revitalisasi nilai-nilai pancasila melalui …

of 14 /14
Pendahuluan Salah satu wacana yang dominan dalam studi globalisasi adalah hipotesis ten- tang “homogenitas budaya” (Hannerz, 1991: 250). Untuk itu menurut Jenkins (2004: 115) diperlukan peran kearifan lokal yang secara kritis mengubah dan membentuk budaya global menjadi bermakna dan sesuai dengan kehidupan sosial budaya lokal. Menurut Ti- laar (2007:15) etnisitas, identitas budaya, kepemilikan dan kebanggaan terhadap bu- daya sendiri dalam kehidupan bersama meru- pakan ”political nation-state”. Kesadaran seperti itu hanya dapat dicapai melalui proses pendidikan dan komunikasi dalam kehidupan bersama sebagai suatu bangsa. Dalam praktiknya, penyelenggaraan pendidikan telah mengalami degradasi yang cukup mengkawatirkan dan nilai-nilai keari- fan lokal telah tergerus oleh arus pendidikan global. Kondisi seperti ini berakibat meni- pisnya tatakrama, etika, dan kreativitas anak bangsa. Dunia pendidikan dianggap tidak REVITALISASI NILAI-NILAI PANCASILA MELALUI PEMBELAJARAN PKn BERBASIS KEARIFAN LOKAL UNTUK PENGUATAN KARAKTER DAN JATI DIRI BANGSA Bambang Sumardjoko Guru Besar Program Studi PKn FKIP UMS Jalan A. Yani, Tromol Pos 1, Pabelan, Kartasura, Surakarta 57102 (email: [email protected]) Abstract: General purpose of the research is to find and develop Pkn learning model at Junior High School bases local wise for revitalization pancasila values strategy to strength character and self characteristic country. This research is for two years. The first year, the research is qualitative research. Collecting data technique are interview, attentively method and observation. Analysis data uses interactive method. Focus prob- lem reviews and planning draft model uses qualitative approach with pathways: (1) lit- erature study, collecting materials support relationship Pkn learning model, (2) field data colleting and triangulation data descript PKn learning model at Junior High School implementation, (3) SWOT analysis constructs draft model, and (4) refining design mod- el (tentative) by workshop participation-collaborative. Result of the research shows (1) Profile background PKn teachers at Junior High School of Surakarta are PKn education and they have experience teach a long time. (2) PKn teachers have experience in scien- tific activities in local or national so understanding PKn teachers Junior High School of Surakarta about the primary and purpose of citizenship education is enough good. (3) To development PKn learning is powerfull it needs revision to PKn material, the primary about (a) integration local culture value and (b) strategy and learning method support mastery competent PKn and education value. (4) According SWOT analysis, draft de- velops PKn model in Junior High School bases local wise for revitalization strategy Pancasila values to strength character and self characteristic of country with (a) wise integration local java culture source from core value esteem, social problem solving, study with social interaction and study with interaction social-culture, (c) implementa- tion draft model with problem based learning model, project based learning and value classification. Keywords: model, revitalization, Pancasila, local wise, PKn, character 2 110

Upload: others

Post on 02-Oct-2021

15 views

Category:

Documents


0 download

TRANSCRIPT

Page 1: REVITALISASI NILAI-NILAI PANCASILA MELALUI …

Pendahuluan

Salah satu wacana yang dominan dalam studi globalisasi adalah hipotesis ten-tang “homogenitas budaya” (Hannerz, 1991: 250). Untuk itu menurut Jenkins (2004: 115) diperlukan peran kearifan lokal yang secara kritis mengubah dan membentuk budaya global menjadi bermakna dan sesuai dengan kehidupan sosial budaya lokal. Menurut Ti-laar (2007:15) etnisitas, identitas budaya, kepemilikan dan kebanggaan terhadap bu-

daya sendiri dalam kehidupan bersama meru-pakan ”political nation-state”. Kesadaran seperti itu hanya dapat dicapai melalui proses pendidikan dan komunikasi dalam kehidupan bersama sebagai suatu bangsa.

Dalam praktiknya, penyelenggaraan pendidikan telah mengalami degradasi yang cukup mengkawatirkan dan nilai-nilai keari-fan lokal telah tergerus oleh arus pendidikan global. Kondisi seperti ini berakibat meni-pisnya tatakrama, etika, dan kreativitas anak bangsa. Dunia pendidikan dianggap tidak

REVITALISASI NILAI-NILAI PANCASILA MELALUI PEMBELAJARAN PKn BERBASIS KEARIFAN LOKAL

UNTUK PENGUATAN KARAKTER DAN JATI DIRI BANGSA

Bambang SumardjokoGuru Besar Program Studi PKn FKIP UMS

Jalan A. Yani, Tromol Pos 1, Pabelan, Kartasura, Surakarta 57102 (email: [email protected])

Abstract: General purpose of the research is to find and develop Pkn learning model at Junior High School bases local wise for revitalization pancasila values strategy to strength character and self characteristic country. This research is for two years. The first year, the research is qualitative research. Collecting data technique are interview, attentively method and observation. Analysis data uses interactive method. Focus prob-lem reviews and planning draft model uses qualitative approach with pathways: (1) lit-erature study, collecting materials support relationship Pkn learning model, (2) field data colleting and triangulation data descript PKn learning model at Junior High School implementation, (3) SWOT analysis constructs draft model, and (4) refining design mod-el (tentative) by workshop participation-collaborative. Result of the research shows (1) Profile background PKn teachers at Junior High School of Surakarta are PKn education and they have experience teach a long time. (2) PKn teachers have experience in scien-tific activities in local or national so understanding PKn teachers Junior High School of Surakarta about the primary and purpose of citizenship education is enough good. (3) To development PKn learning is powerfull it needs revision to PKn material, the primary about (a) integration local culture value and (b) strategy and learning method support mastery competent PKn and education value. (4) According SWOT analysis, draft de-velops PKn model in Junior High School bases local wise for revitalization strategy Pancasila values to strength character and self characteristic of country with (a) wise integration local java culture source from core value esteem, social problem solving, study with social interaction and study with interaction social-culture, (c) implementa-tion draft model with problem based learning model, project based learning and value classification.

Keywords: model, revitalization, Pancasila, local wise, PKn, character

2

110

Page 2: REVITALISASI NILAI-NILAI PANCASILA MELALUI …

111

mampu melahirkan lulusan yang berkuali-tas, yakni manusia Indonesia seutuhnya se-bagaimana yang diamanatkan dalam Un-dang-undang Sistem Pendidikan Nasional. Merosotnya nilai-nilai moralitas dalam tata kehidupan kolektif sebagai bangsa juga dise-babkan karena mengendornya pemahaman dan implementasi nilai-nilai luhur Pancasila. Padahal kesadaran kolektif seperti itu meru-pakan modal dasar dan modal sosial serta merupakan character and nation building guna memperkokoh integrasi bangsa.

Pasal 3, Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 menyatakan bahwa “pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemam-puan dan membentuk watak serta perada-ban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta di-dik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, be-rakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Salah satu instrumen pelaksana pendidikan nasion-al untuk mencapai tujuan pendidikan adalah Pendidikan Kewarganegaraan (PKn).

Di Indonesia kerangka sistemik Pendi-dikan Kewarganegaraan dibangun atas dasar paradigma bahwa PKn secara kurikuler diran-cang sebagai subjek pembelajaran yang ber-tujuan mengembangkan potensi individu agar menjadi warga negara Indonesia yang bera-khlak mulia, cerdas, partisipatif, dan bertang-gung jawab. Secara teoretik, PKn dirancang sebagai subjek pembelajaran yang memuat dimensi-dimensi kognitif, afektif, dan psiko-motorik yang bersifat konfluen atau saling berpenetrasi dan terintegrasi dalam konteks substansi ide, nilai, konsep, dan moral Pan-casila, kewarganegaraan yang demokratis, dan bela negara. Secara programatik, PKn dirancang sebagai subjek pembelajaran yang menekankan pada isi yang mengusung nilai-nilai (content embedding values) dan penga-

laman belajar (learning experiences) dalam bentuk berbagai perilaku yang perlu diwujud-kan dalam kehidupan sehari-hari (Budiman-syah, 2012: 24).

PKn mempunyai misi sebagai pendi-dikan nilai Pancasila dan Pendidikan Ke-warganegaraan serta sebagai “subject-specif-ic paedagogy” (pembelajaran materi subjek) bagi guru PKn. Dengan demikian pembe-lajaran Pendidikan Kewarganegaraan juga merupakan upaya menjaga dan melestarikan Pancasila secara preventif, yakni melakukan usaha meningkatkan pengertian, pemaha-man, penghayatan dan pengamalannya me-lalui pendidikan, penerangan, pembinaan kesadaran nasional, pembinaan kesadaran wawasan nusantara dan usaha-usaha pence-gahan lainnya. PKn di tingkat persekolahan bertujuan untuk mempersiapkan para peserta didik sebagai warga negara yang cerdas dan baik (to be smart dan good citizen). Warga negara yang dimaksud adalah warga negara yang menguasai pengetahuan (knowledge), keterampilan (skills), sikap dan nilai (atti-tudes and values) yang dapat dimanfaatkan untuk menumbuhkan rasa kebangsaan dan cinta tanah air.

Kajian tentang Pendidikan Kewargane-garaan untuk membentuk warga Negara yang baik selalu menimbulkan kerumitan, karena pertama, pendidikan kewarganegaraan se-lalu bersentuhan dengan kepentingan politik kenegaraan sehingga rentan untuk dimanfaat-kan sebagai alat mempertahankan kepenti-ngan kekuasaan suatu rezim politik. Kedua, konsep kewarganegaraan berkaitan dengan, atribut “baik” dari seorang warga negara juga berarti mengandaikan perlunya wilayah ka-jian etika (filsafat moral) kenegaraan. Ketiga, pendidikan kewarganegaraan tidak hanya mengajarkan hak-hak dan kewajiban warga negara terhadap negara (good citizen) tetapi juga membangun seorang warga negara yang berpartisipasi aktif (active citizen).

Kemudian realitas di lapangan

Revitalisasi Nilai-Nilai Pancasila Melalui Pembelajaran...

