Pancasila, maka perlu ada-

nya peningkatan pengamalan butir-butir Pancasila khususnya sila ke-1. Salah

satunya dengan saling menghargai antar umat beragama.

2. Untuk menjadi sebuah negara Pancasila yang nyaman bagi rakyatnya, diperlukan

adanya jaminan keamanan dan kesejahteraan setiap masyarakat yang ada di da-

lamnya. Khususnya jaminan keamanan dalam melaksanakan kegiatan beribadah.

Page 16: Makalah Sila Ke-1 Pancasila

3. Pemerintah sebaiknya melakukan pendekatan yang persuasif untuk membawa

pengikut Ahmadiyah kembali pada koridor Islam.

4. Jika pengikut Ahmadiyah tetap bersikukuh dengan keyakinannya, sebaiknya me-

reka mendirikan agama baru tanpa membawa-bawa Islam beserta atributnya un-

tuk menghindari keresahan dan ketegangan di dalam masyarakat. Hal ini sesuai

dengan butir sila Ketuhanan Yang Maha Esa yaitu membina kerukunan hidup di

antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Page 17: Makalah Sila Ke-1 Pancasila

DAFTAR PUSTAKA

Kaelan, M.S. 2003. Pendidikan Pancasila. Yogyakarta : Paradigma.

http://jangkrik-muda.blog.friendster.com/

http://lasonearth.wordpress.com/makalah/makalah-pancasila-pancasila-vs-agama/

http://lets-belajar.blogspot.com/2007/09/sila-ketuhanan-yang-maha-esa.html