referat tetanus neonatorum

Post on 23-Oct-2015

217 Views

Category:

Documents

41 Downloads

Preview:

Click to see full reader

DESCRIPTION

...

TRANSCRIPT

TETANUS NEONATORUM

Pembimbing :dr. Rivai Usman,SpA

Disusun Oleh :Anastasia Febrianti

0961050001

PENDAHULUAN

Tetanus neonatorum merupakan masalah khusus di Indonesia,oleh karena merupakan 50 % dari seluruh kematian perinatal atau 20 % dari angka kematian bayi.

Angka kejadian tetanus neonatorum di Indonesia masih cukup tinggi sekitar 6-7 / 1000 kelahiran hidup untuk daerah perkotaan dan 11-23 / 1000 kelahiran hidup untuk daerah pedesaan, dengan kematian sekitar 60.000 orang bayi setiap tahun.

DEFINISI

• Tetanus adalah penyakit dengan tanda utama kekakuan otot (spasme) tanpa disertai gangguan kesadaran

• Gejala ini disebabkan kuman yang mengeluarkan eksotoksin (tetanospasmin) dan mengganggu sinaps pada daerah yang disebut neuromuskular junction atau motor endplate

EtiologiClostridium Tetani

Basil gram-positif dengan spora pada ujungnya sehingga berbentuk seperti pemukul genderang (drumstick)

Obligat anaerob (berbentuk vegetatif apabila berada dalam lingkungan anaerob) dan dapat bergerak menggunakan flagella

Menghasilkan eksotoksin yang kuat. Toksin ini dapat menghancurkan sel darah merah, merusak leukosit dan merupakan tetanoplasmin

Mampu membentuk spora yang mampu bertahan dalam suhu tinggi (mendidih,tetapi tidak dalam autoklaf), kekeringan dan desinfektan.

• Kuman hidup di tanah dan di dalam usus binatang, terutama pada tanah di daerah pertanian/peternakan

• Spora mampu bertahan dalam keadaan yang tidak menguntungkan selama bertahun-tahun, dalam lingkungan yang anaerob dapat berubah menjadi bentuk vegetatif yang akan menghasilkan eksotoksin

Tetanospasmin merupakan protein dengan berat molekul 150.000 Dalton, larut dalam air, labil pada panas dan cahaya, rusak dengan enzim proteolitik, tetapi stabil dalam bentuk murni dan kering

Tetanospasmin disebut juga Neurotoksin

Port d’entree Spora Clostridium tetani masuk melalui

luka tali pusat, karena perawatan atau tindakan yang tidak memenuhi syarat kebersihan misalnya :

- Pemotongan tali pusat dengan bambu atau gunting yang tidak steril

- Setelah tali pusat dipotong dibubuhi abu, tanah, minyak, daun-daunan, dsb

PATOGENESIS Spora Clostridium tetani yang masuk ke

dalam tubuh dan berada dalam lingkungan anaerobik, berubah menjadi bentuk vegetatif dan berbiak cepat sambil menghasilkan toksin.

Dalam jaringan yang anaerobik ini terdapat penurunan potensial oksidasi reduksi jaringan dan turunnya tekanan oksigen jaringan akibat adanya nanah, nekrosis jaringan atau benda asing

Toksin pada awalnya merambat dari tempat luka lewat motor endplate dan aksis silinder saraf tepi ke kornu anterior sumsum belakang dan menyebar ke seluruh susunan saraf pusat

Pengangkutan toksin ini melewati saraf motorik, terutama serabut motor

Reseptor khusus pada ganglion menyebabkan fragmen C toksin tetanus menempel erat dan kemudian melalui proses perlekatan dan internalisasi, toksin diangkut ke arah sel secara ekstra aksional dan menimbulkan perubahan potensial membran dan gangguan enzim yang mengakibatkan kolin-esterase tidak aktif, sehingga kadar asetilkolin menjadi sangat tinggi pada sinaps yang terkena

Toksin menyebabkan blokade pada simpul yang menyalurkan impuls pada tonus otot, sehingga tonus otot meningkat dan menimbulkan kekakuan

Bila tonus makin meningkat akan timbul kejang terutama pada otot yang besar

Dampak toksin :

