makalah uud 1945

23
MAKALAH UUD 1945 KEWARGANEGARAAN Oleh HADNALTIAS ALPEKI ; 03021381320028 HAIDIR ARDHI ; 03021381320030 IGA MAWARNI ; 03021381320026 INSYANIAH KHOIRIAH ; 03021281320008 JACKY RYANTO FERNANDES ; 03021281320018 M. ALFAJRI ; 03021381320062 JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN

Upload: hadnaltias-alpeki

Post on 28-Dec-2015

42 views

Category:

Documents


0 download

TRANSCRIPT

Page 1: MAKALAH UUD 1945

MAKALAH UUD 1945

KEWARGANEGARAAN

Oleh

HADNALTIAS ALPEKI ; 03021381320028

HAIDIR ARDHI ; 03021381320030

IGA MAWARNI ; 03021381320026

INSYANIAH KHOIRIAH ; 03021281320008

JACKY RYANTO FERNANDES ; 03021281320018

M. ALFAJRI ; 03021381320062

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Page 2: MAKALAH UUD 1945

Sejarah UUD 1945

Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI)

yang dibentuk pada tanggal 29 April 1945 adalah badan yang menyusun

rancangan UUD 1945. Pada masa sidang pertama yang berlangsung dari tanggal

28 Mei hingga 1 Juni 1945, Ir. Soekarno menyampaikan gagasan tentang "Dasar

Negara" yang diberi nama Pancasila. Pada tanggal 22 Juni 1945, 38 anggota

BPUPKI membentuk Panitia Sembilan yang terdiri dari 9 orang untuk

merancang Piagam Jakarta yang akan menjadi naskah Pembukaan UUD 1945.

Setelah dihilangkannya anak kalimat "dengan kewajiban menjalankan syariah

Islam bagi pemeluk-pemeluknya" maka naskah Piagam Jakarta menjadi naskah

Pembukaan UUD 1945 yang disahkan pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh Panitia

Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Pengesahan UUD 1945 dikukuhkan

oleh Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) yang bersidang pada tanggal 29

Agustus 1945. Naskah rancangan UUD 1945 Indonesia disusun pada masa Sidang

Kedua Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPKI). Nama Badan

ini tanpa kata "Indonesia" karena hanya diperuntukkan untuk tanah Jawa saja. Di

Sumatera ada BPUPKI untuk Sumatera. Masa Sidang Kedua tanggal 10-17

Juli 1945. Tanggal 18 Agustus 1945, PPKI mengesahkan UUD 1945 sebagai

Undang-Undang Dasar Republik Indonesia.

  Periode berlakunya UUD 1945 18 Agustus 1945- 27 Desember 1949

Dalam kurun waktu 1945-1950, UUD 1945 tidak dapat dilaksanakan sepenuhnya

karena Indonesia sedang disibukkan dengan perjuangan mempertahankan

kemerdekaan. Maklumat Wakil Presiden Nomor X pada tanggal 16

Oktober 1945 memutuskan bahwa KNIP diserahi kekuasaan legislatif, karena

MPR dan DPR belum terbentuk. Tanggal 14 November 1945 dibentuk Kabinet

Semi-Presidensiel ("Semi-Parlementer") yang pertama, sehingga peristiwa ini

merupakan perubahan sistem pemerintahan agar dianggap lebih demokratis.

  Periode berlakunya Konstitusi RIS 1949 27 Desember 1949 - 17 Agustus 1950

Page 3: MAKALAH UUD 1945

Pada masa ini sistem pemerintahan indonesia adalah parlementer.

bentuk pemerintahan dan bentuk negaranya federasi yaitu negara yang

didalamnya terdiri dari negara-negara bagian yang masing masing negara bagian

memiliki kedaulatan sendiri untuk mengurus urusan dalam negerinya.

  Periode UUDS 1950 17 Agustus 1950 - 5 Juli 1959

Pada periode UUDS 50 ini diberlakukan sistem Demokrasi Parlementer yang

sering disebut Demokrasi Liberal. Pada periode ini pula kabinet selalu silih

berganti, akibatnya pembangunan tidak berjalan lancar, masing-masing partai

lebih memperhatikan kepentingan partai atau golongannya. Setelah negara RI

dengan UUDS 1950 dan sistem Demokrasi Liberal yang dialami rakyat Indonesia

selama hampir 9 tahun, maka rakyat Indonesia sadar bahwa UUDS 1950 dengan

sistem Demokrasi Liberal tidak cocok, karena tidak sesuai dengan jiwa Pancasila

dan UUD 1945. Akhirnya Presiden menganggap bahwa keadaan ketatanegaraan

Indonesia membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa dan negara serta