Page 3: REVITALISASI NILAI-NILAI PANCASILA MELALUI …

112 Varia Pendidikan, Vol. 25. No. 2, Desember 2013

menunjukkan adanya gejala keinginan untuk menolak pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang semata-mata me-nampilkan nilai moral. Di sisi lain Pendidi-kan Kewarganegaraan dianggap kehilangan karakteristik akademisnya karena tidak ter-dapatnya teori-teori keilmuan yang cukup memadai. Model pembelajaran PKn dini-lai lebih menekankan kepentingan rezim politik dengan materi yang tidak menarik dan formalistik. Proses pembelajaran tidak mendorong kemampuan siswa untuk ber-pikir kritis dan kreatif. Hal ini disebabkan karena (1) materi yang diajarkan cenderung verbalistik atas nilai-nilai moral Pancasila sebagai civic virtues, (2) model pembe-lajarannya cenderung berbentuk hafalan kognitif sehingga menimbulkan kejenuhan karena materi yang diajarkan cenderung monoton, teoretik, kognitif bahkan verbal-istik (Samsuri, 2010: 130). Untuk itu perlu dikembangkan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang sesuai dengan tun-tutan dan kebutuhan pembangunan karakter bangsa, suatu pembelajaran yang mampu merealisasikan tujuan akhir dari pendidi-kan kewarganegaraan.

Dalam pembelajaran PKn para peserta didik perlu dikondisikan untuk selalu bersikap kritis dan berperilaku kreatif sebagai anggota keluarga, warga sekolah, masyarakat, warga negara, dan umat manusia di lingkungannya secara cerdas dan baik. Proses pembelajaran-nya perlu diorganisasikan dalam bentuk bela-jar sambil berbuat (learning by doing), belajar memecahkan masalah sosial (social problem solving learning), belajar melalui perlibatan sosial (socio-participatory learning), dan belajar melalui interaksi sosial-kultural se-suai dengan konteks kehidupan masyarakat. Dengan demikian maka perlu dilakukan re-vitalisasi nilai-nilai Pancasila melalui model pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan berbasis kearifan lokal untuk penguatan ka-rakter dan jati diri Bangsa.

Secara kebahasaan, revitalisasi berarti proses, cara atau tindakan untuk memvital-kan (menganggap penting) kembali. Revi-talisai diartikan sebagai peninjauan ulang mengenai suatu hal untuk ditata, digarap, dan disesuaikan agar lebih bermanfaat dalam arti luas. Konsep revitalisasi menyarankan perlu-nya bukti-bukti yang mendorong revitalisasi tidak ditentukan secara individual karena masing-masing dari dorongan mereka mem-perkuat dan berpengaruh satu sama lain. Un-tuk memenuhi dorongan tersebut diperlukan kriteria yang memperkuat dalam menentukan warisan budaya yang seharusnya direvita-lisasi, yang didasarkan pada filosofi, keper-cayaan, sosio-budaya, dan latar kesejarahan yang ditandai pada tradisi yang harmonis, teratur dengan kondisi lingkungan dan kein-dahan. Untuk masing-masing kriteria itu se-lalu berubah menurut persepsi masyarakat-nya. Jika kriteria warisan budaya ini dapat dikelompokkan menurut posisi, makna, dan skala peranan maupun proses pemantapan-nya maka prioritas revitalisasi menjadi lebih mudah dilakukan.

Revitalisasi adalah upaya untuk mem-vitalkan kembali suatu kawasan atau ba-gian kota yang dulunya pernah vital/hidup tetapi kemudian mengalami kemunduran/ degradasi. Skala revitalisasi terbagi menjadi tingkatan makro dan mikro. Proses revita-lisasi sebuah kawasan mencakup perbaikan aspek fisik, aspek ekonomi dan aspek sosial. Pendekatan revitalisasi harus mampu me-ngenali dan memanfaatkan potensi lingku-ngan (sejarah, makna, keunikan lokasi dan citra tempat). Menurut Hasan (2001), revi-talisasi bertujuan untuk 1) menghidupkan kembali kawasan pusat kota yang memudar atau menurun kualitas lingkungannya, 2) meningkatkan nilai ekonomis kawasan yang strategis, 3) merangsang pertumbuhan dae-rah sekitarnya, 4) mendorong peningkatan ekonomi lokal dari dunia usaha dan masyara-kat, 5) memperkuat identitas kawasan, dan 6)

Page 4: REVITALISASI NILAI-NILAI PANCASILA MELALUI …

113Revitalisasi Nilai-Nilai Pancasila Melalui Pembelajaran...

mendukung pembentukan citra kota. Revitalisasi sendiri bukan sesuatu yang

hanya berorientasi pada penyelesaian kein-dahan fisik tetapi harus dilengkapi dengan peningkatan ekonomi masyarakatnya serta pengenalan budaya yang ada. Untuk melak-sanakan revitalisasi perlu adanya keterli-batan masyarakat. Revitalisasi berarti men-jadikan sesuatu atau perbuatan menjadi vital. Kata vital mempunyai arti sangat penting atau perlu sekali (untuk kehidupan dan se-bagainya). Dengan demikian, revitalisasi pada hakikatnya adalah membangkitkan kem-bali vitalitas atau usaha-usaha untuk men-jadikan sesuatu itu menjadi penting dan perlu sekali. Revitalisasi pada hakikatnya adalah suatu upaya membuat sesuatu (bu-daya) de ngan meninjau ulang akan kekuran-gannya untuk disesuaikan dengan kondisi za-man dalam upaya memenuhi kebutuhan yang lebih bermanfaat.

Kemudian, bagaimana dengan nilai-nilai Pancasila. Bagi bangsa Indonesia, Pan-casila pada hakikatnya adalah dasar Negara (filsafat negara) sekaligus pandangan hidup (filsafat hidup) bangsa. Memahami hakikat Pancasila berarti memahami makna pokok dari nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kedua kedudukan dan fungsi tersebut bersifat hakiki. Karena itu, berbagai kedudukan dan fungsi Pancasila yang lain, seperti sebagai jiwa dan kepriba-dian bangsa, ideologi nasional, perjanjian luhur, tujuan bangsa, termasuk sebagai norma dasar dan kriteria dasar watak/ kepribadian manusia Indonesia semuanya dapat dikemba-likan pada sifat hakiki tersebut. Berdasarkan kedudukan nilai Pancasila yang hakiki itu la-hir berbagai nilai dan fungsi Pancasila yang melandasi tata kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Secara material, rumusan Pancasila memuat nilai-nilai manusiawi sedangkan se-bagai dasar Negara, Pancasila memiliki ciri khas yang hanya dimiliki bangsa Indonesia.

Atas dasar itu maka keberadaan Pancasila pada hakekatnya adalah nilai-nilai yang ber-harga, yang memuat nilai-nilai dasar manu-siawi dan nilai-nilai kodrati yang melekat pada setiap individu manusia diterima oleh Bangsa Indonesia.

Bangsa Indonesia mewarisi nilai-ni-lai budaya dari nenek moyangnya. Hingga kini, nilai-nilai budaya tersebut melandasi tata kehidupan masyarakat Indonesia. Sari dan puncak sosio-budaya masyarakat Indo-nesia adalah nilai-nilai yang melandasi tata kehidupan masyarakat yang disebut sebagai pandangan hidup. Karena itu, nilai-nilai Pan-casila tampak dari dalam kehidupan sosio-budaya bangsa Indonesia, seperti adanya (a) Keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sebagai Maha Pencipta dan Pengayom alam semesta; (b) Asas kekeluargaan, cinta ke-bersamaan sebagai satu keluarga, ayah, ibu, dan anak-anak. Cinta dan kekeluargaan ini menjadi dasar terbentuknya masyarakat; (c) Asas musyawarah mufakat. Kebersamaan merupakan kumpulan banyak pribadi, war-ga, dan keluarga. Agar mereka tetap rukun dan bersatu, maka keputusan ditetapkan atas dasar musyawarah mufakat; (d) Asas gotong royong. Keputusan yang ditetapkan atas asas musyawarah mufakat untuk kebersamaan adalah tanggung jawab bersama. Jadi dilak-sanakan bersama secara gotong royong oleh dan untuk kebersamaan; (e) Asas tenggang rasa; saling menghayati keadaan dan perasaan antar warga, antar pribadi; saling menghargai dan menghormati dalam keragaman dan per-bedaan. Saling menghormati hak, pendapat, keyakinan, dan agama masing-masing demi terpeliharanya kesatuan dan keharmonisan hidup bersama.

Selanjutnya, bagaimana dengan ma-salah kearifan lokal. Secara umum, local wis-dom (kearifan setempat) dapat dipahami seb-agai gagasan-gagasan setempat yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyara-

Varia Pendidikan, Vol. 25. No. 2, Desember 2013

menunjukkan adanya gejala keinginan untuk menolak pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang semata-mata me-nampilkan nilai moral. Di sisi lain Pendidi-kan Kewarganegaraan dianggap kehilangan karakteristik akademisnya karena tidak ter-dapatnya teori-teori keilmuan yang cukup memadai. Model pembelajaran PKn dini-lai lebih menekankan kepentingan rezim politik dengan materi yang tidak menarik dan formalistik. Proses pembelajaran tidak mendorong kemampuan siswa untuk ber-pikir kritis dan kreatif. Hal ini disebabkan karena (1) materi yang diajarkan cenderung verbalistik atas nilai-nilai moral Pancasila sebagai civic virtues, (2) model pembe-lajarannya cenderung berbentuk hafalan kognitif sehingga menimbulkan kejenuhan karena materi yang diajarkan cenderung monoton, teoretik, kognitif bahkan verbal-istik (Samsuri, 2010: 130). Untuk itu perlu dikembangkan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang sesuai dengan tun-tutan dan kebutuhan pembangunan karakter bangsa, suatu pembelajaran yang mampu merealisasikan tujuan akhir dari pendidi-kan kewarganegaraan.

Dalam pembelajaran PKn para peserta didik perlu dikondisikan untuk selalu bersikap kritis dan berperilaku kreatif sebagai anggota keluarga, warga sekolah, masyarakat, warga negara, dan umat manusia di lingkungannya secara cerdas dan baik. Proses pembelajaran-nya perlu diorganisasikan dalam bentuk bela-jar sambil berbuat (learning by doing), belajar memecahkan masalah sosial (social problem solving learning), belajar melalui perlibatan sosial (socio-participatory learning), dan belajar melalui interaksi sosial-kultural se-suai dengan konteks kehidupan masyarakat. Dengan demikian maka perlu dilakukan re-vitalisasi nilai-nilai Pancasila melalui model pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan berbasis kearifan lokal untuk penguatan ka-rakter dan jati diri Bangsa.

