pengentasan kemiskinan berbasis teknologi dan .mengenal penyebab kemiskinan indonesia kebijakan...

Download PENGENTASAN KEMISKINAN BERBASIS TEKNOLOGI DAN .Mengenal Penyebab Kemiskinan Indonesia Kebijakan Pengentasan

Post on 15-Jul-2019

213 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • REZA BANGUN MAHARDIKA

    LIFE

    PENGENTASAN KEMISKINANBERBASIS TEKNOLOGI

    DAN INOVASI

  • REZA BANGUN MAHARDIKA

    PENGENTASAN KEMISKINANBERBASIS TEKNOLOGI

    DAN INOVASI

  • Pengentasan Kemiskinan Berbasis Teknologi dan Inovasi

    Penulis Reza Bangun Mahardhika

    Editor Reza Bangun Mahardhika

    Desain GrafisAhmad Nur Hasan

    Diterbitkan oleh Forbil Institute Hak Cipta dilindungi Undang-undang. Dilarang memperbanyak atau mengutip sebagian atau seluruh isi buku tanpa izin tertulis dari Forbil Institute.

    Cetakan Pertama Dicetak di Yogyakarta, Indonesia. ISBN 978-602-52952-4-9

    Forbil InstituteJl. Pandega Asih I, Perum Sari Asih I Blok B17, Condongcatur, Yogyakarta, Indonesia 55281

    Telp: +62 (274) 43662864Tel. Seluler: +62 81578011199Email: sekretariat@forbil.org

  • KATA PENGANTAR Kemiskinan merupakan permasalahan yang tiada habisnya. Data dari Badan Pusat Statisik menunjukan bahwa pada bulan Maret tahun 2018 mencapai 25,95 juta orang. Jumlah tersebut memang banyak, namun di sisi lain persentase penduduk miskin Indonesia hanya sebesar 9,82 persen dan merupakan persentase penduduk miskin terendah di dalam sejarah. Pemerintah tidak boleh berpuas diri, pasalnya Indonesia sedang mengalami perlambatan penurunan jumlah penduduk miskin. Pada tahun 2006, tingkat kemiskinan mencapai 17,8 persen dan turun 5,84 persen pada tahun 2012, sedangkan pada tahun 2012 sampai 2018, penurunan tingkat kemiskinan hanya mencapai 2 persen. Hal ini tentu menjadi pekerjaan rumah yang cukup menantang bagi pemerintah. Buku ini merupakan salah satu seri buku dari Forbil Institute. Buku Pengentasan Kemiskinan berbasis Teknologi dan Inovasi diharapkan dapat menjadi pengantar singkat untuk memahami kondisi kemiskinan di Indonesia. Buku ini juga memberikan pengantar singkat bagaimana peran dari teknologi untuk turut mengentaskan permasalahan kemiskinan dari Indonesia. Selamat menikmati!

    Dr. Nanang Pamuji MugasejatiDirektur Forbil Institute

    Pengentasan Kemiskinan Berbasis Teknologi dan InovasiReza Bangun Mahardika

    LIFE

    v

  • Kata PengantarDaftar IsiDaftar GrafikDaftar GambarLatar BelakangProfil Kemiskinan Indonesia Kemiskinan Sebelum dan Sesudah Krisis Sekilas Kemiskinan di Era Reformasi Mengenal Penyebab Kemiskinan Indonesia Kebijakan Pengentasan Kemiskinan di IndonesiaTeknologi sebagai Alat Anti-Kemiskinan Big Data untuk Melawan Kemiskinan Survei berbasis Teknologi Pemetaan Kemiskinan berbasis Big Data Potensi Pendidikan Jarak JauhKesimpulanDaftar PustakaProfil Penulis

    DAFTAR ISI

    vi

    DAFTAR GRAFIKGrafik 1. Garis Kemiskinan Indonesia 2015-2018 (Rupiah) Grafik 2. Persentase Penduduk Miskin Indonesia 2012-2018 (%)