merintangi pembangunan semesta berencana untuk mencapai masyarakat adil dan

makmur; sehingga pada tanggal 5 Juli 1959 mengumumkan dekrit mengenai

pembubaran Konstituante dan berlakunya kembali UUD 1945 serta tidak

berlakunya UUDS 1950

  Periode kembalinya ke UUD 1945 5 Juli 1959-1966

Karena situasi politik pada Sidang Konstituante 1959 dimana banyak saling tarik

ulur kepentingan partai politik sehingga gagal menghasilkan UUD baru, maka

pada tanggal 5 Juli 1959, Presiden Sukarno mengeluarkan Dekrit Presiden yang

salah satu isinya memberlakukan kembali UUD 1945 sebagai undang-undang

dasar, menggantikan Undang-Undang Dasar Sementara 1950 yang berlaku pada

waktu itu.

Pada masa ini, terdapat berbagai penyimpangan UUD 1945, di antaranya:

Page 4: MAKALAH UUD 1945

  Presiden mengangkat Ketua dan Wakil Ketua MPR/DPR dan MA serta Wakil

Ketua DPA menjadi Menteri Negara

  MPRS menetapkan Soekarno sebagai presiden seumur hidup

  Pemberontakan Partai Komunis Indonesia melalui Gerakan 30 September Partai

Komunis Indonesia

  Periode UUD 1945 masa orde baru 11 Maret 1966- 21 Mei 1998

Pada masa Orde Baru (1966-1998), Pemerintah menyatakan akan menjalankan

UUD 1945 dan Pancasila secara murni dan konsekuen.

Pada masa Orde Baru, UUD 1945 juga menjadi konstitusi yang sangat "sakral", di

antara melalui sejumlah peraturan:

  Ketetapan MPR Nomor I/MPR/1983 yang menyatakan bahwa MPR

berketetapan untuk mempertahankan UUD 1945, tidak berkehendak akan

melakukan perubahan terhadapnya

  Ketetapan MPR Nomor IV/MPR/1983 tentang Referendum yang antara lain

menyatakan bahwa bila MPR berkehendak mengubah UUD 1945, terlebih

dahulu harus minta pendapat rakyat melalui referendum.

  Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1985 tentang Referendum, yang merupakan

pelaksanaan TAP MPR Nomor IV/MPR/1983.

  Periode 21 Mei 1998- 19 Oktober 1999

Pada masa ini dikenal masa transisi. Yaitu masa sejak Presiden Soeharto

digantikan oleh B.J.Habibie sampai dengan lepasnya Provinsi Timor Timur dari

NKRI.

  Periode UUD 1945 Amandemen

Salah satu tuntutan Reformasi 1998 adalah dilakukannya perubahan (amandemen)

terhadap UUD 1945. Latar belakang tuntutan perubahan UUD 1945 antara lain

karena pada masa Orde Baru, kekuasaan tertinggi di tangan MPR (dan pada

kenyataannya bukan di tangan rakyat), kekuasaan yang sangat besar pada

Page 5: MAKALAH UUD 1945

Presiden, adanya pasal-pasal yang terlalu "luwes" (sehingga dapat menimbulkan

multitafsir), serta kenyataan rumusan UUD 1945 tentang semangat penyelenggara

negara yang belum cukup didukung ketentuan konstitusi.

PERUBAHAN UUD 1945

Salah satu keberhasilan yang dicapai oleh bangsa Indonesia pada masa

reformasi adalah reformasi konstitusional (constitutional reform). Reformasi

konstitusi dipandang merupakan kebutuhan dan agenda yang harus

dilakukan karena UUD 1945 sebelum perubahan dinilai tidak cukup untuk

mengatur dan mengarahkan penyelenggaraan negara sesuai harapan rakyat,

terbentuknya good governance, serta mendukung penegakan demokrasi dan hak

asasi manusia.

            Perubahan UUD 1945 dilakukan secara bertahap dan menjadi salah satu

agenda Sidang MPR dari 1999 hingga 2002. Perubahan pertama dilakukan dalam

Sidang UmumMPR Tahun 1999. Arah perubahan pertama UUD 1945 adalah

membatasi kekuasaan Presiden dan memperkuat kedudukan Dewan Perwakilan

Rakyat (DPR) sebagai lembaga legislatif.

Perubahan kedua dilakukan dalam sidang Tahunan MPR Tahun 2000.