Secara kebahasaan, revitalisasi berarti proses, cara atau tindakan untuk memvital-kan (menganggap penting) kembali. Revi-talisai diartikan sebagai peninjauan ulang mengenai suatu hal untuk ditata, digarap, dan disesuaikan agar lebih bermanfaat dalam arti luas. Konsep revitalisasi menyarankan perlu-nya bukti-bukti yang mendorong revitalisasi tidak ditentukan secara individual karena masing-masing dari dorongan mereka mem-perkuat dan berpengaruh satu sama lain. Un-tuk memenuhi dorongan tersebut diperlukan kriteria yang memperkuat dalam menentukan warisan budaya yang seharusnya direvita-lisasi, yang didasarkan pada filosofi, keper-cayaan, sosio-budaya, dan latar kesejarahan yang ditandai pada tradisi yang harmonis, teratur dengan kondisi lingkungan dan kein-dahan. Untuk masing-masing kriteria itu se-lalu berubah menurut persepsi masyarakat-nya. Jika kriteria warisan budaya ini dapat dikelompokkan menurut posisi, makna, dan skala peranan maupun proses pemantapan-nya maka prioritas revitalisasi menjadi lebih mudah dilakukan.

Revitalisasi adalah upaya untuk mem-vitalkan kembali suatu kawasan atau ba-gian kota yang dulunya pernah vital/hidup tetapi kemudian mengalami kemunduran/ degradasi. Skala revitalisasi terbagi menjadi tingkatan makro dan mikro. Proses revita-lisasi sebuah kawasan mencakup perbaikan aspek fisik, aspek ekonomi dan aspek sosial. Pendekatan revitalisasi harus mampu me-ngenali dan memanfaatkan potensi lingku-ngan (sejarah, makna, keunikan lokasi dan citra tempat). Menurut Hasan (2001), revi-talisasi bertujuan untuk 1) menghidupkan kembali kawasan pusat kota yang memudar atau menurun kualitas lingkungannya, 2) meningkatkan nilai ekonomis kawasan yang strategis, 3) merangsang pertumbuhan dae-rah sekitarnya, 4) mendorong peningkatan ekonomi lokal dari dunia usaha dan masyara-kat, 5) memperkuat identitas kawasan, dan 6)

Page 5: REVITALISASI NILAI-NILAI PANCASILA MELALUI …

114 Varia Pendidikan, Vol. 25. No. 2, Desember 2013

katnya. Menurut Nurjaya (2006: 2-4) keari-fan lokal pada hakikatnya berpangkal dari sistem nilai dan religi yang dianut dalam ko-munitasnya. Ajaran agama dan keperca yaan masyarakat lokal menjiwai dan memberi warna serta mempengaruhi citra lingkungan dalam wujud sikap dan perilaku terhadap lingkungannya. Hakikat yang terkandung di dalamnya adalah memberi tuntunan kepada manusia untuk berperilaku yang serasi dan selaras dengan irama alam semesta sehingga tercipta keseimbangan hubungan antara ma-nusia dengan alam lingkungannya.

Kearifan lokal menurut Wales diartikan sebagai “the sum of the cultural characteris-tics which the vast majority of a people have in common as result of their experiences in early life” (dalam Atmodjo, 1986:46). Ber-dasarkan rumusan ini, menjadi jelas bahwa lokal yang dimaksud Wales merupakan sub-strat kebudayaan Pra-Indian atau yang dise-but sebagai “Pribumi” (Poespowardojo, 1986: 30). Kearifan lokal juga dapat diartikan sebagai local development, yaitu perkemba-ngan setempat yang arahnya menuju ke arah perubahan. Kearifan lokal dan perkembangan lokal berkembang setelah terjadinya kontak kebudayaan atau akulturasi dengan kebuda-yaan lain, terutama yang datang dari India (kebudayaan Hindu). Kearifan lokal bangsa Indonesia merupakan kemampuan penyera-pan kebudayaan asing yang datang secara selektif, artinya disesuaikan dengan suasana dan kondisi setempat (Atmodjo, 1986:47).

Secara substansial, kearifan lokal adalah nilai-nilai yang berlaku dalam suatu masyarakat. Nilai-nilai yang diyakini ke-benarannya dan menjadi acuan dalam ber-tingkah-laku sehari-hari masyarakat setem-pat. Sebagaimana dikatakan Geertz (1963: 26) bahwa kearifan lokal merupakan entitas yang sangat menentukan harkat dan martabat manusia dalam komunitasnya. Hal itu berarti kearifan lokal yang di dalamnya berisi unsur kecerdasan kreativitas dan pengetahuan lokal

dari para elit dan masyarakatnya adalah yang menentukan dalam pembangunan peradaban masyarakat.

Dari konsep tersebut di atas maka kea-rifan lokal sering dikonsepsikan sebagai kebi-jakan setempat (local wisdom), pengetahuan setempat (local knowledge) atau kecerdasan setempat (local genious). Kearifan lokal adalah sikap, pandangan, dan kemampuan suatu komunitas di dalam mengelola ling-kungan rohani dan jasmaninya, yang mem-berikan kepada komunitas itu daya tahan dan daya tumbuh di dalam wilayah dimana ko-munitas itu berada. Dengan kata lain kearifan lokal adalah jawaban kreatif terhadap situasi geografis-geopolitis, historis, dan situasional yang bersifat lokal. Kearifan lokal adalah pandangan hidup dan ilmu pengetahuan serta berbagai strategi kehidupan yang berwujud aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat lo-kal dalam menjawab berbagai masalah dalam pemenuhan kebutuhan mereka. Kearifan lo-kal pada dasarnya dapat dipandang sebagai landasan bagi pembentukan jati diri bangsa secara nasional. Upaya menemukan identitas bangsa yang baru atas dasar kearifan lokal merupakan hal yang penting demi penyatuan kebudayaan bangsa di atas dasar identitas se-jumlah etnik yang mewarnai Nusantara ini.

Kemudian bagaimana dengan kearifan lokal budaya Jawa. Secara umum kebuda yaan Jawa dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu kebudayaan pedalaman dan pesisir. Daerah pedalaman Jawa berpusat di Yogyakarta dan Surakarta atau disebut wilayah kebudayaan Jawa Negarigung. Sedangkan “kebudayaan pesisiran” meliputi daerah pesisir pantai utara Jawa yang berpusat di wilayah Pati, Blam-bangan, dan Tegal (Sukmawati: 2004:12).

Geertz (1981: X-Xll) menggambarkan masyarakat Jawa terutama yang berada di wilayah kebudayaan Jawa Negara gung me-miliki pandangan hidup atau falsafah dalam memahami makna kehidupan sehingga mem-punyai pedoman dalam melakukan tinda-

Page 6: REVITALISASI NILAI-NILAI PANCASILA MELALUI …

115

kan. Pandangan orang Jawa dalam melihat, memahami, dan berperilaku berorientasi dan bersumber dari budaya. Karena itu perkem-bangan budaya Jawa selaras dengan di namika masyarakat yang mengacu pada konsep bu-daya induk, yaitu “sangkan paraning du-madi” (dari mana dan mau ke mana) yang menunjukkan bahwa hidup bagi orang Jawa adalah sebuah “lelaku” (perjalanan). Hidup di dunia harus memahami dari mana ‘asal’, akan ke mana ‘tujuan’, dan ‘akhir’ perjala-nan hidupnya untuk mencapai “kasampurna-ning dumadi” (kesempurnaan tujuan hidup) sehingga dianggap “wingkan sangkan ing paran”.

Menurut Soeseno (2000: 76) kebuda-yaan Jawa selalu berhubungan dengan nilai-nilai falsafah kejiwaan maupun pola pikir. Hal yang bersifat filsafati terletak pada nilai-nilai simbolisme akibat adanya kontak antara manusia dengan mikro-makro kosmos, antara kehidupan lahir dan batinnya yang disebut “kejawen”. Titik berat yang melatar belakan-gi kejawen disebut ‘ngilmu” sehingga ilmu kejawen dapat menembus lingkungan bersifat umum dan universal.

Dalam tataran epistemologis, ilmu pe-ngetahuan dinilai sebagai sebuah “kawruh”, maka kegiatan seseorang untuk mencari dan mendapatkan ilmu pengetahuan disebut ”ngangsu kawruh”. Budaya pikir masyarakat Jawa lebih mengkombinasikan pengalaman dan kesesuaian hati dibandingkan de ngan rasional dan empiris. Karena itu, aktivitas pemikiran dalam budaya Jawa diistilahkan sebagai “menggalih”, yang berarti menggu-nakan hati nurani, kata “galih” yang berarti hati. Kebenaran tertinggi yang dicapai oleh “kawruh” bukanlah kebenaran kritis seperti disyaratkan oleh ilmu pengetahuan melain-kan satu pendekatan tentang kebijakan yang diistilahkan sebagai kabecikan. Ada ungka-pan kebenaran belum tentu dekat kepada ke-bijakan atau “bener iku durung mesti pener”. Seseorang tidak hanya butuh mengetahui ke-

benaran tetapi juga harus terarah kepada ke-bijakan sebagai tujuan akhir (Sutrisno, 2002).

Unsur kejiwaan kebudayaan Jawa men-jadikan manusia berbudi luhur dan suci dalam sikap bathin dan tingkah lakunya. Lahirnya nilai-nilai tersebut karena adanya hubungan antara manusia dengan manusia dengan Sang Hyang Illahi yang bersifat universal. Keseim-bangan antara hati nurani yang berinteraksi dengan alam dan Sang Hyang Pencipta de-ngan dilandasi penalaran intelektual disebut ‘ngelmu”. Ketiganya berhubungan dan tidak dapat dipisahkan dalam hidup dan kehidupan orang Jawa. (Mulder, 1996).