    DAFTAR GAMBARGambar 1. Tahap-Tahap SWIFT

    Reza Bangun Mahardika

    Grafik 3. Persentase Penduduk Miskin berdasar Bank Dunia 2000-2016 (%)

    Pengentasan Kemiskinan Berbasis Teknologi dan Inovasi

    vivi122

    36

    10

    8

    1010

    vi

    43

    11

    v

    12131618

    22

    5

  • LATAR BELAKANG

    Pengentasan Kemiskinan Berbasis Teknologi dan InovasiReza Bangun Mahardika

    Secara keseluruhan, memang tingkat kemiskinan di Indonesia menunjukan penurunan. Bahkan pada Maret 2018, persentase penduduk miskin di Indonesia berhasil turun hingga menjadi satu digit atau sebesar 9,82 persen atau terendah di sepanjang sejarah. Bank Dunia (2017) mengatakan bahwa 80 persen penurunan kemiskinan tersebut didorong oleh pertumbuhan dibandingkan perubahan distribusi konsumsi Indonesia. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa terjadi perlambatan penurunan kemiskinan di Indonesia (Bank Dunia, 2017). Berdasarkan ukuran kemiskinan bank dunia, pada periode 2014-2016 persentase penduduk miskin berhasil menurun sekitar 0,7 persen per tahun, sedangkan pada periode 2009-2014, penurunan persentase penduduk miskin mencapai 2,1 persen per tahun (Bank Dunia, 2017).

    Perlambatan penurunan kemiskinan di Indonesia menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan. Teknologi industri 4.0 dapat memberikan peran dan menjadi instrumen pengentasan yang efektif. Era revolusi industri 4.0 adalah era penggunaan tren teknologi canggih seperti kecerdasan buatan, big data, wearables (AR/VR), cloud computing, Internet of Things (IoT), dan robotika canggih. Berbagai teknologi tersebut dapat dimanfaatkan Indonesia untuk membantu dalam pengentasan kemiskinan. Buku ini bertujuan untuk memberikan berbagai alternatif penggunaan teknologi industri 4.0 untuk mengentaskan kemiskinan di Indonesia.

    1

  • Reza Bangun MahardikaPengentasan Kemiskinan Berbasis Teknologi dan Inovasi

    2

    PROFIL KEMISKINAN INDONESIAKemiskinan Sebelum dan Sesudah Krisis

    Pada periode Orde Baru, tingkat kemiskinan turun secara drastis. Di tahun 1970, 60 persen penduduk Indonesia dikategorikan miskin dan jumlah tersebut turun hingga mencapai 11 persen di tahun 1996, satu tahun sebelum krisis keuangan Asia (Boediono, 2017). Di tahun 1998, mendekati akhir krisis, tingkat kemiskinan di Indonesia meningkat drastis, hingga 24 persen, sebagai dampak dari penurunan PDB hingga 13 persen, pemecatan tenaga kerja dan kenaikan harga pangan yang mencapai dua kali lipat. Setelah krisis keuangan asia, penurunan tingkat kemiskinan di Indonesia menjadi lebih pelan. Terdapat hipotesis bahwa setelah krisis Asia, Indonesia mengalami penurunan elastisitas pertumbuhan ekonomi terhadap kemiskinan. Artinya, terdapat penurunan hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan tingkat penurunan kemiskinan (Sumarto et al, 2012). Sejak krisis, setiap pertumbuhan ekonomi memang turut menurunkan jumlah penduduk miskin, namun penduduk yang tidak berada di kategori miskin menerima manfaat yang lebih banyak dibanding penduduk miskin (Boediono, 2017). Hal tersebut terjadi karena terdapat perubahan dari sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia

    Pada periode sebelum krisis, pertumbuhan ekonomi didorong oleh ekspansi dari sektor labor-intensive dan industri yang berorientasi ekspor (Sumarto et al, 2012). Namun, periode setelah krisis menunjukan bahwa sektor ekonomi yang tumbuh adalah sektor capital-intensive seperti pertambangan dan telekomunikasi (Sumarto et al, 2012). Sektor tersebut menyerap tenaga kerja yang lebih sedikit dibanding sektor lainnya, sehingga kesempatan bekerja untuk orang yang miskin menjadi lebih sedikit ditengah kegiatan ekonomi yang meningkat (Sumarto et al, 2012). Pada periode setelah krisis pertumbuhan justru didorong oleh ekspor beberapa komoditas primer seprti produk mineral dan minyak dan gas serta produk perkebunan (Boediono, 2017). Berbagai komoditas tersebut cenderung kurang labour-intensive.