Perubahan kedua menghasilkan rumusan perubahan pasal-pasal yang meliputi

masalah wilayah negara dan pembagian pemerintahan daerah, menyempumakan

perubahan pertama dalam hal memperkuat kedudukan DPR, dan ketentuan-

ketentuan terperinci tentang HAM.

Perubahan ketiga ditetapkan pada Sidang Tahunan MPR 2001.Perubahan

tahap inimengubah dan atau menambah ketentuan-ketentuan pasal tentang asas-

asas landasan bemegara, kelembagaan negara dan hubungan antarlembaga

negara, serta ketentuan-ketentuan tentang Pemilihan Umum. Sedangkan

perubahan keempat dilakukan dalam Sidang Tahunan MPR Tahun 2002.

Page 6: MAKALAH UUD 1945

Perubahan Keempat tersebut meliputi ketentuan tentangkelembagaan negara dan

hubungan antarlembaga negara, penghapusan Dewan Pertimbangan Agung

(DPA), pendidikan dan kebudayaan, perekonomian dan kesejahteraan sosial, dan

aturan peralihan serta aturan tambahan.

Empat tahap perubahan UUD 1945 tersebut meliputi hampir keseluruhan

materi UUD 1945. Naskah asli UUD 1945 berisi 71 butir ketentuan, sedangkan

perubahan yang dilakukan menghasilkan 199 butir ketentuan. Saat ini, dari 199

butir ketentuan yang ada dalam UUD 1945, hanya 25 (12%) butir ketentuan yang

tidak mengalami perubahan. Selebihnya, sebanyak 174 (88%) butir ketentuan

merupakan materi yang baru atau telah mengalami perubahan.

Dari sisi kualitatif, perubahan UUD 1945 bersifat sangat mendasar karena

mengubah prinsip kedaulatan rakyat yang semula dilaksanakan sepenuhnya oleh

MPR menjadi dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar. Hal itu

menyebabkan semua lembaga negara dalam UUD 1945 berkedudukan sederajat

dan melaksanakan kedaulatan rakyat dalam lingkup wewenangnya masing-

masing. Perubahan lain adalah dari kekuasaan Presiden yang sangat

besar (concentration of power and responsibility upon the President) menjadi

prinsip saling mengawasi dan mengimbangi (checks and balances). Prinsip-

prinsip tersebut menegaskan cita negara yang hendak dibangun, yaitu negara

hukum yang demokratis.

Setelah berhasil melakukan perubahan konstitusional, tahapan selanjutnya

yang harus dilakukan adalah pelaksanaan UUD 1945 yang telah diubah tersebut.

Pelaksanaan UUD 1945 harus dilakukan mulai dari konsolidasi norma hukum

hingga dalam praktik kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagai hukum

dasar, UUD 1945 harus menjadi acuan dasar sehingga benar-benar hidup dan

berkembang dalam penyelenggaraan negara dan kehidupan warga negara (the

living constitution).

Page 7: MAKALAH UUD 1945

Tujuan Perubahan UUD 1945

Tujuan perubahan UUD 1945 waktu itu adalah menyempurnakan aturan dasar

seperti tatanan negara, kedaulatan rakyat, HAM, pembagian kekuasaan, eksistensi

negara demokrasi dan negara hukum, serta hal-hal lain yang sesuai dengan

perkembangan aspirasi dan kebutuhan bangsa. Perubahan UUD 1945 dengan

kesepakatan di antaranya tidak mengubah Pembukaan UUD 1945, tetap

mempertahankan susunan kenegaraan (staat structuur) kesatuan atau selanjutnya

lebih dikenal sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta

mempertegas sistem pemerintahan presidensiil.

Analisis UUD 1945 Sebelum dan Sesudah Amandemen

Pasal 1 ayat 2

Sebelum Amandemen: Kedaulatan memang berada di tangan rakyat, tetapi

dilaksanakan sepenuhnya berada di tangan rakyat, sehingga kelemahan di sini

MPR dalam menjalankan kedaulatnnya tidak dibatasi oleh undang-undang

Sesudah Amandemen: Sesudah amandemen, kedaulatan masih berada di tangan

rakyat tetapi semuanya harus sesuai dengan undang-undang. Kelebihan dari

amandemen ayat ini adalah mengurangi kesewenang-wenangan penggunaan

kedaulatan oleh rakyat dan harus sesuai dengan undang-undang

Pasal 1 ayat 3

Sebelum Amandemen: (TIDAK ADA)