Masyarakat Jawa memiliki karakteris-tik budaya yang khas sesuai dengan kondisi masyarakatnya. Prabowo (2003: 24) memba-gi budaya menjadi dua, yaitu budaya lahir dan batin. Budaya lahir terkait dengan kedudu-kan seseorang sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Dalam hal itu, budaya Jawa memiliki kaidah-kaidah yang dapat dengan mudah diidentifikasi berdasarkan ungkapan-ungkapan budaya sebagai pengejawantahan nilai-nilai budaya yang didukung masyarakat. Sebaliknya budaya batin terkait dengan per-soalan-persoalan yang bersifat supranatural atau hal-hal yang tidak dapat dijangkau ber-dasarkan penghitungan empiris atau objektif tetapi menduduki posisi yang penting dalam sistem kehidupan masyarakat Jawa. Budaya batin yang dalam klasifikasi Koentjaraningrat (1982: 2) dimasukkan pada sistem religi atau keagamaan Jawa tersimbolisasikan dalam un-gkapan manunggaling kawula Gusti.

Salah satu wujud ideal kebudayaan ma-syarakat Jawa adalah Kejawen. Kata kejawen berasal dari kata Jawi yang merupakan bentuk halus atau krama dari kata Jawa. Pengertian pertama kejawen mencakup segala hal yang berhubungan dengan pandangan hidup Jawa serta wawasan tentang Jawa. Menurut Mul-der (1996: 7), kejawen bukan suatu agama tetapi cenderung kepada suatu etika dan gaya hidup yang berpedoman pada pemikiran khas

Revitalisasi Nilai-Nilai Pancasila Melalui Pembelajaran...Varia Pendidikan, Vol. 25. No. 2, Desember 2013

katnya. Menurut Nurjaya (2006: 2-4) keari-fan lokal pada hakikatnya berpangkal dari sistem nilai dan religi yang dianut dalam ko-munitasnya. Ajaran agama dan keperca yaan masyarakat lokal menjiwai dan memberi warna serta mempengaruhi citra lingkungan dalam wujud sikap dan perilaku terhadap lingkungannya. Hakikat yang terkandung di dalamnya adalah memberi tuntunan kepada manusia untuk berperilaku yang serasi dan selaras dengan irama alam semesta sehingga tercipta keseimbangan hubungan antara ma-nusia dengan alam lingkungannya.

Kearifan lokal menurut Wales diartikan sebagai “the sum of the cultural characteris-tics which the vast majority of a people have in common as result of their experiences in early life” (dalam Atmodjo, 1986:46). Ber-dasarkan rumusan ini, menjadi jelas bahwa lokal yang dimaksud Wales merupakan sub-strat kebudayaan Pra-Indian atau yang dise-but sebagai “Pribumi” (Poespowardojo, 1986: 30). Kearifan lokal juga dapat diartikan sebagai local development, yaitu perkemba-ngan setempat yang arahnya menuju ke arah perubahan. Kearifan lokal dan perkembangan lokal berkembang setelah terjadinya kontak kebudayaan atau akulturasi dengan kebuda-yaan lain, terutama yang datang dari India (kebudayaan Hindu). Kearifan lokal bangsa Indonesia merupakan kemampuan penyera-pan kebudayaan asing yang datang secara selektif, artinya disesuaikan dengan suasana dan kondisi setempat (Atmodjo, 1986:47).

Secara substansial, kearifan lokal adalah nilai-nilai yang berlaku dalam suatu masyarakat. Nilai-nilai yang diyakini ke-benarannya dan menjadi acuan dalam ber-tingkah-laku sehari-hari masyarakat setem-pat. Sebagaimana dikatakan Geertz (1963: 26) bahwa kearifan lokal merupakan entitas yang sangat menentukan harkat dan martabat manusia dalam komunitasnya. Hal itu berarti kearifan lokal yang di dalamnya berisi unsur kecerdasan kreativitas dan pengetahuan lokal

dari para elit dan masyarakatnya adalah yang menentukan dalam pembangunan peradaban masyarakat.

Dari konsep tersebut di atas maka kea-rifan lokal sering dikonsepsikan sebagai kebi-jakan setempat (local wisdom), pengetahuan setempat (local knowledge) atau kecerdasan setempat (local genious). Kearifan lokal adalah sikap, pandangan, dan kemampuan suatu komunitas di dalam mengelola ling-kungan rohani dan jasmaninya, yang mem-berikan kepada komunitas itu daya tahan dan daya tumbuh di dalam wilayah dimana ko-munitas itu berada. Dengan kata lain kearifan lokal adalah jawaban kreatif terhadap situasi geografis-geopolitis, historis, dan situasional yang bersifat lokal. Kearifan lokal adalah pandangan hidup dan ilmu pengetahuan serta berbagai strategi kehidupan yang berwujud aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat lo-kal dalam menjawab berbagai masalah dalam pemenuhan kebutuhan mereka. Kearifan lo-kal pada dasarnya dapat dipandang sebagai landasan bagi pembentukan jati diri bangsa secara nasional. Upaya menemukan identitas bangsa yang baru atas dasar kearifan lokal merupakan hal yang penting demi penyatuan kebudayaan bangsa di atas dasar identitas se-jumlah etnik yang mewarnai Nusantara ini.

Kemudian bagaimana dengan kearifan lokal budaya Jawa. Secara umum kebuda yaan Jawa dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu kebudayaan pedalaman dan pesisir. Daerah pedalaman Jawa berpusat di Yogyakarta dan Surakarta atau disebut wilayah kebudayaan Jawa Negarigung. Sedangkan “kebudayaan pesisiran” meliputi daerah pesisir pantai utara Jawa yang berpusat di wilayah Pati, Blam-bangan, dan Tegal (Sukmawati: 2004:12).

Geertz (1981: X-Xll) menggambarkan masyarakat Jawa terutama yang berada di wilayah kebudayaan Jawa Negara gung me-miliki pandangan hidup atau falsafah dalam memahami makna kehidupan sehingga mem-punyai pedoman dalam melakukan tinda-

Page 7: REVITALISASI NILAI-NILAI PANCASILA MELALUI …

116 Varia Pendidikan, Vol. 25. No. 2, Desember 2013

Jawa. Kejawen sering disebut dengan istilah Ilmu Jawi, suatu ajaran tentang cara menjadi seorang manusia Jawa seutuhnya. Pandangan dunia Jawa bertolak dari perbedaan antara dua segi fundamental seperti atas dan bawah serta hal-hal yang telah disebutkan di atas. Inilah yang menjadi titik tolak dari ajaran kejawen yang pada intinya adalah kebatinan, yakni gerak diri harus mengalir dari luar ke dalam, dari penguasaan lahir ke pengembangan ba-tin. Karena itu kejawen pada hakekatnya adalah menyelaraskan diri dengan kebenaran yang lebih tinggi hingga lebur (transenden).

Manusia dinilai keberadaannya dalam konteks kosmologis, di tengah alam semesta yang diyakini merupakan kancah peperangan antara dua kekuatan untuk diselaraskan. Se-bagaimana diungkapkan Suseno (1991: 39), bahwa keselarasan hidup dalam masyarakat Jawa ditentukan dua prinsip dasar, yaitu prin-sip rukun dan hormat. Ditambahkan oleh De Jong (1985: 19-20) sifat orang jawa adalah (1) Narimo, yang berarti merasa puas dengan nasibnya dan percaya bahwa Tuhan memi-liki rencana sendiri untuknya, (2). Rila, yang berarti keikhlasan hati yang didasari pemaha-man bahwa segala sesuatunya adalah milik Tuhan dan segala sesuatu yang ada di dunia adalah barang pinjaman, sewaktu-waktu akan diambil kembali, (3) Sabar, merupakan kela-pangan dada dalam melewati segala cobaan. Kesabaran diibaratkan dengan samudera yang tidak pernah meluap meski sebanyak apapun air yang mengalirinya.

Sikap hidup yang mencerminkan keru-kunan tersebut tidak terlepas dari sikap tepo slira (tenggang rasa). Dengan berbekal kes-adaran bahwa nandur bakal ngundhuh (mena-nam akan memetik) atau ngundhuh wohing pakarti (memetik buah perbuatan), sikap dan perilaku orang Jawa sesungguhnya diken-dalikan oleh cahaya hati nurani untuk men-jauhi perbuatan nista. Bagi orang Jawa tidak berpikiran bahwa pada saat mereka memberi harus kembali kepadanya dalam bentuk ke-

baikan lain. Karena itu harus ikhlas dan rila legowo pada saat membantu, menyumbang atau meminjamkan sesuatu pada orang lain. Dalam konteks kebaikan seperti itu menurut Suratno dan Astiyanto (2009: 99) ”keikhla-san” adalah ibarat ”idhep-idhep nandur pari jero” Pari jero artinya padi yang memerlu-kan waktu lama untuk dapat dipanen.

Budaya Jawa mengutamakan rasa, cip-ta, dan karsa dalam hidup. Ketiganya berpa-du menjadi satu kesatuan yang erat. Menurut Mulder (1986) terdapat tiga nilai utama dalam pandangan hidup masyarakat Jawa, khusus-nya di lingkungan keluarga priyayi di Sura-karta. Ketiga nilai utama itu adalah hormat, rukun, dan tolong-menolong. Berdasarkan dasar pemikiran dan tinjauan teoretis di atas maka pertanyaannya adalah bagaimanakah pengembangan model pembelajaran Pendi-dikan Kewarganegaraan di Sekolah Mene-ngah Pertama berbasis kearifan lokal sebagai strategi revitalisasai nilai-nilai Pancasila dan untuk meningkatkan jati diri bangsa?

Metode

Penelitian pengembangan ini dilakukan selama dua tahap dalam waktu dua tahun. Tujuan umum penelitian adalah menemukan dan mengembangkan model pembelajaran PKn di SMP berbasis kearifan lokal sebagai strategi revitalisasi nilai-nilai Pancasila un-tuk penguatan karakter dan jati diri bangsa. Tujuan penelitian tahun ke -1 adalah (1) mendeskripsikan profil guru pendidikan kewarganegaraan di SMP Surakarta, (2) mendeskripsikan pemahaman guru SMP di Surakarta tentang Pendidikan Kewarganega-raan, (3) mendeskripsikan pembelajaran PKn di SMP dalam penguatan karakter dan jati diri bangsa yang saat ini dilaksanakan, dan (4) menemukan draf model pembelajaran PKn berbasis kearifan lokal sebagai strategi revi-talisasi nilai-nilai Pancasila untuk penguatan karakter dan jati diri bangsa (tentatif).