    Pertumbuhan ekonomi yang tinggi di masa sebelum krisis keuangan Asia berdampak pada penurunan jumlah penduduk miskin secara masif dan meningkatkan tingkat kesejahteraan seperti kenaikan angka partisipasi sekolah dan meningkatnya angka harapan hidup. Krisis yang menimpa Indonesia di tahun 1997 dan 1998 membalikkan semua keadaan tersebut. Pada periode sebelum krisis (1976-1996), tingkat kemiskinan turun dari 40,11 persen menjadi 11,3 persen. Penurunan penduduk miskin mencapai 28,8 persen selama 20 tahun atau rata-rata 1,44 persen pertahun (Sumarto et al, 2012).

  • Pengentasan Kemiskinan Berbasis Teknologi dan InovasiReza Bangun Mahardika

    Indikator yang digunakan untuk mengukur ketimpangan adalah koefisien gini. Pada masa orde baru, nilai dari koefisien gini cenderung lebih stabil dan berkisar diantara 0,32-0,33 (Boediono, 2017). Pada tahun 1996, tahun sebelum krisis, nilai dari koefisien gini meningkat menjadi 0,36. Pada periode krisis, tren dari koefisien gini menunjukan penurunan dimana nilai dari koefisien gini turun menjadi 0,30. Hal tersebut menunjukan bahwa pada periode krisis, pengeluaran konsumsi dari seluruh lapisan masyarakat miskin maupun tidak miskin menunjukan penurunan (Boediono, 2017). Namun, kelompok masyarakat yang berada di kelas pendapatan tinggi mengalami penurunan yang paling besar dibanding kelompok lainnya.

    3

    Sekilas Kemiskinan di Era Reformasi

    Apa yang dimaksud dengan kemiskinan? Badan Pusat Statistik (BPS) mengukur kemiskinan dengan menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar. Dengan pendekatan ini, kemiskinan diukur sebagai ketidakmpapuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Penduduk dikategorikan miskin jika rata-rata pengeluaran perkapita perbulan dibawah garis kemiskinan. Berikut adalah data dari garis kemiskinan secara nasional.

    Grafik 1. Garis Kemiskinan Indonesia 2015-2018 (Rupiah)

    Sumber: Badan Pusat Statistik, 2018

    350000300000

    200000250000

    150000100000

    050000

    Perkotaan Pedesaan Nasional

    242241 251943 260459 264941274544 283964 294806

    Sem

    este

    r 1 (M

    aret

    )

    Sem

    este

    r 2 (S

    epte

    mbe

    r)

    Sem

    este

    r 1 (M

    aret

    )

    Sem

    este

    r 2 (S

    epte

    mbe

    r)

    Sem

    este

    r 1 (M

    aret

    )

    Sem

    este

    r 2 (S

    epte

    mbe

    r)

    Sem

    este

    r 1 (M

    aret

    )

    2015 2016 2017 2018

  • Data diatas menunjukan bahwa pada periode 2015 sampai 2017, garis kemiskinan di pedesaan lebih tinggi dibanding perkotaan. Sebagai contoh, pada Maret 2017, nilai dari garis kemiskinan di perkotaan sebesar 270.856 rupiah, sedangkan di pedesaan lebih tinggi 8000 rupiah atau sebesar 278.277 rupiah. Hal tersebut menunjukan bahwa masyarakat desa harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun, pada maret 2018, nilai dari garis kemiskinan antara perkotaan, pedesaan dan nasional cenderung lebih merata, bahkan garis kemiskinan di perkotaan lebih tinggi dibandingkan pedesaan. Pada maret 201

Recommended

View more >