Sesudah Amandemen: Negara Indonesia mempertegas statusnya sebagai negara

hukum karena pada saat Orde Baru kekuasaan banyak diselewengkan dan

semuanya dikuasai oleh para ‘kerah-putih’ sehingga dengan di tambahkannya

pasal ini, maka semua orang Indonesia, tanpa melihat statusnya dalam berbuat

harus tetap dipertanggungjawabkan di depan hukum yang berlaku di Indonesia

Pasal 2 ayat 1

Page 8: MAKALAH UUD 1945

Sebelum Amandemen: Kelemahan dari ayat ini adalah anggota MPR yang berasal

dari golongan-golongan daerah bisa saja tidak sesuai dengan kualifikasi yang

diminta untuk duduk di kursi MPR

Sesudah Amandemen: Kelebihan dari amandemen ayat ini adalah anggota DPD

yang akan duduk di MPR haruslah melalui pemilihan umum sehingga bukan asal

pilih saja

Pasal 3 ayat 1

Sebelum Amandemen: MPR hanya berperan untuk menetapkan UUD dan GBHN.

Pengubahan UUD bukan menjadi hak MPR

Sesudah Amandemen: MPR bisa melakukan perubahan pada UUD, selain

menetapkannya. Apabila dipandang suatu pasal tidak sesuai dengan zaman, maka

MPR bisa melakukan perubahan sesuai dengan UU yang berlaku

Pasal 3 ayat 2

Sebelum Amandemen: (TIDAK ADA)

Sesudah Amandemen: MPR berwenang sebagai lembaga yang melantik presiden

dan wakil presiden saja, karena sebelumnya MPR juga memilih, mengangkat, dan

memberhentikan presiden dan wakil presiden

Pasal 3 ayat 3

Sebelum Amandemen: (TIDAK ADA)

Sesudah Amandemen: MPR hanya berwenang untuk memakzulkan presiden dan

wakil presiden berdasarkan UUD, dengan alasan presiden/wapres itu gagal dalam

melaksanakan pemerintahan. Mereka tidak berwenang untuk memilihnya

Pasal 5 ayat 1

Sebelum Amandemen: Presiden memiliki hak penuh untuk membentuk UU

dengan persetujuan DPR sehingga dengan demikian UU yang dibentuk itu pasti

bisa disahkan

Sesudah Amandemen: Presiden hanya berhak untuk membuat dan mengajukan

RUU kepada DPR untuk kemudian dibahas dan disahkan. Kelebihan dari

pengubahan ini adalah RUU yang sebelum dijadikan UU bisa dilakukan wacana

terlebih dahulu, apakah sesuai dengan kondisi yang ada di masyarakat

Page 9: MAKALAH UUD 1945

Pasal 6 ayat 1

Sebelum Amandemen: Latar belakang presiden Indonesia pada saat itu hanya

disebutkan harus orang Indonesia tanpa menjelaskan syarat yang lebih jelas

lainnya

Sesudah Amandemen: Sesudah amandemen latar belakang seorang presiden

semakin dipertegas dengan beberapa syarat, seperti harus mampu melaksanakan

tugas kepresidenan secara jasmani dan rohani

Pasal 6 ayat 2

Sebelum Amandemen: Presiden dipilih langsung oleh MPR dengan suara

terbanyak tanpa adanya campur tangan rakyat, sehingga rakyat tak pernah tahu

bagiamana sosok/figur yang akan menjadi pemimpin negara waktu itu

Sesudah Amandemen: Syarat-syarat untuk menjadi presiden dan wapres diatur

oleh UU sehingga sesuai dengan ketentuan  UU, maka dalam hal ini masyarakat

Indonesia berhak untuk memilih presiden serta wapres, tanpa ikut campur MPR

secara langsung

Pasal 6A ayat 1

Sebelum Amandemen: (TIDAK ADA)

Sesudah Amandemen: Di sini menegaskan tentang hak pilih rakyat dalam

pemilihan Presiden dan Wakil Presiden secara langsung, sehingga hal ini tentu

berbeda dengan masa Orde Baru saat era kepemimpinan mantan Presiden

Soeharto

Pasal 6A ayat 2

Sebelum Amandemen: (TIDAK ADA)

Sesudah Amandemen: Calon Presiden dan Wakilnya merupakan usulan dari satu

parpol ataupun gabungan beberapa parpol (koalisi) sebelum dilaksanakan

pemilihan umum

Pasal 6A ayat 3

Sebelum Amandemen: (TIDAK ADA)