Page 8: REVITALISASI NILAI-NILAI PANCASILA MELALUI …

117

Untuk tujuan tersebut di atas maka penelitian ini dilakukan dua tahap. Penelitian tahun pertama merupakan penelitian kualita-tif. Data dikumpulkan melalui teknik wawa-ncara, metode simak, dan observasi. Derajat keabsahan data dilakukan melalui pemerik-saan derajat kepercayaan, kecukupan refe-rensial, dan triangulasi. Data dianalisis den-gan menggunakan metode interaktif. Fokus permasalahan yang dikaji dan perencanaan draf model menggunakan pendekatan kuali-tatif dengan menempuh alur pelaksanaan se-bagai berikut: (1) studi literatur, dilakukan un-tuk mengumpulkan bahan-bahan pendukung yang berkaitan dengan model pembelajaran PKn, (2) pengumpulan data lapangan dan tri-angulasi data dilakukan untuk mendiskripsi-kan model pembelajaran PKn di SMP yang saat ini dilaksanakan, (3) analisis SWOT un-tuk menyusun draf model, dan (4) perumu-san desain model (tentatif) melalui lokakarya partisipatif-kolaboratif.

Hasil dan Pembahasan

Pemahaman Guru SMP Surakarta Ten-tang Pendidikan Kewarganegaraan

Berbicara tentang pemahaman guru PKn terhadap hakikat dan maksud PKn maka dapat digambarkan sebagai berikut. Seluruh responden menyetujui bahwa PKn di tingkat persekolahan bertujuan mempersiapkan para peserta didik sebagai warga negara yang cer-das dan baik (to be smart and good citizen). Tujuan yang terperinci menjadi beberapa bu-tir tersebut dipahami para guru PKn, yakni (1) warga negara yang menguasai pengeta-huan (knowledge); (2) memiliki keterampilan (skills), (3) mengembangkan sikap dan nilai (attitudes and values) dan dimanfaatkan un-tuk menumbuhkan rasa kebangsaan dan cinta tanah air. Berbagai pendapat ini menunjukkan bahwa guru-guru PKn di Surakarta memiliki pemahaman yang cukup baik terhadap kon-sep dan tujuan PKn.

Berdasarkan wawancara lebih lanjut, salah satu responden menjelaskan bahwa Pendidikan Kewarganegaraan menjadi mata pelajaran setelah terpecah dari Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn). Pada awalnya mata pelajaran tersebut diga-bungkan menjadi satu, karena isi dari Pendi-dikan Kewarganegaraan bersumber dari Pan-casila itu sendiri. Kemudian dipecah menjadi mata pelajaran sendiri karena Pendidikan Kewarganegaraan dianggap penting untuk diajarkan kepada siswa. Hal tersebut karena dalam Pendidikan Kewarganegaraan diajar-kan materi kewarganegaraan yang lebih luas dan sumbernya tidak hanya langsung dari Pancasila. Mempelajari materi Pendidikan Kewarganegaraan bagi sebagian siswa tidak ubahnya mempelajari Pancasila tahap dua atau bahkan tidak jauh berbeda dengan Pen-didikan Moral Pancasila dan Sejarah Bangsa.

Pendidikan Kewarganegaraan di In-donesia bersifat multi dimensional, artinya program PKn bukan hanya untuk satu tujuan. Sebagaimana dijelaskan Winataputra (2001) bahwa ada tiga dimensi dalam PKn, yakni (1) PKn sebagai program kurikuler, pada haki-katnya merupakan program PKn yang diran-cang dan dibelajarkan kepada peserta didik pada jenjang satuan pendidikan tertentu. (2) PKn sebagai program akademik, merupakan program kajian ilmiah yang dilakukan oleh komunitas akademik PKn menggunakan pendekatan dan metode penelitian ilmiah untuk memecahkan masalah-masalah kon-septual dan operasional guna menghasilkan generalisasi serta teori untuk membangun batang tubuh keilmuan PKn. dan (3) PKn se-bagai program sosial kultural. Program PKn ini dikembangkan dalam konteks kehidupan masyarakat dengan sasaran semua anggota masyarakat. Tujuannya lebih pada upaya pembinaan warga masyarakat agar menjadi warga negara yang baik dalam berbagai situ-asi dan perkembangan zaman yang senantiasa berubah.

Revitalisasi Nilai-Nilai Pancasila Melalui Pembelajaran...Varia Pendidikan, Vol. 25. No. 2, Desember 2013

Jawa. Kejawen sering disebut dengan istilah Ilmu Jawi, suatu ajaran tentang cara menjadi seorang manusia Jawa seutuhnya. Pandangan dunia Jawa bertolak dari perbedaan antara dua segi fundamental seperti atas dan bawah serta hal-hal yang telah disebutkan di atas. Inilah yang menjadi titik tolak dari ajaran kejawen yang pada intinya adalah kebatinan, yakni gerak diri harus mengalir dari luar ke dalam, dari penguasaan lahir ke pengembangan ba-tin. Karena itu kejawen pada hakekatnya adalah menyelaraskan diri dengan kebenaran yang lebih tinggi hingga lebur (transenden).

Manusia dinilai keberadaannya dalam konteks kosmologis, di tengah alam semesta yang diyakini merupakan kancah peperangan antara dua kekuatan untuk diselaraskan. Se-bagaimana diungkapkan Suseno (1991: 39), bahwa keselarasan hidup dalam masyarakat Jawa ditentukan dua prinsip dasar, yaitu prin-sip rukun dan hormat. Ditambahkan oleh De Jong (1985: 19-20) sifat orang jawa adalah (1) Narimo, yang berarti merasa puas dengan nasibnya dan percaya bahwa Tuhan memi-liki rencana sendiri untuknya, (2). Rila, yang berarti keikhlasan hati yang didasari pemaha-man bahwa segala sesuatunya adalah milik Tuhan dan segala sesuatu yang ada di dunia adalah barang pinjaman, sewaktu-waktu akan diambil kembali, (3) Sabar, merupakan kela-pangan dada dalam melewati segala cobaan. Kesabaran diibaratkan dengan samudera yang tidak pernah meluap meski sebanyak apapun air yang mengalirinya.

Sikap hidup yang mencerminkan keru-kunan tersebut tidak terlepas dari sikap tepo slira (tenggang rasa). Dengan berbekal kes-adaran bahwa nandur bakal ngundhuh (mena-nam akan memetik) atau ngundhuh wohing pakarti (memetik buah perbuatan), sikap dan perilaku orang Jawa sesungguhnya diken-dalikan oleh cahaya hati nurani untuk men-jauhi perbuatan nista. Bagi orang Jawa tidak berpikiran bahwa pada saat mereka memberi harus kembali kepadanya dalam bentuk ke-

baikan lain. Karena itu harus ikhlas dan rila legowo pada saat membantu, menyumbang atau meminjamkan sesuatu pada orang lain. Dalam konteks kebaikan seperti itu menurut Suratno dan Astiyanto (2009: 99) ”keikhla-san” adalah ibarat ”idhep-idhep nandur pari jero” Pari jero artinya padi yang memerlu-kan waktu lama untuk dapat dipanen.

Budaya Jawa mengutamakan rasa, cip-ta, dan karsa dalam hidup. Ketiganya berpa-du menjadi satu kesatuan yang erat. Menurut Mulder (1986) terdapat tiga nilai utama dalam pandangan hidup masyarakat Jawa, khusus-nya di lingkungan keluarga priyayi di Sura-karta. Ketiga nilai utama itu adalah hormat, rukun, dan tolong-menolong. Berdasarkan dasar pemikiran dan tinjauan teoretis di atas maka pertanyaannya adalah bagaimanakah pengembangan model pembelajaran Pendi-dikan Kewarganegaraan di Sekolah Mene-ngah Pertama berbasis kearifan lokal sebagai strategi revitalisasai nilai-nilai Pancasila dan untuk meningkatkan jati diri bangsa?

Metode

Penelitian pengembangan ini dilakukan selama dua tahap dalam waktu dua tahun. Tujuan umum penelitian adalah menemukan dan mengembangkan model pembelajaran PKn di SMP berbasis kearifan lokal sebagai strategi revitalisasi nilai-nilai Pancasila un-tuk penguatan karakter dan jati diri bangsa. Tujuan penelitian tahun ke -1 adalah (1) mendeskripsikan profil guru pendidikan kewarganegaraan di SMP Surakarta, (2) mendeskripsikan pemahaman guru SMP di Surakarta tentang Pendidikan Kewarganega-raan, (3) mendeskripsikan pembelajaran PKn di SMP dalam penguatan karakter dan jati diri bangsa yang saat ini dilaksanakan, dan (4) menemukan draf model pembelajaran PKn berbasis kearifan lokal sebagai strategi revi-talisasi nilai-nilai Pancasila untuk penguatan karakter dan jati diri bangsa (tentatif).

Page 9: REVITALISASI NILAI-NILAI PANCASILA MELALUI …

118 Varia Pendidikan, Vol. 25. No. 2, Desember 2013

Program sosial kultural pernah dilak-sanakan pada masa pemerintahan Orde Baru, yakni melalui berbagai program penataran P4. Terjadinya perubahan sistem politik pascare-formasi yang menimbulkan euforia politik berlebihan. Penataran P4 dipandang telah me-nyimpang dari tujuan sehingga tidak berjalan efektif. Padahal apabila dilihat dari kepentin-gan berbangsa dan bernegara terutama dalam pembangunan karakter bangsa, PKn melalui program sosial kultural ini sangat penting. Oleh karena itu, perlu dicari strategi program PKn dalam dimensi sosial kultural pada pas-ca penghentian program penataran P4 sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan pembangunan karakter warga negara Indonesia yang baik.

Pemahaman Guru Tentang Integrasi Nilai-nilai Kearifan Lokal

Semua guru memahami bahwa content yang bersifat structural formal merupakan perekat, pemersatu Bangsa, serta memperkuat semangat nasionalisme Indonesia dan NKRI. Sedangkan content informal bersifat kontek-stual tergantung lingkungan tempat di mana siswa berada sehingga memungkinkan pem-belajaran dikembangkan secara kontekstual.