1. Dampak pada ganglion pra sumsum tulang belakang disebabkan oleh karena eksotoksin memblok sinaps jalur antagonis, mengubah keseimbangan dan koordinasi impuls sehingga tonus otot meningkat dan otot menjadi kaku

2. Dampak pada otak, diakibatkan oleh toksin yang menempel pada cerebral gangliosides diduga menyebabkan kekakuan dan kejang yang khas pada tetanus

3. Dampak pada saraf autonom , terutama mengenai saraf simpatis dan menimbulkan gejala keringat yang berlebihan, hipertemia , hipotensi, hipertensi, aritmia, heart block atau takikardia

DIAGNOSISAnamnesis yang dapat membantu diagnosis antara lain :

• Siapa penolong persalinan, tenaga medis/paramedis atau non medis/dukun bayi, yang telah mendapat pelatihan atau belum. Data ini akan membantu membedakan persalinan yang bersih atau tidak

• Alat apa yang dipakai untuk memotong tali pusat

• Ramuan apa yang dibubuhkan pada tindakan perawatan puntung tali pusat

• Apakah ibu pernah mendapat imunisasi tetanus toksoid sebelum atau selama kehamilannya

• Sejak kapan bayi tak dapat menyusui

• Berapa lama selang antara waktu gejala tidak dapat menyusui dengan gejala kejang yang pertama

MANIFESTASI KLINIK

Gejala yang jelas ialah tidak mau minum ASI, irritable, menangis terus, badan panas, kekakuan pada wajah (bibir tertarik kearah lateral, dan alis tertarik ke atas) yang disebut risus sardonicus, dan ekstremitas menjadi kaku, terjadi serangan kejang, tanda dehidrasi, akhirnya terjadi opistotonus

Perjalanan penyakit biasanya berat dan tidak dibagi dalam 3 stadium seperti tetanus anak

KLASIFIKASI

LABORATORIUM

• Hasil pemeriksaan laboratorium tidak khas

PENUNJANG LAIN Pemeriksaan dengan spatula lidah dapat

digunakan untuk mendeteksi dini penyakit ini. Hasil positif ditunjukan ketika spatula disentuhkan ke orofaring lalu terjadi spasme pada otot maseter dan bayi menggigit spatula lidah

PENATALAKSANAAN

1. ATS 10000 IU 2 hari berturut-turut (tanpa perlu skin test)

2. Anti konvulsan: Diazepam yang optimal ( sampai tidak terjadi kejang )

Bila lebih dari 20 mg/kgbb

3. IVFD dengan larutan 4 : 1 glukosa 5 % : NaCl fisiolologis 4 :1 Drug line

4. Kebutuhan nutrien dipenuhi melalui pemasangan NGT.

Apabila kejang rangsang telah berhenti dimulai pemberian ASI oral secara bertahap

Diazepam dosis awal 2,5 mg intravena perlahan-lahan selama 2-3 menit

Dosis rumat 8-10 mg/kgBB/hari melalui IVFD

Bila kejang masih timbul, boleh diberikan diazepam tambahan 2,5 mg secara intravena perlahan-lahan dan dalam 24 jam boleh diberikan tambahan diazepam 5 mg/kgBB/hari sehingga dosis diazepam keseluruhan menjadi 15 mg/kgBB/hari.

Setelah keadaan klinis membaik, diazepam diberikan peroral dan diturunkan secara betahap

Ampisilin 100mg/kgBB/hari dibagi 4 dosis secara intravena selama 10 hari

Tali pusat dibersihkan dengan alkohol 70 % atau betadine

Perhatikan jalan nafas (bronchial toilet), imbang cairan/ 24 jam

KOMPLIKASI

Laringospasme

Fraktur tulang

Hiperadrenergik

Sepsis nosokomial

Pneumonia aspirasi

DIAGNOSIS BANDING

1. Kongenital (anomali serebral)

2. Perinatal (trauma)

3. Postnatal (infeksi dan gangguan metabolisme)

Contoh : meningitis, hipoglikemi, hipokalsemia.

PENCEGAHAN Toksoid tetanus yang diberikan 3 kali

berturut-turut pada trimester ketiga kehamilan

Sterilitas pada waktu pemotongan tali pusat dan perawatan tali pusat selanjutnya

Terima Kasih

top related