Sesudah Amandemen: Ayat ini membahas mengenai syarat sah untuk menjadi

seorang Presiden dan Wakil Presiden berdasarkan jumlah suara yang diperolehnya

Page 10: MAKALAH UUD 1945

pada saat pemilu, yakni lebih dari 50% secara nasional dan lebih dari 20% di tiap

provinsi di Indonesia

Pasal 6A ayat 4

Sebelum Amandemen: (TIDAK ADA)

Sesudah Amandemen: Apabila dalam penghitungan ditemukan suara yang

terbanyak yang sama pada dua calon pasangan presiden dan wapresnya, maka

akan dilaksanakan pemilu ulang dengan calon para  pemenang suara pertama dan

kedua tersebut oleh rakyat secara langsung

Pasal 6A ayat 5

Sebelum Amandemen: (TIDAK ADA)

Sesudah Amandemen: Syarat-syarat untuk menjadi seorang Presiden dan Wakil

Presiden lebih lanjutnya akan diterangkan di undang-undang yang berlaku

Pasal 7

Sebelum Amandemen: Presiden memiliki hak untuk diangkat kembali sebagai

presiden  dalam jangka 5 tahun kepemerintahan dan selanjutnya bisa dipilih

kembali tanpa batas yang ada. Hal ini bisa saja membuat seorang Presiden untuk

mencalonkan dirinya berkali-kali atau selamanya

Sesudah Amandemen: Presiden memiliki hak kepemerintahan sebanyak dua kali

masa jabatan  yang masing-masing berjangka 5 tahun untuk dipilih oleh

masyarakat Indonesia secara langsung. Hal ini diharapkan bisa menghilangkan

kepemerintahan abadi

Pasal 7A

Sebelum Amandemen: (TIDAK ADA)

Sesudah Amandemen: MPR dengan usul DPR bisa saja memberhentikan jabatan

seorang Presiden maupun Wakil Presiden apabila dia terbukti telah melakukan

pengkhianatan terhadap negara, korupsi, penyuapan serta tindakan pidana berat

lainnya ataupun sudah tidak memenuhi syarat-syarat untuk menjadi seorang

Presiden ataupun Wakil Presiden lagi

Pasal 7B ayat 1

Sebelum Amandemen: (TIDAK ADA)

Page 11: MAKALAH UUD 1945

Sesudah Amandemen: Sebelum memberikan usulan kepada MPR untuk

memberhentikan seorang Presiden ataupun Wakil Presiden yang terbukti salah

melakukan tindakan semacam korupsi, penyuapan, dan semacamnya, maka DPR

terlebih dahulu mengajukan permintaan ke MK sebelum memutuskan apakah

Presiden atau Wapres tersebut terbukti melakukan tindakan tersebut

Pasal 7B ayat 2

Sebelum Amandemen: (TIDAK ADA)

Sesudah Amandemen: DPR memiliki fungsi pengawasan terhadap kinerja seorang

Presiden beserta Wakil Presidennya, dan apabila terbukti salah satunya ataupun

keduanya melakukan kesalahan, maka DPR telah menjalankan fungsi

pengawasannya

Pasal 7B ayat 3

Sebelum Amandemen: (TIDAK ADA)

Sesudah Amandemen: Sebelum mengajukan permintaan untuk memberhentikan

seorang presiden atau wapresnya yang terbukti melakukan kesalahan ke MK, DPR

haruslah melakukan sidang & mendapatkan suara paling tidak 2/3 dari anggotanya

dan anggota yang hadir dalam sidang paling tidak sebanyak 2/3 dari

keseluruhannya untuk bisa mengajukan permintaan pemberhentian presiden /

wapres

Pasal 7B ayat 4

Sebelum Amandemen: (TIDAK ADA)

Sesudah Amandemen: MK diberi waktu paling lambat 90 hari untuk memeriksa,

mengadili, dan memutus usulan DPR setelah MK menerima usulan permintaan

pemberhentian presiden atau wakilnya

Pasal 7B ayat 5

Sebelum Amandemen: (TIDAK ADA)

Sesudah Amandemen: Apabila MK telah menemukan bahwa usul yang

disampaikan DPR itu benar mengenai kesalahan-kesalahan yang dilakukan

presiden atau wakilnya dan menyetujuinya, maka DPR berhak untuk meneruskan

usul pemberhentian itu ke MPR

Page 12: MAKALAH UUD 1945

Pasal 7B ayat 6

Sebelum Amandemen: (TIDAK ADA)