Pengembangkan content informal bersifat kontekstual dalam pembelajaran PKn, dapat dilakukan dengan memecahkan masalah-masalah sosial, melalui pembiasaan, jabat tangan setiap pagi, penerapan kedisi-plinan dan berdoa, dan kunjungan. Metode pembelajaran yang dilakukan guru antara lain menggunakan metode penugasan, membuat kliping, wawancara dengan tokoh, dan per-mainan. Metode pembelajaran yang sering di-gunakan para guru dalam pembelajaran PKn adalah ceramah, tanya jawab, metode jigsaw, kontektual, kooperatif, diskusi kelompok, portofolio, dan penugasan.

Budaya Jawa yang memiliki banyak nilai-nilai kearifan lokal, sudah saatnya digali lebih dalam lagi sehingga bisa disosialisasi-kan kepada generasi muda. Nilai-nilai seperti

gotong-royong, toleransi, tepo seliro, solidar-itas dan lain sebagainya sangatlah baik jika ditanamkan pada siswa di sekolah. Dengan demikian harapan memiliki generasi muda yang berbudaya akan terwujud di kemudian hari. Praksis sadar ber-Pancasila itu sendiri harus dimulai sejak dini sehingga nilai-nilai Pancasila dapat terpatri erat dalam diri manu-sia Indonesia. Selain komitmen penyelengga-ra negara maka komitmen warga negara juga tak kalah pentingnya dalam membumikan tol-eransi.Warga negara harus aktif dalam meng-hidupi Pancasila dalam hidup sehari-hari. Se-mangat kearifan lokal Indonesia seperti saling menolong, menghargai perbedaan, dan hidup bersama dalam keberagaman, nilai-nilai kear-ifan lokal pada dasarnya merupakan inti dari Pancasila.

Pendidikan Kewarganegaraan perlu mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila dan ni-lai-nilai kearifan lokal/nilai-nilai budaya/pen-didikan budi pekerti. PKn bukan semata-mata hanya mengajarkan pasal-pasal Undang-un-dang Dasar (UUD). Lebih jauh PKn mengkaji perilaku warga negara dalam hubungannya dengan warga negara lain dan alam sekitarnya. Menurut M. Numan Somantri (2001:276) termasuk dalam objek studi civities ialah: tingkah laku, tipe pertumbuhan pikir, potensi yang ada dalam setiap diri warga negara, hak dan kewajiban, cita-cita dan aspirasi, kesada-ran (patriotisme, nasio nalisme, pengertian internasional, moral Pancasila), usaha atau kegiatan dan partisipasi serta tanggung jawab.

Dalam hal persiapan mengajar, selu-ruh responden sudah mempersiapkan segala kebutuhan administratif yang digunakan seb-agai acuan dalam proses pembelajaran. Kebu-tuhan administratif tersebut antara lain adalah menyiapkan kalender akademik, program se-mester tahunan, program semester gasal/ge-nap, silabus, kriteria ketuntasan maksimum, serta RPP semester gasal/genap. Langkah-langkah pembelajaran yang dibuat antara lain pendahuluan berupa apersepsi dan pemberian

Page 10: REVITALISASI NILAI-NILAI PANCASILA MELALUI …

119

motivasi. Kegiatan inti berupa eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi. Di akhir pembe-lajaran dilakukan kegiatan penutup. Meng-ajarkan PKn bertujuan untuk memberikan pengetahuan tentang pentingnya nilai-nilai Pancasila. Selain itu juga mengembangkan partisipasi siswa agar bertanggung jawab se-bagai warga negara, sekaligus membangun komunikasi sosial kultural bagi siswa.

Selanjutnya dalam proses pembelajar-an, semua responden menyatakan bahwa proses pembelajaran PKn telah diorganisasi-kan dalam berbagai bentuk, yakni (1) belajar sambil berbuat (learning by doing) dan (2) belajar melalui interaksi sosial-kultural se-suai dengan konteks kehidupan masyarakat. Sepuluh guru menambahkan proses bela-jar PKn juga melalui (3) belajar memecah-kan masalah sosial (social problem solving learning); (4) belajar melalui pelibatan sosial (socio-participatory learning); Pembelajaran PKn melalui interaksi sosial-kultural bersifat kontekstual memungkinkan guru menginte-grasikan nilai-nilai budaya (kearifan lokal). Semua guru (100%) menyatakan setuju.

Situasi yang kondusif untuk belajar diciptakan oleh guru bersama siswa berdasar urutan jawaban yang terbanyak dari respon-den adalah (1) pendekatan yang humanistic; dan guru berorientasi pada siswa (students’ centered), (2) mengembangkan kemampuan belajar (learning skills) yakni meningkatkan kesadaran siswa terhadap identitas bangsa (learning how to learn), (3) menggunakan metode yang divariasikan dan menerapkan proses pembelajaran dengan pengalaman langsung sehingga hasil belajar itu akan me-nyatu dan mempribadi (personalized) dalam dirinya.

Meskipun guru sangat paham dengan situasi yang kondusif untuk belajar tetapi ke-nyataan di dalam kelas metode yang paling sering digunakan adalah ceramah, dengan alasan materi PKn yang sangat banyak, na-mun alokasi waktu yang sedikit meski peran

aktif siswa kurang optimal. Menanggapi per-an aktif siswa yang kurang maksimal, guru mensiasatinya dengan menggunakan metode yang lain, yakni tanya jawab, diskusi, serta penugasan. Hal ini menunjukan bahwa ke-mampuan dan kreativitas guru dalam men-ciptakan pembelajaran yang aktif dan berpu-sat pada peserta didik terhambat oleh materi yang tidak sebanding dengan alokasi waktu.

Banyaknya cakupan materi dalam pembelajaran PKn menjadi salah satu kenda-la dan kesulitan bagi guru dalam menyusun RPP dan implementasi pembelajaran PKn. Kesulitan dan hambatan yang dihadapi guru saat pembelajaran PKn dan mengintegrasi-kan nilai-nilai Pancasila dan kearifan lokal berbeda-beda. Berdasarkan hasil wawancara-hambatan dalam pembelajaran PKn meliputi: (1) Kesesuaian antara materi PKn dengan alokasi waktu yang terdapat pada kurikulum kurang berimbang; (2) Guru dihadapkan pada motivasi siswa yang rendah dalam mengikuti pelajaran PKn di kelas.(3) Guru juga diha-dapkan pada persepsi siswa bahwa pelajaran PKn tidak terlalu penting. (4) Dalam mena-namkan nilai-nilai Pancasila dan kearifan lo-kal, guru terkadang dihadapkan pada realitas masyarakat yang tidak sesuai dengan materi pelajaran.(5) Guru terkadang mengalami ken-dala dalam menerapkan metode, model atau-pun strategi pembelajaran student centered. (6) Guru merasa menyampaikan materi PKn sebenarnya mudah namun esensi penting dari pembelajaran PKn yang tujuan akhirnya adalah pengetahuan serta implementasi di la-pangan belum bisa tercapai secara maksimal.

Berdasarkan kekuatan, kelemahan, pe-luang, dan ancaman dirumuskan strategi untuk Pengembangan Model Pembelajaran Pendi-dikan Kewarganegaraan di Sekolah Menen-gah Pertama Berbasis Kearifan Lokal sebagai strategi revitalisasai nilai-nilai Pancasila dan untuk meningkatkan jati diri bangsa. Dari ha-sil penelitian pendahuluan dan Focus Group Discusion terbatas berbagai komponen pe-

Revitalisasi Nilai-Nilai Pancasila Melalui Pembelajaran...Varia Pendidikan, Vol. 25. No. 2, Desember 2013

Program sosial kultural pernah dilak-sanakan pada masa pemerintahan Orde Baru, yakni melalui berbagai program penataran P4. Terjadinya perubahan sistem politik pascare-formasi yang menimbulkan euforia politik berlebihan. Penataran P4 dipandang telah me-nyimpang dari tujuan sehingga tidak berjalan efektif. Padahal apabila dilihat dari kepentin-gan berbangsa dan bernegara terutama dalam pembangunan karakter bangsa, PKn melalui program sosial kultural ini sangat penting. Oleh karena itu, perlu dicari strategi program PKn dalam dimensi sosial kultural pada pas-ca penghentian program penataran P4 sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan pembangunan karakter warga negara Indonesia yang baik.

Pemahaman Guru Tentang Integrasi Nilai-nilai Kearifan Lokal

Semua guru memahami bahwa content yang bersifat structural formal merupakan perekat, pemersatu Bangsa, serta memperkuat semangat nasionalisme Indonesia dan NKRI. Sedangkan content informal bersifat kontek-stual tergantung lingkungan tempat di mana siswa berada sehingga memungkinkan pem-belajaran dikembangkan secara kontekstual.

Pengembangkan content informal bersifat kontekstual dalam pembelajaran PKn, dapat dilakukan dengan memecahkan masalah-masalah sosial, melalui pembiasaan, jabat tangan setiap pagi, penerapan kedisi-plinan dan berdoa, dan kunjungan. Metode pembelajaran yang dilakukan guru antara lain menggunakan metode penugasan, membuat kliping, wawancara dengan tokoh, dan per-mainan. Metode pembelajaran yang sering di-gunakan para guru dalam pembelajaran PKn adalah ceramah, tanya jawab, metode jigsaw, kontektual, kooperatif, diskusi kelompok, portofolio, dan penugasan.

Budaya Jawa yang memiliki banyak nilai-nilai kearifan lokal, sudah saatnya digali lebih dalam lagi sehingga bisa disosialisasi-kan kepada generasi muda. Nilai-nilai seperti

gotong-royong, toleransi, tepo seliro, solidar-itas dan lain sebagainya sangatlah baik jika ditanamkan pada siswa di sekolah. Dengan demikian harapan memiliki generasi muda yang berbudaya akan terwujud di kemudian hari. Praksis sadar ber-Pancasila itu sendiri harus dimulai sejak dini sehingga nilai-nilai Pancasila dapat terpatri erat dalam diri manu-sia Indonesia. Selain komitmen penyelengga-ra negara maka komitmen warga negara juga tak kalah pentingnya dalam membumikan tol-eransi.Warga negara harus aktif dalam meng-hidupi Pancasila dalam hidup sehari-hari. Se-mangat kearifan lokal Indonesia seperti saling menolong, menghargai perbedaan, dan hidup bersama dalam keberagaman, nilai-nilai kear-ifan lokal pada dasarnya merupakan inti dari Pancasila.

Pendidikan Kewarganegaraan perlu mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila dan ni-lai-nilai kearifan lokal/nilai-nilai budaya/pen-didikan budi pekerti. PKn bukan semata-mata hanya mengajarkan pasal-pasal Undang-un-dang Dasar (UUD). Lebih jauh PKn mengkaji perilaku warga negara dalam hubungannya dengan warga negara lain dan alam sekitarnya. Menurut M. Numan Somantri (2001:276) termasuk dalam objek studi civities ialah: tingkah laku, tipe pertumbuhan pikir, potensi yang ada dalam setiap diri warga negara, hak dan kewajiban, cita-cita dan aspirasi, kesada-ran (patriotisme, nasio nalisme, pengertian internasional, moral Pancasila), usaha atau kegiatan dan partisipasi serta tanggung jawab.

Dalam hal persiapan mengajar, selu-ruh responden sudah mempersiapkan segala kebutuhan administratif yang digunakan seb-agai acuan dalam proses pembelajaran. Kebu-tuhan administratif tersebut antara lain adalah menyiapkan kalender akademik, program se-mester tahunan, program semester gasal/ge-nap, silabus, kriteria ketuntasan maksimum, serta RPP semester gasal/genap. Langkah-langkah pembelajaran yang dibuat antara lain pendahuluan berupa apersepsi dan pemberian

Page 11: REVITALISASI NILAI-NILAI PANCASILA MELALUI …

120 Varia Pendidikan, Vol. 25. No. 2, Desember 2013

mangku kepentingan pendidikan dirumuskan bahwa arah model pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di SMP berbasis kearifan lokal sebagai strategi revitalisasai nilai-nilai Pancasila dan untuk meningkatkan karakter dan jati diri bangsa adalah sebagai berikut. (1) Materi content informal dalam PKn yang bersifat kontekstual dan sesuai dengan reali-tas sosial budaya peserta didik, yakni budaya Jawa. (2) Core value budaya Jawa bersumber dari prinsip hormat dan rukun yang kemudi-an menjadi harmonisasi kemudian dijabarkan dan dipetakan dengan nilai-nilai Pancasila dan nilai karakter. (3) Untuk mempersiapkan peserta didik sebagai warga negara yang cer-das dan baik (to be smart dan good citizen) maka pembelajaran dilakukan melalui (a) be-lajar sambil berbuat (learning by doing), (b) belajar me mecahkan masalah sosial (social problem solving learning), (c) belajar melalui perlibatan sosial (socio-participatory learn-ing), dan (d) belajar melalui pembiasaan serta interaksi so sial-kultural (enculturation and socialization). (4) Implementasi model yang dikembangkan, melalui (a) belajar sambil ber-buat, (b) belajar memecahkan masalah sosial, (c) belajar melalui perlibatan sosial direalisa-sikan dengan model pembelajaran Problem Based Learning, Project Based Learning, dan Klarifikasi Nilai. (5) Proses belajar melalui pembiasaan serta interaksi sosial-kultural di-realisasikan melalui budaya sekolah dan role model dari guru, kepala sekolah, dan orang tua. (6) Untuk merealisasikan tujuan pendidi-kan kewarganegaraan menjadi warga negara yang baik (good citizen) dan warga negara yang aktif (active citizen) digunakan pendeka-tan Problem Based Learning dan Klarifikasi nilai.

Problem Based Learning ini dipilih untuk merealisasikan model dilandasi teori konstruktivis. Problem Based Learning uta-manya dikembangkan untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir pem-ecahan masalah dan keterampilan intelektual,

pengalaman nyata atau stimulus dan menjadi pelajar yang otonom dan mandiri (Ibrahim, 2000). Dengan Problem Based Learning siswa dilatih menyusun sendiri pengetahuan-nya, mengembangkan ketrampilan pemeca-han masalah, mandiri serta meningkatkan ke-percayaan diri. Selain itu dengan pemberian masalah yang autentik, siswa dapat memben-tuk makna dari bahan pelajaran melalui pro-ses belajar selanjutnya menyimpulkan dalam ingatan sehingga dapat digunakan di kemu-dian hari (Nurhadi, 2004).

Pembelajaran Klarifikasi nilai adalah model pembelajaran penumbuh kembangan nilai moral yang bersentuhan langsung de-ngan upaya pencarian langsung oleh anak didik secara cerdas, dialogis dan reflektif terhadap problematika dan dilemma moral yang akan selalu dihadapi anak. Karena itu model strategi klarifikasi nilai memiliki arti yang sangat strategis terutama untuk me-numbuhkan kesadaran dari dalam diri anak itu sendiri dalam rangka penumbuh kemban-gkan nilai moral secara cerdas dan elegan bukan melalui paksaan dan tekanan dari luar diri anak itu sendiri (Candee R, 1977: 1249-1250).

Dengan memanfaatkan klarifikasi nilai peserta didik akan merefleksikan dan berfikir secara kritis dan komprehensip akan nilai-nilai yang dimilikinya dan nilai-nilai dalam masyarakat. Kegiatan ini dilakukan dengan memanfaatkan situasi riil kehidupan sehari-hari atau mengkaitkannya dengan persoalan-persoalan yang telah pernah ada dalam kehi-dupan (Raths, LE.; Merrill Harmil & Sidney B. Simon, 1978: 5).

Pembelajaran klarifikasi nilai disebut juga sebagai inkuiri nilai karena dapat me-ngembangkan sikap dan kepribadian. Sikap dan kepribadian yang berkembang dengan belajar inkuiri antara lain meragukan kebena-ran yang telah lama dan ingin mengetahui hal yang baru, menghargai penalaran sebagai cara untuk memperoleh suatu kebenaran, menghar-

Page 12: REVITALISASI NILAI-NILAI PANCASILA MELALUI …

121

gai data sebagai alat untuk menguji kebenaran, objektif terhadap data yang ada serta menghin-dari prasangka, bersedia menerima keputusan sementara sebelum mendapatkan kepastian ja-waban (Beyer, 1979: 18-20).

Perlunya pengembangan inkuiri nilai didasarkan bahwa penumbuh kembangan nilai-nilai moral pada anak didik ternya-ta tidak hanya sebatas mengupayakan dan menciptakan bentuk-bentuk interaksi sosial yang sangat kondusif dan positif bagi tum-buhkembangnya nilai-nilai moral dalam kehidupan anak yang akhirnya bermuara pada perilaku moral dalam kehidupan ke-seharian mereka. Namun yang lebih pen-ting dan memiliki arti yang amat strategis dari yang pertama adalah menciptakan ke-mampuan bagi anak-anak didik secara cer-das mampu memahami dan menemukan nilai-nilai moral dalam dinamika interaksi sosialnya yang penuh dengan tantangan, terutama pada kondisi-kondisi sosial yang dinilai tidak kondusif bagi penumbuh kem-bangan nilai-nilai moral.

Simpulan dan Saran

Untuk pengembangan pembelajaran PKn yang powerfull perlu dilakukan revisi terutama berkaitan dengan (a) integrasi nilai-nilai budaya lokal dan (b) strategi dan metode pembelajaran yang mendukung penguasaan kompetensi PKn dan pendidikan nilai. Ber-dasarkan analisis SWOT dikembangkan draf model PKn di SMP berbasis kearifan lokal sebagai strategi revitalisasi nilai-nilai Pan-

casila untuk menguatkan karakter dan jati diri bangsa dengan didasari oleh: (a) integrasi kearifan lokal budaya jawa yang bersumber dari core value hormat, rukun, dan tolong menolong sebagai strategi revitalisasi nilai-nilai Pancasila dan nilai karakter, (b) untuk mempersiapkan peserta didik sebagai warga negara yang cerdas dan baik, pembelajaran dilakukan dengan belajar sambil berbuat, belajar memecahkan masalah sosial, belajar melalui perlibatan sosial, dan belajar melalui pembiasaan serta interaksi sosial-kultural. (c) Implementasi draf model dilakukan dengan pendekatan pembelajaran Problem Based Learning, Project Based Learning, dan Klari-fikasi nilai.

Komponen penting pendukung draf model pembelajaran PKn berbasis kearifan lokal adalah (1) partisipasi seluruh elemen pemangku kepentingan (unsur pemerin-tah, swasta, dan masyarakat), (2) Dikpora merupakan komponen kunci yang menen-tukan pelaksanaan model, (3) Sekolah yang merupakan komponen utama dalam pelak-sanaan model, (4) guru sebagai komponen kunci dalam implementasi model, dan (5) peserta didik yang merupakan merupakan subyek belajar yang diharapkan berperan aktif dalam revitalisasi nilai-nilai Pancas-ila. Karena itu, para pihak yang berkaitan dengan implementasi pengembangan pem-belajaran PKn berbasis kearifan lokal un-tuk penguatan karakter dan jati diri Bangsa harus komitmen dan mempunyai kesamaan persepsi dalam mewujudkan tujuan pembe-lajaran.

Revitalisasi Nilai-Nilai Pancasila Melalui Pembelajaran...Varia Pendidikan, Vol. 25. No. 2, Desember 2013

mangku kepentingan pendidikan dirumuskan bahwa arah model pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di SMP berbasis kearifan lokal sebagai strategi revitalisasai nilai-nilai Pancasila dan untuk meningkatkan karakter dan jati diri bangsa adalah sebagai berikut. (1) Materi content informal dalam PKn yang bersifat kontekstual dan sesuai dengan reali-tas sosial budaya peserta didik, yakni budaya Jawa. (2) Core value budaya Jawa bersumber dari prinsip hormat dan rukun yang kemudi-an menjadi harmonisasi kemudian dijabarkan dan dipetakan dengan nilai-nilai Pancasila dan nilai karakter. (3) Untuk mempersiapkan peserta didik sebagai warga negara yang cer-das dan baik (to be smart dan good citizen) maka pembelajaran dilakukan melalui (a) be-lajar sambil berbuat (learning by doing), (b) belajar me mecahkan masalah sosial (social problem solving learning), (c) belajar melalui perlibatan sosial (socio-participatory learn-ing), dan (d) belajar melalui pembiasaan serta interaksi so sial-kultural (enculturation and socialization). (4) Implementasi model yang dikembangkan, melalui (a) belajar sambil ber-buat, (b) belajar memecahkan masalah sosial, (c) belajar melalui perlibatan sosial direalisa-sikan dengan model pembelajaran Problem Based Learning, Project Based Learning, dan Klarifikasi Nilai. (5) Proses belajar melalui pembiasaan serta interaksi sosial-kultural di-realisasikan melalui budaya sekolah dan role model dari guru, kepala sekolah, dan orang tua. (6) Untuk merealisasikan tujuan pendidi-kan kewarganegaraan menjadi warga negara yang baik (good citizen) dan warga negara yang aktif (active citizen) digunakan pendeka-tan Problem Based Learning dan Klarifikasi nilai.