Sesudah Amandemen: Setelah menerima persetujuan dari MK dan mendapat

tembusan dari DPR, maka MPR berhak menyelenggarakan sidang dan

memutuskannya paling lambat 30 hari setelah usul dari DPR tersebut diterima

MPR

Pasal 7B ayat 7

Sebelum Amandemen: (TIDAK ADA)

Sesudah Amandemen: Presiden atau wakil presiden yang terbukti bersalah akan

korupsi/suap/tindakan tercela lainnya diberi hak untuk menyampaikan

penjelasannya di sidang paripurna MPR sebelum MPR melakukan penghitungan

suara dari anggotanya dengan jumlah anggota yang hadir paling tidak ¾ dan

jumlah suara paling tidak sebanyak 2/3 dari yang hadir itu

Pasal 7C

Sebelum Amandemen: (TIDAK ADA)

Sesudah Amandemen: Presiden tidak meiliki hak untuk membekukan ataupun

membubarkan DPR karena DPR adalah lembaga wakil rakyat yang berfungsi utuk

melaksanakan fungsi pengawasannya terhadap kinerja pemerintah

Pasal 8 ayat 1

Sebelum Amandemen: Wakil presiden memiliki hak untuk menggantikan posisi

presiden apabila ada kondisi tertentu yang menghalanginya untuk berhenti

bertugas. Wakil presiden tersebut akan menggantikannya sampai habis

Sesudah Amandemen: Wakil Presiden berhak menggantikan posisi presiden

dalam menjalankan tugasnya sampai masa presiden yang mangkat itu habis,

bukannya sampai masa seumur hidup

Pasal 8 ayat 2

Sebelum Amandemen: (TIDAK ADA)

Sesudah Amandemen: Apabila terjadi kekosongan jabatan wakil presiden yang

disebabkan oleh sakit/meninggal dunia/sebab lainnya, maka MPR akan

Page 13: MAKALAH UUD 1945

menyelenggarakan rapat sidang untuk membahas dua calon wapres yang

sebelumnya diusulkan oleh presiden

Pasal 8 ayat 3

Sebelum Amandemen: (TIDAK ADA)

Sesudah Amandemen: Apabila terdapat keadaan di mana presiden & wakil

presiden secara bersama-sama tidak bisa melaksanakan kewajibannya, maka

pelaksana tugas kepresidenan yang terdiri dari Menteri Luar Negeri, Menteri

Dalam Negeri, dan Menteri Pertahanan berkewajiban melaksanakan tugas

kepresidenan untuk sementara. Sedangkan MPR diberi hak selambat-lambatnya

30 hari untuk melakukan sidang dalam penentuan Presiden dan Wakil Presiden

baru dengan calon yang diusulkan oleh dua partai politik yang menduduki posisi

dua dan tiga pada pemilihan umum sebelumnya. Calon Presiden dan Wakil

Presiden yang terpilih itu nantinya akan bekerja selama masa jabatan Presiden

yang berhalangan sebelumnya.

Pasal 9 ayat 1

Sebelum Amandemen: Presiden diterangkan dalam janjinya untuk menjalankan

peraturan dengan seluas-luasnya tanpa batas yang nyata. Sehingga, hal ini

membuat suatu kelemahan pada citra Presiden tanpa memandang rakyat

Sesudah Amandemen: Janji presiden sesudah amandemen berubah yang dicirikan

dengan Presiden menjalankan peraturan selurus-lurusnya dengan UU sehingga

diharapkan tidak terjadi penyelewengan kekuasaan

Pasal 9 ayat 2

Sebelum Amandemen: (TIDAK ADA)

Sesudah Amandemen: Sumpah yang diucapkan oleh Presiden dan wakilnya

haruslah disaksikan oleh MPR dihadapan MA, apabila MPR atau DPR tidak bisa

mengadakan sidang. Dengan demikian, kesaksian oleh mereka bisa dibenarkan

Pasal 11 ayat 2

Sebelum Amandemen: (TIDAK ADA)

Sesudah Amandemen: Dalam pembuatan perjanjian Internasional dengan negara

lain yang berdampak pada perekonomian rakyat, Presiden haruslah melakukan

perundingan/pembahasan dengan DPR

Page 14: MAKALAH UUD 1945

Pasal 11 ayat 3

Sebelum Amandemen: (TIDAK ADA)