Problem Based Learning ini dipilih untuk merealisasikan model dilandasi teori konstruktivis. Problem Based Learning uta-manya dikembangkan untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir pem-ecahan masalah dan keterampilan intelektual,

pengalaman nyata atau stimulus dan menjadi pelajar yang otonom dan mandiri (Ibrahim, 2000). Dengan Problem Based Learning siswa dilatih menyusun sendiri pengetahuan-nya, mengembangkan ketrampilan pemeca-han masalah, mandiri serta meningkatkan ke-percayaan diri. Selain itu dengan pemberian masalah yang autentik, siswa dapat memben-tuk makna dari bahan pelajaran melalui pro-ses belajar selanjutnya menyimpulkan dalam ingatan sehingga dapat digunakan di kemu-dian hari (Nurhadi, 2004).

Pembelajaran Klarifikasi nilai adalah model pembelajaran penumbuh kembangan nilai moral yang bersentuhan langsung de-ngan upaya pencarian langsung oleh anak didik secara cerdas, dialogis dan reflektif terhadap problematika dan dilemma moral yang akan selalu dihadapi anak. Karena itu model strategi klarifikasi nilai memiliki arti yang sangat strategis terutama untuk me-numbuhkan kesadaran dari dalam diri anak itu sendiri dalam rangka penumbuh kemban-gkan nilai moral secara cerdas dan elegan bukan melalui paksaan dan tekanan dari luar diri anak itu sendiri (Candee R, 1977: 1249-1250).

Dengan memanfaatkan klarifikasi nilai peserta didik akan merefleksikan dan berfikir secara kritis dan komprehensip akan nilai-nilai yang dimilikinya dan nilai-nilai dalam masyarakat. Kegiatan ini dilakukan dengan memanfaatkan situasi riil kehidupan sehari-hari atau mengkaitkannya dengan persoalan-persoalan yang telah pernah ada dalam kehi-dupan (Raths, LE.; Merrill Harmil & Sidney B. Simon, 1978: 5).

Pembelajaran klarifikasi nilai disebut juga sebagai inkuiri nilai karena dapat me-ngembangkan sikap dan kepribadian. Sikap dan kepribadian yang berkembang dengan belajar inkuiri antara lain meragukan kebena-ran yang telah lama dan ingin mengetahui hal yang baru, menghargai penalaran sebagai cara untuk memperoleh suatu kebenaran, menghar-

Page 13: REVITALISASI NILAI-NILAI PANCASILA MELALUI …

122 Varia Pendidikan, Vol. 25. No. 2, Desember 2013

DAFTAR PUSTAKA

Ayatrohaedi. 1986. Kepribadian Budaya Bangsa (local Genius). Jakarta: Pustaka Jaya.

Barker. 2005. Cultural Studies: Teori dan Praktek. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Beyer, B.K. 1979. Inquiry in the Social Studies Classroom: A. Strategy for Teaching. Colum-bus, OH: Charles E. Merril Publ.Co.

Chapin, June R. 2006. Elementary Social Studies: A Practice Guide. Pearson/Allyin and Ba-con.

Couto, Richard A. 1998. “The Art of Teaching Democracy: the Practice”. Journal CIVITAS, Sept.-Oct. V.2 No.5.

Budimansyah, D. 2012. Dimensi-dimensi Praktik Pendidikan Karakter. Bandung: Widya Ak-sara Press.

Hannerz, U. 1992. Cultural Complexity: Studies in the Social Organization of Meaning. Co-lumbia University Press.

Hasan, Hamid. 2001. Pendidikan Ilmu Sosial. Jakarta: Proyek Pendidikan Tenaga Akademik.

Jenkins, Henry. 2004. Pop Cosmopolitanism: Mapping Cultural Flows in an Age of Media Con-vergence in theNew Millennium (edeteds) Marcelo M. Suárez-Orozco and Desirée Baolian Qin-Hilliard University of California Press Berkeley and Los Angeles, California.

Ibrahim, H. Muslimin. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: University Press.

Jarolimek, J. & Foster, C.D. 1976. Teaching and Learning in the Elementary School. London: Macmillan Publishing Co., Inc. Antara Kebudayaan dan Kebangsaan” dalam Prisma No. 8, Agustus. Jakarta : LP3ES.

Kerr, L. 1996. Sage Advice. Wood Lake Publishing Inc., 1 Jan 1996 - 256 halaman.

Kirdi Dipoyudo. 1990. Membangun Atas Dasar Pancasila. Jakarta: Yayasan Proklamasi. CSIS.

Raths, L.E.,H.M & Simon, SB. 1978. Values and Teaching: Working with values in the class-room. Second edition. Columbus: Charles E. Merrill Publishing Company.

Martorella, P. 1994. Social Studies for Elementry School Children: Developing Young Citizen. New York: MacMillan.

Miles, M.B. & Huberman, A.M. 1992. Qualitative Data Analysis. Beverly Hills: Sage Publica-tion.

Nurhadi. 2004. “Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw Terhadap Prestasi Belajar Matematika Geometri Ditinjau dari Motivasi Belajar Siswa”. Dalam Tesis. Surakarta.

Poespowardojo, S. 1989. Filsafat Pancasila: Sebuah Pendekatan Sosio Budaya. Jakarta: Gramedia.

Samsuri. 2010. “Pembentukan Karakter Warga Negara Demokratis dalam Politik Pendidikan Indonesia Periode Orde Baru Hingga Era Reformasi”. Dalam MGMP PKn Kab.Sleman. Sleman Press.

Page 14: REVITALISASI NILAI-NILAI PANCASILA MELALUI …

123

Sapriya dan Winataputra. 2003. Pendidikan Kewarganegaraan: Model Pengembangan Materi dan Pembelajaran. Bandung: Laboratorium PKn UPI.

Somantri, Nu’man. 2001. Menggagas Pembaharuan Pendidikan IPS. Dedi Supriadi & Rohmat Mulyana (ed). Bandung: PPS-FPIPS UPI dan PT. Remadja Rosda Karya.

Suseno, Franz Magnis. 1996. Etika Jawa, Sebuah Analisa falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Tilaar, HAR. 2007. Mengindonesia Etnisitas dan Identitas Bangsa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Winataputra, Udin S. & Sapriya. 2003. “Pengorganisasian Kurikulum Pendidikan Kewarganeg-araan dan IPS di Sekolah Dasar”. Jurnal Sekolah Dasar: Kajian Teori dan Praktik Pen-didikan. Tahun 12 Nomor 2, November 2003.

Revitalisasi Nilai-Nilai Pancasila Melalui Pembelajaran...Varia Pendidikan, Vol. 25. No. 2, Desember 2013

DAFTAR PUSTAKA

Ayatrohaedi. 1986. Kepribadian Budaya Bangsa (local Genius). Jakarta: Pustaka Jaya.

Barker. 2005. Cultural Studies: Teori dan Praktek. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Beyer, B.K. 1979. Inquiry in the Social Studies Classroom: A. Strategy for Teaching. Colum-bus, OH: Charles E. Merril Publ.Co.

Chapin, June R. 2006. Elementary Social Studies: A Practice Guide. Pearson/Allyin and Ba-con.

Couto, Richard A. 1998. “The Art of Teaching Democracy: the Practice”. Journal CIVITAS, Sept.-Oct. V.2 No.5.

Budimansyah, D. 2012. Dimensi-dimensi Praktik Pendidikan Karakter. Bandung: Widya Ak-sara Press.

Hannerz, U. 1992. Cultural Complexity: Studies in the Social Organization of Meaning. Co-lumbia University Press.

Hasan, Hamid. 2001. Pendidikan Ilmu Sosial. Jakarta: Proyek Pendidikan Tenaga Akademik.

Jenkins, Henry. 2004. Pop Cosmopolitanism: Mapping Cultural Flows in an Age of Media Con-vergence in theNew Millennium (edeteds) Marcelo M. Suárez-Orozco and Desirée Baolian Qin-Hilliard University of California Press Berkeley and Los Angeles, California.

Ibrahim, H. Muslimin. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: University Press.

Jarolimek, J. & Foster, C.D. 1976. Teaching and Learning in the Elementary School. London: Macmillan Publishing Co., Inc. Antara Kebudayaan dan Kebangsaan” dalam Prisma No. 8, Agustus. Jakarta : LP3ES.

Kerr, L. 1996. Sage Advice. Wood Lake Publishing Inc., 1 Jan 1996 - 256 halaman.

Kirdi Dipoyudo. 1990. Membangun Atas Dasar Pancasila. Jakarta: Yayasan Proklamasi. CSIS.

Raths, L.E.,H.M & Simon, SB. 1978. Values and Teaching: Working with values in the class-room. Second edition. Columbus: Charles E. Merrill Publishing Company.

Martorella, P. 1994. Social Studies for Elementry School Children: Developing Young Citizen. New York: MacMillan.

Miles, M.B. & Huberman, A.M. 1992. Qualitative Data Analysis. Beverly Hills: Sage Publica-tion.

Nurhadi. 2004. “Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw Terhadap Prestasi Belajar Matematika Geometri Ditinjau dari Motivasi Belajar Siswa”. Dalam Tesis. Surakarta.

Poespowardojo, S. 1989. Filsafat Pancasila: Sebuah Pendekatan Sosio Budaya. Jakarta: Gramedia.

Samsuri. 2010. “Pembentukan Karakter Warga Negara Demokratis dalam Politik Pendidikan Indonesia Periode Orde Baru Hingga Era Reformasi”. Dalam MGMP PKn Kab.Sleman. Sleman Press.