Sesudah Amandemen: Segala ketentuan mengenai Perjanjian Internasional diatur

oleh Undang-Undang yang berlaku

Pasal 13 ayat 2

Sebelum Amandemen: Presiden berhak menerima duta dari negara lain tanpa

melalui pertimbangan siapapun

Sesudah Amandemen: Setelah diamandemen, ayat 2 mempertegas ayat pertama

dalam hal pengangkatan duta negara lain tapi harus melalui perundingan dengan

DPR

Pasal 13 ayat 3

Sebelum Amandemen: (TIDAK ADA)

Sesudah Amandemen: Amandemen pada ayat 3 lebih mempertegas ayat 2 namun

dengan perbedaan dalam penempatan duta negara lain yang perlu memperhatikan

usulan/melalui perundingan dengan DPR

Pasal 14 ayat 1

Sebelum Amandemen: Presiden berhak memberikan grasi, amnesti, abolisi, dan

rehabilitasi kepada siapapun yang dikehendakinya

Sesudah Amandemen: Pemberian grasi dan rehabilitasi oleh Presiden kepada

orang tertentu harus melalui pertimbangan Mahkamah Agung sehingga dengan

demikian Presiden tidak sewenang-wenang dalam memberikan grasi dan

semacamnya

Pasal 14 ayat 2

Sebelum Amandemen: Presiden berhak memberikan grasi, amnesti, abolisi, dan

rehabilitasi kepada siapapun yang dikehendakinya

Sesudah Amandemen: Pada ayat 2, pemberian amnesti dan abolisi oleh Presiden

harus melalui pertimbangan DPR, bukannya MA

Pasal 15

Page 15: MAKALAH UUD 1945

Sebelum Amandemen: Presiden berhak kapanpun dan sesuai dengan kemauannya

memberikan gelar, tanda jasa, dan tanda-tanda kehormatan kepada siapapun

Sesudah Amandemen: Sesudah amandemen, Presiden dalam memberikan gelar,

tanda jasa, dan tanda kehormatan kepada seseorang haruslah sesuai dengan

perundangan yang berlaku

Pasal 16 ayat 1

Sebelum Amandemen: Susunan Dewan Pertimbangan Agung ditetapkan sesuai

dengan perundangan yang berlaku di Indonesia

Pasal 16 ayat 2

Sebelum Amandemen: DPA berkewajiban memberikan jawab kepada Presiden

dan memajukan usul kepada pemerintah

Pasal 16 ayat 1 dan 2

Sesudah Amandemen: Sesudah amandemen, Presiden berhak mengangkat DPA

yang memiliki tugas untuk memberikan nasehat dan pertimbangan kepada

Presiden sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Dengan demikian,

pasal 16 ayat (1) dan (2) sesudah amandemen dilebur menjadi satu tapi dirubah

dalam hal konten

Pasal 17 ayat 2

Sebelum Amandemen: Presiden memiliki hak untuk mengangkat dan

memberhentikan menteri-menteri yang membantunya dalam bertugas

Sesudah Amandemen: Sesudah amandemen, tidak ada perubahan pada ayat 2 ini

secara kontekstual

Pasal 17 ayat 3

Sebelum Amandemen: Sebelum era reformasi, menteri-menteri bekerja

memimpin departemen pemerintahan

Sesudah Amandemen: Sesudah amandemen, para menteri membidangi dalam

urusan tertentu kepemerintahan

Pasal 17 ayat 4

Sebelum Amandemen: (TIDAK ADA)

Page 16: MAKALAH UUD 1945

Sesudah Amandemen: Pembentukan, pengubahan, dan pembubaran jajaran dalam

kementrian sesudah amandemen harus disesuaikan/diatur dalam undang-undang

yang berlaku. Bukan sepenuhnya ada di tangan Presiden

Pasal 18 ayat 1

Sebelum Amandemen: Pembagian daerah-daerah di Indonesia, baik besar ataupun

kecilnya tidak hanya didasarkan pada undang-undang yang berlaku di Indonesia

tetapi juga harus berdasarkan asas permusyawaratan yang berlaku pada sistem

pemerintahan yang ada. Selain itu hak-hak untuk membentuk daerah-daerah

istimewa di Indonesia, seperti Yogyakarta juga harus dipertimbangkan

Sesudah Amandemen: Ayat ini mempertegas struktur provinsi. Provinsi terdiri

dari kabupaten dan kota serta kesemuanya diatur dalam perundangan yang berlaku

Pasal 18 ayat 2

Sebelum Amandemen: (TIDAK ADA)

Sesudah Amandemen: Pemerintah daerah provinsi, kabupaten maupun kota

memiliki hak untuk mengurusi daerahnya sendiri menurut asas otonomi dan tugas

pembantuan

Pasal 18 ayat 3

Sebelum Amandemen: (TIDAK ADA)

Sesudah Amandemen: Di setiap pemerintahan daerah provinsi, kabupaten maupun

kota memiliki DPRD di tiap tingkatannya, tetapi para anggotanya harus dipilih

melaui pemilihan umum

Pasal 18 ayat 4

Sebelum Amandemen: (TIDAK ADA)

Sesudah Amandemen: Gubernur, Bupati, dan Walikota harus dipilih berdasarkan

pemilihan umum yang diselenggarakan di provinsi, kabupaten ataupun kota secara

demokratis sehingga peran serta masyarakat sangat menentukan dalam

pemilukada ini, selain pilpres

Pasal 18 ayat 5

Sebelum Amandemen: (TIDAK ADA)

Page 17: MAKALAH UUD 1945

Sesudah Amandemen: Pemda dapat menjalankan otonomi daerah seluas-luasnya,

semisal tambang yang berfungsi demi kemaslahatan penduduk di situ namun

masih dalam pengawasan pemerintah pusat dan juga pajak daerah. Namun, urusan

pusat bukanlah perhatian dari Pemda

Pasal 18 ayat 6

Sebelum Amandemen: (TIDAK ADA)

Sesudah Amandemen: Pemda bisa membuat peraturan daerahnya sendiri demi

kepentingan otonomi daerah dan tugas pembantuan. Peraturan lainnya juga

termasuk hak otonomi daerah. Semuanya berfungsi untuk memajukan

kesejahteraan penduduk di dalamnya

Pasal 18 ayat 7

Sebelum Amandemen: (TIDAK ADA)

Sesudah Amandemen: Penyelenggaraan pemerintah daerah untuk lebih lanjut

diatur dalam undang-undang, termasuk susunan dan tata cara penyelenggaraannya

Pasal 18A ayat 1

Sebelum Amandemen: (TIDAK ADA)

Sesudah Amandemen: Mengatur hubungan wewenang antara pemerintah pusat

dengan pemerintah daerah (Pemprov, Pemkab, Pemkot) yang sesuai dengan

undang-undang dengan memperhatikan kehususan dan keistimewaan yang

dimiliki oleh tiap daerah di Indonesia. Dengan demikian, tidak akan terjadi

kebebasan yang tidak bertanggungjawab di Pemda karena kesalahan pemahaman

otonomi daerah dan tidak adanya pemantauan dan kendali dari Pemerintah Pusat

Pasal 18A ayat 2

Sebelum Amandemen: (TIDAK ADA)

Sesudah Amandemen: Mengatur masalah pemanfaatan sumberdaya alam antara

pemerintah daerah dengan pemerintah pusat demi kepentingan bersama, meskipun

pemda diberikan hak otonomi untuk mengelola sumberdaya yang terkandung di

daerahnya masing-masing. Sumberdaya alam yang ada di Indonesia sendiri

dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat bersama, bukan hanya miliki suatu

daerah tertentu secara penuh

Page 18: MAKALAH UUD 1945

Pasal 18B ayat 1

Sebelum Amandemen: (TIDAK ADA)

Sesudah Amandemen: Satuan-satuan pemerintah daerah yang bersifat khusus

ataupun istimewa akan diakui oleh Pemerintah Pusat, seperti Satpol PP dan

Kepolisian Pamong Praja. Namun, semuanya juga harus diatur dengan Undang-

Undang yang berlaku

Pasal 18B ayat 2

Sebelum Amandemen: (TIDAK ADA)

Sesudah Amandemen: Adat istiadat yang berkembang di Indonesia, seperti

kesatuan masyarakat adat suku Bali, Kekeratonan Surakarta/Ngayogyakarta, dll

secara resmi mendapat pengakuan dari Negara, tetapi harus berdasarkan prinsip

yang berlaku di NKRI ini, dan yang terutama mengutamakan asas Ketuhanan.

Page 19: MAKALAH UUD 1945

Daftar Pustaka

Anonim. http://ryant.faa.im/makalah-uud-1945.xhtml. Diakses pada 19 Februari

2014.

Wijaya, Dimas, Utomo Thio, dkk. 2012. Analisis UUD 1945 Sebelum dan

Sesudah Amandemen Pasal I s/d I8b.

http://helmiairan.wordpress.com/2012/10/19/analisisuud1945. Diakses

pada 19 Februari 2014.